Sunday, 25 March 2012

Letter for Daughter

I am a spoiled one

I always blame condition, sometimes people for failure ever happened in my life. How lame....

I always think that I am the miserable one, that Life isn't treating me just fair enough, that I am not born with all perfections, that I am born only with humiliation. How pathetic...

I even refused to look reflection on mirror, because it somehow tears me apart, somehow tell me that I am not Snow White, looking ridiculous even in beautiful dress, and extremely examining about wrongs in my face.... nose, cheek, lips... everything seems not okay. How ungrateful...

I want life going on as what I want, going perfect without need to spend some effort. I never allow anyone steal my spotlite, and all I want everything is about me. How idle and selfish ...

Life is fair
it's Yin and Yang

Dear my daughter, one day, you'll learn, you'll know
Life isnt about selfish, but sharing
Life isnt about long, but short
Life isnt about hate, but love and being loved,
Life isnt about what we want, but what we need
Life isnt about being spoiled, but independent
these are somethings I am still working on...

but I hope you are stronger, in facing your very own fear
in conquering spoilness beneath your way

Believe...
Allah has always something beautiful
behind all the dark clouds

all you have to do is
waiting, learning, working, and never forget praying

My daughter,
I am always beside you, I promise
I want to walk you through the hardness of being teenager
Just remind me, if i am not on my way
if I am not guiding you enough

My daughter,
I am sure, you are somewhere out there
still planned by Allah to be sent here
right in my arm
riched with my love and your daddy's love
I am sure, you will have beautiful face and behavior
I beg to Allah, to give you a best gift, your beautiful akhlaq
as beautiful as Fatimah Azzahra, daughter of Nabi Muhammad (peace upon him)
I do want to name you after her :)

just wait for me to pick you
wait for me to get your shalih daddy
and we are gonna pick you
at the place where Allah send you to the earth

on that day
surely I will be so grateful to have you
do wait for your presence to the world
feels like you are the most greatest present I ve ever had

once again...
to be your beloved mommy



Ekspektasi dan Realistis

Ekspektasi, pengharapan. Sebuah harapan. Memang sepatutnya terjadi kan apabila kita menjalankan sesuatu? Begitu pula dengan sebuah relation. Menjalani suatu rutinitas dengan seseorang yang which is lawan jenis mu akan menimbulkan sebuah ekspektasi. Yes, makes you like dreamer. Ada sebuah harapan lebih dibalik sebuah relation.
Ekspektasi bukan sebuah kejahatan, tapi sebuah poison kalau menurutku. Racun yang bisa mengkatalis reaksi peruntuhan dinding-dinding hatimu. Salah seorang temanku bilang, jangan berekspektasi berlebihan. Hey, dimana-mana ekspektasi adalah sebuah harapan. Walaupun tidak berlebihan tetap saja itu sebuah harapan, dimana kamu mengharapkan sesuatu yang lebih dari kejadian itu.
Kenapa saya sangat outspoken tentang hal ini?
Karena saya sedang berekspektasi terhadap sesuatu relation. Tapi tenang, saya masih waras. Saya tahu ekspektasi itu adalah sebuah overdosis digoksin atau diazepam, which could kill me anytime. Saya pernah merasakan berada di posisi overdosis itu, it takes long time to heal your heart. Sakit? Pasti.
Maka dari itu, sebuah ekspektasi haruslah dibarengi dengan sebuah rem. Rem yang bernama realistis. Realistis ini akan menampar dirimu jika pikiran mu dan harapanmu telah mengawang kemana-mana dan mengembalikanmu ke bumi. Beruntung, beberapa tahun ini aku telah mempersenjatai diri dengan senjata realistis sehingga ketika ekspektasi itu berlebih, voila! Saya lecutkan senjata bernama realistis ini dan pada akhirnya... Saya ikhlas dengan semua yang terjadi dan no more to expect :D

Wednesday, 21 March 2012

I LOVE YOU

4 Januari 2012. Ya, merupakan tanggal yang bersejarah buatku. Bagaimana tidak, 20 tahun lalu, seorang wanita memperjuangkan nyawanya demi melahirkan seorang bayi yang entahlah sudah berapa banyak menyakiti hatinya, yaitu aku. Tidak pernah terbayang sebelumnya bagiku menjadi ibu atau melahirkan atau apapun tetek bengek segala urusan rumah tangga, tidak pernah terbayang pula ketika ibuku mengeluh ini itu dan aku anggap omelan itu hanya angin lalu. Sampai semakin aku dewasa, aku perlahan mengerti setiap peluh setiap hal kecil yang beliau kerjakan adalah luar biasa. 

Sampai hari itu, entah apa yang menggerakkanku. Aku mengambil handphone ku. Aku tekan nomer yang paling kuhapal, dan beliau mengangkat. Beliau tertawa, seperti biasa. Menyambutku hangat walau ia tak melihat  parasku. Beliau mengucapkan selamat ulang tahun, dan mulai menggelontorkan doa-doa mulianya. Aku terdiam sesaat, bingung harus memulai darimana. Segala niatan yang aku rencanakan, seakan kelu ditelan liurku. Aku mengambil nafas, membiarkan beliau berbicara. Lalu aku memulai...

