Wednesday, 24 April 2013

Satu


Aku menyusuri setiap lorong di sekolahku. Aku sangat menyukai setiap sudut bangunan tua peninggalan Belanda ini. Orang bilang sih bangunan ini angker. Terlihat seperti tua bangka yang angkuh yang berdiri sepanjang jalan Rembang Taman, namun bagiku si tua ini tampak eksotis, memiliki kemagisan tersendiri, dan tentu saja sebagai saksi bisu yang selama hidupnya melihat para murid disekolah ini berganti zaman dari zaman yang masih memakai sepeda sampai zaman yang sudah memakai mobil seperti sekarang ini.

            " Hei, Ra, lagi ngapain kamu?" tegur sebuah suara. Luna.

            " Hehe, lagi jalan-jalan aja." kataku sambil nyengir.

            " Sore-sore begini? Kamu ga takut kalau nanti ada si itu tuh..," Luna memelankan suaranya.

            " Dona maksudnya?"

            Mata Luna terbelalak. " Kenapa disebutin! Jangan sompral kamu, hayu ah kita pulang." Luna menarik tanganku.

            " Gak ada yang salah kan dengan nama itu. Dona. Just it. Ga mengandung kutukan ato magic kayak nama Voldemort, kan?" kataku sesampainya kami di kantin.

            Luna memutar matanya. " Ga ada yang salah katamu? Jelas salah Tira... Kamu mau apa kalau ntar Dona nampakin diri." Takut-takut Luna menyebut nama yang sangat tenar di sekolah kami tersebut.

            Aku tertawa kecil. " Lho, justru bagus dong. Kalau aku ketemu dia, aku bisa nanya-nanya tentang masa sekolah dia waktu zaman Belanda dulu. Kan asyik belajar sejarah dari orang yang ngalaminnya. Upss bukan orang tapi hantu..,"

            "Beneran kamu udah gila. Sakit. Kamu kayaknya mesti nanya Mang Ade deh gimana seremnya ketemu dia."

            " Kata Mang Ade cantik kok. Jarang-jarang kan kita ketemu hantu terpelajar dan cantik kayak dia. Biasanya kan kalo hantu itu serem kayak Kuntilanak, genderewo...'

            Bukan hanya matanya saja yang terbelalak tapi mulut Luna juga ikutan menganga. " Kamu sakit ... Pokoknya kita pulang sekarang. Titik. Ga da koma."

            Aku tertawa kecil melihat Luna yang setengah mati ketakutan sama cerita-cerita yang ga jelas gitu. Ia serta merta menarik tanganku keluar sekolah itu dan segera menyetop angkot. Sepanjang jalan dia selalu berusaha menjauhkan aku dari percakapan tentang Dona.

***

            " Luna, pokoknya aku ga mau masuk ruangan seni musik. Mending mabal aja deh kalau gini mah," Aku mencengkram tangan Luna sekuat-kuatnya.

            Luna terlihat tak sabar. " Tira kalau kamu ogah-ogahan belajar seni musik gimana kamu bisa maen alat musik."

            " Tapi sekarang bukan waktunya untuk belajar, Luna sayang. Sekarang tes dan aku ga mau mempermalukan diri aku di depan Dewa."

            Aku memang selalu mati kutu jika harus berhadapan sama Dewa, teman sekelasku. Apalagi sekarang, tes seni musik, pelajaran yang paling aku ga bisa. Jangankan maen suling bambu dengan bagus, baru niupnya aja udah sumbang. Aku lebih milih untuk mengerjakan soal kimia atau matematika 50 soal daripada harus ikutan seni musik Sedangkan Dewa, dia perfect dalam segala hal. Olahraga oke, pelajaran oke, main musik pun oke dan hampir semua alat musik bisa dia mainkan. Aku pasti jadi badut Ancol kalau di depan nanti.

            " Dan ini tes Tira. Tes. Kamu ga mau kan di-blacklist sama Bu Ayu?"

            Aku sudah membayangkan sebelumnya. Kalau aku mangkir dari tes ini Bu Ayu pasti bakal manggil wali kelasku dan wali kelasku bakal memanggilku dan menyerahkanku pada Bu Ayu dan pastinya aku akan dimarahin dan disepet-sepet oleh omongannya yang setajem silet ketika aku masuk kelas seni musik lagi.

