Thursday, 8 November 2012

Memoir Bunga Kertas


Memoir Bunga Kertas


Hembusan angin yang lembut membelai anak-anak rambutku yang sedikit menyembul dari balik jilbabku. Segera saja jemari-jemariku sibuk merapikan anak-anak rambutku. Aku tersenyum menatapnya, Ibu baru belajar Nak, batinku. Dia pasti mengerti betapa sulitnya hal ini bagiku, tentu saja, dia selalu mengerti. ‘Ibu sayang kamu Nak’, kali ini aku sedikit berbisik padanya. ‘9 tahun yang lalu, Sayang, Ibu mengandungmu. Dulu kamu masih nakal, selalu menendang-nendang perut Ibu. Seringkali Ibu tak masuk kuliah gara-gara kesakitan atau gara-gara ibu mual-mual tak mau makan. Tapi kamu tahu, Sayang? Karena ibu mengandungmu, ayah dan ibu selalu mendapat keringanan dari dosen kami,’ Aku menghela nafas dalam-dalam, nafasku sedikit berat, serasa ada suatu bongkahan besi yang memaksa otot-otot rangkaku berdiam di tempatnya. Aku membelai lembut dirinya. ‘Sayang, ayah pasti marah pada ibu. Walaupun kamu berkata ini bukan salah ibu, tapi ini memang salah ibu. Maafkan ibu ya, nak... Maaf,’ Sebulir air mata, disusul oleh berbulir-bulir air mata yang perlahan menjelma menjadi aliran yang menghangat membasahi pipiku. Semilir angin mulai menerbangkan bunga-bunga kertas di sekitar kami, aku menengadah. Bunga-bunga kertas ini...
***
Hyde Park, Western Australia, Australia.
            Bunga-bunga kertas di Victoria Pr beterbangan, kuntum-kuntumnya hinggap di pundak dan kepalaku. Aku tak mengusiknya. Aku biarkan dia sesukanya memenuhi kursiku di Hyde Park. Senyumku dikulum. Kubolak-balik benda yang kupegang ditanganku. Benar, pikirku. Tak ada yang salah. Aku tersenyum, kemudian sedikit tergelak. Bule-bule yang lalu lalang didepanku tampak memperhatikanku, kadang dengan bodohnya kulempar senyumku pada mereka yang aku tahu tak akan peduli pada suasana hatiku. Mungkin mereka menatapku gila. Biarlah... Aku mengabadikan setiap sudut Victoria Park dengan mataku. Aliran sungai yang mengalir dibawahku mengalir tenang, berpendar-pendar memantulkan sinar sang mentari. Lampu-lampu tinggi yang bertahta diatas tiang yang berjejer sepanjang jalan setapak ini mengingatkanku pada jalanan di Eropa. Bunga-bunga kertas ditanami di belakang kursiku memamerkan kuntum-kuntumnya, dan diterbangkan oleh angin yang membawanya jatuh ke aliran air. Bukan aku saja yang yang menghabiskan sore itu di Victoria Park, sepasang manula tampak berjalan bersisian dengan romantis, muda-mudi Australia tampak menghabiskan waktu dengan buku-buku di rerumputan disisi sungai, dan seorang ayah yang menemani gadis kecilnya yang balita memberi makan burung-burung ditemani sang ibu yang sibuk memotretnya, keluarga muda.... Aku kembali mengulum senyum.
            ‘Kinanti,’ seru sebuah suara dari arah berlawanan. Itu dia, pria yang kucintai sedang setengah berlari kearah ku. ‘Ada apa? Bukannya kamu seharusnya mendiskusikan thesis mu dengan Prof. Brown?’ Dia sedikit terengah, lalu alisnya mengerut manakala mendapatiku sedang duduk-duduk santai.
            ‘Prof. Brown yang menyuruhku pulang.’ Sudah kuduga,dia menatapku tak percaya. ‘Dia khawatir akan kesehatanku. Kamu tahu kan akhir-akhir ini aku sering mual, muntah, dan sering pusing.’
            ‘Kamu tak apa-apa kan, Kinan?’ Segera tangannya menggapai keningku. Dilabuhkan telapak tangannya,mengukur suhu tubuhku. ‘Tapi, tampaknya kamu sehat,’ Aku tersenyum memandangnya. Pria yang kunikahi 2 tahun silam itu berbalik memandangku tak mengerti. ‘Bukalah,’ kusodorkan bungkusan yang tadi kugenggam erat-erat. Dia membukanya, tampak kemasan kumal yang telah terbasahi keringatku sedari tadi.
            Matanya membulat tak percaya. ‘Sayang, ini...?’
