Monday, 22 December 2014

A thought from table at the corner

American dream. At least, satu phrase word yang sering aku record Dari film drama America: New Yorker, having a decent job, having a car, hanging out in the nicest cafe or handing a cup of Starbucks      Coffee into work, and yeah ... Wearing a fancy suits like Zara or Pierre Cardin  and having beauty treatment. Talking about the American dreams is quite endless.

So, then, what am I going to tell you?
I am living in Jakarta and turning my life from a student into a career woman. Am I getting the American dreams? Or now all I can say is Indonesian dreams? Well, I am not saying I am having that dream already. The road is still far. Tapi sesuatu yg pasti. I just feel my life is totally different back then which I am grateful for

Dulu, aku keder kalau lewat Starbucks atau cafe cafe mentereng di Kota Bandung. Dulu, aku pun cuma bisa gigit jari kalau lewat Pizza Hut. Atau sangat sangat bersyukur kalau bulan itu aku bisa beli a cup of Calais rasa Taro. Oke, aku juga harus save budget buat nonton bioskop atau ticket konser. Oh ya, yang paling signifikan adalah I could spend hours in Gramedia and end up with just window shopping alias ga beli. Padahal, betapa aku pingin bawa pulang buku buku itu. Haha. Am I regretting those moments?
Hell no. That what made me now and will build me in the future.

Aku ga bilang kalau Sekarang aku udah mencapai Indonesian dream aku. Mungkin suatu saat nanti. Aamin. Semoga Allah mencatat azzam ini. Namun, setidaknya, sekarang aku masih bisa beli cheese cake dan matcha tea coffee bean. As well as moccachino jelly coffee. They are yummy and worth for my money. Hahaha. Daaan, ketika aku jalan ke Gramedia, buku buku itu tidak hanya bertengger di raknya ketika aku pulang. Tapi kini mereka tersusun rapi di rak buku aku. Alhamdulillah :).

Aku yakin, setiap orang pasti punya cerita tentang barang barang yang hanya bisa terpajang di etalase Karena uang bulanan yang ga cukup. Sekarang bisa tersenyum geli atau tertunduk syukur dengan air di sudut mata Karena ya, barang itu kini sudah bisa terbeli. Namun, pun ketika cerita kita masih belum beda Dari cerita lalu, just keep on believing bahwa kita masih berusaha keras memutar roda kehidupan kita menjadi lebih baik. Belum bukan berarti ga pernah. Masih bukan berarti absolut.









Wednesday, 9 April 2014

A piece of memory

   Berlian menyesap kopi hitam sambil melemparkan pandangannya ke dalam didinding flexi glass yang menghamparkan pandangan lapangan kosong yang seharusnya menjadi tempat mobil-mobil angkut barang hilir mudik. Dia bergidik sendiri. Kopi hitam tidak pernah menjadi favoritnya. Ampas kopinya pahit, terasa mengganggu bintil-bintil indra pengecap lidahnya. Tapi mau bagaimana lagi, kopi hitam tersebut adalah tiket baginya mengerjakan tugas-tugas di sisa hari itu. Ia menghela nafas dalam, lalu menyesap kopi hitam itu dalam sekali nafas. Dia mengulanginya sekali lagi hingga dia sadar bahwa hanya tinggal ampas nya saja yang terdapat di dasar gelas.
    Dia mendesah. Bodoh sekali 5 menitku terbuang percuma, seharusnya aku bisa menghabiskan kopi sialan itu beberapa kali teguk, kutuknya dalam hati. Ia mulai menderapkan langkah kaki cepat-cepat. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata bahkan 1/4 ruangan itu menatapnya, beberapa diantara mereka malah melempar senyum padanya. Tapi dia hanya memiliki satu ekspresi untuk membalasnya, dingin, pura-pura tak melihat, dan melenggang secepat mungkin. Dia tak punya waktu buat beramah tamah dengan mereka, apalagi dia tahu mereka hanya ingin meraih simpatinya saja. Padahal dibelakannya, mereka pasti bergosip tentangnya habis-habisan. Peduli apa, aku masih punya setumpuk pekerjaan dan meeting dibandingkan mengurusi anak-anaki ingusan itu yang menambah beban kerjanya, batinnya.
    Seperti biasa, ruang mungil berAC yang dihuni 3 orang pegawai tetap termasuk dirinya pun tampak lengang. Hanya dirinya yang selalu kembali ke ruangan lebih cepat 15 menit dari waktu seharusnya.  Matanya menyusuri meja dan tumpukan file diatasnya. Tak puas dengan apa yang dilihatnya, jari-jemarinya sekarang mulai mengotak-atik tumpukan file tersebut. Hasilnya nihil, file yang dia cari tak ada ditempatnya. Secepat itu pula, matanya tertuju pada monitor disebelahnya. Dia mengetikkan sesuatu kemudian layar komputer itu berganti warna menjadi kolom-kolom excel. Darahnya mendesir. Itu file yang kuinginkan! serunya dalam hati. Tapi dengan kolom-kolom masih kosong!
    'Dira! Apa-apaan ini? Saya minta print ini dari tadi, kok selese aja belum! Kamu ngerti ga sih instruksi saya?! Kamu paham ga sih kalau tugas saya ini penting?!' Kata-kata itu meluncur begitu saja ketika sosok yang dia anggap bertanggung jawab muncul dari balik pintu. Sosok memandang balik dirinya dengan tatapan kosong, syok. Dia menginginkan penjelasan namun sosok itu malah membisu. 'Ato kamu sebenernya ga ngerti bahasa Indonesia? Saya mesti ngomong sama kamu bahasa apa supaya kamu ngerti?!'
    Darah Berlian terasa menggelegak di ubun-ubunnya melihat sosok itu masih berdiri dibalik pintu. Mukanya pias, dia tak peduli. katanya ingin belajar, ya harus 100 % dong!
   'Kenapa bengong?! Saya butuh filenya sekarang. Saya yang harus kerjain gitu?!'
    Sosok itu menggeleng dengan tatapan kosong. Dia mulai beringsut dan duduk di komputer, menghela nafas kemudian mulai mengetik perlahan-lahan.
   Berlian mengerang melihat caranya bekerja, ubun-ubunnya serasa pecah karena ia butuh file itu 1 jam kemudian. 'Setengah jam lagi harus sudah beres pokoknya! Setelah saya meeting, file harus ada di pintu ruang meeting saya. Saya ga mau tau.'
   Dia melenggang menuju daun pintu, tak lupa dia menimpali dengan kata-kata penutup sebelum pergi ke tempat meeting, 'cape saya liat kamu kerja. Lelet!'
   Kemudian dia menarik pintu itu kuat-kuat dan melepasnya dengan dongkol. Seperti sosok itu, pintu itu tetap membisu walaupun ia hempas kuat-kuat.