Sunday, 28 April 2013

Levi dan Cerita Wulan

Levi menutup laptopnya segera. Sulit berkonsentrasi dalam keadaan seperti ini. Air mata telah jatuh perlahan membasahi seprai linennya. Berlembar-lembar tisu telah habis untuk menyerap bulir-bulir sendu itu. Hatinya bertanya-tanya, bagaimana bisa Erwan selingkuh.
Erwan tampak baik dan diperlakukan baik. Kurang apa? Pengertian dan perhatian? Erwan selalu dibanjiri semua itu! Empati dan support? Hey, disaat skripsinya tersendat, tentu saja, ia menjadi prioritas utama. Untuk diperhatikan.
Levi sesaat menatap getir laptop hitamnya. Apa yang salah dengan pria itu?
Ia lalu terlempar pada ingatan beberapa hari lalu, ketika ia sedang sibuk merevisi skripsinya. Di hadapannya berlembar-lembar kertas berserakan. Penuh angka dan huruf yang tercoret dan ditulis dengan terburu-buru. Dihadapannya pula duduk gadis mungil yang menyeruput kopi demi mendapat asupan kafein untuk matanya yang mulai mengantuk.
Tiba-tiba pertanyaan terlintas di benak Levi.
'Tu, kenapa sih hubungan bertahun-tahun bisa putus dalam sekejap.'
Dia tampak berpikir sesaat. 'Banyak,'
'Kalau kamu?' Levi tahu Ratu telah menjalani hubungan 2 tahun kemudian putus begitu saja.
'Adalah.' Dia tampak enggan menjawab. Levi tahu, dia menanyakan sesuatu yang terlalu pribadi.' Mmm..., tapi biasanya putus karena dua alasan. Kalau ga selingkuh, ya bosen.'
'Hah? Kok bisa?'
'Bahkan, berawal dari bosen. Bisa jadi selingkuh loh, dia cari-cari masalah, biar hubungan lebih dinamis, terus malah cari pelarian. Finally, dia selingkuh.' katanya ringan.
Aku tertegun sesaat. Seketika gundah menerpa.

'Lev, gimana dong?' Wulan menatap dengan getir.
Levi menggigit bibir. 'I think its better for you to let him go.' Levi kemudian menatap matanya lekat-lekat 'Kamu pantas dapatkan seseorang yang jauh lebih baik, kamu cantik, pintar, solehah. Aku yakin kamu sedang disiapkan bertemu dengan laki-laki yang jauh lebih pantas memperlakukanmu. Jauh lebih baik dari yang Erwan berikan padamu,'
Wulan tersenyum seulas, kemudian membaringkan diri di kasur. Matanya perlahan terpejam. Getir Levi melihatnya. Ingin ia merangkulnya. Wulan kurang apa lagi, Erwan? Kenapa tega menyakitinya? Hanya karena bertitel rasa 'bosan' kah sehingga dia mengkhianati Wulan? Mengkhianati Wulan dengan teman sekelasnya sendiri. Teman yang telah memiliki seorang kekasih pula. Tapi diam-diam Levi bersyukur, Wulan terlalu baik buat Erwan.

Levi kembali membuka laptopnya. Mata tertancap pada barisan kata, tapi pikirannya mengelana. Bosankah? Itukah penyebabnya? Hati Levi nanar. Ia tak pernah mengalaminya, dan tak ingin mengalaminya.

Matanya secara refleks tertumpu pada dompet merahnya yang terbuka. Dengan enggan, dia menatap sebuah foto.  Enggan karena terselip sebuah kecemasan. Ini pertama kalinya, ia merasakan batinnya terhubung serius pada sebuah pengharapan. Kedua orang di foto itu tampak tersenyum bahagia, memandangnya. Fotonya bersama seorang pria yang setahun belakangan mengisi hari-harinya. Pria yang tinggal beratus-ratus kilometer darinya, yang selama ini merajut kebahagian lewat kata-kata di dunia maya. Levi menatapnya lekat-lekat, walau dia enggan.
Apakah dia Erwan lain yang menjadikan kebosanan  sebuah kunci untuk mengakhiri sebuah komitmen? atau melarikan diri dan berlabuh di hati yang bukan tempatnya?
Akankah jarak yang menjembatani dua hati di berlainan tempat perlahan akan rapuh? Akankah dalam jarak menjadi faktor ketiga dalam punahnya rasa?
Levi menggigit bibirnya semakin keras. Ia menatap Wulan, lalu foto itu. Pikirannya berkecamuk. Ia menarik nafas dalam-dalam.
Ia hanya tahu dua hal.
Ia menyayanginya.
Ia mempercayainya

Wednesday, 24 April 2013

Tiga


Sesaat aku seakan membeku, pikiranku kosong seakan mengembara ke antah berantah dan tak bisa digapai. Namun kemudian pikiran itu masuk berjejalan memenuhi pikiranku, seperti berebutan masuk tak terkendali. Bagaimana bisa aku bisa berada di sini? Aku tahu aku pingsan, tapi aku pingsan secara normal, aku pingsan bahkan di ruang kecil kosong sialan itu. Mana mungkin ruangan kosong itu bisa jadi mesin waktu. Ruangan itu hanya ruangan kecil yang tak berarti, kosong melompong, taka da sesuatu yang ajaib disana. bahkan ada di tempat yang sering dilalui semua orang! Pasti semua orang bisa masuk ke ruangan itu, tapi tak pernah ada murid yang dikabarkan ‘hilang’ atau mengalami perjalanan ke masa lalu. semua orang bisa mengakses ruangan itu kan? Kenapa mesti aku yang ada di masa ini?

            Aku tertegun sesaat. Aku mulai ragu. Ruangan itu tidak pernah ada sebelumnya. Aku selalu menyusuri lorong itu, tapi sama sekali aku tidak menemukan ada tingkap pintu disitu.

            ‘Kau membuang waktuku,’ suara beratnya membuyarkan pikiranku. ‘Aku harus pulang’

            Aku menatapnya nanar. ‘Aku… aku bukan Kinanti Kusumadewi. Aku … Tirani Aluna Ananta. Dan aku datang dari 100 tahun yang akan datang. Aku terjebak di masa 100 tahun lalu, yaitu sekarang,’

            Dia menundukkan kepala, tampak berpikir keras. Lalu katanya, ‘Kau bahkan tak tahu siapa teman-temanmu, orang tuamu, maupun guru-gurumu? Dan kau bahkan sangat kaget karena segalanya tampak kuno dan aneh dibandingkan segala hal yang terjadi 100 tahun yang akan datang?’

            ‘Iya! Segalanya aneh banget!’ Aku mengagukkan kepala keras-keras. Tak begitu sulit ternyata meyakinkannya. ‘Kamu percaya aku? Oh terima kasih banyak, aku khawatir semua orang gak percaya aku!’

            Matanya berkilat marah, ‘Ya, aku kini tahu kau sedang berfantasi. Kurasa kau harus memeriksa kewarasanmu,’ Dia segera pergi, dan merundukkan kepalanya untuk menghindari ranting-ranting pohon yang rendah.

            Aku tak percaya, dia tak mempercayaiku. Aku seketika putus asa, aku punya firasat jika dia saja tidak percaya kata-kataku, maka orang lain pun tidak.

            Dia berhenti sesaat. Kemilau cahaya siang menimpa wajahnya, ‘Sebaiknya kau tidak ceritakan hal ini pada siapapun. Dalam situasi seperti ini, aku tak heran kalau kau akan dipenjara,’

            Nada suaranya merendah seakan prihatin dengan keadaanku, walaupun air mukanya sama sekali tidak prihatin. Kemudian dia kembali menuju pintu besar tempat kami keluar menuju taman ini.

