Aku menyusuri setiap lorong
di sekolahku. Aku sangat menyukai setiap sudut bangunan tua peninggalan Belanda
ini. Orang bilang sih bangunan ini angker. Terlihat seperti tua bangka yang
angkuh yang berdiri sepanjang jalan Rembang Taman, namun bagiku si tua ini
tampak eksotis, memiliki kemagisan tersendiri, dan tentu saja sebagai saksi
bisu yang selama hidupnya melihat para murid disekolah ini berganti zaman dari
zaman yang masih memakai sepeda sampai zaman yang sudah memakai mobil seperti
sekarang ini.
" Hei, Ra, lagi ngapain kamu?" tegur sebuah
suara. Luna.
" Hehe, lagi jalan-jalan aja." kataku sambil
nyengir.
" Sore-sore begini? Kamu ga takut kalau nanti ada si
itu tuh..," Luna memelankan suaranya.
" Dona maksudnya?"
Mata Luna terbelalak. " Kenapa disebutin! Jangan
sompral kamu, hayu ah kita pulang." Luna menarik tanganku.
" Gak ada yang salah kan dengan nama itu. Dona. Just
it. Ga mengandung kutukan ato magic kayak nama Voldemort, kan?" kataku
sesampainya kami di kantin.
Luna memutar matanya. " Ga ada yang salah katamu?
Jelas salah Tira... Kamu mau apa kalau ntar Dona nampakin diri."
Takut-takut Luna menyebut nama yang sangat tenar di sekolah kami tersebut.
Aku tertawa kecil. " Lho, justru bagus dong. Kalau
aku ketemu dia, aku bisa nanya-nanya tentang masa sekolah dia waktu zaman
Belanda dulu. Kan asyik belajar sejarah dari orang yang ngalaminnya. Upss bukan
orang tapi hantu..,"
"Beneran kamu udah gila. Sakit. Kamu kayaknya mesti
nanya Mang Ade deh gimana seremnya ketemu dia."
" Kata Mang Ade cantik kok. Jarang-jarang kan kita
ketemu hantu terpelajar dan cantik kayak dia. Biasanya kan kalo hantu itu serem
kayak Kuntilanak, genderewo...'
Bukan hanya matanya saja yang terbelalak tapi mulut Luna
juga ikutan menganga. " Kamu sakit ... Pokoknya kita pulang sekarang.
Titik. Ga da koma."
Aku tertawa kecil melihat Luna yang setengah mati
ketakutan sama cerita-cerita yang ga jelas gitu. Ia serta merta menarik
tanganku keluar sekolah itu dan segera menyetop angkot. Sepanjang jalan dia
selalu berusaha menjauhkan aku dari percakapan tentang Dona.
***
" Luna, pokoknya aku ga mau masuk ruangan seni
musik. Mending mabal aja deh kalau gini mah," Aku mencengkram tangan Luna
sekuat-kuatnya.
Luna terlihat tak sabar. " Tira kalau kamu
ogah-ogahan belajar seni musik gimana kamu bisa maen alat musik."
" Tapi sekarang bukan waktunya untuk belajar, Luna
sayang. Sekarang tes dan aku ga mau mempermalukan diri aku di depan Dewa."
Aku memang selalu mati kutu jika harus berhadapan sama
Dewa, teman sekelasku. Apalagi sekarang, tes seni musik, pelajaran yang paling
aku ga bisa. Jangankan maen suling bambu dengan bagus, baru niupnya aja udah
sumbang. Aku lebih milih untuk mengerjakan soal kimia atau matematika 50 soal
daripada harus ikutan seni musik Sedangkan Dewa, dia perfect dalam segala hal.
Olahraga oke, pelajaran oke, main musik pun oke dan hampir semua alat musik
bisa dia mainkan. Aku pasti jadi badut Ancol kalau di depan nanti.
" Dan ini tes Tira. Tes. Kamu ga mau kan
di-blacklist sama Bu Ayu?"
Aku sudah membayangkan sebelumnya. Kalau aku mangkir dari
tes ini Bu Ayu pasti bakal manggil wali kelasku dan wali kelasku bakal
memanggilku dan menyerahkanku pada Bu Ayu dan pastinya aku akan dimarahin dan
disepet-sepet oleh omongannya yang setajem silet ketika aku masuk kelas seni
musik lagi.
