Jadi, bulan kemarin tepatnya satu hari lalu adalah tanggalan unik. Kabisat. Leap Year kalau orang Inggris bilang. It wasn't good thing happening, no. It's terrible thing. Haa.... pake bahasa Inggris pula, tadinya ga mau pake bahasa Inggris. *so engres banget anaknya.
Momen Kabisat ini diwarnai dengan suatu masalah dengan seseorang yang membawa aku sama momen sekitar 2-3 tahun lalu. Karena aku orangnya kontekstual, aku selalu belajar permasalahan dari masa lalu. Jadi, aku gampang traumaan dan kalau membaca tanda-tanda, aku bakalan menyangkut pautkan dengan kejadian masa lalu yang serupa. Bagi yang belum tahu apa itu kontekstual, kontekstual sendiri adalah sifat seseorang yang cenderung terpatok sama masa lalu untuk melihat pola kejadian yang dicocokkan sama kejadian sekarang. Ga selamanya kontekstual ini berarti terjebak di masa silam, kontekstual ini salah satu cara bagi orang-orang untuk membuat strategi yang baru dengan berkaca pada pengalaman supaya tidak mengulang kesalahan di masa lalu.
Intinya, aku ngerasa sedih banget lah ya. Berpikir macam-macam dan kalau-kalau ada hal yang tidak hal diluar kendali atau ekspektasi aku yang terjadi. Karena pikiran orang kan bisa berubah, omongan orang ga selalu bisa dipegang.
Tapi di momen kabisat ini juga aku belajar banyak hal. Bukan aku aja ternyata yang punya masalah sama hidup *ceileeh anaknya sok dewasa abis. Bahkan, mungkin masalah di hidup aku masalahnya level anak remaja jika dibandingkan orang-orang sekitar aku.
Kayak tadi, aku banyak metik pelajaran dari seorang kolega tentang pernikahannya yang udah jalan kurang lebih 12 tahun lamanya dan seharusnya sudah dikarunia 4 orang anak, tapi sayang keempat anaknya meninggal setelah sempat dilahirkan maupun masih dalam kandungan. Malah, aku sempat berkaca-kaca dengernya, anak kembarnya yang lahir prematur sempat ia gendong sebelum akhirnya meninggal dunia juga dan dikuburkan dengan kedua tangannya sendiri. Akhirnya, kolegaku ini sampailah pada suatu keputusan untuk memotivasi dirinya sendiri. Intinya, segala yang dia lakukan saat ini adalah untuk meraih surganya.
Katanya, 'karena aku ingin berkumpul kelak dengan keempat anakku di surga'
Momen Kabisat ini diwarnai dengan suatu masalah dengan seseorang yang membawa aku sama momen sekitar 2-3 tahun lalu. Karena aku orangnya kontekstual, aku selalu belajar permasalahan dari masa lalu. Jadi, aku gampang traumaan dan kalau membaca tanda-tanda, aku bakalan menyangkut pautkan dengan kejadian masa lalu yang serupa. Bagi yang belum tahu apa itu kontekstual, kontekstual sendiri adalah sifat seseorang yang cenderung terpatok sama masa lalu untuk melihat pola kejadian yang dicocokkan sama kejadian sekarang. Ga selamanya kontekstual ini berarti terjebak di masa silam, kontekstual ini salah satu cara bagi orang-orang untuk membuat strategi yang baru dengan berkaca pada pengalaman supaya tidak mengulang kesalahan di masa lalu.
Intinya, aku ngerasa sedih banget lah ya. Berpikir macam-macam dan kalau-kalau ada hal yang tidak hal diluar kendali atau ekspektasi aku yang terjadi. Karena pikiran orang kan bisa berubah, omongan orang ga selalu bisa dipegang.
Tapi di momen kabisat ini juga aku belajar banyak hal. Bukan aku aja ternyata yang punya masalah sama hidup *ceileeh anaknya sok dewasa abis. Bahkan, mungkin masalah di hidup aku masalahnya level anak remaja jika dibandingkan orang-orang sekitar aku.
Kayak tadi, aku banyak metik pelajaran dari seorang kolega tentang pernikahannya yang udah jalan kurang lebih 12 tahun lamanya dan seharusnya sudah dikarunia 4 orang anak, tapi sayang keempat anaknya meninggal setelah sempat dilahirkan maupun masih dalam kandungan. Malah, aku sempat berkaca-kaca dengernya, anak kembarnya yang lahir prematur sempat ia gendong sebelum akhirnya meninggal dunia juga dan dikuburkan dengan kedua tangannya sendiri. Akhirnya, kolegaku ini sampailah pada suatu keputusan untuk memotivasi dirinya sendiri. Intinya, segala yang dia lakukan saat ini adalah untuk meraih surganya.
Katanya, 'karena aku ingin berkumpul kelak dengan keempat anakku di surga'