            ‘Bukalah,’ kutatap dia dengan lembut. Tangannya gemetar membuka penutup bungkusan itu. Sejurus kemudian, dia menghambur memelukku.
            ‘Alhamdulillah! Alhamdulillah! Terima kasih ya Allah, terima kasih,’ pekiknya dalam pelukanku. Dia mengecup keningku. Lalu dia sujud seketika di jalan setapak. ‘Terimakasih ya Allah,’ bisiknya lirih. Dia mengusap-usap perutku. ‘Sayang, kamu harus tahan ya nak, bersempit-sempit di dalam sana. Tolong besarlah di sana, sampai Allah mengizinkan kami untuk menjemputmu”.
***
            Royal Perth Hospital
            01.15 PM
Bulir-bulir keringat membasahi keningku. Perutku sepertinya sudah tak bisa menjadi rumah yang luas bagi kandunganku yang selama berbulan-bulan berada di dalamnya. Rasanya mulas, sakit, seperti di peras... Oh tidak, bukankah dokter berkata bahwa ia akan datang 1 bulan lagi? Aku tak bisa berpikir jauh lagi, aku mendengar Putra berseru pada supir taksi yang tadinya akan membawa kami ke University of Western Australia, ‘Please, drive the taxi to Royal Perth Hospital! Faster please! My wife is going to give birth!’
Aku bermaksud menyerahkan revisi paperku pada Prof. Brown, walaupun Putra dan Prof. Brown bersikeras aku harus fokus pada persalinanku. ‘Dont force your self, take your time, just relax. Focus on your baby birth,’ kata Prof. Brown kala aku menyerahkan revisi sebelumnya. ‘It’s almost done, Prof. I think I could proceed it before giving birth,’ Namun aku keukeuh, revisi ini harus selesai, agar aku fokus merawat bayiku tercinta. Aku tak mau pekerjaanku yang malah merebut cintaku untuk anakku kelak.
01.40 PM
Strechter itu terasa mulus menggelinding di lantai. Perlahan, bukan jabang bayiku saja yang mulai tak sabar keluar, tapi jantungku mulai berdegup. Seprai yang kurengut untuk menahan sakitku, mulai basah, telapak tanganku berkeringat. Aku gugup. ‘Berdzikirlah Kinan, engkau mempunyai Allah yang Mahakuasa, serahkan semua pada-Nya,’ bisik Putra sesaat sebelum aku masuk ke ruang operasi. Aku menutup mataku, berikanlah ia kemudahan, Ya Rabb, untuk menapak di dunia ini, meskipun harus kuikhlaskan nyawaku pergi seiring dengan kehadirannya. Kuelus perutku yang nampak seperti gunung, Sayang, perjuangkan hidupmu nak, disini ibu akan memperjuangkan juga hidupmu, dan berjanjilah... jikalau ibu dipanggil oleh-Nya, tumbuhlah dirimu menjadi wanita sholehah... Dia terdiam. Aku bisa merasakannya. Aku tahu dia mengerti.
16.00 PM
Tubuhku serasa tergilas oleh truk, dengan rasa sakit teramat di perutku seakan-akan ada yang merobek paksa. Napasku memburu, terlepas satu satu seiring dengan teriakan suster yang menyuruhku ‘Push... Push harder! You can do it!’
I am.... Pushing!! Dont you know it hurts?!!’ Aku membentak membabi buta orang-orang di sekitarku. Putra terus memegangku, menguatkanku, ‘Kontrol emosimu, Sayang. Dzikir. Ingat! Kamu berjuang untuk menjemput titipan Allah, jaga amanah Allah, Sayang, jangan berhenti berjuang. Keep on pushing!’
Aku memandang Putra, perlahan ototku merengang. ‘Maam, it almost come out, you have to keep on pushing!’ seru susternya, aku menatapnya, ada perasaan khawatir di matanya. ‘I wont give up. Hang a second,’ aku menarik nafas panjang... Ini titipan-Mu ya Rabb, izinkan aku menjemput amanah-Mu, izinkan aku...‘Bismillah!!!’ Teriakku disambut erangan terpanjangku, dan dorongan terkuat yang kumampu dari sisa-sisa tenaga yang pupus. Teriakan itu merupakan siraman kesejukan pada dahaga terdahsyat, kesembuhan pada setiap luka-luka di setiap inci rahimku. Dia telah lahir. Sayup-sayup kudengar lantunan adzan terindah yang pernah kudengar, bercampur dengan haru, sedu sedan seorang ayah.