            Aku tertegun, tenggorokanku tercekat. Berapa lama lagi aku hidup di sini? Apa yang harus kulakukan? Dimana aku harus tinggal?

            Sesaat aku terpikir untuk menjadikan ruangan lorong waktu itu sebagai tempat bernaung sementara. Aku akan meminta izin, mungkin aku akan melamar pekerjaan untuk membeli sesuap nasi, tapi semudah itu kah? Jika tak salah, ini jaman penjajahan kan? Dimana katanya terlampau susah untuk mencari sesuap nasi pun... Tidak, pasti tidak akan sesulit itu… Tiba-tiba dadaku terguncang hebat, aku merasakan pipiku menghangat dan rasa asin terkecap di lidah ku.

            ‘Oke, tidak apa-apa kalau kamu tidak percaya. Tapi, bisa kamu antar aku pulang? Aku bahkan tak tahu dimana rumahku, aku bahkan tak tau apakah aku punya rumah di sini atau tidak’ Entahlah suaraku terdengar atau tidak. Dia terlalu jauh, dan aku terlalu lelah untuk berteriak. Suaraku seperti seketika teredam oleh kekhawatiranku.

            Aku mulai berjongkok, aku menangis sejadi-jadinya. Tapi beban ini tak ada tanda-tanda mulai menghilang, ia malah semakin menghimpit meniadakan semua logika.

            ‘Ikut aku,’

 

            Sejurus kemudian, aku telah dibonceng menggunakan sepeda kumbangnya. Hampir semua murid yang masih tinggal di sekolah memperhatikanku, bukan, memperhatikan kami. Aku mengurungkan niatku untuk bertanya pada si pembonceng yang bahkan ku tak tahu namanya. Bukan saat yang tepat, bahkan untuk menanyai namanya. Bukan hal yang penting pula, karena seluruh panca inderaku tampak tertarik bercengkrama dengan setiap jengkal yang ada dihadapannya. Perlahan-lahan bayangan si angkuh tua yang kukenal tampak mulai mengecil. Mataku bisa menangkap keberadaannya sepenuhnya. Tidak, dia bukan si tua. Dia tampak seperti wanita cantik yang anggun berdiri tegak di jalanan Rembang Setaman, atau setidaknya itu masih nama jalan yang ku tahu dua hari lalu. Tembok-temboknya kokoh tebal tak bercela, genting-gentingnya tampak gemilau tertimpa sinar matahari yang sudah sedikit nanar, memantulkan semburat-semburat genting kecoklatan alih-alih genting hijau yang biasa kulihat. Kayu-kayu jendela dan teralis besinya pun tampak terpasang sempurna, minus dari cat-cat yang mengelupas dan besi berkarat. Yang mencengangkan, bangunan ini merupakan bangunan tunggal. Tak ada bangunan tambahan di belakang bangunan ini, bangunan yang terletak 90 derajat dari bangunan utama tempat murid-murid kelas 1 dan 2 berada. Ya, bangunan tua ini tak cukup untuk menampung seluruh murid sehingga hanya difungsikan untuk menampung murid kelas 3 saja. Sekarang, bangunan belakang itu berupa taman-taman indah, sepertinya tempat para pelajarnya menghabiskan waktu senggangnya.

            Pandanganku menyapu halaman depan sekolah. Hanya dipagari oleh pagar jadul yang kukenal, namun minus halaman indah dan beraspal. Tidak ada aspal, hanya tanah yang rata saja. Tidak ada taman buatan beserta air mancur yang menjadi land mark sekolah kami. Tidak, hanya ada halaman kosong yang di sudut kirinya ditumbuhi oleh pohon kurus setinggi 3 meter. Aku menatap sedih, apakah pohon itu cikal bakal pohon yang kukenal berusia lebih dari 100 tahun? Itu kah pohon tempat aku menggosip sepulang sekolah bersama Luna?

            Sadel sepeda terdengar berderak-derak membelai telingku bersama dengan desir dedaunan yang menari tertiup angin lembut. Rembang setaman masih rindang seperti dulu, mendinginkan setiap aliran panas dengan riuh dedaunannya, meniupkan oksigen murni ke setiap paru-paru tanpa hambatan. Rembang setaman tampak seperti gadis desa sederhana mempesona. Jalanannya mulus dan rata berwarna coklat, sepertinya tetanahan ditekan sedemikian rupa sehingga tak dicelai dengan keropong-keropong jalanan. Hanya terlihat beberapa sepeda kumbang atau ontel melintas, selebihnya aku tak menemukan mobil.

            ‘Honk-honk,’

            Aku secepatnya memalingkan mukaku ke depan mencari sumber suara. Suara honk-honk itu ternyata milik sebuah mobil antik berwarna coklat seperti warna kayu yang dipadukan dengan besi hitam serta tingkap berwarna hitam. Lampu sennya berada di atas seakan memelototiku.

            ‘Aku tahu, kau baru pertama kali melihat mobil seperti itu. Tapi tolong, tutup mulutmu,’

            Mukaku menghangat segera, aliran darahku mengalir cepat ke muka ku. Segera aku menutup mulutku yang menganga. Tampaknya mukaku sedikit memerah. ‘Aku.. itu tidak… mobil itu keliatan antik’

            Sial! Aku mendumel kesal dalam hati. Tentu saja aku selalu melihat mobil-mobil setiap hari, mobil-mobil Toyota, Honda, atau mobil apapun yang tentunya jauh lebih canggih daripada mobil tua sialan itu. Mobil tua seperti itu seharusnya dimuseumkan, bunyinya saja honk-honk bukan tin tin! Mataku terus saja mengikuti mobil itu, selain menarik, penumpangnya juga menarik! Penumpangnya juga orang asing! Sekelompok orang asing berpakaian putih-putih dengan topi putih bundar di atasnya. Mereka bertiga. Mereka pria, dan mereka tampan. Wohoo… Luna pasti histeris melihat ini, kami berdua selalu mimpi untuk menikah dengan pria bule suatu saat nanti. Tapi sudahlah, Luna kan sudah punya Dewa, cibirku dalam hati.

            Seorang pria asing yang berada di jok belakang tampak berbisik-bisik pada rekannya di samping. Kemudian rekannya memandang ke arahku, lalu tersenyum seraya mengangkat topinya sedikit.

            Aku tercekat, segera aku memalingkan mukaku ke arah jalannya sepedaku. Mukaku menghangat lagi. Bodoh! Kamu ketangkap basah, Tira!

            Tidak-tidak, mungkin saja dia bukan tersenyum ke arahku. Aku melirik sekilas ke belakang. Ia masih memandang ke arahku, teman-temannya terpingkal-pingkal menertawaiku. Sepertinya mereka sedang bercanda tentangku. Uh, terima kasih, cowok-cowok masa lalu, sepertinya kalian memang menyebalkan. Aku berubah pikiran, Dewa, cowok masa modern itu juga menyebalkan.

            ‘Eh, ngomong-ngomong, kamu liat gak pengemudi sama penumpang tadi? Mereka orang Belanda ya?’ Aku memberanikan diri bertanya. Kami telah meninggalkan jalan Rembang Setaman, kami belok kiri di perempatan jalan, melaju ke jalan yang ku tahu sebagai Jalan Kemuning Sumatra. Dia tak menjawab. Sudah kuduga.

