Seberkas
sinar masuk melalui celah-celah horizontal di pintu merefleksikan keadaan
ruangan, kecil, pengap dan menyeramkan. Perlahan aku terbangun dengan pening di
kepalaku, kelopak mataku sepertinya sulit terbuka, namun aku harus bangun. Sampai
kapan aku akan tertidur?
Rok yang kupakai menyulitkanku untuk
menaiki tangga kecil di depanku, selalu aku terinjak rokku sendiri. Sudah
kubilang kan, rok rimpel panjang ini menggangguku bergerak, aku lebih memilih
memakai rok lurus standar saja, tapi mama tak mau dengar. Sudahlah, yang jelas
telah berapa lama aku terbaring seperti ini? 1 jam, 2 jam, atau lebih? Tidak!
Pasti hari sudah gelap sekarang.
Tapi tunggu dulu, yang kulihat tadi
adalah seberkas sinar kan? Aku memotong-motong sinar tersebut dengan tanganku.
Tidak tembus, sinar tersebut tertahan di telapak tanganku. Memang sebuah sinar,
Ya Allah, apa aku berada di surga sekarang? Aku mendorong pintu kecil itu
perlahan, cahaya mulai membanjiri mataku sekarang. Aku menyipitkan mata, sinar
ini terlalu terang. Allah, jika kau telah mengambil nyawaku maka kumohon dengan
sangat, tempatkan aku di surga.
Sayup-sayup kudengar suara dari tiap
kelas di lantai. Aku membuka mataku perlahan, tapi aneh, cahaya yang tadi
membanjiri penglihatanku tampak menyurut. Kini, tampak koridor sekolahku yang
tampak dingin dan sedikit gelap. Hanya sinar-sinar matahari dari kaca di atas
koridor yang memberikan sinar lembutnya yang berwarna warni. Aku sangat hapal
sinar ini, sial, aku memaki dalam hati, sudah pagi! Tampaknya aku pingsan
disini seharian. Kepalaku masih berdenyut-denyut, aku bersandar pada tembok
yang dingin di koridor. Tampaknya pikiranku belum fokus, aku merasa ada yang
berbeda dengan koridor ini, tapi entahlah aku tak tahu.
Ada bunyi seperti dentangan jam dari
aula. Oh ya pukul berpa sekarang? Aku berjalan tertatih-tatihseperti orang yang
limbung. Jam tersebut berada di sebelah kanan aula. Sejak kapan sekolah
menempatkan jam itu? Aku tak tahu, yang jelas apa yang ditunjukkan jam tersebut
membuatku ketakutan setengah mati.
Pukul 8. Tidak! Kuis matematika!
Tidak, tidak. Aku tak akan masuk,
lebih baik aku tak sekolah, aku belum siap bertemu Luna dan Dewa, aku tak ingin
bicara dengan Luna atau Dewa. Pertama karena aku benci, kecewa, dan merasa
tertipu oleh Luna, dan kedua karena aku merasa malu pada Dewa. Dia tahu
perasaanku dan secara tak langsung dia menolakku.
Aku baru sadar. Aku tak bisa keluar
dari sini. Aku bisa saja berjalan keluar aula ini, tepat langsung menuju
gerbang utama, tapi aku tak akan bisa lolos dari cengkraman satpam penjaga di
sana. Aturannya sudah jelas. Kami tidak boleh masuk lewat gerbang depan kecuali
jam sekolah normal memang usai, gantinya, kami harus masuk lewat gerbang
samping. Gerbang samping pun tidak mudah dilewati, kau tau, berderet guru piket
telah duduk rapi di ruang piket untuk memantau adakah siswa yang terlambat atau
keluar untuk sekadar jajan selama pelajaran berlangsung. Kau tak kan lolos.
Aku hanya membayangkan, aku datang
ke ruang piket kemudian minta surat izin sakit, kemudian guru piket bertanya
sakit apa yang kuderita. Aku harus jawab apa? Demam? Badanku tidak panas.
Meriang? Ah, kan tidak perlu sampai pulang segala. Menstruasi? Tidak alasan
itu. Aku sudah tercatat 1 minggu yang lalu pulang dengan alasan sakit
menstruasi, Luna yang mengantarku ke ruang piket. Ah Luna... Entahlah sepertnya
persahabatan kami selama 2 tahun tidak ada artinya lagi karena
pengkhianatannya. Andai saja aku bisa bilang pada guru piket, tentunya apabila
mereka mempercayaiku, kalau saat ini hatiku yang sakit,parah malah, mungkin
perlu dirumahsakitkan.