***
Hyde Park, Western Australia, Australia
Siti Azalea Zahra. Dia terus saja terkulai dipangkuanku. Tertidur. Tampaknya lelah setelah seharian bermain ditempat permainan anak. ‘Sayang, lihat daun Maple nya sudah menguning, tampak berkilau lho. Ayo bangun, ibu ingin kamu melihat sendiri kecantikan sore ini’ aku mengelus pipi Lea dengan lembut. Sulit akhir-akhir ini meluangkan waktu untuk Lea, aku harus membantu Putra menyelesaikan disertasinya. Tentu saja, aku hanya memvolunteerkan diri dalam mengetik laporan. Agaknya Putra sedikit kecapean bekerja di depan komputer, dia seringkali pusing, dan sulit berkonsentrasi, belum lagi dia cepat pusing apabila melihat cahaya. ‘Ayo Sayang, bebek-bebek itu tak akan terlihat lagi nanti winter,’ Lea tetap tak bergeming. Aku duduk di tempat yang sama lima tahun lalu, Hyde Park... kini garis di test pack menjadi nyata: seorang gadis cilik berada di pangkuanku sekarang. Aku tersenyum, bernostalgia, sebelum meninggalkan australia 2 bulan lagi.
***
Jakarta, Indonesia.
Wangi tanah belum tercium sempurna, rupanya hujan itu belum seluruhnya membasahi tanah. Aku menatapnya nanar, hujan seakan menghapus sejenak kepingan-kepingan yang terjadi dalam fase kehidupanku. Azalea terkulai di pangkuanku. Aku dinyatakan positif mengandung anak kedua genap 2 bulan sebelum Putra meninggal dunia. Siluet-siluet kehidupanku selama hampir 8 tahun bersama Putra berseliweran dipikiranku. Bagaimana mungkin aku luput menyadarinya? Putra yang tak pernah mengeluh jika sakit sedikit, tampak sangat pusing ketika melihat cahaya yang benderang, walaupun itu flash, dia mulai sulit berkonsentrasi, dia sering membaringkan dirinya karena nyeri hebat dikepalanya, mengapa aku tak sadar? Mengapa tak menyuruhnya ke dokter? Dia meningitis, Kinanti. Meningitis. Istri macam apa diriku yang tak menyadari itu?
            Putra segera mengabdikan diri sebagai staf peneliti nasional di bidang teknik segera sekembalinya kami dari Australia. Dia berhasil lulus Ph.D dengan predikat cum laude. Namun, nyeri kepala yang dikeluhkan Putra sejak 8 bulan lalu nampak semakin menyiksanya. Dia kerap berteriak kesakitan, kadang dia terlihat seperti ling lung, tak nafsu makan, dan kerap muntah. Betapa kagetnya, ketika hasil diagnosis dan lab menyatakan Putra mengidap radang selaput otak atau meningitis parah. Tiga minggu kemudian, Putra mengalami brain damage karena infeksi telah mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah di otakknya. Meskipun jantungnya berdetak, kata dokter, namun Putra dinyatakan meninggal secara medis karena otaknya sudah tak berfungsi lagi. Tubuh Putra pun akhirnya berjumpa lagi dengan tanah. Tubuhku lunglai seketika manakala terlihat oleku tubuh suamiku yang terbalut kafan putih disokong dan diturunkan, lalu tanah merah merangkulnya... seperti sahabat lama yang tak terpisahkan. Indonesia, negara yang seyogyanya menjadi tempat mimpi-mimpi indah kami rangkaikan, menjadi negara yang secepat itu pula memisahkan Putra dari keluarga kecil kami.
***
            Kubaringkan tubuh remuk ini di sofa sejenak. Jakarta dan macetnya membuat sisa staminaku menurun sampai titik kritis. Kemudian, aku ambil beberapa buku catatan dari dalam tas princess pink milik Lea seperti yang biasanya kulakukan tiap malam. Sejenak mataku terbelalak. Apa-apaan ini?
            ‘Lea, kamu dapat nilai 6 lagi? Kenapa sih? Kamu ga belajar?’ Kutatap lurus-lurus bola mata Lea. Dia memalingkan pandangan ke lantai. Aku tahu dia takut padaku. ‘Habis Lea ga ngerti, Bu,’ katanya pelan sambil memandangku takut-takut. Dia tahu itu bukan jawaban yang kusukai. Aku memutar bola mataku. ‘Lea, tau kan ibu paling ga suka orang yang malas berusaha, males belajar. Lea sebenernya belajar ga sih? Ibu lihat tiap pulang kerja, Lea selalu main dengan Maira. Ga pernah kelihatan belajar,’
Wajahnya terangkat padaku, ragu-ragu dia berkata. ‘Lea capek bu, lemes...’