            ‘Oke, aku anggap iya,’ gumamku gusar. Mataku kembali menyapu jalanan ini, ajaib. Sungguh ajaib. Aku tak sangka aku bisa menyaksikan pemandangan seperti ini. Jalanan bersih dari aspal dan mobil atau angkot yang klaksonnya terdengar bersahut-sahutan, membuat pikiran penat. Ajaib ketika menyaksikan deretan rumah gaya colonial yang benar-benar difungsikan sebagai rumah tinggal alih-alih factory outlet atau restoran. Jendela yang tinggi-tinggi dibuka lebar seakan menyambut udara bersih untuk penghuninya dan semerbak harum bebungaan yang tumbuh mekar di kebun-kebunnya. Oke, kapan lagi aku melihat kota ini sehijau dan se-warna-warni ini? Tak pernah selain sekarang. Ajaib, ketika sepertinya alas kaki menjadi sebuah barang yang berharga. Bisa dihitung dengan jari, orang-orang yang memakai sepatu. Selebihnya mereka hanya telanjang kaki. Tampaknya sama sekali tak terganggu dengan kerikil-kerikil di pinggir jalan yang tak rata. Mereka menggunakan semacam ikat kepala khas sunda, dengan semacam blazer kain dengan kancing lepas-lepas dipadu dengan celana pendek berwarna gelap. Gaya berpakaian mereka sungguh tipikal. Wajah mereka terlihat keras dan kulihat mereka kurus kering. Juga ajaib, ketika jarak social antar manusia tampak jelas. Dimana para pembesar-pembesarnya tampak tak terganggu dengan pemandangan miris di sekitarnya. Mereka asyik bercakap-cakap, perut mereka buncit-buncit dan tampak sangat sehat dan bahagia. Pakaian mereka necis dan rapi. Para pribumi tampak beda dari para Belandanya. Mereka memakai pakaian seperti pakaian adat sunda dengan bendo di kepala mereka, sementara para istrinya memakai kebaya yang pantas.

            Sesaat aku tertegun, ada benang merah yang kutarik dari masa ini. Apa bedanya dengan Indonesia di masa modern? Para pejabat ataupun orang-orang mampu juga sama-sama tak terganggu dengan kemiskinan dari masyarakat sekitarnya. Pengemis, anak jalanan, pemulung tampak menjadi biasa. Tanpa besar terbersit di benak untuk menolong mereka. Well, yang menjadi pembeda hanyalah pakaian dan gaya bicara. Selebihnya tidak ada! Sungguh, merupakan penjajahan modern di saat Indonesia telah merdeka. Kegusaranku tampaknya tidak berlama-lama, pikiranku teralih pada kecantikan didepan mataku. Sepertinya aku bukan berada di Bandung! Tampaknya aku sedang berada terperangkap di luar negeri! Taman-taman Maluku yang biasa kukenal, Nampak cantik tertata. Rerumputannya terpotong rapi dan terbentuk indah. Kursi-kursi besi dengan ditemani lampu hias tinggi membuatku serasa berada di luar negeri. Belum lagi air mancur terpancar ke atas dengan indah, butiran-butiran airnya tampak membentuk pelangi di sore hari. Ya, tak salah lagi, sepertinya itu air mancur kotor yang rusak yang biasanya kulihat di taman ini kalau mengantar nenek jalan sore.

Dua


Seberkas sinar masuk melalui celah-celah horizontal di pintu merefleksikan keadaan ruangan, kecil, pengap dan menyeramkan. Perlahan aku terbangun dengan pening di kepalaku, kelopak mataku sepertinya sulit terbuka, namun aku harus bangun. Sampai kapan aku akan tertidur?

            Rok yang kupakai menyulitkanku untuk menaiki tangga kecil di depanku, selalu aku terinjak rokku sendiri. Sudah kubilang kan, rok rimpel panjang ini menggangguku bergerak, aku lebih memilih memakai rok lurus standar saja, tapi mama tak mau dengar. Sudahlah, yang jelas telah berapa lama aku terbaring seperti ini? 1 jam, 2 jam, atau lebih? Tidak! Pasti hari sudah gelap sekarang.

            Tapi tunggu dulu, yang kulihat tadi adalah seberkas sinar kan? Aku memotong-motong sinar tersebut dengan tanganku. Tidak tembus, sinar tersebut tertahan di telapak tanganku. Memang sebuah sinar, Ya Allah, apa aku berada di surga sekarang? Aku mendorong pintu kecil itu perlahan, cahaya mulai membanjiri mataku sekarang. Aku menyipitkan mata, sinar ini terlalu terang. Allah, jika kau telah mengambil nyawaku maka kumohon dengan sangat, tempatkan aku di surga.

            Sayup-sayup kudengar suara dari tiap kelas di lantai. Aku membuka mataku perlahan, tapi aneh, cahaya yang tadi membanjiri penglihatanku tampak menyurut. Kini, tampak koridor sekolahku yang tampak dingin dan sedikit gelap. Hanya sinar-sinar matahari dari kaca di atas koridor yang memberikan sinar lembutnya yang berwarna warni. Aku sangat hapal sinar ini, sial, aku memaki dalam hati, sudah pagi! Tampaknya aku pingsan disini seharian. Kepalaku masih berdenyut-denyut, aku bersandar pada tembok yang dingin di koridor. Tampaknya pikiranku belum fokus, aku merasa ada yang berbeda dengan koridor ini, tapi entahlah aku tak tahu.

            Ada bunyi seperti dentangan jam dari aula. Oh ya pukul berpa sekarang? Aku berjalan tertatih-tatihseperti orang yang limbung. Jam tersebut berada di sebelah kanan aula. Sejak kapan sekolah menempatkan jam itu? Aku tak tahu, yang jelas apa yang ditunjukkan jam tersebut membuatku ketakutan setengah mati.

            Pukul 8. Tidak! Kuis matematika!

            Tidak, tidak. Aku tak akan masuk, lebih baik aku tak sekolah, aku belum siap bertemu Luna dan Dewa, aku tak ingin bicara dengan Luna atau Dewa. Pertama karena aku benci, kecewa, dan merasa tertipu oleh Luna, dan kedua karena aku merasa malu pada Dewa. Dia tahu perasaanku dan secara tak langsung dia menolakku.

            Aku baru sadar. Aku tak bisa keluar dari sini. Aku bisa saja berjalan keluar aula ini, tepat langsung menuju gerbang utama, tapi aku tak akan bisa lolos dari cengkraman satpam penjaga di sana. Aturannya sudah jelas. Kami tidak boleh masuk lewat gerbang depan kecuali jam sekolah normal memang usai, gantinya, kami harus masuk lewat gerbang samping. Gerbang samping pun tidak mudah dilewati, kau tau, berderet guru piket telah duduk rapi di ruang piket untuk memantau adakah siswa yang terlambat atau keluar untuk sekadar jajan selama pelajaran berlangsung. Kau tak kan lolos.

            Aku hanya membayangkan, aku datang ke ruang piket kemudian minta surat izin sakit, kemudian guru piket bertanya sakit apa yang kuderita. Aku harus jawab apa? Demam? Badanku tidak panas. Meriang? Ah, kan tidak perlu sampai pulang segala. Menstruasi? Tidak alasan itu. Aku sudah tercatat 1 minggu yang lalu pulang dengan alasan sakit menstruasi, Luna yang mengantarku ke ruang piket. Ah Luna... Entahlah sepertnya persahabatan kami selama 2 tahun tidak ada artinya lagi karena pengkhianatannya. Andai saja aku bisa bilang pada guru piket, tentunya apabila mereka mempercayaiku, kalau saat ini hatiku yang sakit,parah malah, mungkin perlu dirumahsakitkan.

