Memoir
Bunga Kertas
Hembusan
angin yang lembut membelai anak-anak rambutku yang sedikit menyembul dari balik
jilbabku. Segera saja jemari-jemariku sibuk merapikan anak-anak rambutku. Aku
tersenyum menatapnya, Ibu baru belajar Nak, batinku. Dia pasti mengerti betapa
sulitnya hal ini bagiku, tentu saja, dia selalu mengerti. ‘Ibu sayang kamu Nak’,
kali ini aku sedikit berbisik padanya. ‘9 tahun yang lalu, Sayang, Ibu
mengandungmu. Dulu kamu masih nakal, selalu menendang-nendang perut Ibu.
Seringkali Ibu tak masuk kuliah gara-gara kesakitan atau gara-gara ibu
mual-mual tak mau makan. Tapi kamu tahu, Sayang? Karena ibu mengandungmu, ayah
dan ibu selalu mendapat keringanan dari dosen kami,’ Aku menghela nafas
dalam-dalam, nafasku sedikit berat, serasa ada suatu bongkahan besi yang
memaksa otot-otot rangkaku berdiam di tempatnya. Aku membelai lembut dirinya.
‘Sayang, ayah pasti marah pada ibu. Walaupun kamu berkata ini bukan salah ibu,
tapi ini memang salah ibu. Maafkan ibu ya, nak... Maaf,’ Sebulir air
mata, disusul oleh berbulir-bulir air mata yang perlahan menjelma menjadi
aliran yang menghangat membasahi pipiku. Semilir angin mulai menerbangkan
bunga-bunga kertas di sekitar kami, aku menengadah. Bunga-bunga kertas ini...
***
Hyde
Park, Western Australia, Australia.
Bunga-bunga kertas di Victoria Pr
beterbangan, kuntum-kuntumnya hinggap di pundak dan kepalaku. Aku tak
mengusiknya. Aku biarkan dia sesukanya memenuhi kursiku di Hyde Park. Senyumku
dikulum. Kubolak-balik benda yang kupegang ditanganku. Benar, pikirku. Tak ada
yang salah. Aku tersenyum, kemudian sedikit tergelak. Bule-bule yang lalu
lalang didepanku tampak memperhatikanku, kadang dengan bodohnya kulempar
senyumku pada mereka yang aku tahu tak akan peduli pada suasana hatiku. Mungkin
mereka menatapku gila. Biarlah... Aku mengabadikan setiap sudut Victoria Park
dengan mataku. Aliran sungai yang mengalir dibawahku mengalir tenang,
berpendar-pendar memantulkan sinar sang mentari. Lampu-lampu tinggi yang
bertahta diatas tiang yang berjejer sepanjang jalan setapak ini mengingatkanku
pada jalanan di Eropa. Bunga-bunga kertas ditanami di belakang kursiku
memamerkan kuntum-kuntumnya, dan diterbangkan oleh angin yang membawanya jatuh
ke aliran air. Bukan aku saja yang yang menghabiskan sore itu di Victoria Park,
sepasang manula tampak berjalan bersisian dengan romantis, muda-mudi Australia
tampak menghabiskan waktu dengan buku-buku di rerumputan disisi sungai, dan
seorang ayah yang menemani gadis kecilnya yang balita memberi makan
burung-burung ditemani sang ibu yang sibuk memotretnya, keluarga muda.... Aku
kembali mengulum senyum.
‘Kinanti,’ seru sebuah suara dari
arah berlawanan. Itu dia, pria yang kucintai sedang setengah berlari kearah ku.
‘Ada apa? Bukannya kamu seharusnya mendiskusikan thesis mu dengan Prof. Brown?’
Dia sedikit terengah, lalu alisnya mengerut manakala mendapatiku sedang
duduk-duduk santai.
‘Prof. Brown yang menyuruhku
pulang.’ Sudah kuduga,dia menatapku tak percaya. ‘Dia khawatir akan
kesehatanku. Kamu tahu kan akhir-akhir ini aku sering mual, muntah, dan sering
pusing.’
‘Kamu tak apa-apa kan, Kinan?’
Segera tangannya menggapai keningku. Dilabuhkan telapak tangannya,mengukur suhu
tubuhku. ‘Tapi, tampaknya kamu sehat,’ Aku tersenyum memandangnya. Pria yang
kunikahi 2 tahun silam itu berbalik memandangku tak mengerti. ‘Bukalah,’
kusodorkan bungkusan yang tadi kugenggam erat-erat. Dia membukanya, tampak
kemasan kumal yang telah terbasahi keringatku sedari tadi.
Matanya membulat tak percaya.
‘Sayang, ini...?’
‘Bukalah,’ kutatap dia dengan
lembut. Tangannya gemetar membuka penutup bungkusan itu. Sejurus kemudian, dia
menghambur memelukku.