Sedetik kemudian, tanpa aku sadari, aku sudah duduk manis
di ruang sen
i musik. Dan yang lebih aku
ga sadari lagi ternyata peserta tes mulai dipanggil satu per satu dan giliranku
tinggal 5 nomor lagi. Keringat dingin mulai bercucuran. Aku duduk dengan
gelisah seperti ada ratusan paku yang ditanam di bawah pantatku. Luna menatapku
simpati.
" Ga usah dipikirin. Ini bakalan segera
berakhir," hiburnya. Aku menggeleng lemah. Aku ga bisa berpikir jernih
pada saat ini. Luna sih tenang-tenang saja. Aku yakin dia pasti bisa melalui
tes seni musik ini. Okelah dia gak selihai Reza dalam memetik gitar atau gak
sepiawai Oka dalam main piano yang dua-duanya adalah teman sekelasku sekaligus
pemain band indie di Bandung yang udah manggung di mana-mana. atau mungkin
sehebat Kiara, teman kelasku yang lain, pemetik kecapi sekaligus sinden yang
pernah di undang tampil oleh ASEAN di Thailand. Tapi setidaknya dia memiliki
minat dalam pelajaran seni musik. Oleh karena itu, dia selalu cepat menguasai
setiap alat musik yang diajarkan. Dalam tes kali ini pun Luna sudah
mempersiapkan diri dengan gitarnya untuk membawakan lagu Dia-nya Malik and
d'essensial. Sedangkan aku? Lebih memilih untuk 'maen dengan laptopku'.
" Ra, liat itu Dewa," bisik Luna sambil
menyikutku. Tepuk tangan di ruang musik itu bergemuruh ketika ia maju ke depan.
Oh ya, aku lupa menyebutkan bahwa satu lagi expert musik di kelasku adalah
Dewa.
Ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Harmonika. Dewa
tersenyum. Aku membalasnya dengan senyuman. Tapi bukan aku saja yang membalas
senyumannya. Seluruh cewek di kelas ini malah asyik bertepuk tangan riuh
sekaligus berceletuk 'Dewa I love you' seperti yang dilakukan Puput dan Ivy. Ia
mulai meniup harmonikanya. Jemarinya dengan lincah menutup lubang-lubang di
harmonika itu diikuti dengan mulutnya yang meniup lubang-lubang yang dibiarkan
bebas oleh jemarinya. Segera saja nada yang indah keluar dari alat musik yang
kecil itu merangkai lagu Killing Me Softly. Kami semua yang berada di ruangan
ini terpaku. Pesona Dewa yang terpelajar semakin bertambah kuat dengan
piawainya ia bermain musik. Sepertinya mulutku juga setengah ternganga. Nada
itu terhenti. Rupanya ia telah selesai. Sontak suara tepuk tangan, suitan,
serta celetukan terdengar lebih membahana dari sebelumnya. Bahkan Ibu Ayu pun
yang selalu menemukan celah kekurangan dan menyampaikan dengan kritik yang
tajam pun ikut bertepuk tangan, tersenyum, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ga menemukan celah kekurangan dalam penampilan Dewa.
" Dewa kamu bermain sangat perfect sekali. Sudah
ganteng, pintar maen musik lagi. Pasti banyak cewek ngantri buat kamu,"
puji Bu Ayu. Luna mengerling padaku.
" Kalau itu mah dari dulu, Bu," celetuk Rian.
Dewa hanya menunduk malu mendengar pujian-pujian yang terlontar untuknya.
Inilah nilai plus Dewa buatku. Ia selalu gak merasa kalau dirinya itu hebat.
"Sadewa ibu beri nilai 90," kata Bu Ayu lagi,
disusul applaus seisi kelas, " dan sekarang giliran Tira Nada Indah,"
Bibirku mulai pucat pasi. Aku sungguh-sungguh ga sadar
kalau sesudah absen Dewa adalah aku, penampilanku yang udah pas-pasan pun pasti
kebanting sama penampilan Dewa. Teman-temanku mulai menatapku. Ini membuatku
semakin gugup. Aku berjalan perlahan ke depan. Tapi berjalan ke depan kelas itu
serasa selangkah. Begitu cepatnya. Aku meraih recorderku. Ragu-ragu aku bersiap
meniupnya. Tiba-tiba Oka berceletuk, " Ayo dong Nada Indah, keluarin dong
nada yang indahnya. Kita kan mau denger."