Better late than never, Tira. Aku
menghela nafas, lalu mengambil langkah seribu menaiki anak-anak tangga dengan
rokku yang terasa berat. Kemudian menyebrangi aula dan berlari menuju kelasku.
Adrenalinku mulai terpacu, pun nafasku terengah-engah dan sepertinya tumpukan
asam laktat sudah menggelayuti betisku. Aku bahkan tak punya waktu untuk
bercermin melihat seperti apa tampangku selepas bangun tidur atau mataku yang
sembab. Juga belum memikirkan bagaimana apabila aku bertemu Luna nanti. Yang
aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya aku masuk kelas dan mengikuti
kuis matematika tanpa kena omelan.
Aku meraih gagang pintu kelasku.
Catnya tampak sedikit berbeda. Gagang pintunya terasa lebih berat. Aku
mendorong pintuya lalu aku masuk dengan muka tertunduk dalam-dalam.
“Bapak. maafkan saya. Saya tidak
bermaksud untuk terlambat Pak, sebelum berangkat saya sakit Pak, tapi demi kuis
ini saya benar-benar usahakan untuk datang meskipun ibu saya melarang. Sekali
lagi mohon maaf, mohon izinkan saya untuk mengikuti kuis ini, Pak,’ Aku
memejamkan mata dan mengutuk diri sendiri atas kebohongan yang aku buat. Orang
sakit macam apa yang terengah-engah masuk ke kelas dan terlihat seperti habis
berlari? Orang sakit macam apa yang tidak memiliki surat sakit dan terlambat
dari bagian piket?
Aku masih memejamkan mata, menanti
dalam hening sesaat yang menegangkan. sedetik
kemudian tawa pecah di ruang kelas ini. Pada awalnya aku berpikir pasti mereka
menertawakanku karena Pak Agus-Guru matematikaku- bersiap menyentil terlingaku
atau apapun yang membuatku terlihat konyol di depan teman-temanku. Tapi tidak
ada yang menyentuh telingaku atau memberikanku hukuman. Sewaktu aku membuka
mataku aku terperanjat kaget alih-alih merasa malu ditertawakan.
Mereka bukan teman-temanku.
Aku mengerjapkan mata, lalu
membeliak.
Oh! Tidak, sepertinya aku masuk
kelas yang salah!
‘Maaf, sepertinya,.. aku salah...’
kata-kataku terpotong. Aku menolehkan mukaku ke belakang. Sesosok pria
berperawakan tinggi besar berdiri di daun pintu. Kumisnya melengkung sempurna
membingkai bibirnya yang jika tersenyum mewakili sosok pria kejam yang
seringkali kutemukan di film thiller. Sorot matanya kejam dan ... entahlah
licik? Tapi sepertinya itu tidak penting, yang lebih menggangguku adalah mengapa
ada pria asing dan murid asing di sekolahku? terlebih lagi di kelasku? Apa
sekolahku mengadakan seminar internasional? Kenapa harus di sekolah, kenapa
tidak di hotel?
‘ Why
are you still standing here? The school is about to start,’ katanya
memandangku tajam. Tawa-tawa yang tadi terdengar mendadak berhenti. Sepertinya
seisi kelas memperhatikan kami. Dia mendekatiku, mengangkat wajahnya sedikit
dengan angkuh. ‘Ah... you must be that new
student. Go get your seat,’
Aku berdiri mematung. Dia tampaknya
menyuruhku sesuatu, tapi aku tak mengerti. Sepertinya dia berbicara bahasa
Jerman atau Perancis? Tidak... tidak... dia tidak menggunakan suara tenggorokan
ataupun suara hidung seperti yang orang Jerman atau Perancis gunakan ketika
mereka bicara.
‘Why are you standing still, dont
you hear what I ve just said? I guess, your ears are in good function. Unless,
you dont belong here,’ Dia melewatiku begitu saja.
‘Sorry, sir. I honestly dont have
any ide what you ve just said. I just speak Indonesian and English a bit,’
akhirnya aku memberanikan diri berkata.
Dia berbalik menatapku, ‘Take your
seat’
‘Thank you, Sir,’ kataku ragu-ragu
bercampur kesal dan bingung. Bagaimana dengan kuis matematikaku? Siapa sih dia
hingga berani-beraninya memarahiku seperti itu?
