Wednesday, 24 April 2013

Dua


Seberkas sinar masuk melalui celah-celah horizontal di pintu merefleksikan keadaan ruangan, kecil, pengap dan menyeramkan. Perlahan aku terbangun dengan pening di kepalaku, kelopak mataku sepertinya sulit terbuka, namun aku harus bangun. Sampai kapan aku akan tertidur?

            Rok yang kupakai menyulitkanku untuk menaiki tangga kecil di depanku, selalu aku terinjak rokku sendiri. Sudah kubilang kan, rok rimpel panjang ini menggangguku bergerak, aku lebih memilih memakai rok lurus standar saja, tapi mama tak mau dengar. Sudahlah, yang jelas telah berapa lama aku terbaring seperti ini? 1 jam, 2 jam, atau lebih? Tidak! Pasti hari sudah gelap sekarang.

            Tapi tunggu dulu, yang kulihat tadi adalah seberkas sinar kan? Aku memotong-motong sinar tersebut dengan tanganku. Tidak tembus, sinar tersebut tertahan di telapak tanganku. Memang sebuah sinar, Ya Allah, apa aku berada di surga sekarang? Aku mendorong pintu kecil itu perlahan, cahaya mulai membanjiri mataku sekarang. Aku menyipitkan mata, sinar ini terlalu terang. Allah, jika kau telah mengambil nyawaku maka kumohon dengan sangat, tempatkan aku di surga.

            Sayup-sayup kudengar suara dari tiap kelas di lantai. Aku membuka mataku perlahan, tapi aneh, cahaya yang tadi membanjiri penglihatanku tampak menyurut. Kini, tampak koridor sekolahku yang tampak dingin dan sedikit gelap. Hanya sinar-sinar matahari dari kaca di atas koridor yang memberikan sinar lembutnya yang berwarna warni. Aku sangat hapal sinar ini, sial, aku memaki dalam hati, sudah pagi! Tampaknya aku pingsan disini seharian. Kepalaku masih berdenyut-denyut, aku bersandar pada tembok yang dingin di koridor. Tampaknya pikiranku belum fokus, aku merasa ada yang berbeda dengan koridor ini, tapi entahlah aku tak tahu.

            Ada bunyi seperti dentangan jam dari aula. Oh ya pukul berpa sekarang? Aku berjalan tertatih-tatihseperti orang yang limbung. Jam tersebut berada di sebelah kanan aula. Sejak kapan sekolah menempatkan jam itu? Aku tak tahu, yang jelas apa yang ditunjukkan jam tersebut membuatku ketakutan setengah mati.

            Pukul 8. Tidak! Kuis matematika!

            Tidak, tidak. Aku tak akan masuk, lebih baik aku tak sekolah, aku belum siap bertemu Luna dan Dewa, aku tak ingin bicara dengan Luna atau Dewa. Pertama karena aku benci, kecewa, dan merasa tertipu oleh Luna, dan kedua karena aku merasa malu pada Dewa. Dia tahu perasaanku dan secara tak langsung dia menolakku.

            Aku baru sadar. Aku tak bisa keluar dari sini. Aku bisa saja berjalan keluar aula ini, tepat langsung menuju gerbang utama, tapi aku tak akan bisa lolos dari cengkraman satpam penjaga di sana. Aturannya sudah jelas. Kami tidak boleh masuk lewat gerbang depan kecuali jam sekolah normal memang usai, gantinya, kami harus masuk lewat gerbang samping. Gerbang samping pun tidak mudah dilewati, kau tau, berderet guru piket telah duduk rapi di ruang piket untuk memantau adakah siswa yang terlambat atau keluar untuk sekadar jajan selama pelajaran berlangsung. Kau tak kan lolos.