            Sedetik kemudian, tanpa aku sadari, aku sudah duduk manis di ruang sen

i musik. Dan yang lebih aku ga sadari lagi ternyata peserta tes mulai dipanggil satu per satu dan giliranku tinggal 5 nomor lagi. Keringat dingin mulai bercucuran. Aku duduk dengan gelisah seperti ada ratusan paku yang ditanam di bawah pantatku. Luna menatapku simpati.

            " Ga usah dipikirin. Ini bakalan segera berakhir," hiburnya. Aku menggeleng lemah. Aku ga bisa berpikir jernih pada saat ini. Luna sih tenang-tenang saja. Aku yakin dia pasti bisa melalui tes seni musik ini. Okelah dia gak selihai Reza dalam memetik gitar atau gak sepiawai Oka dalam main piano yang dua-duanya adalah teman sekelasku sekaligus pemain band indie di Bandung yang udah manggung di mana-mana. atau mungkin sehebat Kiara, teman kelasku yang lain, pemetik kecapi sekaligus sinden yang pernah di undang tampil oleh ASEAN di Thailand. Tapi setidaknya dia memiliki minat dalam pelajaran seni musik. Oleh karena itu, dia selalu cepat menguasai setiap alat musik yang diajarkan. Dalam tes kali ini pun Luna sudah mempersiapkan diri dengan gitarnya untuk membawakan lagu Dia-nya Malik and d'essensial. Sedangkan aku? Lebih memilih untuk 'maen dengan laptopku'.

            " Ra, liat itu Dewa," bisik Luna sambil menyikutku. Tepuk tangan di ruang musik itu bergemuruh ketika ia maju ke depan. Oh ya, aku lupa menyebutkan bahwa satu lagi expert musik di kelasku adalah Dewa.

            Ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Harmonika. Dewa tersenyum. Aku membalasnya dengan senyuman. Tapi bukan aku saja yang membalas senyumannya. Seluruh cewek di kelas ini malah asyik bertepuk tangan riuh sekaligus berceletuk 'Dewa I love you' seperti yang dilakukan Puput dan Ivy. Ia mulai meniup harmonikanya. Jemarinya dengan lincah menutup lubang-lubang di harmonika itu diikuti dengan mulutnya yang meniup lubang-lubang yang dibiarkan bebas oleh jemarinya. Segera saja nada yang indah keluar dari alat musik yang kecil itu merangkai lagu Killing Me Softly. Kami semua yang berada di ruangan ini terpaku. Pesona Dewa yang terpelajar semakin bertambah kuat dengan piawainya ia bermain musik. Sepertinya mulutku juga setengah ternganga. Nada itu terhenti. Rupanya ia telah selesai. Sontak suara tepuk tangan, suitan, serta celetukan terdengar lebih membahana dari sebelumnya. Bahkan Ibu Ayu pun yang selalu menemukan celah kekurangan dan menyampaikan dengan kritik yang tajam pun ikut bertepuk tangan, tersenyum, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ga menemukan celah kekurangan dalam penampilan Dewa.

            " Dewa kamu bermain sangat perfect sekali. Sudah ganteng, pintar maen musik lagi. Pasti banyak cewek ngantri buat kamu," puji Bu Ayu. Luna mengerling padaku.

            " Kalau itu mah dari dulu, Bu," celetuk Rian. Dewa hanya menunduk malu mendengar pujian-pujian yang terlontar untuknya. Inilah nilai plus Dewa buatku. Ia selalu gak merasa kalau dirinya itu hebat.

            "Sadewa ibu beri nilai 90," kata Bu Ayu lagi, disusul applaus seisi kelas, " dan sekarang giliran Tira Nada Indah,"

            Bibirku mulai pucat pasi. Aku sungguh-sungguh ga sadar kalau sesudah absen Dewa adalah aku, penampilanku yang udah pas-pasan pun pasti kebanting sama penampilan Dewa. Teman-temanku mulai menatapku. Ini membuatku semakin gugup. Aku berjalan perlahan ke depan. Tapi berjalan ke depan kelas itu serasa selangkah. Begitu cepatnya. Aku meraih recorderku. Ragu-ragu aku bersiap meniupnya. Tiba-tiba Oka berceletuk, " Ayo dong Nada Indah, keluarin dong nada yang indahnya. Kita kan mau denger."

