Wednesday, 9 April 2014

A piece of memory

   Berlian menyesap kopi hitam sambil melemparkan pandangannya ke dalam didinding flexi glass yang menghamparkan pandangan lapangan kosong yang seharusnya menjadi tempat mobil-mobil angkut barang hilir mudik. Dia bergidik sendiri. Kopi hitam tidak pernah menjadi favoritnya. Ampas kopinya pahit, terasa mengganggu bintil-bintil indra pengecap lidahnya. Tapi mau bagaimana lagi, kopi hitam tersebut adalah tiket baginya mengerjakan tugas-tugas di sisa hari itu. Ia menghela nafas dalam, lalu menyesap kopi hitam itu dalam sekali nafas. Dia mengulanginya sekali lagi hingga dia sadar bahwa hanya tinggal ampas nya saja yang terdapat di dasar gelas.
    Dia mendesah. Bodoh sekali 5 menitku terbuang percuma, seharusnya aku bisa menghabiskan kopi sialan itu beberapa kali teguk, kutuknya dalam hati. Ia mulai menderapkan langkah kaki cepat-cepat. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata bahkan 1/4 ruangan itu menatapnya, beberapa diantara mereka malah melempar senyum padanya. Tapi dia hanya memiliki satu ekspresi untuk membalasnya, dingin, pura-pura tak melihat, dan melenggang secepat mungkin. Dia tak punya waktu buat beramah tamah dengan mereka, apalagi dia tahu mereka hanya ingin meraih simpatinya saja. Padahal dibelakannya, mereka pasti bergosip tentangnya habis-habisan. Peduli apa, aku masih punya setumpuk pekerjaan dan meeting dibandingkan mengurusi anak-anaki ingusan itu yang menambah beban kerjanya, batinnya.
    Seperti biasa, ruang mungil berAC yang dihuni 3 orang pegawai tetap termasuk dirinya pun tampak lengang. Hanya dirinya yang selalu kembali ke ruangan lebih cepat 15 menit dari waktu seharusnya.  Matanya menyusuri meja dan tumpukan file diatasnya. Tak puas dengan apa yang dilihatnya, jari-jemarinya sekarang mulai mengotak-atik tumpukan file tersebut. Hasilnya nihil, file yang dia cari tak ada ditempatnya. Secepat itu pula, matanya tertuju pada monitor disebelahnya. Dia mengetikkan sesuatu kemudian layar komputer itu berganti warna menjadi kolom-kolom excel. Darahnya mendesir. Itu file yang kuinginkan! serunya dalam hati. Tapi dengan kolom-kolom masih kosong!
    'Dira! Apa-apaan ini? Saya minta print ini dari tadi, kok selese aja belum! Kamu ngerti ga sih instruksi saya?! Kamu paham ga sih kalau tugas saya ini penting?!' Kata-kata itu meluncur begitu saja ketika sosok yang dia anggap bertanggung jawab muncul dari balik pintu. Sosok memandang balik dirinya dengan tatapan kosong, syok. Dia menginginkan penjelasan namun sosok itu malah membisu. 'Ato kamu sebenernya ga ngerti bahasa Indonesia? Saya mesti ngomong sama kamu bahasa apa supaya kamu ngerti?!'
    Darah Berlian terasa menggelegak di ubun-ubunnya melihat sosok itu masih berdiri dibalik pintu. Mukanya pias, dia tak peduli. katanya ingin belajar, ya harus 100 % dong!
   'Kenapa bengong?! Saya butuh filenya sekarang. Saya yang harus kerjain gitu?!'
    Sosok itu menggeleng dengan tatapan kosong. Dia mulai beringsut dan duduk di komputer, menghela nafas kemudian mulai mengetik perlahan-lahan.
   Berlian mengerang melihat caranya bekerja, ubun-ubunnya serasa pecah karena ia butuh file itu 1 jam kemudian. 'Setengah jam lagi harus sudah beres pokoknya! Setelah saya meeting, file harus ada di pintu ruang meeting saya. Saya ga mau tau.'
   Dia melenggang menuju daun pintu, tak lupa dia menimpali dengan kata-kata penutup sebelum pergi ke tempat meeting, 'cape saya liat kamu kerja. Lelet!'
   Kemudian dia menarik pintu itu kuat-kuat dan melepasnya dengan dongkol. Seperti sosok itu, pintu itu tetap membisu walaupun ia hempas kuat-kuat.