Monday, 20 May 2013

Hari Hari Senin

‘Jadi, kenapa?’ Pria yang tampaknya berusia 30 tahun itu bertanya menyelidik.
                Ia mengatupkan jari-jemarinya yang mulai terasa basah, lalu membiarkan udara luar mengisi paru-paru sebanyak-banyaknya. Paru-parunya tidak membutuhkan oksigen sebanyak itu sebenarnya. Ia hanya merelaksasikan otot-ototnya yang mulai menegang. Otot-ototnya mulai berontak. Matanya terpejam sesaat, membiarkan jiwanya mengelana ke masa silam

Senin, 7 Juli 1997
                Anak kecil itu tampak bersemangat. Ia seperti musim semi yang lelah dengan musim dingin. Wajahnya berenergi seperti bunga mekar tertimpa cahaya pagi. Tas sekolah bergambar doraemon kesayangannya tampak melayang-layang ketika dia berlari menghampiri meja makan.
                Matanya membulat manakala melihat yang tersaji di depannya. Namun, segera diraihnya sandwich isi keju kesukaannya. Mulutnya sibuk mengunyah-nguyah hingga pipinya membesar, persis seperti bakpao.
                ‘Hey, hey… Pelan-pelan makannya, Sayang. Nanti kamu tersedak,’ Pria pertengahan 30 tahun itu mengingatkan.
                Mulutnya berhenti mengunyah, ‘Tapi aku takut ketinggalan bis, Daddy,’ wajahnya meringis. Mata bulatnya beralih pada jam mickey mouse kecil di tangannya. ‘I am running out the time, daddy,’
                ‘It’s still 6 am, darling. Kelasmu baru mulai jam 7.30 pagi. We do still have time,’
                ‘Tapi daddy… we could have traffic jam, broken engine, picking the other students…’
                Sebuah kecupan tiba-tiba mendarat di pipinya. ‘Look at our little lady, darling. I wonder how she might become when she gets older, time police, maybe?’ Wanita berambut blonde mengerling kepada pria itu.
                Anak kecil tadi menggeleng kuat-kuat. ‘Aku ingin jadi pianis seperti mommy. By the way, Daddy, ini hari senin, harus semangat. Aku akan ketemu teman-teman baru secepatnya, dan daddy akan ketemu teman-teman daddy juga kan? Aku seneng banget! Ayo, Daddy. Kita berangkat!’
                ‘Madam, maukah kau menunggu 30 menit lagi?’ Si pria berlutut di hadapannya. Gadis itu tertawa. Wanita pirang itu juga tertawa.
                ‘You do love Monday so much, don’t you? By the way, it’s Jakarta. Daddy will take you school, not the bus’
                Anak itu terdiam, kecewa. Wajahnya berubah cerah dalam sekejap. ‘Gapapa. Yang penting kita berangkat 30 menit lagi’
                Wanita dan pria itu tertawa terbahak-bahak dan mendaratkan kecup di kedua pipinya. Gadis itu tertawa, mereka tertawa. Suasana pagi itu menghangat seiring dengan menghangatnya mentari di senin pagi itu.

                Minggu, 9 Januari 2005
                Kinanti menggeleng-geleng kepala tak puas. Not balok seharusnya ia pencet tersinkron dengan tuts pianonya. Salah memencet tuts yang sinkron beberapa kali dan kehilangan soul sebuah lagu tampaknya sebuah aib besar baginya, terutama papanya.
                ‘What’s wrong with you?’ Papa menghampirinya tak puas. ‘Kamu tak berkonsentrasi,’
                Ia menatap kap piano grande hitamnya. ‘Di sekolahku ada acara amal untuk tsunami aceh, Pa. Sore ini. Mereka mengajakku untuk datang. Aku ingin sekali datang. Aku… aku ingin berteman akrab dengan mereka, Pa.’
                ‘Akan ada hari dimana kamu mempunyai waktu luang yang kamu bisa manfaatkan untuk bersosialisasi dengan siapapun yang kamu mau. Tapi itu nanti, setelah kamu tahu pasti masa depan yang akan kamu hadapi. Sekarang, kamu harus memfokuskan diri membentuk masa depanmu. Ingat, bukan kamu saja yang ingin sekolah musik di Praha. Ratusan bahkan ribuan orang dengan skill yang outstanding, Kinan. Nah sekarang, sudah sejauh mana skill mu, Kinan?’ Nada Papa setengah mengejek.
Kinanti sangsi. Sudah dimana? Tidak, dia masih jauh dari kata outstanding. Praha adalah rumah dari para musisi kelas dunia. She only welcomes the outstanding. CV Kinan belumlah sedia menobatkannya sebagai the outstanding. Ia harus berlatih keras untuk grande orchestra minggu depan di JCC. Susah mati dia mendapatkan spot untuk satu lagu di orchestra Magenta, tidak mungkin ia menyia-nyiakan begitu saja. Ya, agar ia bisa kembali pulang ke rumahnya, Praha.
                Tuts-tuts piano itu kembali mengalunkan nadanya. Kali ini simfoninya jauh lebih syahdu, seakan setiap nada merupakan curahan setiap emosinya. Tentang teman-temannya, Kinanti yakin. There will be a time, she could be out loud laughing together with them like a normal teenager. It just will wait.
                Kelak kinanti tahu, bahwa masa depan bukan sesuatu yang bisa diprediksi seperti layaknya perkiraan cuaca.

Sabtu, 19 Februari 2000
                Peluit tampak nyaring terdengar keras. Gadis kecil itu tampak menyeka keringatnya, kelelahan. Pipi putihnya memerah kepanasan. Ia segera bergabung dengan gerombolan anak-anak berpakaian pramuka lainnya.
                ‘Yah, sudah selesai ya?’ Wajahnya seketika kecewa. Ia menyerahkan tambang untuk membuat tandu pada guru pembinanya.
                ‘Iya, sayang. Kamu kok sedih? Kan besok hari minggu. Harusnya seneng dong, kan banyak film kartun.’
                Ia menggelengkan kepalanya. ‘Aku pengen cepat-cepat senin bu.’
                              ‘Lho, kenapa?’ Guru Pembina itu tampak heran.
Pipi bakpaonya menggembungkan udara. Tampak berpikir sejenak. Ia tak suka hari Minggu. Ia terpisah dari teman-temannya, ia tercerabut dari kumpulan tawa-tawa hangat. Sedangkan Senin menghubungkannya dengan dunia yang membuat dia terasa normal.

Thursday, 2 May 2013

How do you know?

This is undescribed
the time perhaps will stop by
pick something u dont want to let go
How do you know?
It's already becoming ba stiff snow
freeze any last vow

How do you know?
it wont be a matter
coz u just have to know
how to let go