‘Alhamdulillah! Alhamdulillah!
Terima kasih ya Allah, terima kasih,’ pekiknya dalam pelukanku. Dia mengecup
keningku. Lalu dia sujud seketika di jalan setapak. ‘Terimakasih ya Allah,’
bisiknya lirih. Dia mengusap-usap perutku. ‘Sayang, kamu harus tahan ya nak,
bersempit-sempit di dalam sana. Tolong besarlah di sana, sampai Allah mengizinkan
kami untuk menjemputmu”.
***
Royal Perth Hospital
01.15 PM
Bulir-bulir
keringat membasahi keningku. Perutku sepertinya sudah tak bisa menjadi rumah
yang luas bagi kandunganku yang selama berbulan-bulan berada di dalamnya. Rasanya
mulas, sakit, seperti di peras... Oh tidak, bukankah dokter berkata bahwa ia
akan datang 1 bulan lagi? Aku tak bisa berpikir jauh lagi, aku mendengar
Putra berseru pada supir taksi yang tadinya akan membawa kami ke University of
Western Australia, ‘Please, drive the taxi to Royal Perth Hospital! Faster
please! My wife is going to give birth!’
Aku
bermaksud menyerahkan revisi paperku pada Prof. Brown, walaupun Putra
dan Prof. Brown bersikeras aku harus fokus pada persalinanku. ‘Dont force
your self, take your time, just relax. Focus on your baby birth,’ kata
Prof. Brown kala aku menyerahkan revisi sebelumnya. ‘It’s almost done, Prof.
I think I could proceed it before giving birth,’ Namun aku keukeuh, revisi
ini harus selesai, agar aku fokus merawat bayiku tercinta. Aku tak mau
pekerjaanku yang malah merebut cintaku untuk anakku kelak.
01.40
PM
Strechter
itu terasa mulus menggelinding di lantai. Perlahan, bukan jabang
bayiku saja yang mulai tak sabar keluar, tapi jantungku mulai berdegup. Seprai
yang kurengut untuk menahan sakitku, mulai basah, telapak tanganku berkeringat.
Aku gugup. ‘Berdzikirlah Kinan, engkau mempunyai Allah yang Mahakuasa, serahkan
semua pada-Nya,’ bisik Putra sesaat sebelum aku masuk ke ruang operasi. Aku
menutup mataku, berikanlah ia kemudahan, Ya Rabb, untuk menapak di dunia ini,
meskipun harus kuikhlaskan nyawaku pergi seiring dengan kehadirannya. Kuelus
perutku yang nampak seperti gunung, Sayang, perjuangkan hidupmu nak, disini ibu
akan memperjuangkan juga hidupmu, dan berjanjilah... jikalau ibu dipanggil
oleh-Nya, tumbuhlah dirimu menjadi wanita sholehah... Dia terdiam. Aku bisa
merasakannya. Aku tahu dia mengerti.
16.00
PM
Tubuhku
serasa tergilas oleh truk, dengan rasa sakit teramat di perutku seakan-akan ada
yang merobek paksa. Napasku memburu, terlepas satu satu seiring dengan teriakan
suster yang menyuruhku ‘Push... Push harder! You can do it!’
‘I
am.... Pushing!! Dont you know it hurts?!!’ Aku membentak membabi buta
orang-orang di sekitarku. Putra terus memegangku, menguatkanku, ‘Kontrol
emosimu, Sayang. Dzikir. Ingat! Kamu berjuang untuk menjemput titipan Allah,
jaga amanah Allah, Sayang, jangan berhenti berjuang. Keep on pushing!’
Aku
memandang Putra, perlahan ototku merengang. ‘Maam, it almost come out, you
have to keep on pushing!’ seru susternya, aku menatapnya, ada perasaan
khawatir di matanya. ‘I wont give up. Hang a second,’ aku menarik nafas
panjang... Ini titipan-Mu ya Rabb, izinkan aku menjemput amanah-Mu, izinkan
aku...‘Bismillah!!!’ Teriakku disambut erangan terpanjangku, dan dorongan
terkuat yang kumampu dari sisa-sisa tenaga yang pupus. Teriakan itu merupakan
siraman kesejukan pada dahaga terdahsyat, kesembuhan pada setiap luka-luka di
setiap inci rahimku. Dia telah lahir. Sayup-sayup kudengar lantunan adzan
terindah yang pernah kudengar, bercampur dengan haru, sedu sedan seorang ayah.