            Aku hanya membayangkan, aku datang ke ruang piket kemudian minta surat izin sakit, kemudian guru piket bertanya sakit apa yang kuderita. Aku harus jawab apa? Demam? Badanku tidak panas. Meriang? Ah, kan tidak perlu sampai pulang segala. Menstruasi? Tidak alasan itu. Aku sudah tercatat 1 minggu yang lalu pulang dengan alasan sakit menstruasi, Luna yang mengantarku ke ruang piket. Ah Luna... Entahlah sepertnya persahabatan kami selama 2 tahun tidak ada artinya lagi karena pengkhianatannya. Andai saja aku bisa bilang pada guru piket, tentunya apabila mereka mempercayaiku, kalau saat ini hatiku yang sakit,parah malah, mungkin perlu dirumahsakitkan.

            Better late than never, Tira. Aku menghela nafas, lalu mengambil langkah seribu menaiki anak-anak tangga dengan rokku yang terasa berat. Kemudian menyebrangi aula dan berlari menuju kelasku. Adrenalinku mulai terpacu, pun nafasku terengah-engah dan sepertinya tumpukan asam laktat sudah menggelayuti betisku. Aku bahkan tak punya waktu untuk bercermin melihat seperti apa tampangku selepas bangun tidur atau mataku yang sembab. Juga belum memikirkan bagaimana apabila aku bertemu Luna nanti. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya aku masuk kelas dan mengikuti kuis matematika tanpa kena omelan.

            Aku meraih gagang pintu kelasku. Catnya tampak sedikit berbeda. Gagang pintunya terasa lebih berat. Aku mendorong pintuya lalu aku masuk dengan muka tertunduk dalam-dalam.

            “Bapak. maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk terlambat Pak, sebelum berangkat saya sakit Pak, tapi demi kuis ini saya benar-benar usahakan untuk datang meskipun ibu saya melarang. Sekali lagi mohon maaf, mohon izinkan saya untuk mengikuti kuis ini, Pak,’ Aku memejamkan mata dan mengutuk diri sendiri atas kebohongan yang aku buat. Orang sakit macam apa yang terengah-engah masuk ke kelas dan terlihat seperti habis berlari? Orang sakit macam apa yang tidak memiliki surat sakit dan terlambat dari bagian piket?

            Aku masih memejamkan mata, menanti dalam hening sesaat yang  menegangkan. sedetik kemudian tawa pecah di ruang kelas ini. Pada awalnya aku berpikir pasti mereka menertawakanku karena Pak Agus-Guru matematikaku- bersiap menyentil terlingaku atau apapun yang membuatku terlihat konyol di depan teman-temanku. Tapi tidak ada yang menyentuh telingaku atau memberikanku hukuman. Sewaktu aku membuka mataku aku terperanjat kaget alih-alih merasa malu ditertawakan.

            Mereka bukan teman-temanku.

            Aku mengerjapkan mata, lalu membeliak.

            Oh! Tidak, sepertinya aku masuk kelas yang salah!

            ‘Maaf, sepertinya,.. aku salah...’ kata-kataku terpotong. Aku menolehkan mukaku ke belakang. Sesosok pria berperawakan tinggi besar berdiri di daun pintu. Kumisnya melengkung sempurna membingkai bibirnya yang jika tersenyum mewakili sosok pria kejam yang seringkali kutemukan di film thiller. Sorot matanya kejam dan ... entahlah licik? Tapi sepertinya itu tidak penting, yang lebih menggangguku adalah mengapa ada pria asing dan murid asing di sekolahku? terlebih lagi di kelasku? Apa sekolahku mengadakan seminar internasional? Kenapa harus di sekolah, kenapa tidak di hotel?

            Why are you still standing here? The school is about to start,’ katanya memandangku tajam. Tawa-tawa yang tadi terdengar mendadak berhenti. Sepertinya seisi kelas memperhatikan kami. Dia mendekatiku, mengangkat wajahnya sedikit dengan angkuh. ‘Ah... you must be that new student. Go get your seat,’

            Aku berdiri mematung. Dia tampaknya menyuruhku sesuatu, tapi aku tak mengerti. Sepertinya dia berbicara bahasa Jerman atau Perancis? Tidak... tidak... dia tidak menggunakan suara tenggorokan ataupun suara hidung seperti yang orang Jerman atau Perancis gunakan ketika mereka bicara.

