‘Jadi, kenapa?’ Pria yang tampaknya berusia 30 tahun itu
bertanya menyelidik.
Ia
mengatupkan jari-jemarinya yang mulai terasa basah, lalu membiarkan udara luar
mengisi paru-paru sebanyak-banyaknya. Paru-parunya tidak membutuhkan oksigen
sebanyak itu sebenarnya. Ia hanya merelaksasikan otot-ototnya yang mulai
menegang. Otot-ototnya mulai berontak. Matanya terpejam sesaat, membiarkan
jiwanya mengelana ke masa silam
Senin, 7 Juli 1997
Anak
kecil itu tampak bersemangat. Ia seperti musim semi yang lelah dengan musim
dingin. Wajahnya berenergi seperti bunga mekar tertimpa cahaya pagi. Tas
sekolah bergambar doraemon kesayangannya tampak melayang-layang ketika dia
berlari menghampiri meja makan.
Matanya
membulat manakala melihat yang tersaji di depannya. Namun, segera diraihnya sandwich isi keju kesukaannya. Mulutnya
sibuk mengunyah-nguyah hingga pipinya membesar, persis seperti bakpao.
‘Hey,
hey… Pelan-pelan makannya, Sayang. Nanti kamu tersedak,’ Pria pertengahan 30
tahun itu mengingatkan.
Mulutnya
berhenti mengunyah, ‘Tapi aku takut ketinggalan bis, Daddy,’ wajahnya meringis.
Mata bulatnya beralih pada jam mickey mouse kecil di tangannya. ‘I am running
out the time, daddy,’
‘It’s
still 6 am, darling. Kelasmu baru mulai jam 7.30 pagi. We do still have time,’
‘Tapi
daddy… we could have traffic jam, broken engine, picking the other students…’
Sebuah
kecupan tiba-tiba mendarat di pipinya. ‘Look at our little lady, darling. I
wonder how she might become when she gets older, time police, maybe?’ Wanita
berambut blonde mengerling kepada pria itu.
Anak
kecil tadi menggeleng kuat-kuat. ‘Aku ingin jadi pianis seperti mommy. By the
way, Daddy, ini hari senin, harus semangat. Aku akan ketemu teman-teman baru
secepatnya, dan daddy akan ketemu teman-teman daddy juga kan? Aku seneng
banget! Ayo, Daddy. Kita berangkat!’
‘Madam,
maukah kau menunggu 30 menit lagi?’ Si pria berlutut di hadapannya. Gadis itu
tertawa. Wanita pirang itu juga tertawa.
‘You do
love Monday so much, don’t you? By the way, it’s Jakarta. Daddy will take you school,
not the bus’
Anak
itu terdiam, kecewa. Wajahnya berubah cerah dalam sekejap. ‘Gapapa. Yang
penting kita berangkat 30 menit lagi’
Wanita
dan pria itu tertawa terbahak-bahak dan mendaratkan kecup di kedua pipinya.
Gadis itu tertawa, mereka tertawa. Suasana pagi itu menghangat seiring dengan
menghangatnya mentari di senin pagi itu.
Minggu,
9 Januari 2005
Kinanti
menggeleng-geleng kepala tak puas. Not balok seharusnya ia pencet tersinkron
dengan tuts pianonya. Salah memencet tuts yang sinkron beberapa kali dan
kehilangan soul sebuah lagu tampaknya
sebuah aib besar baginya, terutama papanya.
‘What’s
wrong with you?’ Papa menghampirinya tak puas. ‘Kamu tak berkonsentrasi,’
Ia
menatap kap piano grande hitamnya. ‘Di sekolahku ada acara amal untuk tsunami
aceh, Pa. Sore ini. Mereka mengajakku untuk datang. Aku ingin sekali datang.
Aku… aku ingin berteman akrab dengan mereka, Pa.’
‘Akan
ada hari dimana kamu mempunyai waktu luang yang kamu bisa manfaatkan untuk
bersosialisasi dengan siapapun yang kamu mau. Tapi itu nanti, setelah kamu tahu
pasti masa depan yang akan kamu hadapi. Sekarang, kamu harus memfokuskan diri
membentuk masa depanmu. Ingat, bukan kamu saja yang ingin sekolah musik di
Praha. Ratusan bahkan ribuan orang dengan skill yang outstanding, Kinan. Nah
sekarang, sudah sejauh mana skill mu, Kinan?’ Nada Papa setengah mengejek.
Kinanti sangsi. Sudah dimana?
Tidak, dia masih jauh dari kata outstanding. Praha adalah rumah dari para
musisi kelas dunia. She only welcomes the outstanding. CV Kinan belumlah sedia
menobatkannya sebagai the outstanding. Ia harus berlatih keras untuk grande
orchestra minggu depan di JCC. Susah mati dia mendapatkan spot untuk satu lagu
di orchestra Magenta, tidak mungkin ia menyia-nyiakan begitu saja. Ya, agar ia bisa
kembali pulang ke rumahnya, Praha.
Tuts-tuts
piano itu kembali mengalunkan nadanya. Kali ini simfoninya jauh lebih syahdu,
seakan setiap nada merupakan curahan setiap emosinya. Tentang teman-temannya,
Kinanti yakin. There will be a time, she could be out loud laughing together
with them like a normal teenager. It just will wait.
Kelak
kinanti tahu, bahwa masa depan bukan sesuatu yang bisa diprediksi seperti
layaknya perkiraan cuaca.
Sabtu, 19 Februari 2000
Peluit
tampak nyaring terdengar keras. Gadis kecil itu tampak menyeka keringatnya,
kelelahan. Pipi putihnya memerah kepanasan. Ia segera bergabung dengan
gerombolan anak-anak berpakaian pramuka lainnya.
‘Yah,
sudah selesai ya?’ Wajahnya seketika kecewa. Ia menyerahkan tambang untuk
membuat tandu pada guru pembinanya.
‘Iya,
sayang. Kamu kok sedih? Kan besok hari minggu. Harusnya seneng dong, kan banyak
film kartun.’
Ia
menggelengkan kepalanya. ‘Aku pengen cepat-cepat senin bu.’
‘Lho,
kenapa?’ Guru Pembina itu tampak heran.
Pipi bakpaonya menggembungkan udara. Tampak berpikir sejenak. Ia tak suka hari Minggu. Ia terpisah dari teman-temannya, ia tercerabut dari kumpulan tawa-tawa hangat. Sedangkan Senin menghubungkannya dengan dunia yang membuat dia terasa normal.
Pipi bakpaonya menggembungkan udara. Tampak berpikir sejenak. Ia tak suka hari Minggu. Ia terpisah dari teman-temannya, ia tercerabut dari kumpulan tawa-tawa hangat. Sedangkan Senin menghubungkannya dengan dunia yang membuat dia terasa normal.
No comments:
Post a Comment