Aka mendudukkan diri di kursi kosong
di belakang dengan dongkol. Belum lagi bule-bule dan pribumi ini masih menatapku aneh.
Tapi tunggu dulu, ada yang aneh. Mereka sepertinya sedang ikut pesta kostum,
karnaval, atau peringatan 17 Agustus? Wanitanya memakai dress selutut dengan
bagian bawah melebar dan kerah rimpel berwarna putih pucat. Rambut mereka kebanyakan dikepang menggunakan pita dengan
warna senada. Prianya mengenakan semacam pakaian tradisional jawa, hanya saja
mereka tidak memakai bendo atau penutup kepala khas. Alih-alih,
mereka menyisir rambut belah pinggir mereka dengan rapi, kelewat rapi malah.
Hah!
Kelas ini memang kelas yang salah! Lihat saja bajunya berbeda dengan bajuku,
bajuku. Oh tidak. Aku terperangah sesaat. Terusan berwarna putih selutut dengan
sedikit renda kecil dari bagian leher menuju dada, jelas bukan bajuku.
Aku
tak punya waktu berdebat dengan diriku sendiri, sepertinya belasan pasang mata
sedang menuju… ke arahku. Aku mendongak mencari tahu apa yang terjadi.
‘Nenden
Kinanti Kusumadewi,’ pria gendut tadi menyebut sebuah nama sambil menatap lurus
padaku. Aku balik menatapnya, ingin tahu.
‘Kau
sebaiknya belajar sopan santun, young lady,’
Tak
ada respon. Aku membeliakkan mataku. Dia mengulangi perkataannya dalam bahasa
Inggris. Aku tak mengerti, kali ini aku bertanya-tanya apa salahku?
‘Kau
perlu mengatakan ‘I am here’ ketika aku memanggil namamu, Kinanti,’ Kumis nya
berkedut-kedut kesal.
Mereka
jelas sangat salah. Mereka mengira
aku Nene, eh apa tadi, Dendeng Kenari Kusumadewi?
‘Maaf,
tapi apakah ini kelas matematika? Saya harus mengikuti kuis matematika.
Sepertinya saya salah masuk kelas,’
‘Apa,
kuis? Sepertinya kau salah mengira, young lady. Tempat ini adalah tempat
belajar, bukan tempat untuk mendapatkan hadiah. Dan kau tak salah kelas, young
lady, kau terdaftar mengikuti kelasku,’ katanya datar, wajahnya mengeras.
Aku
ingin membantah, kemudian aku menangkap pandangan pria yang duduk di satu
bangku. Dia sedikit menggelengkan kepalanya. Aku segera mengurungkan niat, dan
tentu saja, meminta penjelasan dari nya nanti.
Pelajaran
ini sama sekali tak kumengerti, semuanya serba bahasa asing. Oh, aku sungguh
berharap guru piket akan membunyikan bel segera, menghentikan kelas yang gila
ini.
‘Jika
aku jadi kau, young lady, aku akan memperhatikan pelajaranku. Karena, aku akan
diberikan pertanyaan mengenai pelajaran yang diberikan,’
Pena
yang tengah kupegang tergelincir dari tanganku seketika sehingga bunga-bunga
yang sedang kubuat di kertas diwarnai dengan coretan tinta panjang. Apakah pria
gendut ini berbicara padaku?
‘Yes,
sir?’ Aku tahu, dia berbicara padaku. Dia berbicara bahasa Inggris. Aku
mengurungkan niat untuk bertanya ‘Apakah kau berbicara padaku, Sir,’.
Peranakan
belanda cantik di bangku depan, memanjangkan lehernya untuk melihatku.
Sepertinya dia tertarik menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sepertinya
bukan hanya dia saja yang seperti itu.
‘Menurutmu,
apakah yang VOC butuhkan untuk bertahan di Indonesia?’
Dia menaikkan alisnya, menunggu jawabanku.
‘Tak
perlu repot-repot, saya rasa. VOC pada akhirnya toh harus bangkrut dan
meninggalkan Indonesia,’ jawabku enteng.