Tawa anak-anak bergemuruh. Dewa juga ikut tertawa. Ya
Allah, hamba mohon tolong, tolong hentikan waktu ini atau percepat waktu ini
atau apa sajalah yang penting aku gak tampil hari ini.
Tet... Tet... Tet. Bel berbunyi.
Yes, aku bersorak dalam hati. Bukan hanya aku saja
ternyata, banyak orang-orang yang ikut bersorak karena tidak mau tampil hari
ini. Bel penyelamat. Aku akan datang berkunjung ke ruang piket tempat bel itu
ada dan melakukan semacam penaburan bunga secara diam-diam terhadap bel
keramatku.
" Beruntungnya...," kata Luna sewaktu aku
menemuinya di pintu keluar ruang seni musik.
Aku tersenyum kecil.
" Tira, kamu ngehalangin jalan saya," sebuah
suara menegurku dari belakang. Aku berbalik badan. Ia tersenyum. Dewa tersenyum
padaku!
" Oh ya, sori-sori..," setengah mati aku
berusaha menggeser badanku yang sudah kaku untuk memberinya jalan. Aku terpaku
menatap sosoknya yang sedang menalikan tali sepatunya.
Luna terkikik melihat tingkahku.
" My lucky day," kataku tanpa memandang Luna
sambil terus menatap punggung Dewa yang semakin menjauh.
***
Luna tampak sangat berbeda belakangan ini. Ketika kami
sedang mengerjakan tugas Matematika dari Pak Yono, kebetulan kami teman
sebangku, seperti biasa aku mengajaknya mengobrol dan bergosip tentang kabar
adanya cinlok di kelas kami dan dia kelihatan tak fokus. Dan hal yang sama terjadi lagi waktu kami jalan berdua dari
kantin.
" Luna.... liat deh itu Dewa," aku menyikut
tangannya ketika kami perpapasan dengan Dewa. Luna hanya menatapnya kosong,
biasanya dia selalu ikutan menyemangatiku kalau aku menyinggung tentang Dewa.
" Lun, kamu kenapa sih? Sakit yah?" tanyaku.
Luna hanya menggeleng lemah.
" Ngga kok, nggak ada apa-apa," balasnya sambil
tersenyum dipaksakan. Aku tahu. Ada yang tak beres.
Aku mengajaknya duduk di bangku dekat kelasku. "
Kamu lagi ada masalah Luna. Kenapa sih?"
"Serius. Aku ngga apa-apa. Percaya deh," Luna
coba meyakinkanku. Dia tak bisa menipuku.
" Luna, selama semua indra aku berfungsi, aku pasti
sadar dengan apa yang terjadi di sekelilingku. Dan...," aku menghela napas
sebentar," aku selama beberapa hari ini merhatiin bahwa kamu ga kayak
biasanya. Kayak ada sesuatu masalah yang lagi kamu tanggung. Cerita dong,
selama ini kan aku gak pernah gak cerita sama kamu. Giliran kamu dong
sekarang,"
Luna tak menatapku. Ia terus saja menatap lantai.
" Gak ada apa-apa," dia tersenyum menatapku sebentar kemudian
memandang lantai lagi.
Aku menghela napas dalam-dalam. " Oke, kalau kamu
gak ada apa-apa. Tapi yang harus kamu tau, aku selalu ada kalau kamu mau cerita
apa-apa,"
Ia tersenyum lagi. Masih tak menatapku. Namun kali ini
senyumnya adalah senyum sedih.
***
Beberapa hari ini, Luna sama seperti saat-saat kemarin.
Ia masih murung dan selalu gak fokus ketika ku tanya. Aku selalu menanyakan
apakah dia baik-baik saja namun dia selalu bilang dia baik-baik saja. Aku
lama-lama bosan juga bertanya itu-itu terus dan akhirnya aku juga sudah
berhenti mendesaknya untuk bercerita dan membiarkannya tenggelam dalam
lamunannya sendiri. Berbanding terbalik dengan keadaan Luna, aku merasa bahwa
beberapa hari belakangan keberuntungan menghampiriku. Aku kadang merasa jahat,
aku senang diatas kesedihan Luna. Tapi apa mau dikata hal yang aku tak pernah
bayangkan sebelumnya terjadi. Just like dream comes true bahwa aku bisa dekat
dengan Dewa. Seorang Dewa!