***
Hyde
Park, Western Australia, Australia
Siti
Azalea Zahra. Dia terus saja terkulai dipangkuanku. Tertidur. Tampaknya lelah
setelah seharian bermain ditempat permainan anak. ‘Sayang, lihat daun Maple nya
sudah menguning, tampak berkilau lho. Ayo bangun, ibu ingin kamu melihat
sendiri kecantikan sore ini’ aku mengelus pipi Lea dengan lembut. Sulit
akhir-akhir ini meluangkan waktu untuk Lea, aku harus membantu Putra
menyelesaikan disertasinya. Tentu saja, aku hanya memvolunteerkan diri dalam
mengetik laporan. Agaknya Putra sedikit kecapean bekerja di depan komputer, dia
seringkali pusing, dan sulit berkonsentrasi, belum lagi dia cepat pusing
apabila melihat cahaya. ‘Ayo Sayang, bebek-bebek itu tak akan terlihat lagi
nanti winter,’ Lea tetap tak bergeming. Aku duduk di tempat yang sama
lima tahun lalu, Hyde Park... kini garis di test pack menjadi nyata:
seorang gadis cilik berada di pangkuanku sekarang. Aku tersenyum, bernostalgia,
sebelum meninggalkan australia 2 bulan lagi.
***
Jakarta,
Indonesia.
Wangi
tanah belum tercium sempurna, rupanya hujan itu belum seluruhnya membasahi
tanah. Aku menatapnya nanar, hujan seakan menghapus sejenak kepingan-kepingan
yang terjadi dalam fase kehidupanku. Azalea terkulai di pangkuanku. Aku
dinyatakan positif mengandung anak kedua genap 2 bulan sebelum Putra meninggal
dunia. Siluet-siluet kehidupanku selama hampir 8 tahun bersama Putra
berseliweran dipikiranku. Bagaimana mungkin aku luput menyadarinya? Putra yang
tak pernah mengeluh jika sakit sedikit, tampak sangat pusing ketika melihat
cahaya yang benderang, walaupun itu flash, dia mulai sulit
berkonsentrasi, dia sering membaringkan dirinya karena nyeri hebat dikepalanya,
mengapa aku tak sadar? Mengapa tak menyuruhnya ke dokter? Dia meningitis,
Kinanti. Meningitis. Istri macam apa diriku yang tak menyadari itu?
Putra segera mengabdikan diri
sebagai staf peneliti nasional di bidang teknik segera sekembalinya kami dari
Australia. Dia berhasil lulus Ph.D dengan predikat cum laude. Namun, nyeri
kepala yang dikeluhkan Putra sejak 8 bulan lalu nampak semakin menyiksanya. Dia
kerap berteriak kesakitan, kadang dia terlihat seperti ling lung, tak nafsu
makan, dan kerap muntah. Betapa kagetnya, ketika hasil diagnosis dan lab
menyatakan Putra mengidap radang selaput otak atau meningitis parah. Tiga
minggu kemudian, Putra mengalami brain damage karena infeksi telah
mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah di otakknya. Meskipun jantungnya
berdetak, kata dokter, namun Putra dinyatakan meninggal secara medis karena otaknya
sudah tak berfungsi lagi. Tubuh Putra pun akhirnya berjumpa lagi dengan tanah.
Tubuhku lunglai seketika manakala terlihat oleku tubuh suamiku yang terbalut
kafan putih disokong dan diturunkan, lalu tanah merah merangkulnya... seperti
sahabat lama yang tak terpisahkan. Indonesia, negara yang seyogyanya menjadi
tempat mimpi-mimpi indah kami rangkaikan, menjadi negara yang secepat itu pula
memisahkan Putra dari keluarga kecil kami.
***
Kubaringkan tubuh remuk ini di sofa
sejenak. Jakarta dan macetnya membuat sisa staminaku menurun sampai titik
kritis. Kemudian, aku ambil beberapa buku catatan dari dalam tas princess pink
milik Lea seperti yang biasanya kulakukan tiap malam. Sejenak mataku
terbelalak. Apa-apaan ini?
‘Lea, kamu dapat nilai 6 lagi? Kenapa
sih? Kamu ga belajar?’ Kutatap lurus-lurus bola mata Lea. Dia memalingkan
pandangan ke lantai. Aku tahu dia takut padaku. ‘Habis Lea ga ngerti, Bu,’
katanya pelan sambil memandangku takut-takut. Dia tahu itu bukan jawaban yang
kusukai. Aku memutar bola mataku. ‘Lea, tau kan ibu paling ga suka orang yang
malas berusaha, males belajar. Lea sebenernya belajar ga sih? Ibu lihat tiap
pulang kerja, Lea selalu main dengan Maira. Ga pernah kelihatan belajar,’
Wajahnya
terangkat padaku, ragu-ragu dia berkata. ‘Lea capek bu, lemes...’
