Levi menutup laptopnya segera. Sulit berkonsentrasi dalam keadaan seperti ini. Air mata telah jatuh perlahan membasahi seprai linennya. Berlembar-lembar tisu telah habis untuk menyerap bulir-bulir sendu itu. Hatinya bertanya-tanya, bagaimana bisa Erwan selingkuh.
Erwan tampak baik dan diperlakukan baik. Kurang apa? Pengertian dan perhatian? Erwan selalu dibanjiri semua itu! Empati dan support? Hey, disaat skripsinya tersendat, tentu saja, ia menjadi prioritas utama. Untuk diperhatikan.
Levi sesaat menatap getir laptop hitamnya. Apa yang salah dengan pria itu?
Ia lalu terlempar pada ingatan beberapa hari lalu, ketika ia sedang sibuk merevisi skripsinya. Di hadapannya berlembar-lembar kertas berserakan. Penuh angka dan huruf yang tercoret dan ditulis dengan terburu-buru. Dihadapannya pula duduk gadis mungil yang menyeruput kopi demi mendapat asupan kafein untuk matanya yang mulai mengantuk.
Tiba-tiba pertanyaan terlintas di benak Levi.
'Tu, kenapa sih hubungan bertahun-tahun bisa putus dalam sekejap.'
Dia tampak berpikir sesaat. 'Banyak,'
'Kalau kamu?' Levi tahu Ratu telah menjalani hubungan 2 tahun kemudian putus begitu saja.
'Adalah.' Dia tampak enggan menjawab. Levi tahu, dia menanyakan sesuatu yang terlalu pribadi.' Mmm..., tapi biasanya putus karena dua alasan. Kalau ga selingkuh, ya bosen.'
'Hah? Kok bisa?'
'Bahkan, berawal dari bosen. Bisa jadi selingkuh loh, dia cari-cari masalah, biar hubungan lebih dinamis, terus malah cari pelarian. Finally, dia selingkuh.' katanya ringan.
Aku tertegun sesaat. Seketika gundah menerpa.
'Lev, gimana dong?' Wulan menatap dengan getir.
Levi menggigit bibir. 'I think its better for you to let him go.' Levi kemudian menatap matanya lekat-lekat 'Kamu pantas dapatkan seseorang yang jauh lebih baik, kamu cantik, pintar, solehah. Aku yakin kamu sedang disiapkan bertemu dengan laki-laki yang jauh lebih pantas memperlakukanmu. Jauh lebih baik dari yang Erwan berikan padamu,'
Wulan tersenyum seulas, kemudian membaringkan diri di kasur. Matanya perlahan terpejam. Getir Levi melihatnya. Ingin ia merangkulnya. Wulan kurang apa lagi, Erwan? Kenapa tega menyakitinya? Hanya karena bertitel rasa 'bosan' kah sehingga dia mengkhianati Wulan? Mengkhianati Wulan dengan teman sekelasnya sendiri. Teman yang telah memiliki seorang kekasih pula. Tapi diam-diam Levi bersyukur, Wulan terlalu baik buat Erwan.
Levi kembali membuka laptopnya. Mata tertancap pada barisan kata, tapi pikirannya mengelana. Bosankah? Itukah penyebabnya? Hati Levi nanar. Ia tak pernah mengalaminya, dan tak ingin mengalaminya.
Matanya secara refleks tertumpu pada dompet merahnya yang terbuka. Dengan enggan, dia menatap sebuah foto. Enggan karena terselip sebuah kecemasan. Ini pertama kalinya, ia merasakan batinnya terhubung serius pada sebuah pengharapan. Kedua orang di foto itu tampak tersenyum bahagia, memandangnya. Fotonya bersama seorang pria yang setahun belakangan mengisi hari-harinya. Pria yang tinggal beratus-ratus kilometer darinya, yang selama ini merajut kebahagian lewat kata-kata di dunia maya. Levi menatapnya lekat-lekat, walau dia enggan.
Apakah dia Erwan lain yang menjadikan kebosanan sebuah kunci untuk mengakhiri sebuah komitmen? atau melarikan diri dan berlabuh di hati yang bukan tempatnya?
Akankah jarak yang menjembatani dua hati di berlainan tempat perlahan akan rapuh? Akankah dalam jarak menjadi faktor ketiga dalam punahnya rasa?
Levi menggigit bibirnya semakin keras. Ia menatap Wulan, lalu foto itu. Pikirannya berkecamuk. Ia menarik nafas dalam-dalam.