Oke, pertama aku dan Luna sering berpapasan dengan Dewa
ketika kami ke kantin dan sekarang dia sudah mulai menyapaku (dan juga Luna
tentunya) dan tersenyum!. Kedua, dia selalu menggodaku kalau dia melewati
bangkuku. Ada saja tingkahnya seperti ketika aku tengah asyik menulis ia
menarik bukuku. Memang sih ada coretan pulpen yang panjang sepanjang buku yang
kalau itu dilakukan orang lain pasti aku marah besar. Pernah dia sekali waktu
menaburiku dengan potongan-potongan kecil kertas. Aku pura-pura marah tapi
dalam hati rasanya senaaang sekali. Dan hal yang bikin jantungku copot adalah
ketika kami ditugasi oleh guru Bahasa Indonesia untuk membentuk grup drama
sendiri, dia menghampiriku.
" Ra, saya sekelompok sama kamu yah? Kamu kan pinter
Bahasa Indonesia," katanya tiba-tba.
" Iya boleh.. boleh... Tapi so far ya kamu.. kamu
maksud aku baru kamu... cowok.. yang .. masuk kelompok ki..kita," dengan
susah payah aku mengucapkan kalimat itu.
" Ga masalah. Saya juga ngajak Stevan dengan Rico
untuk gabung. Ga apa-apa kan?" Mata waspada sekaligus jenakanya menatapku
langsung. Kakiku benar-benar seperti bor sekarang. Tidak bisa berhenti
bergetar.
" Oh ya ga apa-apa," jawabku berusaha setengah
mati untuk tidak berteriak.
"Luna....., please... bangunin aku dari mimpi!'
susah payah aku tetap menjaga suaraku pelan. 'Ouch!' Sedetik kemudian kulit
punggung tanganku memerah akibat cubitan Luna. Tuhan, aku gak bermimpi!!!
***
Sepertinya ada hal magis yang menarikku untuk kembali dan
kembali menyusuri koridor tua ini, sama halnya seperti bau busuk yang selalu
menarik lalat, aku tak pernah sekalipun jemu atau takut dengan isu-isu yang
beredar mengenai Dona, hantu belanda cantik penghuni sekolahku.
Sore ini aku kembali takjub, dengan kekokohan tembok-tembok
koridor lama ini. cat kuning pudarnya menggelitikku untuk selalu bertanya
berapa gygabyte memori selama 200 tahun yang disimpan si tua ini? Apa persisnya
memori 200 tahun itu? Dan seperti apa masa dulu itu, masa ketika sekolah ini
hanya diperuntukkan untuk kaum aristrokat dan penjajah saja?
Jika Luna menemaniku disini, pasti
dia akan menyeretku keluar dari koridor ini. Dia itu penakut. Dari dua tahun
yang lalu hingga detik ini, dia masih saja menjadi Luna, seorang penakut.
Sayangnya Luna tidak disini, "Tunggu aku di dekat gerbang, aku ada urusan
dulu", begitu katanya. Entahlah, yang jelas sewaktu berpisah tadi ada yang
dia sembunyikan dariku. Aku juga merasa bersalah padanya, akhir-akhir ini aku
tidak peduli pada keadaanya. Tidak sepenuhnya juga sih. Aku sudah bertanya
tentang keadaannya, tapi dia tak mau jawab. Pada keadaan biasa pasti aku telah
mendesaknya untuk bicara tapi... umm maafkan aku ya Luna, belakangan ini
hari-hariku berubah jadi tak biasa semenjak Dewa hampir setiap waktu menegurku.
Aku tersenyum sendiri, aku akan semakin dekat dengannya dalam grup bahasa
Indonesia nanti. Aku tak sabar untuk segera kerja kelompok, kalau bisa sih
sesering mungkin. Aku terkikik geli dalam hati, Ya Tuhan... kenapa aku begini
centil?
