Tuesday, 14 February 2012

Motion picture at The Journey

Entah kenapa, entah sejak kapan...
saya selalu senang melihat motion picture.
Motion picture gratis, ga perlu pergi ke Blitzmegaplex (saya selalu salah spelling nama ini menjadi Blitzmegapixel), atau 21. Cukup dengan pergi naik bis atau angkot, melempar pandangan ke luar jendela maka Voila... there the movie goes...

Movies with random themes, sometimes flat, beautiful, sad... it is better than any indiemovie ever existed.

Kadang, saya melihat pengamen, peminta-minta, atau pendorong gerobak yang entah berjualan apa. Atau malah social scene yang biasa, yang terkadang ketika saya sudah melewatinya, saya mereka-reka kejadian yang akan terjadi pada mereka: tentu saya bukan peramal, tapi saya sok sok an menjadi sutradara, sutradara hidup mereka...

Kadang, saya terlampau jahat. Saya terkadang membayangkan bagaimana jika salah satu keluarga saya (amit-amit jabang bayi), adalah peminta-minta, pengamen, atau pemulung. Kadang juga saya suka berkaca-kaca melihat bapak-bapak di siang bolong, membawa karung besar  -yang mungkin cukup untuk memasukkan 2-3 orang anak kecil- beserta tongkat besi dengan ujung pengait seperti kapten hook. Juga dengan official uniform yang selalu beliau pakai: kemeja dan celana kebesaran lusuh nan usang, sendal jepit Swallow yang telah hampir rata dengan jalanan aspal. Apa sih yang beliau cari? Gelas-gelas plastik atau gelas bekas minuman kemasan yang tiap hari dengan santainya kita -Anda mungkin tidak- buang, tanpa ada rasa sedikit pun bahwa gelas-gelas akan sangat bermanfaat bagi sebagian orang.

Hmm, bagaimana jika itu ayah saya? Bagaimana jika saya dilahirkan di tengah keluarga pemulung? Saya tidak akan tega pasti, saya pasti akan menyeka peluh ayah saya dan berkata: Pak, tolong hentikan pekerjaan ini. Carilah yang lebih mulia.

Tapi sejenak saya berpikir, anak manakah yang tega membiarkan ayahnya bermandikan peluh di siang bolong dengan luka-luka lecet di kaki karena Swallow kebanggaan tak mampu kuat melindungi kaki nya? Saya yakin, jauh di lubuk hatinya anak anak dari bapak-bapak pemulung terhormat itu pun tidak tega, ingin bapaknya sama dengan bapak-bapak lain: pergi ke kantor dengan pakaian necis atau setiap bulan paling tidak membelikan mereka ice cream seperti yang diiklankan di TV.

Tapi... mereka tak punya pilihan atau tidak mengerti sebenarnya mereka punya pilihan?
Mungkin...

Yang jelas, selalu saya tertampar malu melihat berbagai scene pemulung (saya tidak terlalu suka dengan peminta-minta): saya punya segalanya, tapi saya kurang bersyukur, selalu mengeluhkan hidup, padahal hidup tak pernah mengeluhkan saya.

That's why I love motion picture at the journey, it reminds me of how to be grateful and fighting to get better life, share, and being sincere :D














Dedicated to Mr. Liar, Weird, and Fat


rain isnt just about water that falls down from the sky
it gives energy and life for human race
it is one of His best gift
it comes to give breathe
to sustain world harmonity
so that's why I name this blog : Nafas Hujan

Love it: A Walk to Remember

"It's like the wind, I can't see it, but I can feel it. I feel wonder and beauty, joy, love. I mean it’s the center of everything." - Jamie 

Wednesday, 8 February 2012

CLARIFICATION

Since I want to make this blog as my mini diary, I will clarify each post I made especially on my first post.

"Sampai tulisan ini dibuat, we haven't made up yet"


For the past 1 month, it was changing. We made up. We clarified each problem we had. Intinya kita baikan. Klarifikasi. Tapi ga semua tentunya. Ada beberapa hal yang dia maupun aku yang ngutang untuk dijelaskan. Kapan? Time will tell. Belajar bersabar, belajar mengerti. Kadang aku harus bersabar, menunggu proses. It's a wait, katanya. Jujur, itu bukan jawaban yang aku inginkan. I'am the Winter -cold, firm, and rigid- which represents Certainty, in this case jawaban yang pasti. Tapi sekali lagi, belajar bersabar, belajar mengerti. Karena, bukan hanya kali ini aku bakal nemuin jawaban yang menggantung, tapi mungkin ke depannya bakal lebih banyak hal yang lebih menggantung. Aku harus lebih menghargai proses, memahami apa yang orang lain inginkan dan mengerti.


Mengerti jika apapun yang terjadi: mengecewakan atau membahagiakan, dan mencoba bersabar dan belajar tidak menuntut apa yang terjadi.


Sesederhana itu? Ya. Sesederhana itu. Life sometimes isnt always about what you want, but it is always about something what you need. Whatever it takes, I'll take the risk. I am brave, I am tough