‘Ibu
bilang juga apa. Ibu kan udah beli vitamin buat kamu. Di minum dong le, biar
belajarnya semangat, ga gampang capek. Lea, ibu kerja capek-capek ini untuk Lea
sama Maira. Kalau kamu belajarnya begini, minum vitamin ga pernah, buat apa
coba ibu kerja? Lea mau pinter kan kayak ayah, lea pengen kan bikin ayah
bahagia? Ayah pasti sedih kalau anaknya males kayak gini dan ga berprestasi
disekolah’ Kalau sudah begini, Lea hanya membatu dan ujung ujungnya Lea kuhukum
belajar di kamarnya.
***
Akhir-akhir
tingkah Lea seakan menguji kesabaranku. Lea memang bukan tipe pembangkang,
sebaliknya dia sangat penurut. Namun ada saja tingkahnya yang nyeleneh dan
membuatku jengkel atau kesal.
Baru
tadi malam, aku mendapati kening Maira benjol dan kebiruan gara-gara terpeleset
ketika Lea mengajaknya bermain di kolam ikan di depan rumah kami. ‘Ibu sudah
bilang kan, jagain Maira. Jangan di ajak main macem-macem. Begini ni jadinya,’
kataku setengah kesal memandangnya. Lea hanya berdiri disudut, memandangku
membalur kening Maira dengan beras kencur. ‘Lea juga jatoh kok bu, kaki lea
sakit...,’ Ia memperlihatkan kaki kanannya ke hadapanku. Tampak memar kebiruan
di tempurung kakinya. ‘Ini kan memar yang kemarin kamu tunjukkin, gara-gara
nabrak meja kan? Ibu ga mau balur memar Lea, Ibu tahu kamu bohong. Bi Atun,
tolong balurkan Lea dengan beraskencur ya?’ Kuserahkan botol param kocok itu
pada bi Atun, lalu aku menggendong Maira ke kamarku untuk kutidurkan. Lea hanya
mendesah saja, aku tahu dia kecewa karena aku tak mau membalurkan lukanya,
biarlah. Biar dia belajar tak ada gunanya menjadi pembohong.
Di
hari minggu, Lea sukses memecahkan salah satu lemari hias kacaku. Ia membawa
laptopnya ke dalam kamar. Entahlah ada apa dengan cara jalan Lea waktu itu.
Namun dia sepertinya menabrak tembok dan kemudian laptopnya terlempar ke salah
satu jendela lemari kaca. Jendela dan isi lemari kaca di bagian bawah seketika
hancur berantakan. Kejengkelanku memuncak, bukan karena lemari hias kacaku
pecah, tapi karena aku khawatir kalau Lea atau Maira yang terkena pecahan kaca
itu. ‘Le, bisa ga sih, kamu tuh jalan yang hati-hati sedikit?! Kalau kamu sama
adikmu yang kena pecahannya gimana? Selalu deh kamu tuh bikin Ibu jengkel!’ bentakku
pada Lea sambil membersihkan pecahan kaca bersama Bi Atun. Seperti biasa, Lea
hanya menunduk dan tak berkata apa-apa.
Perkataan-perkataan
Lea yang sok dewasa juga seringkali menyulut kekesalanku. Pernah ketika aku
sedang letih-letihnya pulang dari bekerja pukul 9 malam, Lea keluar dari
kamarnya. ‘Ibu, boleh ga Lea minta sesuatu?’ Tubuh mungilnya melesak dalam sofa
krem di ruang tamu. Aku mengaguk sambil memijit-mijit kepalaku yang pening. Lea
perlahan berlari meninggalkan sofa dan mengambilkanku air putih. Ia terdiam
sesaat. ‘Lea pengen deh ibu pake jilbab kayak ibunya temen-temen Lea yang lain.
Kata Bu Guru, kalau wanita udah gede ga pake jilbab itu belum jadi wanita baik.
Mmm, terus kalau adzan ibu cepet solat, kata Ibu Guru, kalau ga cepet solat dan
kalau wanita dewasa ga pake jilbab, Allah bisa marah, kalau Allah marah, nanti
takut masuk neraka,’ paparnya panjang lebar. Seketika aku bangkit dari sofaku. ‘Ibu
temen Lea kerja?’ Lea mengaguk. ‘Temen Lea masih ada ayahnya?’ Aku menegakkan
dudukku, kutatap bola mata lea langsung. ‘Gini Lea, kalau ibu pakai jilbab, ibu
ga boleh kerja. Kalau ibu ga kerja, ibu ga dapet uang untuk beli susu Maira,
makan sama sekolah Lea. Ibu ga bisa kayak ibu temen-temen Lea lain, kalau ibu
temen kamu ga kerja, temen kamu masih sekolah karena ada ayahnya yang kerja,’
aku menarik nafas sejenak. ‘Untuk solat, kerjaan ibu Le, kamu lihat kan ibu
sering pulang malam. Kerjaan ibu itu jauh lebih banyak dari PR kamu, kamu ga
usah khawatir. Yang penting ibu sholat
kok, Allah juga pasti ngerti kok.’ Lea menatapku bimbang, ia tampak berpikir
sejenak, kemudian berpamitan untuk tidur.