Ia hanya tahu dua hal.
Ia menyayanginya.
Ia mempercayainya
Erwan tampak baik dan diperlakukan baik. Kurang apa? Pengertian dan perhatian? Erwan selalu dibanjiri semua itu! Empati dan support? Hey, disaat skripsinya tersendat, tentu saja, ia menjadi prioritas utama. Untuk diperhatikan.
Levi sesaat menatap getir laptop hitamnya. Apa yang salah dengan pria itu?
Ia lalu terlempar pada ingatan beberapa hari lalu, ketika ia sedang sibuk merevisi skripsinya. Di hadapannya berlembar-lembar kertas berserakan. Penuh angka dan huruf yang tercoret dan ditulis dengan terburu-buru. Dihadapannya pula duduk gadis mungil yang menyeruput kopi demi mendapat asupan kafein untuk matanya yang mulai mengantuk.
Tiba-tiba pertanyaan terlintas di benak Levi.
'Tu, kenapa sih hubungan bertahun-tahun bisa putus dalam sekejap.'
Dia tampak berpikir sesaat. 'Banyak,'
'Kalau kamu?' Levi tahu Ratu telah menjalani hubungan 2 tahun kemudian putus begitu saja.
'Adalah.' Dia tampak enggan menjawab. Levi tahu, dia menanyakan sesuatu yang terlalu pribadi.' Mmm..., tapi biasanya putus karena dua alasan. Kalau ga selingkuh, ya bosen.'
'Hah? Kok bisa?'
'Bahkan, berawal dari bosen. Bisa jadi selingkuh loh, dia cari-cari masalah, biar hubungan lebih dinamis, terus malah cari pelarian. Finally, dia selingkuh.' katanya ringan.
Aku tertegun sesaat. Seketika gundah menerpa.
'Lev, gimana dong?' Wulan menatap dengan getir.
Levi menggigit bibir. 'I think its better for you to let him go.' Levi kemudian menatap matanya lekat-lekat 'Kamu pantas dapatkan seseorang yang jauh lebih baik, kamu cantik, pintar, solehah. Aku yakin kamu sedang disiapkan bertemu dengan laki-laki yang jauh lebih pantas memperlakukanmu. Jauh lebih baik dari yang Erwan berikan padamu,'
Wulan tersenyum seulas, kemudian membaringkan diri di kasur. Matanya perlahan terpejam. Getir Levi melihatnya. Ingin ia merangkulnya. Wulan kurang apa lagi, Erwan? Kenapa tega menyakitinya? Hanya karena bertitel rasa 'bosan' kah sehingga dia mengkhianati Wulan? Mengkhianati Wulan dengan teman sekelasnya sendiri. Teman yang telah memiliki seorang kekasih pula. Tapi diam-diam Levi bersyukur, Wulan terlalu baik buat Erwan.
Levi kembali membuka laptopnya. Mata tertancap pada barisan kata, tapi pikirannya mengelana. Bosankah? Itukah penyebabnya? Hati Levi nanar. Ia tak pernah mengalaminya, dan tak ingin mengalaminya.
Matanya secara refleks tertumpu pada dompet merahnya yang terbuka. Dengan enggan, dia menatap sebuah foto. Enggan karena terselip sebuah kecemasan. Ini pertama kalinya, ia merasakan batinnya terhubung serius pada sebuah pengharapan. Kedua orang di foto itu tampak tersenyum bahagia, memandangnya. Fotonya bersama seorang pria yang setahun belakangan mengisi hari-harinya. Pria yang tinggal beratus-ratus kilometer darinya, yang selama ini merajut kebahagian lewat kata-kata di dunia maya. Levi menatapnya lekat-lekat, walau dia enggan.
Apakah dia Erwan lain yang menjadikan kebosanan sebuah kunci untuk mengakhiri sebuah komitmen? atau melarikan diri dan berlabuh di hati yang bukan tempatnya?
Akankah jarak yang menjembatani dua hati di berlainan tempat perlahan akan rapuh? Akankah dalam jarak menjadi faktor ketiga dalam punahnya rasa?
Levi menggigit bibirnya semakin keras. Ia menatap Wulan, lalu foto itu. Pikirannya berkecamuk. Ia menarik nafas dalam-dalam.
Ia hanya tahu dua hal.
Ia menyayanginya.
Ia mempercayainya
No comments:
Post a Comment