‘Ibu bilang juga apa. Ibu kan udah beli vitamin buat kamu. Di minum dong le, biar belajarnya semangat, ga gampang capek. Lea, ibu kerja capek-capek ini untuk Lea sama Maira. Kalau kamu belajarnya begini, minum vitamin ga pernah, buat apa coba ibu kerja? Lea mau pinter kan kayak ayah, lea pengen kan bikin ayah bahagia? Ayah pasti sedih kalau anaknya males kayak gini dan ga berprestasi disekolah’ Kalau sudah begini, Lea hanya membatu dan ujung ujungnya Lea kuhukum belajar di kamarnya.
***
Akhir-akhir tingkah Lea seakan menguji kesabaranku. Lea memang bukan tipe pembangkang, sebaliknya dia sangat penurut. Namun ada saja tingkahnya yang nyeleneh dan membuatku jengkel atau kesal.
Baru tadi malam, aku mendapati kening Maira benjol dan kebiruan gara-gara terpeleset ketika Lea mengajaknya bermain di kolam ikan di depan rumah kami. ‘Ibu sudah bilang kan, jagain Maira. Jangan di ajak main macem-macem. Begini ni jadinya,’ kataku setengah kesal memandangnya. Lea hanya berdiri disudut, memandangku membalur kening Maira dengan beras kencur. ‘Lea juga jatoh kok bu, kaki lea sakit...,’ Ia memperlihatkan kaki kanannya ke hadapanku. Tampak memar kebiruan di tempurung kakinya. ‘Ini kan memar yang kemarin kamu tunjukkin, gara-gara nabrak meja kan? Ibu ga mau balur memar Lea, Ibu tahu kamu bohong. Bi Atun, tolong balurkan Lea dengan beraskencur ya?’ Kuserahkan botol param kocok itu pada bi Atun, lalu aku menggendong Maira ke kamarku untuk kutidurkan. Lea hanya mendesah saja, aku tahu dia kecewa karena aku tak mau membalurkan lukanya, biarlah. Biar dia belajar tak ada gunanya menjadi pembohong.
Di hari minggu, Lea sukses memecahkan salah satu lemari hias kacaku. Ia membawa laptopnya ke dalam kamar. Entahlah ada apa dengan cara jalan Lea waktu itu. Namun dia sepertinya menabrak tembok dan kemudian laptopnya terlempar ke salah satu jendela lemari kaca. Jendela dan isi lemari kaca di bagian bawah seketika hancur berantakan. Kejengkelanku memuncak, bukan karena lemari hias kacaku pecah, tapi karena aku khawatir kalau Lea atau Maira yang terkena pecahan kaca itu. ‘Le, bisa ga sih, kamu tuh jalan yang hati-hati sedikit?! Kalau kamu sama adikmu yang kena pecahannya gimana? Selalu deh kamu tuh bikin Ibu jengkel!’ bentakku pada Lea sambil membersihkan pecahan kaca bersama Bi Atun. Seperti biasa, Lea hanya menunduk dan tak berkata apa-apa.
Perkataan-perkataan Lea yang sok dewasa juga seringkali menyulut kekesalanku. Pernah ketika aku sedang letih-letihnya pulang dari bekerja pukul 9 malam, Lea keluar dari kamarnya. ‘Ibu, boleh ga Lea minta sesuatu?’ Tubuh mungilnya melesak dalam sofa krem di ruang tamu. Aku mengaguk sambil memijit-mijit kepalaku yang pening. Lea perlahan berlari meninggalkan sofa dan mengambilkanku air putih. Ia terdiam sesaat. ‘Lea pengen deh ibu pake jilbab kayak ibunya temen-temen Lea yang lain. Kata Bu Guru, kalau wanita udah gede ga pake jilbab itu belum jadi wanita baik. Mmm, terus kalau adzan ibu cepet solat, kata Ibu Guru, kalau ga cepet solat dan kalau wanita dewasa ga pake jilbab, Allah bisa marah, kalau Allah marah, nanti takut masuk neraka,’ paparnya panjang lebar. Seketika aku bangkit dari sofaku. ‘Ibu temen Lea kerja?’ Lea mengaguk. ‘Temen Lea masih ada ayahnya?’ Aku menegakkan dudukku, kutatap bola mata lea langsung. ‘Gini Lea, kalau ibu pakai jilbab, ibu ga boleh kerja. Kalau ibu ga kerja, ibu ga dapet uang untuk beli susu Maira, makan sama sekolah Lea. Ibu ga bisa kayak ibu temen-temen Lea lain, kalau ibu temen kamu ga kerja, temen kamu masih sekolah karena ada ayahnya yang kerja,’ aku menarik nafas sejenak. ‘Untuk solat, kerjaan ibu Le, kamu lihat kan ibu sering pulang malam. Kerjaan ibu itu jauh lebih banyak dari PR kamu, kamu ga usah khawatir.  Yang penting ibu sholat kok, Allah juga pasti ngerti kok.’ Lea menatapku bimbang, ia tampak berpikir sejenak, kemudian berpamitan untuk tidur.