Tak
disangkal pertanyaan Lea tadi mengusik pikiranku. Aku tak mengerti, kenapa ia
bisa mempertanyakan agamaku? Tahu apa dia? Dia tidak bangga padaku hanya karena
aku tidak berkerudung? Pekerjaanku memaksaku untuk tidak berhijab. Dulu sempat
Putra memintaku untuk berhijab sekembalinya dari Australia. Tepat 3 minggu
setelah Putra meninggal dunia, aku mendapat panggilan kerja. Menjadi Public
Relation di sebuah perusahaan Swiss di bidang perbankan. Salah satu
syaratnya adalah: tidak berhijab. Inilah yang membuatku gamang pada awalnya,
namun akhirnya aku tidak mempunyai pilihan lain. Gaji yang menggiurkan
membuatku menerima pekerjaan ini, aku dapat memenuhi kebutuhan Lea yang waktu itu berusia 5 tahun dan Maira yang masih
dalam kandunganku. Maafkan aku Putra, amanahmu belum bisa kupenuhi...
***
‘Bu, Lea mau tampil tari Bali di
acara kenaikan sekolah,’ Lea menghampiriku yang sedang bermain lego dengan
Maira yang kini berusia 4 tahun. ‘Kamu benar mau tampil?’ Aku memegang
keningnya. Lea sepertinya tampak makin pucat akhir-akhir ini. Tapi dia tidak
panas. ‘Tuh kan, kamu pucat tuh. Vitaminnya pasti ga kamu minum deh. Kalau makan
Lea susah kayak sekarang dan vitaminnya ga diminum, Lea tampil narinya di
Kartini tahun depan,’
Ia menggelengkan kepalanya
keras-keras. ‘Lea mau makan kok Bu, nanti vitaminnya Lea minum. Lea janji. Lea
ga bisa tampil tahun depan, bisanya jumat depan.’
‘Bisa, kamu tampil tahun depan kalau
janji nya ga ditepatin.’ tukasku. Lea tampaknya sangat ingin tampil pada
kenaikan kelas. Ia menepati janjinya, dia berusaha makan walaupun sepertinya
dia mau muntah melihat makanannya. ‘Bu,’ panggil Lea, dia menyembulkan
kepalanya dari balik pintu kamarnya. Aku sedang mengetik laporan. ‘Tapi ibu
datang kan ke acara kenaikan sekolah
Lea? Nonton Lea tampil kan?’
‘Ga bisa Le, Lea tahu kan Ibu senin
sampai jumat selalu sibuk. Nanti ibu suruh Bi Atun rekam video Lea pas nari,
ibu pasti nonton kok.’ Mataku tak berpaling dari laptop. Lea mendesah panjang,
ia tahu aku mustahil aku mengesampingkan pekerjaanku yang menggunung, tak ada
gunanya memaksaku untuk datang. Lalu menutup pintu kamarnya. ‘Kalau Lea masuk 3
besar baru Ibu mau datang. Apapun harinya!’
***
Aku tergopoh-gopoh menyusuri lorong
yang familiar. Lorong yang selama 3 minggu sering kulalui empat tahun yang
lalu. Dadaku terasa sesak. Kilatan masa lalu terasa datang bertubi-tubi
merajam, lebih menyesakkan dan menyakitkan dari yang dulu pernah kurasakan. Aku
takut flashback yang pernah kualami menyapaku lebih mengerikan. Telepon
yang disambungkan oleh resepsionis kantorku menjadi awal untaian kengerian yang
teramat. Bu, Lea, pingsan, ia muntah darah. Begitu kabar yang kudengar dari Bu
Ami, gurunya
Lea terkulai di rumah sakit. Alat
bantu pernapasan, infusan, terpasang komplit di badannya. Ia tengah tertidur,
ditemani oleh Bu Ria dan Bi Atun. Ada sembilu yang menyayat tepat dihatiku,
merobek luka lama yang kukira tak akan pernah kembali. Ia pucat, terlampau
pucat. Aku menggigit bibirku, namun perlahan tetesan hangat itu jatuh juga. Bu
Ami menangkap kehadiranku ‘Bu, teman Lea menemukannya jatuh pingsan disamping
wastafel, dan... ya wastafel itu dipenuhi darah. Tampaknya Lea baru saja muntah
darah. Tadi dokter telah mengambil sample darahnya,’ Sesaat kemudian dokter
memanggilku. ‘Begini bu, hasil test menunjukkan bahwa jumlah leukosit Lea yaitu
50.000/mm3 melebihi jumlah normal yaitu 4-11.000/mm3.’ Keringatku mulai
membasahi telapak tanganku. ‘Tinggi sekali, dok. Anak saya tidak leukimia kan
dok?’ Dokter sepuh itu menarik napasnya dan tersenyum ganjil. ‘Kami belum bisa
memastikan, Bu. Hanya saja diagnosis sementara mengarah pada Leukimia karena
dari pemeriksaan fisik, Lea mengalami muntah, pucat, dan lebam-lebam di
tubuhnya. Oleh karena itu serangkaian test diperlukan untuk memastikannya Bu,
termasuk diantaranya bone marrow test,’
***
Aku
menyingkap selimut putriku yang sedang tertidur, tampak memar memar kehijauan
di tangannya. Air mataku meleleh. Berapa banyak memar yang telah kuhiraukan?