Langkahku terhenti. Tepat ketika aku
akan menaiki salah satu tangga lebar menuju keatas, terdengar seseorang terisak,
sepertinya wanita. Siapa orang yang menangis di lantai 2 yang sudah sepi
begini? Perlahan jantungku berdegup lebih cepat, Dona kah? Apa aku seberuntung
ini bertemu dengannya? Aku mengendap-ngendap mendekati sumber tangisan itu
seperti yang aku lihat di film-film kriminal.
Tunggu dulu. Suara itu bukan hanya
satu orang, tapi dua orang. Aku semakin mempertajam telingaku. Sekarang orang
yang lain berbicara, suaranya terdengar antara emosi, putus asa. Sesekali
suaranya memelas, lalu meninggi namun masih terkontrol pelan. Kentara sekali
pembicaraan mereka tampak rahasia. Couple squarrel.
Aku baru saja akan membalikkan badan
ketika kudengar suara yang sangat ku kenal sebelumnya.
‘Aku ga tahu harus gimana lagi...,’
katanya terisak. ‘ Dia sa..habat..ku. Aku ga mungkin nyakitin hati dia. ‘Dia suka sama kamu dari 2 tahun lalu, dia
selalu excited ketemu kamu. Sahabat macam apa aku yang tega nyakitin
sahabatnya,’
‘Anak-anak waktu itu bilang, kalau
saya deketin kamu sahabat kamu pasti marah dan kamu pasti lebih milih dia
walaupun kamu juga punya perasaan sama dengan saya. Tapi saya ga bisa nahan perasaan saya, saya
ngerasa jadi loser kalau saya ga nyoba merjuangin kamu,’ suara pria lemah dan
bergetar.
Wanita itu semakin terisak keras. ‘
Tolong, jangan bikin segalanya sulit buat aku, kamu tahu aku ga bisa nerima
kamu. Tapi aku pengen kamu tahu kalau aku juga suka kamu, Dewa,’
Cukup kudengar semua ini. Kakiku
rasanya sulit menopang badanku, aku lemas. Tak bisa menangis, semua terasa
sakit di dalam, sulit pula untuk bernapas. Rasanya paru-paruku dipenuhi udara
yang menekanku. Aku tak percaya, sampai hati dia membohongiku. Tega sekali dia
membiarkanku bahagia gara-gara Dewa, padahal semua itu untuknya! Munafik!
Dewa tampaknya menghela nafas. ‘ Oke
kalau itu keputusan kamu, tapi saya mohon kali ini saja saya antar kamu pulang.
Kamu juga ga mungkin kan pulang dengan Tira dalam keadaan seperti ini,
bisa-bisa Tira tahu,’
Terdengar jeda cukup lama. ‘Oke. Aku
telpon Tira dulu biar dia pulang duluan,’
Aku terkejut, dengan segera
meraba-raba dasar tasku. Tak perlu waktu lama aku menemukannya, tapi
terlambat.... handphone ku terlanjur berdering.
Aku sudah berlari sampai tangga
ketika Dewa keluar dari kelas, dan Luna berteriak memanggilku sambil menangis,
kemudian dia mengejarku. ‘Tira, tunggu, biar aku jelasin sama kamu! ini ga
seperti yang kamu bayangin!’
‘Tira, tolong berhenti. Dengarkan
Luna dulu, kasian dia,’
Kasihan? Aku yang seharusnya
dikasihani Dewa. Aku terlalu kecewa pada Luna. Seharusnya dia tidak
membiarkanku dibohongi, seharusnya dia bisa melawan perasaannya, dan seharusnya
Dewa tidak menyukainya!
Tak
siap aku mendengar penjelasannya, aku yakin dia dengan lugunya meminta maaf. Aku tak ingat ada sebuah pintu kecil di
samping ruang guru di lantai 1, yang penting pintu itu terbuka dan aku bisa
bersembunyi dari Luna dan Dewa. Aku menyeruduk masuk dan sedetik kemudian aku
terguling melewati beberapa anak tangga di ruang gelap ini. Sayup-sayup
kudengar suara Luna dan Dewa melewatiku tapi kemudian suara itu perlahan
menghilang, dan semuanya gelap.
No comments:
Post a Comment