Tak disangkal pertanyaan Lea tadi mengusik pikiranku. Aku tak mengerti, kenapa ia bisa mempertanyakan agamaku? Tahu apa dia? Dia tidak bangga padaku hanya karena aku tidak berkerudung? Pekerjaanku memaksaku untuk tidak berhijab. Dulu sempat Putra memintaku untuk berhijab sekembalinya dari Australia. Tepat 3 minggu setelah Putra meninggal dunia, aku mendapat panggilan kerja. Menjadi Public Relation di sebuah perusahaan Swiss di bidang perbankan. Salah satu syaratnya adalah: tidak berhijab. Inilah yang membuatku gamang pada awalnya, namun akhirnya aku tidak mempunyai pilihan lain. Gaji yang menggiurkan membuatku menerima pekerjaan ini, aku dapat memenuhi kebutuhan Lea yang  waktu itu berusia 5 tahun dan Maira yang masih dalam kandunganku. Maafkan aku Putra, amanahmu belum bisa kupenuhi...
***
            ‘Bu, Lea mau tampil tari Bali di acara kenaikan sekolah,’ Lea menghampiriku yang sedang bermain lego dengan Maira yang kini berusia 4 tahun. ‘Kamu benar mau tampil?’ Aku memegang keningnya. Lea sepertinya tampak makin pucat akhir-akhir ini. Tapi dia tidak panas. ‘Tuh kan, kamu pucat tuh. Vitaminnya pasti ga kamu minum deh. Kalau makan Lea susah kayak sekarang dan vitaminnya ga diminum, Lea tampil narinya di Kartini tahun depan,’
            Ia menggelengkan kepalanya keras-keras. ‘Lea mau makan kok Bu, nanti vitaminnya Lea minum. Lea janji. Lea ga bisa tampil tahun depan, bisanya jumat depan.’
            ‘Bisa, kamu tampil tahun depan kalau janji nya ga ditepatin.’ tukasku. Lea tampaknya sangat ingin tampil pada kenaikan kelas. Ia menepati janjinya, dia berusaha makan walaupun sepertinya dia mau muntah melihat makanannya. ‘Bu,’ panggil Lea, dia menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamarnya. Aku sedang mengetik laporan. ‘Tapi ibu datang kan  ke acara kenaikan sekolah Lea? Nonton Lea tampil kan?’
            ‘Ga bisa Le, Lea tahu kan Ibu senin sampai jumat selalu sibuk. Nanti ibu suruh Bi Atun rekam video Lea pas nari, ibu pasti nonton kok.’ Mataku tak berpaling dari laptop. Lea mendesah panjang, ia tahu aku mustahil aku mengesampingkan pekerjaanku yang menggunung, tak ada gunanya memaksaku untuk datang. Lalu menutup pintu kamarnya. ‘Kalau Lea masuk 3 besar baru Ibu mau datang. Apapun harinya!’