"Ma, dede minta maaf ya," kataku akhirnya. Beliau terheran-heran. Untuk apa aku meminta maaf? Kata-kata yang tersusun sedari tadi mulai berantakan, "kalau selama dua puluh tahun ini dede udah nyusahin mama, belum bisa bahagiain mama, selalu berdosa sama mama, masih jadi anak yang durhaka," tangisku mulai tak tertahan. "Doain dede biar jadi anak yang solehah ya Ma, sukses dan bahagia di dunia akhirat, biar bisa bahagiain mama dan bapak,"

Di ujung telepon, aku tahu. Tangis beliau pun pecah. Dan keluarlah perkataan-perkataan yang tak pernah ku duga sebelumnya, "Dede ga punya salah sama mama, udah mama maafin. Mama yang harusnya minta maaf, mama orang bodoh. Mama ga bisa mendidik kalian dengan baik karena keterbatasan pendidikan, maaf apabila cara mendidik mama yang salah. mama udah berusaha sebaik-baiknya mendidik kalian meskipun mama bodoh. Biarlah Allah yang tahu usaha Mama, niat mama baik ingin mendidik kalian walaupun mungkin salah. Hanya Allah yang tahu, hanya Allah yang menjaga kalian untuk mama."

Tangisku semakin menjadi-jadi. Apa aku mendengar bersitan luka dari perkataannya? Beliau merasa didikannya salah?
"Mama ga bodoh, mama ga salah. Mama udah hebat mendidik kita jadi kayak gini, jadi anak-anak yang ga melanggar aturan. Mama hebat, doain dede biar bisa kayak mama bahkan lebih dalam mendidik anak. Doain dede dapet suami yang soleh ya ma, yang bahagiain di dunia dan akhirat,"

Beliau bersikeras. " Maafin mama ya de, ga bisa kayak orang tua lainnya yang berpendidikan tinggi, yang selalu ngomel-ngomel, jujur mama ga tahu bagaimana mendidik anak yang baik. Mama hanya mengaplikasikan apa yang terbaik yang diajarkan orang tua mama, mungkin ketinggalan jaman. Makanya, dede, mama sekolahkan tinggi-tinggi, supaya dede bisa mendidik anak-anak dede nanti jauh lebih baik, ga kayak mama."

Satu hal lagi yang membuatku mengharu-biru malam itu: "Mama bersyukur banget punya anak sempurna kayak dede, kakak, de fadli. Mama berterima kasih sama Allah sudah menitipkan amanah yang luar biasa kepada mama. Kalian udah membanggakan mama dengan akhlak kalian, semoga di masa depan kalian semakin sukses"

Aku tertegun beberapa saat. Rasanya mataku sudah bengkak seperti disengat tawon. Aku malu pada diriku sendiri. Betapa mulia cita-cita ibuku menyekolahkanku: demi anak-anakku kelak, agar tidak mengulang kesalahan yang sama yang dilakukannya pada kami. Kesalahan yang mana? Kesalahan apa?

Jika bukan karena didikan beliau, tak mungkin aku seperti ini. Terjerumus aku dalam masa mudaku yang berleha-leha

Jika bukan karena omelan-omelan bawel mereka, tak mungkin aku terjaga seperti ini. Pasti aku tersangkut di sebuah kota kecil dan menghabiskan waktu percuma dengan lawan jenisku.

Jika bukan karena semangat mereka dan senyum tulus tanpa harapan kembali, tak mungkin aku terpompa untuk melakukan semangat yang lebih.

Mereka adalah perpanjangan tangan kasih-Nya pada ku, mereka adalah sumber keridhoan tak pernah putus setelah ridho-Nya.

Kedua orang tuaku memang bukan jebolan perguruan tinggi manapun. Namun aku bersyukur, keinginan mimpi mereka menyekolahkan anak-anaknya laksana langit tak tergapai, langit yang tak pernah mereka kecap sebelumnya, langit yang mereka impikan dibalik kesulitan masa mudanya. Semangat mereka untuk meningkatkan kualitas diri mereka laksana kilat yang melecut-lecut keras.

Tuhan, lidah ini selalu terbata dalam mengatakan rasa, meskipun pada manusia-manusia terkasih setelah Rasulullah:

Aku mencintai mereka Ya Rabb, jauh dari yang mereka sangkakan padaku. Lindungilah mereka di dunia dan akhirat, jadikanlah mereka kekal di surgamu, dan bukakanlah hati-hati yang belum soleh atau pun solehah dalam diri mereka. Amien.

Love you Mom, Daddy,


Thursday, 1 March 2012

Wind

Wind...
tell me when rain arrives
tell me when you are ready to blow my mind
awake me when you about to take the one that you gave

Wind
please fly dew away from my life
take me to high place
when no one can reach me
bring me back when I about to be ready for reality

Wind
thanks for bringing breeze
even now the breeze is gone
left me hanging on the thread

Wind
one day
please bring the breeze back
different breeze
breeze that never goes