Oke,
sepertinya kata-kataku bukan jawaban yang diharapkan. Mata pria gendut di
depanku membulat memerah. Urat-urat di mukanya terlihat jelas seperti cacing
biru. Sedangkan, yang lainnya syok mendengar jawabanku, seperti habis melihat
hantu. Apa yang salah dengan jawabanku? Jawabanku benar kan, VOC memang
meninggalkan Indonesia kecuali kalau mereka orang belanda. Tapi tidak, orang
belanda jaman sekarang mereka mengakui kok kalau mereka memang salah menjajah
Indonesia. Kecuali, orang belanda zaman dulu, well, mereka tampak tidak seperti
seusia nenekku. Tunggu dulu, tapi hal ini memang tak mungkin sih, aku tak
mungkin berada di jaman mereka kan?
Aku
menutup mulutku dengan kaget, tubuhku terenyak ke belakang bangku. Apa aku
benar-benar ada di zaman mereka? Itulah mengapa aku dan mereka tampak aneh?’
Pria
gendut itu segera menghampiriku. Kumisnya bergerak-gerak. ‘Kau membuat lelucon.
Jangan-jangan kau berpikir kalau akhirnya Belanda bias dikalahkan oleh
inlander-inlander itu. Betul begitu? Kau benar-benar membuatku ingin terbahak,
young lady,’
Tapi
dia tak bermaksud untuk terbahak, dia menunggu responku.
Dia
masih menatapku. Dia masih menginginkan responku.
Aku
hendak membuka mulut, ketika pria yang ‘membungkamku’ tadi mengangkat
tangannya.
‘Pak,
saya rasa tak ada gunanya mendengarkan celotehan orang bodoh. Mungkin murid
baru ini perlu adaptasi dengan pelajaran kota. Pelajaran di kampong tampaknya
tak memberinya cukup pendidikan dan sikap sopan,’ suara beratnya menggema di
kelas yang beratap tinggi ini. Tampaknya dia orang yang cerdas, terbukti
perkataannya berhasil membuat pria gendut ini berpikir dua kali.
‘Kau benar.
Semoga Tuhan memberiku kesabaran hari ini, benar-benar aku belum pernah melihat
murid seperti ini,’ Dia berbalik sambil mendengus dan melanjutkan pelajaran.
Aku
mengucapkan kata-kata terimakasih diam-diam. Aku bersumpah, aku melihatnya
mendengus padaku, lalu membalikkan badannya, kembali memperhatikan pria gendut
tadi.
Lonceng
berdentang nyaring terpukul. Kapan pun, dimana pun, lonceng memang pertanda kebahagian
bagi para siswa yang ingin segera kabur dari kelas dan kelihatannya bukan aku
saja. Hampir semuanya memasukkan bukunya ke dalam tas dengan semangat, kecuali
beberapa orang termasuk si wanita peranakan itu.
Tergesa-gesa
aku menghampiri beberapa bangku didepan. Tujuanku sudah jelas. ‘Permisi, bisa
bicara sebentar?’
Yang
kuajak bicara melemparkan pandangan ke wanita peranakan tadi. Jelas, dia sangat
keberatan. Juga beberapa orang lain tampaknya memandangku sangat aneh.
Keningnya
sedikit mengerut. ‘Bicara apa? Aku tak ada waktu,’
Aku
mengerling sedikit pada gadis tadi, senyum kemenangan pada wajahnya tampak
jelas, meski dia sedang tertunduk merapikan buku dalam tas nya, pura-pura.
Aku
memutar mataku kesal. Hey, aku tak mencoba mendekatinya! ‘Aku ingin diskusi
dengan kamu, ini tentang hidup dan mati aku,’ sengaja kutambahkan kata-kata
terakhir itu agar terkesan dramatis. Sepertinya berhasil, dia memandangku
dengan gusar. ‘Nampaknya, hidupmu baik-baik saja, terlampau baik sepertinya,’
‘Nah,
berarti kamu kenal aku kan? Baguslah!’ kataku setengah berteriak kegirangan.
Hening sesaat. Si gadis itu terang-terangan memelototkan matanya padaku.
‘Sepertinya
kau salah tangkap,’ Dia bergegas menuju pintu keluar, diikuti si gadis tadi.
Aku
tahu aku salah bicara. ‘Maksudku bukan gitu,’ ralatku. ‘Aku sungguh ingin
berdiskusi denganmu karena ini sangat penting bagiku, please… aku tahu lagi
harus minta tolong pada siapa. Aku janji, aku tak akan pernah ganggu kamu lagi.