***
            Aku tergopoh-gopoh menyusuri lorong yang familiar. Lorong yang selama 3 minggu sering kulalui empat tahun yang lalu. Dadaku terasa sesak. Kilatan masa lalu terasa datang bertubi-tubi merajam, lebih menyesakkan dan menyakitkan dari yang dulu pernah kurasakan. Aku takut flashback yang pernah kualami menyapaku lebih mengerikan. Telepon yang disambungkan oleh resepsionis kantorku menjadi awal untaian kengerian yang teramat. Bu, Lea, pingsan, ia muntah darah. Begitu kabar yang kudengar dari Bu Ami, gurunya
            Lea terkulai di rumah sakit. Alat bantu pernapasan, infusan, terpasang komplit di badannya. Ia tengah tertidur, ditemani oleh Bu Ria dan Bi Atun. Ada sembilu yang menyayat tepat dihatiku, merobek luka lama yang kukira tak akan pernah kembali. Ia pucat, terlampau pucat. Aku menggigit bibirku, namun perlahan tetesan hangat itu jatuh juga. Bu Ami menangkap kehadiranku ‘Bu, teman Lea menemukannya jatuh pingsan disamping wastafel, dan... ya wastafel itu dipenuhi darah. Tampaknya Lea baru saja muntah darah. Tadi dokter telah mengambil sample darahnya,’ Sesaat kemudian dokter memanggilku. ‘Begini bu, hasil test menunjukkan bahwa jumlah leukosit Lea yaitu 50.000/mm3 melebihi jumlah normal yaitu 4-11.000/mm3.’ Keringatku mulai membasahi telapak tanganku. ‘Tinggi sekali, dok. Anak saya tidak leukimia kan dok?’ Dokter sepuh itu menarik napasnya dan tersenyum ganjil. ‘Kami belum bisa memastikan, Bu. Hanya saja diagnosis sementara mengarah pada Leukimia karena dari pemeriksaan fisik, Lea mengalami muntah, pucat, dan lebam-lebam di tubuhnya. Oleh karena itu serangkaian test diperlukan untuk memastikannya Bu, termasuk diantaranya bone marrow test,’
***
Aku menyingkap selimut putriku yang sedang tertidur, tampak memar memar kehijauan di tangannya. Air mataku meleleh. Berapa banyak memar yang telah kuhiraukan? Bu, tangan Lea sakit. Bu, kaki Lea memar. Lea jatuh Bu, kaki Lea memar lagi, Bu, memar... Apa jawabanku saat itu? Makanya kamu kalau jalan hati-hati dong. Tuh kan ibu bilang, kamu kalau ngerjain apa-apa jangan ngelamun, jatoh kan jadinya. Ibu capek Le, minta balur sana sama Bi Atun. Selalu. Selalu aku yang minta Lea mengerti kondisiku, bukan aku yang mengerti kondisinya.  ‘Ibu... Ibu ga kerja?’ bisiknya lirih, baru terbangun dari tidurnya. Aku menggeleng, ingin rasanya aku mengatakan sesuatu. Namun lelehan air mata ini yang berkata. ‘Ibu kenapa nangis?’ Tangan kecilnya menggapai pipiku, mencoba menghapus air mata yang menderas. ‘Maafkan ibu ya, nak. Maaf,’
‘Ibu jangan nangis, nanti Lea sedih. Lea udah nakal lagi ya bu? Sampai bikin ibu nangis?’ Matanya membulat cemas. Kutatap kedua bola mata hangat putriku. Masya Allah, betapa menenangkan! ‘Lea ga nakal, ibu yang nakal. Ayah pasti marah sama ibu, Nak. Ayah pasti marah. Ibu ga bisa jagain Lea,’
‘Ibu ga nakal, ibu ga salah kok. Ibu kan udah kerja buat Lea, jagain Lea, kasih Lea mainan. Oh iya, sama ngasih Lea rumah yang bagus, kamar yang bagus juga. Kasur pink, bantal Hello Kitty!’ Senyumnya melebar girang, sejurus kemudian ia meringis kesakitan. Terlalu banyak test yang harus ia jalani, Bone Marrow Biopsy, MRI, CT Scan, Complete Blood Count... Tak kuasa aku menahan tangis melihatnya berjuang dengan kesakitannya sendirian. Kertas-kertas hasil tes Lea masih kugenggam. Kubaca berulang-ulang, tetap saja, tak ada kesalahan. ‘Hasil serangkaian pemeriksaan yang kami lakukan menunjukkan adanya kelainan dalam leukosit putri ibu. Kami menemukan adanya sel leukosit yang belum matang lebih dari 20% di bone marrow Lea dan juga sel sel darah yang bersifat kanker. Putri ibu menderita Acute Lymphosit Leukimia. Tipe leukimia yang sering terjadi di anak-anak. Leukimia Lea telah menjalar cukup progresif, putri ibu mengidapnya mungkin sekitar 3 tahunan. Kanker ini diperkirakan telah menyebabkan pendarahan di lambung infeksi, dan mengarah pada otak. Sebenarnya apabila dideteksi lebih dini, mungkin banyak pengobatan yang bisa dilakukan dan yah... kesempatan untuk sembuh pun semakin besar. Namun Allah yang punya kuasa atas segalanya, Insya Allah kita akan coba melakukan chemoterapy maupun bone marrow transplant,’ Perkataan Dokter Budi itu seperti petir di siang bolong. Aku hampir saja terjatuh, tak sadarkan diri, apabila Atun tidak ikut bersamaku saat itu.