            Why are you standing still, dont you hear what I ve just said? I guess, your ears are in good function. Unless, you dont belong here,’ Dia melewatiku begitu saja.

            ‘Sorry, sir. I honestly dont have any ide what you ve just said. I just speak Indonesian and English a bit,’ akhirnya aku memberanikan diri berkata.

            Dia berbalik menatapku, ‘Take your seat’

            ‘Thank you, Sir,’ kataku ragu-ragu bercampur kesal dan bingung. Bagaimana dengan kuis matematikaku? Siapa sih dia hingga berani-beraninya memarahiku seperti itu?

            Aka mendudukkan diri di kursi kosong di belakang dengan dongkol. Belum lagi bule-bule dan pribumi ini masih menatapku aneh. Tapi tunggu dulu, ada yang aneh. Mereka sepertinya sedang ikut pesta kostum, karnaval, atau peringatan 17 Agustus? Wanitanya memakai dress selutut dengan bagian bawah melebar dan kerah rimpel berwarna putih pucat. Rambut mereka kebanyakan dikepang menggunakan pita dengan warna senada. Prianya mengenakan semacam pakaian tradisional jawa, hanya saja mereka tidak memakai bendo atau penutup kepala khas. Alih-alih, mereka menyisir rambut belah pinggir mereka dengan rapi, kelewat rapi malah.

            Hah! Kelas ini memang kelas yang salah! Lihat saja bajunya berbeda dengan bajuku, bajuku. Oh tidak. Aku terperangah sesaat. Terusan berwarna putih selutut dengan sedikit renda kecil dari bagian leher menuju dada, jelas bukan bajuku.

            Aku tak punya waktu berdebat dengan diriku sendiri, sepertinya belasan pasang mata sedang menuju… ke arahku. Aku mendongak mencari tahu apa yang terjadi.

            ‘Nenden Kinanti Kusumadewi,’ pria gendut tadi menyebut sebuah nama sambil menatap lurus padaku. Aku balik menatapnya, ingin tahu.

            ‘Kau sebaiknya belajar sopan santun, young lady,’

            Tak ada respon. Aku membeliakkan mataku. Dia mengulangi perkataannya dalam bahasa Inggris. Aku tak mengerti, kali ini aku bertanya-tanya apa salahku?

            ‘Kau perlu mengatakan ‘I am here’ ketika aku memanggil namamu, Kinanti,’ Kumis nya berkedut-kedut kesal.

            Mereka jelas sangat salah. Mereka mengira aku Nene, eh apa tadi, Dendeng Kenari Kusumadewi?

            ‘Maaf, tapi apakah ini kelas matematika? Saya harus mengikuti kuis matematika. Sepertinya saya salah masuk kelas,’

            ‘Apa, kuis? Sepertinya kau salah mengira, young lady. Tempat ini adalah tempat belajar, bukan tempat untuk mendapatkan hadiah. Dan kau tak salah kelas, young lady, kau terdaftar mengikuti kelasku,’ katanya datar, wajahnya mengeras.

            Aku ingin membantah, kemudian aku menangkap pandangan pria yang duduk di satu bangku. Dia sedikit menggelengkan kepalanya. Aku segera mengurungkan niat, dan tentu saja, meminta penjelasan dari nya nanti.

            Pelajaran ini sama sekali tak kumengerti, semuanya serba bahasa asing. Oh, aku sungguh berharap guru piket akan membunyikan bel segera, menghentikan kelas yang gila ini.