            Better late than never, Tira. Aku menghela nafas, lalu mengambil langkah seribu menaiki anak-anak tangga dengan rokku yang terasa berat. Kemudian menyebrangi aula dan berlari menuju kelasku. Adrenalinku mulai terpacu, pun nafasku terengah-engah dan sepertinya tumpukan asam laktat sudah menggelayuti betisku. Aku bahkan tak punya waktu untuk bercermin melihat seperti apa tampangku selepas bangun tidur atau mataku yang sembab. Juga belum memikirkan bagaimana apabila aku bertemu Luna nanti. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya aku masuk kelas dan mengikuti kuis matematika tanpa kena omelan.

            Aku meraih gagang pintu kelasku. Catnya tampak sedikit berbeda. Gagang pintunya terasa lebih berat. Aku mendorong pintuya lalu aku masuk dengan muka tertunduk dalam-dalam.

            “Bapak. maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk terlambat Pak, sebelum berangkat saya sakit Pak, tapi demi kuis ini saya benar-benar usahakan untuk datang meskipun ibu saya melarang. Sekali lagi mohon maaf, mohon izinkan saya untuk mengikuti kuis ini, Pak,’ Aku memejamkan mata dan mengutuk diri sendiri atas kebohongan yang aku buat. Orang sakit macam apa yang terengah-engah masuk ke kelas dan terlihat seperti habis berlari? Orang sakit macam apa yang tidak memiliki surat sakit dan terlambat dari bagian piket?

            Aku masih memejamkan mata, menanti dalam hening sesaat yang  menegangkan. sedetik kemudian tawa pecah di ruang kelas ini. Pada awalnya aku berpikir pasti mereka menertawakanku karena Pak Agus-Guru matematikaku- bersiap menyentil terlingaku atau apapun yang membuatku terlihat konyol di depan teman-temanku. Tapi tidak ada yang menyentuh telingaku atau memberikanku hukuman. Sewaktu aku membuka mataku aku terperanjat kaget alih-alih merasa malu ditertawakan.

            Mereka bukan teman-temanku.

            Aku mengerjapkan mata, lalu membeliak.

            Oh! Tidak, sepertinya aku masuk kelas yang salah!

            ‘Maaf, sepertinya,.. aku salah...’ kata-kataku terpotong. Aku menolehkan mukaku ke belakang. Sesosok pria berperawakan tinggi besar berdiri di daun pintu. Kumisnya melengkung sempurna membingkai bibirnya yang jika tersenyum mewakili sosok pria kejam yang seringkali kutemukan di film thiller. Sorot matanya kejam dan ... entahlah licik? Tapi sepertinya itu tidak penting, yang lebih menggangguku adalah mengapa ada pria asing dan murid asing di sekolahku? terlebih lagi di kelasku? Apa sekolahku mengadakan seminar internasional? Kenapa harus di sekolah, kenapa tidak di hotel?

            Why are you still standing here? The school is about to start,’ katanya memandangku tajam. Tawa-tawa yang tadi terdengar mendadak berhenti. Sepertinya seisi kelas memperhatikan kami. Dia mendekatiku, mengangkat wajahnya sedikit dengan angkuh. ‘Ah... you must be that new student. Go get your seat,’

            Aku berdiri mematung. Dia tampaknya menyuruhku sesuatu, tapi aku tak mengerti. Sepertinya dia berbicara bahasa Jerman atau Perancis? Tidak... tidak... dia tidak menggunakan suara tenggorokan ataupun suara hidung seperti yang orang Jerman atau Perancis gunakan ketika mereka bicara.

            Why are you standing still, dont you hear what I ve just said? I guess, your ears are in good function. Unless, you dont belong here,’ Dia melewatiku begitu saja.

            ‘Sorry, sir. I honestly dont have any ide what you ve just said. I just speak Indonesian and English a bit,’ akhirnya aku memberanikan diri berkata.

            Dia berbalik menatapku, ‘Take your seat’

            ‘Thank you, Sir,’ kataku ragu-ragu bercampur kesal dan bingung. Bagaimana dengan kuis matematikaku? Siapa sih dia hingga berani-beraninya memarahiku seperti itu?

            Aka mendudukkan diri di kursi kosong di belakang dengan dongkol. Belum lagi bule-bule dan pribumi ini masih menatapku aneh. Tapi tunggu dulu, ada yang aneh. Mereka sepertinya sedang ikut pesta kostum, karnaval, atau peringatan 17 Agustus? Wanitanya memakai dress selutut dengan bagian bawah melebar dan kerah rimpel berwarna putih pucat. Rambut mereka kebanyakan dikepang menggunakan pita dengan warna senada. Prianya mengenakan semacam pakaian tradisional jawa, hanya saja mereka tidak memakai bendo atau penutup kepala khas. Alih-alih, mereka menyisir rambut belah pinggir mereka dengan rapi, kelewat rapi malah.

            Hah! Kelas ini memang kelas yang salah! Lihat saja bajunya berbeda dengan bajuku, bajuku. Oh tidak. Aku terperangah sesaat. Terusan berwarna putih selutut dengan sedikit renda kecil dari bagian leher menuju dada, jelas bukan bajuku.

            Aku tak punya waktu berdebat dengan diriku sendiri, sepertinya belasan pasang mata sedang menuju… ke arahku. Aku mendongak mencari tahu apa yang terjadi.

            ‘Nenden Kinanti Kusumadewi,’ pria gendut tadi menyebut sebuah nama sambil menatap lurus padaku. Aku balik menatapnya, ingin tahu.

            ‘Kau sebaiknya belajar sopan santun, young lady,’

            Tak ada respon. Aku membeliakkan mataku. Dia mengulangi perkataannya dalam bahasa Inggris. Aku tak mengerti, kali ini aku bertanya-tanya apa salahku?

            ‘Kau perlu mengatakan ‘I am here’ ketika aku memanggil namamu, Kinanti,’ Kumis nya berkedut-kedut kesal.

            Mereka jelas sangat salah. Mereka mengira aku Nene, eh apa tadi, Dendeng Kenari Kusumadewi?

            ‘Maaf, tapi apakah ini kelas matematika? Saya harus mengikuti kuis matematika. Sepertinya saya salah masuk kelas,’

            ‘Apa, kuis? Sepertinya kau salah mengira, young lady. Tempat ini adalah tempat belajar, bukan tempat untuk mendapatkan hadiah. Dan kau tak salah kelas, young lady, kau terdaftar mengikuti kelasku,’ katanya datar, wajahnya mengeras.

            Aku ingin membantah, kemudian aku menangkap pandangan pria yang duduk di satu bangku. Dia sedikit menggelengkan kepalanya. Aku segera mengurungkan niat, dan tentu saja, meminta penjelasan dari nya nanti.

            Pelajaran ini sama sekali tak kumengerti, semuanya serba bahasa asing. Oh, aku sungguh berharap guru piket akan membunyikan bel segera, menghentikan kelas yang gila ini.

            ‘Jika aku jadi kau, young lady, aku akan memperhatikan pelajaranku. Karena, aku akan diberikan pertanyaan mengenai pelajaran yang diberikan,’

            Pena yang tengah kupegang tergelincir dari tanganku seketika sehingga bunga-bunga yang sedang kubuat di kertas diwarnai dengan coretan tinta panjang. Apakah pria gendut ini berbicara padaku?