            Tawa anak-anak bergemuruh. Dewa juga ikut tertawa. Ya Allah, hamba mohon tolong, tolong hentikan waktu ini atau percepat waktu ini atau apa sajalah yang penting aku gak tampil hari ini.

            Tet... Tet... Tet. Bel berbunyi.

            Yes, aku bersorak dalam hati. Bukan hanya aku saja ternyata, banyak orang-orang yang ikut bersorak karena tidak mau tampil hari ini. Bel penyelamat. Aku akan datang berkunjung ke ruang piket tempat bel itu ada dan melakukan semacam penaburan bunga secara diam-diam terhadap bel keramatku.

            " Beruntungnya...," kata Luna sewaktu aku menemuinya di pintu keluar ruang seni musik.

            Aku tersenyum kecil.

            " Tira, kamu ngehalangin jalan saya," sebuah suara menegurku dari belakang. Aku berbalik badan. Ia tersenyum. Dewa tersenyum padaku!

            " Oh ya, sori-sori..," setengah mati aku berusaha menggeser badanku yang sudah kaku untuk memberinya jalan. Aku terpaku menatap sosoknya yang sedang menalikan tali sepatunya.

            Luna terkikik melihat tingkahku.

            " My lucky day," kataku tanpa memandang Luna sambil terus menatap punggung Dewa yang semakin menjauh.

***

            Luna tampak sangat berbeda belakangan ini. Ketika kami sedang mengerjakan tugas Matematika dari Pak Yono, kebetulan kami teman sebangku, seperti biasa aku mengajaknya mengobrol dan bergosip tentang kabar adanya cinlok di kelas kami dan dia kelihatan tak fokus. Dan hal yang sama  terjadi lagi waktu kami jalan berdua dari kantin.

            " Luna.... liat deh itu Dewa," aku menyikut tangannya ketika kami perpapasan dengan Dewa. Luna hanya menatapnya kosong, biasanya dia selalu ikutan menyemangatiku kalau aku menyinggung tentang Dewa.

            " Lun, kamu kenapa sih? Sakit yah?" tanyaku. Luna hanya menggeleng lemah.

            " Ngga kok, nggak ada apa-apa," balasnya sambil tersenyum dipaksakan. Aku tahu. Ada yang tak beres.

            Aku mengajaknya duduk di bangku dekat kelasku. " Kamu lagi ada masalah Luna. Kenapa sih?"

            "Serius. Aku ngga apa-apa. Percaya deh," Luna coba meyakinkanku. Dia tak bisa menipuku.

            " Luna, selama semua indra aku berfungsi, aku pasti sadar dengan apa yang terjadi di sekelilingku. Dan...," aku menghela napas sebentar," aku selama beberapa hari ini merhatiin bahwa kamu ga kayak biasanya. Kayak ada sesuatu masalah yang lagi kamu tanggung. Cerita dong, selama ini kan aku gak pernah gak cerita sama kamu. Giliran kamu dong sekarang,"

            Luna tak menatapku. Ia terus saja menatap lantai.

            " Gak ada apa-apa,"  dia tersenyum menatapku sebentar kemudian memandang lantai lagi.

            Aku menghela napas dalam-dalam. " Oke, kalau kamu gak ada apa-apa. Tapi yang harus kamu tau, aku selalu ada kalau kamu mau cerita apa-apa,"

            Ia tersenyum lagi. Masih tak menatapku. Namun kali ini senyumnya adalah senyum sedih.

***

            Beberapa hari ini, Luna sama seperti saat-saat kemarin. Ia masih murung dan selalu gak fokus ketika ku tanya. Aku selalu menanyakan apakah dia baik-baik saja namun dia selalu bilang dia baik-baik saja. Aku lama-lama bosan juga bertanya itu-itu terus dan akhirnya aku juga sudah berhenti mendesaknya untuk bercerita dan membiarkannya tenggelam dalam lamunannya sendiri. Berbanding terbalik dengan keadaan Luna, aku merasa bahwa beberapa hari belakangan keberuntungan menghampiriku. Aku kadang merasa jahat, aku senang diatas kesedihan Luna. Tapi apa mau dikata hal yang aku tak pernah bayangkan sebelumnya terjadi. Just like dream comes true bahwa aku bisa dekat dengan Dewa. Seorang Dewa!