Bu, tangan Lea sakit. Bu, kaki Lea memar. Lea jatuh Bu, kaki Lea memar lagi,
Bu, memar... Apa jawabanku saat itu? Makanya kamu kalau jalan hati-hati dong.
Tuh kan ibu bilang, kamu kalau ngerjain apa-apa jangan ngelamun, jatoh kan
jadinya. Ibu capek Le, minta balur sana sama Bi Atun. Selalu. Selalu aku yang
minta Lea mengerti kondisiku, bukan aku yang mengerti kondisinya. ‘Ibu... Ibu ga kerja?’ bisiknya lirih, baru
terbangun dari tidurnya. Aku menggeleng, ingin rasanya aku mengatakan sesuatu.
Namun lelehan air mata ini yang berkata. ‘Ibu kenapa nangis?’ Tangan kecilnya
menggapai pipiku, mencoba menghapus air mata yang menderas. ‘Maafkan ibu ya,
nak. Maaf,’
‘Ibu
jangan nangis, nanti Lea sedih. Lea udah nakal lagi ya bu? Sampai bikin ibu
nangis?’ Matanya membulat cemas. Kutatap kedua bola mata hangat putriku. Masya
Allah, betapa menenangkan! ‘Lea ga nakal, ibu yang nakal. Ayah pasti marah sama
ibu, Nak. Ayah pasti marah. Ibu ga bisa jagain Lea,’
‘Ibu
ga nakal, ibu ga salah kok. Ibu kan udah kerja buat Lea, jagain Lea, kasih Lea
mainan. Oh iya, sama ngasih Lea rumah yang bagus, kamar yang bagus juga. Kasur
pink, bantal Hello Kitty!’ Senyumnya melebar girang, sejurus kemudian ia
meringis kesakitan. Terlalu banyak test yang harus ia jalani, Bone Marrow
Biopsy, MRI, CT Scan, Complete Blood Count... Tak kuasa aku menahan tangis
melihatnya berjuang dengan kesakitannya sendirian. Kertas-kertas hasil tes Lea
masih kugenggam. Kubaca berulang-ulang, tetap saja, tak ada kesalahan. ‘Hasil serangkaian
pemeriksaan yang kami lakukan menunjukkan adanya kelainan dalam leukosit putri
ibu. Kami menemukan adanya sel leukosit yang belum matang lebih dari 20% di bone
marrow Lea dan juga sel sel darah yang bersifat kanker. Putri ibu menderita
Acute Lymphosit Leukimia. Tipe leukimia yang sering terjadi di anak-anak.
Leukimia Lea telah menjalar cukup progresif, putri ibu mengidapnya mungkin
sekitar 3 tahunan. Kanker ini diperkirakan telah menyebabkan pendarahan di
lambung infeksi, dan mengarah pada otak. Sebenarnya apabila dideteksi lebih
dini, mungkin banyak pengobatan yang bisa dilakukan dan yah... kesempatan untuk
sembuh pun semakin besar. Namun Allah yang punya kuasa atas segalanya, Insya
Allah kita akan coba melakukan chemoterapy maupun bone marrow transplant,’ Perkataan
Dokter Budi itu seperti petir di siang bolong. Aku hampir saja terjatuh, tak
sadarkan diri, apabila Atun tidak ikut bersamaku saat itu.