            ‘Yes, sir?’ Aku tahu, dia berbicara padaku. Dia berbicara bahasa Inggris. Aku mengurungkan niat untuk bertanya ‘Apakah kau berbicara padaku, Sir,’.

            Peranakan belanda cantik di bangku depan, memanjangkan lehernya untuk melihatku. Sepertinya dia tertarik menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sepertinya bukan hanya dia saja yang seperti itu.

            ‘Menurutmu, apakah yang VOC butuhkan untuk bertahan di Indonesia?’

Dia menaikkan alisnya, menunggu jawabanku.

            ‘Tak perlu repot-repot, saya rasa. VOC pada akhirnya toh harus bangkrut dan meninggalkan Indonesia,’ jawabku enteng.

            Oke, sepertinya kata-kataku bukan jawaban yang diharapkan. Mata pria gendut di depanku membulat memerah. Urat-urat di mukanya terlihat jelas seperti cacing biru. Sedangkan, yang lainnya syok mendengar jawabanku, seperti habis melihat hantu. Apa yang salah dengan jawabanku? Jawabanku benar kan, VOC memang meninggalkan Indonesia kecuali kalau mereka orang belanda. Tapi tidak, orang belanda jaman sekarang mereka mengakui kok kalau mereka memang salah menjajah Indonesia. Kecuali, orang belanda zaman dulu, well, mereka tampak tidak seperti seusia nenekku. Tunggu dulu, tapi hal ini memang tak mungkin sih, aku tak mungkin berada di jaman mereka kan?

            Aku menutup mulutku dengan kaget, tubuhku terenyak ke belakang bangku. Apa aku benar-benar ada di zaman mereka? Itulah mengapa aku dan mereka tampak aneh?’

            Pria gendut itu segera menghampiriku. Kumisnya bergerak-gerak. ‘Kau membuat lelucon. Jangan-jangan kau berpikir kalau akhirnya Belanda bias dikalahkan oleh inlander-inlander itu. Betul begitu? Kau benar-benar membuatku ingin terbahak, young lady,’

            Tapi dia tak bermaksud untuk terbahak, dia menunggu responku.

            Dia masih menatapku. Dia masih menginginkan responku.

            Aku hendak membuka mulut, ketika pria yang ‘membungkamku’ tadi mengangkat tangannya.

            ‘Pak, saya rasa tak ada gunanya mendengarkan celotehan orang bodoh. Mungkin murid baru ini perlu adaptasi dengan pelajaran kota. Pelajaran di kampong tampaknya tak memberinya cukup pendidikan dan sikap sopan,’ suara beratnya menggema di kelas yang beratap tinggi ini. Tampaknya dia orang yang cerdas, terbukti perkataannya berhasil membuat pria gendut ini berpikir dua kali.

            ‘Kau benar. Semoga Tuhan memberiku kesabaran hari ini, benar-benar aku belum pernah melihat murid seperti ini,’ Dia berbalik sambil mendengus dan melanjutkan pelajaran.

            Aku mengucapkan kata-kata terimakasih diam-diam. Aku bersumpah, aku melihatnya mendengus padaku, lalu membalikkan badannya, kembali memperhatikan pria gendut tadi.

            Lonceng berdentang nyaring terpukul. Kapan pun, dimana pun, lonceng memang pertanda kebahagian bagi para siswa yang ingin segera kabur dari kelas dan kelihatannya bukan aku saja. Hampir semuanya memasukkan bukunya ke dalam tas dengan semangat, kecuali beberapa orang termasuk si wanita peranakan itu.

            Tergesa-gesa aku menghampiri beberapa bangku didepan. Tujuanku sudah jelas. ‘Permisi, bisa bicara sebentar?’

            Yang kuajak bicara melemparkan pandangan ke wanita peranakan tadi. Jelas, dia sangat keberatan. Juga beberapa orang lain tampaknya memandangku sangat aneh.

            Keningnya sedikit mengerut. ‘Bicara apa? Aku tak ada waktu,’

            Aku mengerling sedikit pada gadis tadi, senyum kemenangan pada wajahnya tampak jelas, meski dia sedang tertunduk merapikan buku dalam tas nya, pura-pura.

            Aku memutar mataku kesal. Hey, aku tak mencoba mendekatinya! ‘Aku ingin diskusi dengan kamu, ini tentang hidup dan mati aku,’ sengaja kutambahkan kata-kata terakhir itu agar terkesan dramatis. Sepertinya berhasil, dia memandangku dengan gusar. ‘Nampaknya, hidupmu baik-baik saja, terlampau baik sepertinya,’

            ‘Nah, berarti kamu kenal aku kan? Baguslah!’ kataku setengah berteriak kegirangan. Hening sesaat. Si gadis itu terang-terangan memelototkan matanya padaku.

            ‘Sepertinya kau salah tangkap,’ Dia bergegas menuju pintu keluar, diikuti si gadis tadi.

            Aku tahu aku salah bicara. ‘Maksudku bukan gitu,’ ralatku. ‘Aku sungguh ingin berdiskusi denganmu karena ini sangat penting bagiku, please… aku tahu lagi harus minta tolong pada siapa. Aku janji, aku tak akan pernah ganggu kamu lagi. Please…,’

            Suaraku terdengar sangat mengiba. Jika ini keadaan normal, pasti aku akan bersumpah serapah atas sikap suaraku ini. Dia menghentikan langkahnya, berbalik menatapku.

            ‘Hanya kali ini,’ tegasnya pendek. ‘Kau pulang saja dahulu,’ dia menatap lunak gadis disampingnya. Si gadis tampak keberatan, tapi ia tak punya pilihan lain. Menatapku gusar, lalu langsung pergi.

***

            ‘Apa yang ingin kau diskusikan?’ tiba-tiba dia berhenti di bawah pohon rimbun yang agak tersembunyi di belakang sekolah. Tempatnya sepi.

            ‘Mm…’ aku ragu-ragu dan takut. ‘Kamu tahu siapa nama yang dipanggil pria tadi menyuruh aku bersopan santun?’

            Dia mendengus. ‘Omong kosong apa ini, apa yang kau bicarakan? Tentu saja kau tau nama tadi!’ Dia segera menarik ujung tasnya, berencana untuk pergi.

            ‘Tolong jangan pergi, kamu sudah janji mau menolongku. Aku benar-benar tidak tahu,’

            Dia menatapku geram, ‘Aku tak ada waktu untuk mendengar bualanmu, Kinanti,’

            ‘Kamu juga memanggilku Kinanti!’ Aku setengah berteriak. ‘Jadi maksudmu aku Kinanti? Kamu bilang aku membual? Kamu yang membual. Jelas-jelas aku Tirani, Tirani Aluna Ananta! Bukan Kirani!’

            Senyum tersungging di rahang perseginya, kemudian bibirnya terkatup rapat.

            ‘Tolong percaya aku,’ pintaku. ‘Dan jangan berpikir aku gila,’ manakala dia perlahan mengacuhkan ku. ‘Dengarkan, aku… aku bahkan tidak tahu siapa Kinanti Kusumadewi itu, dan ini sekolahku, tapi bukan sekolah yang kukenal,’

            Dia mengernyitkan kening, rahangnya masih terkatup rapat.

            Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman sekolah. Aku berjalan perlahan menembus semilir angin yang menggoyang-goyangkan serumpun bougenville. Aku menolehkan kepalaku, dia masih berdiri di belakang, menatapku tajam seakan menunggu hal aneh apa yang akan kulakukan.