            Oke, pertama aku dan Luna sering berpapasan dengan Dewa ketika kami ke kantin dan sekarang dia sudah mulai menyapaku (dan juga Luna tentunya) dan tersenyum!. Kedua, dia selalu menggodaku kalau dia melewati bangkuku. Ada saja tingkahnya seperti ketika aku tengah asyik menulis ia menarik bukuku. Memang sih ada coretan pulpen yang panjang sepanjang buku yang kalau itu dilakukan orang lain pasti aku marah besar. Pernah dia sekali waktu menaburiku dengan potongan-potongan kecil kertas. Aku pura-pura marah tapi dalam hati rasanya senaaang sekali. Dan hal yang bikin jantungku copot adalah ketika kami ditugasi oleh guru Bahasa Indonesia untuk membentuk grup drama sendiri, dia menghampiriku.

            " Ra, saya sekelompok sama kamu yah? Kamu kan pinter Bahasa Indonesia," katanya tiba-tba.

            " Iya boleh.. boleh... Tapi so far ya kamu.. kamu maksud aku baru kamu... cowok.. yang .. masuk kelompok ki..kita," dengan susah payah aku mengucapkan kalimat itu.

            " Ga masalah. Saya juga ngajak Stevan dengan Rico untuk gabung. Ga apa-apa kan?" Mata waspada sekaligus jenakanya menatapku langsung. Kakiku benar-benar seperti bor sekarang. Tidak bisa berhenti bergetar.

            " Oh ya ga apa-apa," jawabku berusaha setengah mati untuk tidak berteriak.

            "Luna....., please... bangunin aku dari mimpi!' susah payah aku tetap menjaga suaraku pelan. 'Ouch!' Sedetik kemudian kulit punggung tanganku memerah akibat cubitan Luna. Tuhan, aku gak bermimpi!!!

 

                                                            ***

 

            Sepertinya ada hal magis yang menarikku untuk kembali dan kembali menyusuri koridor tua ini, sama halnya seperti bau busuk yang selalu menarik lalat, aku tak pernah sekalipun jemu atau takut dengan isu-isu yang beredar mengenai Dona, hantu belanda cantik penghuni sekolahku.

            Sore ini aku kembali takjub, dengan kekokohan tembok-tembok koridor lama ini. cat kuning pudarnya menggelitikku untuk selalu bertanya berapa gygabyte memori selama 200 tahun yang disimpan si tua ini? Apa persisnya memori 200 tahun itu? Dan seperti apa masa dulu itu, masa ketika sekolah ini hanya diperuntukkan untuk kaum aristrokat dan penjajah saja?

            Jika Luna menemaniku disini, pasti dia akan menyeretku keluar dari koridor ini. Dia itu penakut. Dari dua tahun yang lalu hingga detik ini, dia masih saja menjadi Luna, seorang penakut. Sayangnya Luna tidak disini, "Tunggu aku di dekat gerbang, aku ada urusan dulu", begitu katanya. Entahlah, yang jelas sewaktu berpisah tadi ada yang dia sembunyikan dariku. Aku juga merasa bersalah padanya, akhir-akhir ini aku tidak peduli pada keadaanya. Tidak sepenuhnya juga sih. Aku sudah bertanya tentang keadaannya, tapi dia tak mau jawab. Pada keadaan biasa pasti aku telah mendesaknya untuk bicara tapi... umm maafkan aku ya Luna, belakangan ini hari-hariku berubah jadi tak biasa semenjak Dewa hampir setiap waktu menegurku. Aku tersenyum sendiri, aku akan semakin dekat dengannya dalam grup bahasa Indonesia nanti. Aku tak sabar untuk segera kerja kelompok, kalau bisa sih sesering mungkin. Aku terkikik geli dalam hati, Ya Tuhan... kenapa aku begini centil?