Perlahan namun pasti, kanker itu menunjukkan keganasannya didepanku sebagai balasan atas aku yang tak pernah sebelumnya menyaksikannya menggerogoti putriku. Lea mulai muntah darah. Awalnya aku tak kuasa menampung muntahan darahnya, namun lama-lama kukuatkan juga. Putri kecilku perlahan mulai mengurus, rambutnya menipis, kukunya sedikit menghitam, tak tumbuh. dan lama-lama hilang sama sekali akibat kemoterapi yang mematikan sel kanker maupun sel normal yang sedang tumbuh itu. Sering kudapati mata Lea sembab seusai chemo atau tatapannya yang nanar dan enggan begitu melihat banyaknya obat yang mesti dia minum. Kukuatkan Lea untuk meminum obat tersebut walaupun hati ini tak ayal terluka juga. Ibu mana yang kuat melihat putri kecilnya selalu muntah darah dan mimisan tak henti? Entahlah, kejadian ini membuat duniaku berputar seketika. Setelah Lea didiagnosis Leukimia, aku mulai cuti 1 bulan, lalu mengundurkan diri dari pekerjaanku. Aku fokus pada hidup kedua putriku, Lea dan Maira, tentu saja pengobatan Lea menjadi prioritas utamaku. Aku selalu ingin menghabiskan momen berharga bersama kedua putriku, tentu saja Maira sering kutitipkan pada orangtuaku karena usianya yang baru 5 tahun otomatis membuatnya tak bisa masuk ke rumah sakit. Seperti ketika dulu Putra dirawat, rumah sakit lagi-lagi menjadi tempat menginapku selama beberapa bulan.
            Lea terbangun. Waktu itu tengah malam. Dia meminta air minum. Aku melihat putriku yang memucat meneguk air tersebut dengan nikmat. Kemudian dia terdiam. ‘Bu, boleh ga aku minta dibacain ayat Al-Quran? Aku pengen denger ibu ngaji,’ Aku segera bergegas mengambil air wudhu. Air wudhu yang memercik begitu menyejukkan bukan hanya kulitku, namun juga hatiku. Sudah berapa lama aku tidak menyentuh kumpulan kalam Engkau ya Rabb? Lelehan air mata kini bercampur dengan tetesan air wudhu. ‘Bu,’katanya begitu lembut,  ‘nanti kalau Lea ketemu Ayah, Lea bakal bilang, kalau ibu adalah ibu yang terbaik di seluruuuh dunia. Lea juga bakal bilang Allah kalau ibu suka inget sama Allah. Jadi ibu ga usah khawatir Ayah bakal marah sama ibu. Ini bukan salah ibu kok,’ Aku kehabisan kata-kata. Mataku tergenang oleh air mata. Kucium kening putriku, lalu mulai kulantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan syahdu...., dengan rasa malu pada-Nya yang teramat, betapa mahluk ini telah melakukan banyak dosa, betapa mahluk-Nya ini telah mengabaikan amanah yang Dia titipkan.
            Esok harinya aku dengan riang menjinjing bungkusan sebuah boneka. Boneka barbie dengan kerudung, juga kerudung pink yang lucu untuk Lea. Katanya, dia ingin menutupi kepalanya yang botak dengan kerudung. Namun sebuah pandangan ganjil kutangkap, Lea tidak ada di tempat tidur. ‘Sus, Lea kan tidak ada jadwal Chemo, kenapa ia dibawa sih?’ tanya ku seketika pada suster. ‘Fungsi ginjal Lea menurun Bu, dokter membawanya ke ruang operasi. Ponsel ibu tidak aktif di hubungi, jadi saya...’Aku menghiraukan kata-kata suster, aku segera berlari menuju ruang operasi yang kutahu persis letaknya. Aku terus berlari, sampai kulihat dr. budi keluar dari ruangan operasi. Matanya menangkap kehadiranku. Ia menggelengkan kepala. Lariku melambat tatkala melihat sebersit mendung terbayang di matanya. Tubuhku seketika melunglai, ada yang tak beres.
***
            Pemandangan ini seperti familiar untukku. Mataku menangkap sosok yang kucintai lainnya dibopong di keranda, tubuh mungilnya terbalut dengan kafan, lalu dipertemukan dengan tanah diiringi lengkingan suara adzan penuh haru. Aku menatap kosong. Adzan penuh haru yang sama diperdengarkan ketika ia lahir oleh Putra, dan adzan penuh haru yang sama diperdengarkan padanya sebagai tanda perpisahannya pada dunia. Sungguh, terasa singkat Allah titipkan engkau padaku Nak. Masih terasa kebahagiaan demi kebahagian tatkala kau tumbuh dirahimku, dan karena kelalaianku pula kau pergi begitu cepat. Siti Azalea Zahra binti Muhammad Putra, nisan itu terpatri kokoh disamping orang terkasihku dan terkasihnya, Putra.