            ‘Aku tak yakin kamu akan percaya apa yang aku ceritakan, tapi sungguh, aku mengenal bangunan ini. Sungguh mengaguminya, bahkan aku memutuskan untuk sekolah di sini karena bangunannya.’

            Wajahnya tak tertebak, tanpa ekspresi.

            ‘Tapi sekarang, semua sangat berbeda. Bangunan ini terasa asing buatku. Seolah aku tak pernah mengenalnya. Sudah berapa lama aku pingsan,’ aku bergumam sendiri. ‘Kapan mereka merobohkan bangunan ini? Kenapa mereka menggantinya dengan taman?’

            ‘Tak pernah pernah ada bangunan apapun sebelumnya, taman ini dibangun dua tahun lalu,’

            Perasaanku tak enak, aku kah yang pingsan terlalu lama ataukah aku…

            ‘Ada pohon tua sangat besar didepan gedung ini kan?’ tanyaku sambil menghampirinya cepat-cepat.

            Dia menjawab gusar, ‘Pohon itu setinggi 3 meter, tapi dia tidak tua. Dia ditanam sewaktu sekolah ini dibangun,’

            ‘Tidak, tidak. Pohon itu sudah tua dan akarnya besar-besar, daunnya rindang sekali dan batangnya tebal.’

            Dia mengernyitkan dahinya.

            ‘Pohon itu seperti trademark buat sekolah ini, dia ditanam bersamaan dengan dibangunnya sekolah ini,’

            ‘Memang, tapi pohon itu tidak sebesar itu,’ jawab dia ketus.

            ‘Berarti kamu salah lihat, pohon itu memang tua, tidak mungkin masih muda karena kan dia ditanam 1901, sekitar 112 tahun lalu’

            Dahinya semakin berkerut, matanya meyipit tajam dan menatapku. ‘Memang tahun 1901,’

Aku mendesah lega, berarti aku tidak terjebak disini.

‘Tapi itu bukan 112 tahun yang lalu, tapi 10 tahun yang lalu,’ katanya ketus.

Satu


Aku menyusuri setiap lorong di sekolahku. Aku sangat menyukai setiap sudut bangunan tua peninggalan Belanda ini. Orang bilang sih bangunan ini angker. Terlihat seperti tua bangka yang angkuh yang berdiri sepanjang jalan Rembang Taman, namun bagiku si tua ini tampak eksotis, memiliki kemagisan tersendiri, dan tentu saja sebagai saksi bisu yang selama hidupnya melihat para murid disekolah ini berganti zaman dari zaman yang masih memakai sepeda sampai zaman yang sudah memakai mobil seperti sekarang ini.

            " Hei, Ra, lagi ngapain kamu?" tegur sebuah suara. Luna.

            " Hehe, lagi jalan-jalan aja." kataku sambil nyengir.

            " Sore-sore begini? Kamu ga takut kalau nanti ada si itu tuh..," Luna memelankan suaranya.

            " Dona maksudnya?"

            Mata Luna terbelalak. " Kenapa disebutin! Jangan sompral kamu, hayu ah kita pulang." Luna menarik tanganku.

            " Gak ada yang salah kan dengan nama itu. Dona. Just it. Ga mengandung kutukan ato magic kayak nama Voldemort, kan?" kataku sesampainya kami di kantin.

            Luna memutar matanya. " Ga ada yang salah katamu? Jelas salah Tira... Kamu mau apa kalau ntar Dona nampakin diri." Takut-takut Luna menyebut nama yang sangat tenar di sekolah kami tersebut.

            Aku tertawa kecil. " Lho, justru bagus dong. Kalau aku ketemu dia, aku bisa nanya-nanya tentang masa sekolah dia waktu zaman Belanda dulu. Kan asyik belajar sejarah dari orang yang ngalaminnya. Upss bukan orang tapi hantu..,"

            "Beneran kamu udah gila. Sakit. Kamu kayaknya mesti nanya Mang Ade deh gimana seremnya ketemu dia."

            " Kata Mang Ade cantik kok. Jarang-jarang kan kita ketemu hantu terpelajar dan cantik kayak dia. Biasanya kan kalo hantu itu serem kayak Kuntilanak, genderewo...'

            Bukan hanya matanya saja yang terbelalak tapi mulut Luna juga ikutan menganga. " Kamu sakit ... Pokoknya kita pulang sekarang. Titik. Ga da koma."

            Aku tertawa kecil melihat Luna yang setengah mati ketakutan sama cerita-cerita yang ga jelas gitu. Ia serta merta menarik tanganku keluar sekolah itu dan segera menyetop angkot. Sepanjang jalan dia selalu berusaha menjauhkan aku dari percakapan tentang Dona.

***

            " Luna, pokoknya aku ga mau masuk ruangan seni musik. Mending mabal aja deh kalau gini mah," Aku mencengkram tangan Luna sekuat-kuatnya.

            Luna terlihat tak sabar. " Tira kalau kamu ogah-ogahan belajar seni musik gimana kamu bisa maen alat musik."

            " Tapi sekarang bukan waktunya untuk belajar, Luna sayang. Sekarang tes dan aku ga mau mempermalukan diri aku di depan Dewa."

            Aku memang selalu mati kutu jika harus berhadapan sama Dewa, teman sekelasku. Apalagi sekarang, tes seni musik, pelajaran yang paling aku ga bisa. Jangankan maen suling bambu dengan bagus, baru niupnya aja udah sumbang. Aku lebih milih untuk mengerjakan soal kimia atau matematika 50 soal daripada harus ikutan seni musik Sedangkan Dewa, dia perfect dalam segala hal. Olahraga oke, pelajaran oke, main musik pun oke dan hampir semua alat musik bisa dia mainkan. Aku pasti jadi badut Ancol kalau di depan nanti.

            " Dan ini tes Tira. Tes. Kamu ga mau kan di-blacklist sama Bu Ayu?"

            Aku sudah membayangkan sebelumnya. Kalau aku mangkir dari tes ini Bu Ayu pasti bakal manggil wali kelasku dan wali kelasku bakal memanggilku dan menyerahkanku pada Bu Ayu dan pastinya aku akan dimarahin dan disepet-sepet oleh omongannya yang setajem silet ketika aku masuk kelas seni musik lagi.

            Sedetik kemudian, tanpa aku sadari, aku sudah duduk manis di ruang sen

i musik. Dan yang lebih aku ga sadari lagi ternyata peserta tes mulai dipanggil satu per satu dan giliranku tinggal 5 nomor lagi. Keringat dingin mulai bercucuran. Aku duduk dengan gelisah seperti ada ratusan paku yang ditanam di bawah pantatku. Luna menatapku simpati.

            " Ga usah dipikirin. Ini bakalan segera berakhir," hiburnya. Aku menggeleng lemah. Aku ga bisa berpikir jernih pada saat ini. Luna sih tenang-tenang saja. Aku yakin dia pasti bisa melalui tes seni musik ini. Okelah dia gak selihai Reza dalam memetik gitar atau gak sepiawai Oka dalam main piano yang dua-duanya adalah teman sekelasku sekaligus pemain band indie di Bandung yang udah manggung di mana-mana. atau mungkin sehebat Kiara, teman kelasku yang lain, pemetik kecapi sekaligus sinden yang pernah di undang tampil oleh ASEAN di Thailand. Tapi setidaknya dia memiliki minat dalam pelajaran seni musik. Oleh karena itu, dia selalu cepat menguasai setiap alat musik yang diajarkan. Dalam tes kali ini pun Luna sudah mempersiapkan diri dengan gitarnya untuk membawakan lagu Dia-nya Malik and d'essensial. Sedangkan aku? Lebih memilih untuk 'maen dengan laptopku'.