            ‘Jika aku jadi kau, young lady, aku akan memperhatikan pelajaranku. Karena, aku akan diberikan pertanyaan mengenai pelajaran yang diberikan,’

            Pena yang tengah kupegang tergelincir dari tanganku seketika sehingga bunga-bunga yang sedang kubuat di kertas diwarnai dengan coretan tinta panjang. Apakah pria gendut ini berbicara padaku?

            ‘Yes, sir?’ Aku tahu, dia berbicara padaku. Dia berbicara bahasa Inggris. Aku mengurungkan niat untuk bertanya ‘Apakah kau berbicara padaku, Sir,’.

            Peranakan belanda cantik di bangku depan, memanjangkan lehernya untuk melihatku. Sepertinya dia tertarik menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sepertinya bukan hanya dia saja yang seperti itu.

            ‘Menurutmu, apakah yang VOC butuhkan untuk bertahan di Indonesia?’

Dia menaikkan alisnya, menunggu jawabanku.

            ‘Tak perlu repot-repot, saya rasa. VOC pada akhirnya toh harus bangkrut dan meninggalkan Indonesia,’ jawabku enteng.

            Oke, sepertinya kata-kataku bukan jawaban yang diharapkan. Mata pria gendut di depanku membulat memerah. Urat-urat di mukanya terlihat jelas seperti cacing biru. Sedangkan, yang lainnya syok mendengar jawabanku, seperti habis melihat hantu. Apa yang salah dengan jawabanku? Jawabanku benar kan, VOC memang meninggalkan Indonesia kecuali kalau mereka orang belanda. Tapi tidak, orang belanda jaman sekarang mereka mengakui kok kalau mereka memang salah menjajah Indonesia. Kecuali, orang belanda zaman dulu, well, mereka tampak tidak seperti seusia nenekku. Tunggu dulu, tapi hal ini memang tak mungkin sih, aku tak mungkin berada di jaman mereka kan?

            Aku menutup mulutku dengan kaget, tubuhku terenyak ke belakang bangku. Apa aku benar-benar ada di zaman mereka? Itulah mengapa aku dan mereka tampak aneh?’

            Pria gendut itu segera menghampiriku. Kumisnya bergerak-gerak. ‘Kau membuat lelucon. Jangan-jangan kau berpikir kalau akhirnya Belanda bias dikalahkan oleh inlander-inlander itu. Betul begitu? Kau benar-benar membuatku ingin terbahak, young lady,’

            Tapi dia tak bermaksud untuk terbahak, dia menunggu responku.

            Dia masih menatapku. Dia masih menginginkan responku.

            Aku hendak membuka mulut, ketika pria yang ‘membungkamku’ tadi mengangkat tangannya.

            ‘Pak, saya rasa tak ada gunanya mendengarkan celotehan orang bodoh. Mungkin murid baru ini perlu adaptasi dengan pelajaran kota. Pelajaran di kampong tampaknya tak memberinya cukup pendidikan dan sikap sopan,’ suara beratnya menggema di kelas yang beratap tinggi ini. Tampaknya dia orang yang cerdas, terbukti perkataannya berhasil membuat pria gendut ini berpikir dua kali.

            ‘Kau benar. Semoga Tuhan memberiku kesabaran hari ini, benar-benar aku belum pernah melihat murid seperti ini,’ Dia berbalik sambil mendengus dan melanjutkan pelajaran.

            Aku mengucapkan kata-kata terimakasih diam-diam. Aku bersumpah, aku melihatnya mendengus padaku, lalu membalikkan badannya, kembali memperhatikan pria gendut tadi.

            Lonceng berdentang nyaring terpukul. Kapan pun, dimana pun, lonceng memang pertanda kebahagian bagi para siswa yang ingin segera kabur dari kelas dan kelihatannya bukan aku saja. Hampir semuanya memasukkan bukunya ke dalam tas dengan semangat, kecuali beberapa orang termasuk si wanita peranakan itu.

            Tergesa-gesa aku menghampiri beberapa bangku didepan. Tujuanku sudah jelas. ‘Permisi, bisa bicara sebentar?’