            Langkahku terhenti. Tepat ketika aku akan menaiki salah satu tangga lebar menuju keatas, terdengar seseorang terisak, sepertinya wanita. Siapa orang yang menangis di lantai 2 yang sudah sepi begini? Perlahan jantungku berdegup lebih cepat, Dona kah? Apa aku seberuntung ini bertemu dengannya? Aku mengendap-ngendap mendekati sumber tangisan itu seperti yang aku lihat di film-film kriminal.

            Tunggu dulu. Suara itu bukan hanya satu orang, tapi dua orang. Aku semakin mempertajam telingaku. Sekarang orang yang lain berbicara, suaranya terdengar antara emosi, putus asa. Sesekali suaranya memelas, lalu meninggi namun masih terkontrol pelan. Kentara sekali pembicaraan mereka tampak rahasia. Couple squarrel.

            Aku baru saja akan membalikkan badan ketika kudengar suara yang sangat ku kenal sebelumnya.

            ‘Aku ga tahu harus gimana lagi...,’ katanya terisak. ‘ Dia sa..habat..ku. Aku ga mungkin nyakitin hati dia.  ‘Dia suka sama kamu dari 2 tahun lalu, dia selalu excited ketemu kamu. Sahabat macam apa aku yang tega nyakitin sahabatnya,’

            ‘Anak-anak waktu itu bilang, kalau saya deketin kamu sahabat kamu pasti marah dan kamu pasti lebih milih dia walaupun kamu juga punya perasaan sama dengan saya.  Tapi saya ga bisa nahan perasaan saya, saya ngerasa jadi loser kalau saya ga nyoba merjuangin kamu,’ suara pria lemah dan bergetar.

            Wanita itu semakin terisak keras. ‘ Tolong, jangan bikin segalanya sulit buat aku, kamu tahu aku ga bisa nerima kamu. Tapi aku pengen kamu tahu kalau aku juga suka kamu, Dewa,’

            Cukup kudengar semua ini. Kakiku rasanya sulit menopang badanku, aku lemas. Tak bisa menangis, semua terasa sakit di dalam, sulit pula untuk bernapas. Rasanya paru-paruku dipenuhi udara yang menekanku. Aku tak percaya, sampai hati dia membohongiku. Tega sekali dia membiarkanku bahagia gara-gara Dewa, padahal semua itu untuknya! Munafik!

            Dewa tampaknya menghela nafas. ‘ Oke kalau itu keputusan kamu, tapi saya mohon kali ini saja saya antar kamu pulang. Kamu juga ga mungkin kan pulang dengan Tira dalam keadaan seperti ini, bisa-bisa Tira tahu,’

            Terdengar jeda cukup lama. ‘Oke. Aku telpon Tira dulu biar dia pulang duluan,’

            Aku terkejut, dengan segera meraba-raba dasar tasku. Tak perlu waktu lama aku menemukannya, tapi terlambat.... handphone ku terlanjur berdering.

            Aku sudah berlari sampai tangga ketika Dewa keluar dari kelas, dan Luna berteriak memanggilku sambil menangis, kemudian dia mengejarku. ‘Tira, tunggu, biar aku jelasin sama kamu! ini ga seperti yang kamu bayangin!’

            ‘Tira, tolong berhenti. Dengarkan Luna dulu, kasian dia,’

            Kasihan? Aku yang seharusnya dikasihani Dewa. Aku terlalu kecewa pada Luna. Seharusnya dia tidak membiarkanku dibohongi, seharusnya dia bisa melawan perasaannya, dan seharusnya Dewa tidak menyukainya!

Tak siap aku mendengar penjelasannya, aku yakin dia dengan lugunya meminta maaf.         Aku tak ingat ada sebuah pintu kecil di samping ruang guru di lantai 1, yang penting pintu itu terbuka dan aku bisa bersembunyi dari Luna dan Dewa. Aku menyeruduk masuk dan sedetik kemudian aku terguling melewati beberapa anak tangga di ruang gelap ini. Sayup-sayup kudengar suara Luna dan Dewa melewatiku tapi kemudian suara itu perlahan menghilang, dan semuanya gelap.

No comments:

Post a Comment