            " Ra, liat itu Dewa," bisik Luna sambil menyikutku. Tepuk tangan di ruang musik itu bergemuruh ketika ia maju ke depan. Oh ya, aku lupa menyebutkan bahwa satu lagi expert musik di kelasku adalah Dewa.

            Ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Harmonika. Dewa tersenyum. Aku membalasnya dengan senyuman. Tapi bukan aku saja yang membalas senyumannya. Seluruh cewek di kelas ini malah asyik bertepuk tangan riuh sekaligus berceletuk 'Dewa I love you' seperti yang dilakukan Puput dan Ivy. Ia mulai meniup harmonikanya. Jemarinya dengan lincah menutup lubang-lubang di harmonika itu diikuti dengan mulutnya yang meniup lubang-lubang yang dibiarkan bebas oleh jemarinya. Segera saja nada yang indah keluar dari alat musik yang kecil itu merangkai lagu Killing Me Softly. Kami semua yang berada di ruangan ini terpaku. Pesona Dewa yang terpelajar semakin bertambah kuat dengan piawainya ia bermain musik. Sepertinya mulutku juga setengah ternganga. Nada itu terhenti. Rupanya ia telah selesai. Sontak suara tepuk tangan, suitan, serta celetukan terdengar lebih membahana dari sebelumnya. Bahkan Ibu Ayu pun yang selalu menemukan celah kekurangan dan menyampaikan dengan kritik yang tajam pun ikut bertepuk tangan, tersenyum, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ga menemukan celah kekurangan dalam penampilan Dewa.

            " Dewa kamu bermain sangat perfect sekali. Sudah ganteng, pintar maen musik lagi. Pasti banyak cewek ngantri buat kamu," puji Bu Ayu. Luna mengerling padaku.

            " Kalau itu mah dari dulu, Bu," celetuk Rian. Dewa hanya menunduk malu mendengar pujian-pujian yang terlontar untuknya. Inilah nilai plus Dewa buatku. Ia selalu gak merasa kalau dirinya itu hebat.

            "Sadewa ibu beri nilai 90," kata Bu Ayu lagi, disusul applaus seisi kelas, " dan sekarang giliran Tira Nada Indah,"

            Bibirku mulai pucat pasi. Aku sungguh-sungguh ga sadar kalau sesudah absen Dewa adalah aku, penampilanku yang udah pas-pasan pun pasti kebanting sama penampilan Dewa. Teman-temanku mulai menatapku. Ini membuatku semakin gugup. Aku berjalan perlahan ke depan. Tapi berjalan ke depan kelas itu serasa selangkah. Begitu cepatnya. Aku meraih recorderku. Ragu-ragu aku bersiap meniupnya. Tiba-tiba Oka berceletuk, " Ayo dong Nada Indah, keluarin dong nada yang indahnya. Kita kan mau denger."

            Tawa anak-anak bergemuruh. Dewa juga ikut tertawa. Ya Allah, hamba mohon tolong, tolong hentikan waktu ini atau percepat waktu ini atau apa sajalah yang penting aku gak tampil hari ini.

            Tet... Tet... Tet. Bel berbunyi.

            Yes, aku bersorak dalam hati. Bukan hanya aku saja ternyata, banyak orang-orang yang ikut bersorak karena tidak mau tampil hari ini. Bel penyelamat. Aku akan datang berkunjung ke ruang piket tempat bel itu ada dan melakukan semacam penaburan bunga secara diam-diam terhadap bel keramatku.

            " Beruntungnya...," kata Luna sewaktu aku menemuinya di pintu keluar ruang seni musik.

            Aku tersenyum kecil.

            " Tira, kamu ngehalangin jalan saya," sebuah suara menegurku dari belakang. Aku berbalik badan. Ia tersenyum. Dewa tersenyum padaku!

            " Oh ya, sori-sori..," setengah mati aku berusaha menggeser badanku yang sudah kaku untuk memberinya jalan. Aku terpaku menatap sosoknya yang sedang menalikan tali sepatunya.

            Luna terkikik melihat tingkahku.

            " My lucky day," kataku tanpa memandang Luna sambil terus menatap punggung Dewa yang semakin menjauh.

***

            Luna tampak sangat berbeda belakangan ini. Ketika kami sedang mengerjakan tugas Matematika dari Pak Yono, kebetulan kami teman sebangku, seperti biasa aku mengajaknya mengobrol dan bergosip tentang kabar adanya cinlok di kelas kami dan dia kelihatan tak fokus. Dan hal yang sama  terjadi lagi waktu kami jalan berdua dari kantin.

            " Luna.... liat deh itu Dewa," aku menyikut tangannya ketika kami perpapasan dengan Dewa. Luna hanya menatapnya kosong, biasanya dia selalu ikutan menyemangatiku kalau aku menyinggung tentang Dewa.

            " Lun, kamu kenapa sih? Sakit yah?" tanyaku. Luna hanya menggeleng lemah.

            " Ngga kok, nggak ada apa-apa," balasnya sambil tersenyum dipaksakan. Aku tahu. Ada yang tak beres.

            Aku mengajaknya duduk di bangku dekat kelasku. " Kamu lagi ada masalah Luna. Kenapa sih?"

            "Serius. Aku ngga apa-apa. Percaya deh," Luna coba meyakinkanku. Dia tak bisa menipuku.

            " Luna, selama semua indra aku berfungsi, aku pasti sadar dengan apa yang terjadi di sekelilingku. Dan...," aku menghela napas sebentar," aku selama beberapa hari ini merhatiin bahwa kamu ga kayak biasanya. Kayak ada sesuatu masalah yang lagi kamu tanggung. Cerita dong, selama ini kan aku gak pernah gak cerita sama kamu. Giliran kamu dong sekarang,"

            Luna tak menatapku. Ia terus saja menatap lantai.

            " Gak ada apa-apa,"  dia tersenyum menatapku sebentar kemudian memandang lantai lagi.

            Aku menghela napas dalam-dalam. " Oke, kalau kamu gak ada apa-apa. Tapi yang harus kamu tau, aku selalu ada kalau kamu mau cerita apa-apa,"

            Ia tersenyum lagi. Masih tak menatapku. Namun kali ini senyumnya adalah senyum sedih.

***

            Beberapa hari ini, Luna sama seperti saat-saat kemarin. Ia masih murung dan selalu gak fokus ketika ku tanya. Aku selalu menanyakan apakah dia baik-baik saja namun dia selalu bilang dia baik-baik saja. Aku lama-lama bosan juga bertanya itu-itu terus dan akhirnya aku juga sudah berhenti mendesaknya untuk bercerita dan membiarkannya tenggelam dalam lamunannya sendiri. Berbanding terbalik dengan keadaan Luna, aku merasa bahwa beberapa hari belakangan keberuntungan menghampiriku. Aku kadang merasa jahat, aku senang diatas kesedihan Luna. Tapi apa mau dikata hal yang aku tak pernah bayangkan sebelumnya terjadi. Just like dream comes true bahwa aku bisa dekat dengan Dewa. Seorang Dewa!