Perlahan
namun pasti, kanker itu menunjukkan keganasannya didepanku sebagai balasan atas
aku yang tak pernah sebelumnya menyaksikannya menggerogoti putriku. Lea mulai
muntah darah. Awalnya aku tak kuasa menampung muntahan darahnya, namun
lama-lama kukuatkan juga. Putri kecilku perlahan mulai mengurus, rambutnya
menipis, kukunya sedikit menghitam, tak tumbuh. dan lama-lama hilang sama
sekali akibat kemoterapi yang mematikan sel kanker maupun sel normal yang sedang
tumbuh itu. Sering kudapati mata Lea sembab seusai chemo atau tatapannya
yang nanar dan enggan begitu melihat banyaknya obat yang mesti dia minum. Kukuatkan
Lea untuk meminum obat tersebut walaupun hati ini tak ayal terluka juga. Ibu
mana yang kuat melihat putri kecilnya selalu muntah darah dan mimisan tak
henti? Entahlah, kejadian ini membuat duniaku berputar seketika. Setelah Lea
didiagnosis Leukimia, aku mulai cuti 1 bulan, lalu mengundurkan diri dari
pekerjaanku. Aku fokus pada hidup kedua putriku, Lea dan Maira, tentu saja
pengobatan Lea menjadi prioritas utamaku. Aku selalu ingin menghabiskan momen
berharga bersama kedua putriku, tentu saja Maira sering kutitipkan pada
orangtuaku karena usianya yang baru 5 tahun otomatis membuatnya tak bisa masuk
ke rumah sakit. Seperti ketika dulu Putra dirawat, rumah sakit lagi-lagi
menjadi tempat menginapku selama beberapa bulan.
Lea terbangun. Waktu itu tengah
malam. Dia meminta air minum. Aku melihat putriku yang memucat meneguk air
tersebut dengan nikmat. Kemudian dia terdiam. ‘Bu, boleh ga aku minta dibacain
ayat Al-Quran? Aku pengen denger ibu ngaji,’ Aku segera bergegas mengambil air
wudhu. Air wudhu yang memercik begitu menyejukkan bukan hanya kulitku, namun
juga hatiku. Sudah berapa lama aku tidak menyentuh kumpulan kalam Engkau ya
Rabb? Lelehan air mata kini bercampur dengan tetesan air wudhu. ‘Bu,’katanya
begitu lembut, ‘nanti kalau Lea ketemu Ayah,
Lea bakal bilang, kalau ibu adalah ibu yang terbaik di seluruuuh dunia. Lea
juga bakal bilang Allah kalau ibu suka inget sama Allah. Jadi ibu ga usah
khawatir Ayah bakal marah sama ibu. Ini bukan salah ibu kok,’ Aku kehabisan
kata-kata. Mataku tergenang oleh air mata. Kucium kening putriku, lalu mulai
kulantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan syahdu...., dengan rasa malu pada-Nya
yang teramat, betapa mahluk ini telah melakukan banyak dosa, betapa mahluk-Nya
ini telah mengabaikan amanah yang Dia titipkan.
Esok harinya aku dengan riang
menjinjing bungkusan sebuah boneka. Boneka barbie dengan kerudung, juga
kerudung pink yang lucu untuk Lea. Katanya, dia ingin menutupi kepalanya yang
botak dengan kerudung. Namun sebuah pandangan ganjil kutangkap, Lea tidak ada
di tempat tidur. ‘Sus, Lea kan tidak ada jadwal Chemo, kenapa ia dibawa
sih?’ tanya ku seketika pada suster. ‘Fungsi ginjal Lea menurun Bu, dokter
membawanya ke ruang operasi. Ponsel ibu tidak aktif di hubungi, jadi
saya...’Aku menghiraukan kata-kata suster, aku segera berlari menuju ruang
operasi yang kutahu persis letaknya. Aku terus berlari, sampai kulihat dr. budi
keluar dari ruangan operasi. Matanya menangkap kehadiranku. Ia menggelengkan
kepala. Lariku melambat tatkala melihat sebersit mendung terbayang di matanya. Tubuhku
seketika melunglai, ada yang tak beres.
***
Pemandangan ini seperti familiar
untukku. Mataku menangkap sosok yang kucintai lainnya dibopong di keranda,
tubuh mungilnya terbalut dengan kafan, lalu dipertemukan dengan tanah diiringi
lengkingan suara adzan penuh haru. Aku menatap kosong. Adzan penuh haru yang
sama diperdengarkan ketika ia lahir oleh Putra, dan adzan penuh haru yang sama
diperdengarkan padanya sebagai tanda perpisahannya pada dunia. Sungguh, terasa
singkat Allah titipkan engkau padaku Nak. Masih terasa kebahagiaan demi
kebahagian tatkala kau tumbuh dirahimku, dan karena kelalaianku pula kau pergi
begitu cepat. Siti Azalea Zahra binti Muhammad Putra, nisan itu terpatri kokoh
disamping orang terkasihku dan terkasihnya, Putra.