***
Seminggu setelah Lea tiada, aku pergi ke sekolah Lea untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal di loker. Aku masih ingat ketika mengantarnya kemari, seperti baru kemarin sore dia menggenggam tanganku, malu-malu berkenalan dengan temannya. Ah, tak banyak pengalaman yang kupunyai bersamanya disini. Aku terlalu sibuk bekerja. ‘Bu, saya menemukan ini,’ Bu Fatimah menyodorkan sebuah kado padaku begitu aku hendak pulang, ‘Ini kado sewaktu hari ibu dari Lea, tak sempat diberikan pada ibu mungkin. Jadi dia tinggal di loker,’ Kado itu berwarna pink di bungkus dengan tak rapi, seperti warna kesukaan Lea. Aku merobek pembungkusnya perlahan, merasakan jemari Lea yang membungkus kado ini penuh cinta. Hati ku bergetar tatkala melihatnya. Sebuah jilbab. Tertulis didalamnya: Untuk ibu, semoga semakin disayang Allah J. Tanganku bergetar meraih jilbab berwarna coklat yang indah itu. Air mataku tak hentinya mengalir. Kulilitkan jilbab itu dikepalaku. Ada sebuah kedamaian dan haru bercampur.
Ibu Ami tersenyum padaku. ‘Lea selalu ingin ibu memakai jilbab. Dulu ketika saya menjelaskan bahwa orang yang tidak tepat waktu solatnya dan wanita dewasa yang tidak memakai jilbab akan membuat Allah marah. Sesudah itu, Lea menangis tersedu-sedu. Katanya waktu itu: Lea ga mau ibu masuk neraka, ibu Lea baik meskipun belum pakai jilbab dan solatnya belum tepat waktu. Oleh karena itu, saya usulkan untuk memberi ibu jilbab pada hari ibu,’
Nafasku sedikit tersengal. Jadi itu alasannya kenapa Lea bersikukuh menginginkan aku berjilbab, karena ia tidak ingin aku masuk neraka? Dan apa jawabanku waktu itu, aku menganggap permintaannya itu sok tau. Astagfirullah..
‘ Saya... saya selalu takut akan dunia, Bu. Selepas suami saya meninggal, saya seperti kehilangan arah. Yang saya pikirkan hanyalah bagaimana caranya saya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya demi memberikan rumah yang layak, menyekolahkan anak-anak saya ke sekolah islam terbaik untuk menjadikannya seorang muslimah yang baik tanpa saya sendiri berusaha untuk menjadi contoh yang baik bagi anak saya. Saya juga luput menyadari, bahwa uang tidak bisa memberikan segalanya, tidak bisa membeli keimanan, bahkan hingga saya luput memberikan perhatian pada anak saya sendiri, luput menyadari bahwa anak saya memiliki kelainan genetis pada sel darah putihnya.’Aku teringat pada peristiwa silam. Ketika Lea mengeluhkan bahwa ia lemas, tidak mau makan, dan sulit berkonsentrasi belajar, memar, apa yang kulakukan? Aku berlalu, bahkan mengabaikannya.
            ‘Insya Allah Bu, segala yang terjadi ada hikmahnya. Saya yakin kejadian Lea ini semakin mendekatkan ibu pada-Nya. Saya yakin pula, Lea sendiri tidak akan mau ibu menyalahkan diri sendiri terus. Lea anak yang baik. Pasti ia ingin ibu bangkit dan menjalani hidup ibu karena Allah,’ Ibu Ami tersenyum padaku. Ya, Lea merupakan perpanjangan tangan-Nya untuk merangkulku kembali dalam kasih-Nya lewat serangkaian kisah yang tak jarang mengorbankan perasaannya sendiri. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai Public Relation di Perbankan Syariah yang mewajibkanku memakai jilbab. Aku tersenyum. Betapa Lea merupakan bidadari nyata yang dikirimkan untuk mengirim signal hidayah padaku tanpa lelah, signal yang kudapat seiring kepergiannya.
            Tempat itu, tempat yang sama seperti seminggu yang lalu. Tanah merah yang sama dengan tanah yang membalut orang-orang terkasihku, barisan rumah abadi tanpa strata sosial untuk para hamba-Nya. Aku berlutut disampingnya, kuelus penuh kerinduan nisannya, Siti Azalea binti Muhammad Putra. ‘Maira, kangen kak Lea,’ Maira yang berjongkok di sampingku menatap gundukan di depannya. Aku menganguk, mengelus kepalanya. ‘Ibu juga Nak,’
            Dan bunga bunga kertas itu berterbangan, menyulam hamparan kuntum-kuntum di atas tempat Lea bersemayam. Bunga-bunga kertas yang membawa memori bertahun silam....