            Oke, pertama aku dan Luna sering berpapasan dengan Dewa ketika kami ke kantin dan sekarang dia sudah mulai menyapaku (dan juga Luna tentunya) dan tersenyum!. Kedua, dia selalu menggodaku kalau dia melewati bangkuku. Ada saja tingkahnya seperti ketika aku tengah asyik menulis ia menarik bukuku. Memang sih ada coretan pulpen yang panjang sepanjang buku yang kalau itu dilakukan orang lain pasti aku marah besar. Pernah dia sekali waktu menaburiku dengan potongan-potongan kecil kertas. Aku pura-pura marah tapi dalam hati rasanya senaaang sekali. Dan hal yang bikin jantungku copot adalah ketika kami ditugasi oleh guru Bahasa Indonesia untuk membentuk grup drama sendiri, dia menghampiriku.

            " Ra, saya sekelompok sama kamu yah? Kamu kan pinter Bahasa Indonesia," katanya tiba-tba.

            " Iya boleh.. boleh... Tapi so far ya kamu.. kamu maksud aku baru kamu... cowok.. yang .. masuk kelompok ki..kita," dengan susah payah aku mengucapkan kalimat itu.

            " Ga masalah. Saya juga ngajak Stevan dengan Rico untuk gabung. Ga apa-apa kan?" Mata waspada sekaligus jenakanya menatapku langsung. Kakiku benar-benar seperti bor sekarang. Tidak bisa berhenti bergetar.

            " Oh ya ga apa-apa," jawabku berusaha setengah mati untuk tidak berteriak.

            "Luna....., please... bangunin aku dari mimpi!' susah payah aku tetap menjaga suaraku pelan. 'Ouch!' Sedetik kemudian kulit punggung tanganku memerah akibat cubitan Luna. Tuhan, aku gak bermimpi!!!

 

                                                            ***

 

            Sepertinya ada hal magis yang menarikku untuk kembali dan kembali menyusuri koridor tua ini, sama halnya seperti bau busuk yang selalu menarik lalat, aku tak pernah sekalipun jemu atau takut dengan isu-isu yang beredar mengenai Dona, hantu belanda cantik penghuni sekolahku.

            Sore ini aku kembali takjub, dengan kekokohan tembok-tembok koridor lama ini. cat kuning pudarnya menggelitikku untuk selalu bertanya berapa gygabyte memori selama 200 tahun yang disimpan si tua ini? Apa persisnya memori 200 tahun itu? Dan seperti apa masa dulu itu, masa ketika sekolah ini hanya diperuntukkan untuk kaum aristrokat dan penjajah saja?

            Jika Luna menemaniku disini, pasti dia akan menyeretku keluar dari koridor ini. Dia itu penakut. Dari dua tahun yang lalu hingga detik ini, dia masih saja menjadi Luna, seorang penakut. Sayangnya Luna tidak disini, "Tunggu aku di dekat gerbang, aku ada urusan dulu", begitu katanya. Entahlah, yang jelas sewaktu berpisah tadi ada yang dia sembunyikan dariku. Aku juga merasa bersalah padanya, akhir-akhir ini aku tidak peduli pada keadaanya. Tidak sepenuhnya juga sih. Aku sudah bertanya tentang keadaannya, tapi dia tak mau jawab. Pada keadaan biasa pasti aku telah mendesaknya untuk bicara tapi... umm maafkan aku ya Luna, belakangan ini hari-hariku berubah jadi tak biasa semenjak Dewa hampir setiap waktu menegurku. Aku tersenyum sendiri, aku akan semakin dekat dengannya dalam grup bahasa Indonesia nanti. Aku tak sabar untuk segera kerja kelompok, kalau bisa sih sesering mungkin. Aku terkikik geli dalam hati, Ya Tuhan... kenapa aku begini centil?

            Langkahku terhenti. Tepat ketika aku akan menaiki salah satu tangga lebar menuju keatas, terdengar seseorang terisak, sepertinya wanita. Siapa orang yang menangis di lantai 2 yang sudah sepi begini? Perlahan jantungku berdegup lebih cepat, Dona kah? Apa aku seberuntung ini bertemu dengannya? Aku mengendap-ngendap mendekati sumber tangisan itu seperti yang aku lihat di film-film kriminal.

            Tunggu dulu. Suara itu bukan hanya satu orang, tapi dua orang. Aku semakin mempertajam telingaku. Sekarang orang yang lain berbicara, suaranya terdengar antara emosi, putus asa. Sesekali suaranya memelas, lalu meninggi namun masih terkontrol pelan. Kentara sekali pembicaraan mereka tampak rahasia. Couple squarrel.

            Aku baru saja akan membalikkan badan ketika kudengar suara yang sangat ku kenal sebelumnya.

            ‘Aku ga tahu harus gimana lagi...,’ katanya terisak. ‘ Dia sa..habat..ku. Aku ga mungkin nyakitin hati dia.  ‘Dia suka sama kamu dari 2 tahun lalu, dia selalu excited ketemu kamu. Sahabat macam apa aku yang tega nyakitin sahabatnya,’

            ‘Anak-anak waktu itu bilang, kalau saya deketin kamu sahabat kamu pasti marah dan kamu pasti lebih milih dia walaupun kamu juga punya perasaan sama dengan saya.  Tapi saya ga bisa nahan perasaan saya, saya ngerasa jadi loser kalau saya ga nyoba merjuangin kamu,’ suara pria lemah dan bergetar.

            Wanita itu semakin terisak keras. ‘ Tolong, jangan bikin segalanya sulit buat aku, kamu tahu aku ga bisa nerima kamu. Tapi aku pengen kamu tahu kalau aku juga suka kamu, Dewa,’

            Cukup kudengar semua ini. Kakiku rasanya sulit menopang badanku, aku lemas. Tak bisa menangis, semua terasa sakit di dalam, sulit pula untuk bernapas. Rasanya paru-paruku dipenuhi udara yang menekanku. Aku tak percaya, sampai hati dia membohongiku. Tega sekali dia membiarkanku bahagia gara-gara Dewa, padahal semua itu untuknya! Munafik!

            Dewa tampaknya menghela nafas. ‘ Oke kalau itu keputusan kamu, tapi saya mohon kali ini saja saya antar kamu pulang. Kamu juga ga mungkin kan pulang dengan Tira dalam keadaan seperti ini, bisa-bisa Tira tahu,’

            Terdengar jeda cukup lama. ‘Oke. Aku telpon Tira dulu biar dia pulang duluan,’

            Aku terkejut, dengan segera meraba-raba dasar tasku. Tak perlu waktu lama aku menemukannya, tapi terlambat.... handphone ku terlanjur berdering.

            Aku sudah berlari sampai tangga ketika Dewa keluar dari kelas, dan Luna berteriak memanggilku sambil menangis, kemudian dia mengejarku. ‘Tira, tunggu, biar aku jelasin sama kamu! ini ga seperti yang kamu bayangin!’

            ‘Tira, tolong berhenti. Dengarkan Luna dulu, kasian dia,’

            Kasihan? Aku yang seharusnya dikasihani Dewa. Aku terlalu kecewa pada Luna. Seharusnya dia tidak membiarkanku dibohongi, seharusnya dia bisa melawan perasaannya, dan seharusnya Dewa tidak menyukainya!

Tak siap aku mendengar penjelasannya, aku yakin dia dengan lugunya meminta maaf.         Aku tak ingat ada sebuah pintu kecil di samping ruang guru di lantai 1, yang penting pintu itu terbuka dan aku bisa bersembunyi dari Luna dan Dewa. Aku menyeruduk masuk dan sedetik kemudian aku terguling melewati beberapa anak tangga di ruang gelap ini. Sayup-sayup kudengar suara Luna dan Dewa melewatiku tapi kemudian suara itu perlahan menghilang, dan semuanya gelap.