***
Seminggu
setelah Lea tiada, aku pergi ke sekolah Lea untuk mengambil barang-barangnya
yang tertinggal di loker. Aku masih ingat ketika mengantarnya kemari, seperti
baru kemarin sore dia menggenggam tanganku, malu-malu berkenalan dengan
temannya. Ah, tak banyak pengalaman yang kupunyai bersamanya disini. Aku
terlalu sibuk bekerja. ‘Bu, saya menemukan ini,’ Bu Fatimah menyodorkan sebuah
kado padaku begitu aku hendak pulang, ‘Ini kado sewaktu hari ibu dari Lea, tak
sempat diberikan pada ibu mungkin. Jadi dia tinggal di loker,’ Kado itu
berwarna pink di bungkus dengan tak rapi, seperti warna kesukaan Lea. Aku
merobek pembungkusnya perlahan, merasakan jemari Lea yang membungkus kado ini
penuh cinta. Hati ku bergetar tatkala melihatnya. Sebuah jilbab. Tertulis
didalamnya: Untuk ibu, semoga semakin disayang Allah J. Tanganku bergetar meraih jilbab berwarna coklat yang indah itu.
Air mataku tak hentinya mengalir. Kulilitkan jilbab itu dikepalaku. Ada sebuah
kedamaian dan haru bercampur.
Ibu
Ami tersenyum padaku. ‘Lea selalu ingin ibu memakai jilbab. Dulu ketika saya
menjelaskan bahwa orang yang tidak tepat waktu solatnya dan wanita dewasa yang
tidak memakai jilbab akan membuat Allah marah. Sesudah itu, Lea menangis
tersedu-sedu. Katanya waktu itu: Lea ga mau ibu masuk neraka, ibu Lea baik
meskipun belum pakai jilbab dan solatnya belum tepat waktu. Oleh karena itu,
saya usulkan untuk memberi ibu jilbab pada hari ibu,’
Nafasku
sedikit tersengal. Jadi itu alasannya kenapa Lea bersikukuh menginginkan aku
berjilbab, karena ia tidak ingin aku masuk neraka? Dan apa jawabanku waktu itu,
aku menganggap permintaannya itu sok tau. Astagfirullah..
‘
Saya... saya selalu takut akan dunia, Bu. Selepas suami saya meninggal, saya
seperti kehilangan arah. Yang saya pikirkan hanyalah bagaimana caranya saya
mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya demi memberikan rumah yang layak,
menyekolahkan anak-anak saya ke sekolah islam terbaik untuk menjadikannya
seorang muslimah yang baik tanpa saya sendiri berusaha untuk menjadi contoh
yang baik bagi anak saya. Saya juga luput menyadari, bahwa uang tidak bisa
memberikan segalanya, tidak bisa membeli keimanan, bahkan hingga saya luput
memberikan perhatian pada anak saya sendiri, luput menyadari bahwa anak saya
memiliki kelainan genetis pada sel darah putihnya.’Aku teringat pada peristiwa
silam. Ketika Lea mengeluhkan bahwa ia lemas, tidak mau makan, dan sulit
berkonsentrasi belajar, memar, apa yang kulakukan? Aku berlalu, bahkan
mengabaikannya.
‘Insya Allah Bu, segala yang terjadi
ada hikmahnya. Saya yakin kejadian Lea ini semakin mendekatkan ibu pada-Nya.
Saya yakin pula, Lea sendiri tidak akan mau ibu menyalahkan diri sendiri terus.
Lea anak yang baik. Pasti ia ingin ibu bangkit dan menjalani hidup ibu karena
Allah,’ Ibu Ami tersenyum padaku. Ya, Lea merupakan perpanjangan tangan-Nya
untuk merangkulku kembali dalam kasih-Nya lewat serangkaian kisah yang tak
jarang mengorbankan perasaannya sendiri. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai Public
Relation di Perbankan Syariah yang mewajibkanku memakai jilbab. Aku
tersenyum. Betapa Lea merupakan bidadari nyata yang dikirimkan untuk mengirim
signal hidayah padaku tanpa lelah, signal yang kudapat seiring kepergiannya.
Tempat itu, tempat yang sama seperti
seminggu yang lalu. Tanah merah yang sama dengan tanah yang membalut orang-orang
terkasihku, barisan rumah abadi tanpa strata sosial untuk para hamba-Nya. Aku
berlutut disampingnya, kuelus penuh kerinduan nisannya, Siti Azalea binti
Muhammad Putra. ‘Maira, kangen kak Lea,’ Maira yang berjongkok di sampingku
menatap gundukan di depannya. Aku menganguk, mengelus kepalanya. ‘Ibu juga
Nak,’
Dan bunga bunga kertas itu
berterbangan, menyulam hamparan kuntum-kuntum di atas tempat Lea bersemayam.
Bunga-bunga kertas yang membawa memori bertahun silam....
No comments:
Post a Comment