Please…,’
Suaraku
terdengar sangat mengiba. Jika ini keadaan normal, pasti aku akan bersumpah
serapah atas sikap suaraku ini. Dia menghentikan langkahnya, berbalik
menatapku.
‘Hanya
kali ini,’ tegasnya pendek. ‘Kau pulang saja dahulu,’ dia menatap lunak gadis
disampingnya. Si gadis tampak keberatan, tapi ia tak punya pilihan lain.
Menatapku gusar, lalu langsung pergi.
***
‘Apa
yang ingin kau diskusikan?’ tiba-tiba dia berhenti di bawah pohon rimbun yang
agak tersembunyi di belakang sekolah. Tempatnya sepi.
‘Mm…’
aku ragu-ragu dan takut. ‘Kamu tahu siapa nama yang dipanggil pria tadi
menyuruh aku bersopan santun?’
Dia
mendengus. ‘Omong kosong apa ini, apa yang kau bicarakan? Tentu saja kau tau
nama tadi!’ Dia segera menarik ujung tasnya, berencana untuk pergi.
‘Tolong
jangan pergi, kamu sudah janji mau menolongku. Aku benar-benar tidak tahu,’
Dia
menatapku geram, ‘Aku tak ada waktu untuk mendengar bualanmu, Kinanti,’
‘Kamu
juga memanggilku Kinanti!’ Aku setengah berteriak. ‘Jadi maksudmu aku Kinanti?
Kamu bilang aku membual? Kamu yang membual. Jelas-jelas aku Tirani, Tirani
Aluna Ananta! Bukan Kirani!’
Senyum
tersungging di rahang perseginya, kemudian bibirnya terkatup rapat.
‘Tolong
percaya aku,’ pintaku. ‘Dan jangan berpikir aku gila,’ manakala dia perlahan
mengacuhkan ku. ‘Dengarkan, aku… aku bahkan tidak tahu siapa Kinanti Kusumadewi
itu, dan ini sekolahku, tapi bukan sekolah
yang kukenal,’
Dia
mengernyitkan kening, rahangnya masih terkatup rapat.
Aku
mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman sekolah. Aku berjalan perlahan
menembus semilir angin yang menggoyang-goyangkan serumpun bougenville. Aku
menolehkan kepalaku, dia masih berdiri di belakang, menatapku tajam seakan
menunggu hal aneh apa yang akan kulakukan.
‘Aku
tak yakin kamu akan percaya apa yang aku ceritakan, tapi sungguh, aku mengenal
bangunan ini. Sungguh mengaguminya, bahkan aku memutuskan untuk sekolah di sini
karena bangunannya.’
Wajahnya
tak tertebak, tanpa ekspresi.
‘Tapi
sekarang, semua sangat berbeda. Bangunan ini terasa asing buatku. Seolah aku
tak pernah mengenalnya. Sudah berapa lama aku pingsan,’ aku bergumam sendiri. ‘Kapan
mereka merobohkan bangunan ini? Kenapa mereka menggantinya dengan taman?’
‘Tak
pernah pernah ada bangunan apapun sebelumnya, taman ini dibangun dua tahun
lalu,’
Perasaanku
tak enak, aku kah yang pingsan terlalu lama ataukah aku…
‘Ada
pohon tua sangat besar didepan gedung ini kan?’ tanyaku sambil menghampirinya
cepat-cepat.
Dia
menjawab gusar, ‘Pohon itu setinggi 3 meter, tapi dia tidak tua. Dia ditanam
sewaktu sekolah ini dibangun,’
‘Tidak,
tidak. Pohon itu sudah tua dan akarnya besar-besar, daunnya rindang sekali dan
batangnya tebal.’
Dia
mengernyitkan dahinya.
‘Pohon
itu seperti trademark buat sekolah ini, dia ditanam bersamaan dengan dibangunnya
sekolah ini,’
‘Memang,
tapi pohon itu tidak sebesar itu,’ jawab dia ketus.
‘Berarti
kamu salah lihat, pohon itu memang tua, tidak mungkin masih muda karena kan dia
ditanam 1901, sekitar 112 tahun lalu’
Dahinya
semakin berkerut, matanya meyipit tajam dan menatapku. ‘Memang tahun 1901,’
Aku mendesah lega, berarti aku tidak
terjebak disini.
‘Tapi itu bukan 112 tahun yang lalu,
tapi 10 tahun yang lalu,’ katanya ketus.
No comments:
Post a Comment