            Yang kuajak bicara melemparkan pandangan ke wanita peranakan tadi. Jelas, dia sangat keberatan. Juga beberapa orang lain tampaknya memandangku sangat aneh.

            Keningnya sedikit mengerut. ‘Bicara apa? Aku tak ada waktu,’

            Aku mengerling sedikit pada gadis tadi, senyum kemenangan pada wajahnya tampak jelas, meski dia sedang tertunduk merapikan buku dalam tas nya, pura-pura.

            Aku memutar mataku kesal. Hey, aku tak mencoba mendekatinya! ‘Aku ingin diskusi dengan kamu, ini tentang hidup dan mati aku,’ sengaja kutambahkan kata-kata terakhir itu agar terkesan dramatis. Sepertinya berhasil, dia memandangku dengan gusar. ‘Nampaknya, hidupmu baik-baik saja, terlampau baik sepertinya,’

            ‘Nah, berarti kamu kenal aku kan? Baguslah!’ kataku setengah berteriak kegirangan. Hening sesaat. Si gadis itu terang-terangan memelototkan matanya padaku.

            ‘Sepertinya kau salah tangkap,’ Dia bergegas menuju pintu keluar, diikuti si gadis tadi.

            Aku tahu aku salah bicara. ‘Maksudku bukan gitu,’ ralatku. ‘Aku sungguh ingin berdiskusi denganmu karena ini sangat penting bagiku, please… aku tahu lagi harus minta tolong pada siapa. Aku janji, aku tak akan pernah ganggu kamu lagi. Please…,’

            Suaraku terdengar sangat mengiba. Jika ini keadaan normal, pasti aku akan bersumpah serapah atas sikap suaraku ini. Dia menghentikan langkahnya, berbalik menatapku.

            ‘Hanya kali ini,’ tegasnya pendek. ‘Kau pulang saja dahulu,’ dia menatap lunak gadis disampingnya. Si gadis tampak keberatan, tapi ia tak punya pilihan lain. Menatapku gusar, lalu langsung pergi.

***

            ‘Apa yang ingin kau diskusikan?’ tiba-tiba dia berhenti di bawah pohon rimbun yang agak tersembunyi di belakang sekolah. Tempatnya sepi.

            ‘Mm…’ aku ragu-ragu dan takut. ‘Kamu tahu siapa nama yang dipanggil pria tadi menyuruh aku bersopan santun?’

            Dia mendengus. ‘Omong kosong apa ini, apa yang kau bicarakan? Tentu saja kau tau nama tadi!’ Dia segera menarik ujung tasnya, berencana untuk pergi.

            ‘Tolong jangan pergi, kamu sudah janji mau menolongku. Aku benar-benar tidak tahu,’

            Dia menatapku geram, ‘Aku tak ada waktu untuk mendengar bualanmu, Kinanti,’

            ‘Kamu juga memanggilku Kinanti!’ Aku setengah berteriak. ‘Jadi maksudmu aku Kinanti? Kamu bilang aku membual? Kamu yang membual. Jelas-jelas aku Tirani, Tirani Aluna Ananta! Bukan Kirani!’

            Senyum tersungging di rahang perseginya, kemudian bibirnya terkatup rapat.

            ‘Tolong percaya aku,’ pintaku. ‘Dan jangan berpikir aku gila,’ manakala dia perlahan mengacuhkan ku. ‘Dengarkan, aku… aku bahkan tidak tahu siapa Kinanti Kusumadewi itu, dan ini sekolahku, tapi bukan sekolah yang kukenal,’

            Dia mengernyitkan kening, rahangnya masih terkatup rapat.

            Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman sekolah. Aku berjalan perlahan menembus semilir angin yang menggoyang-goyangkan serumpun bougenville. Aku menolehkan kepalaku, dia masih berdiri di belakang, menatapku tajam seakan menunggu hal aneh apa yang akan kulakukan.

            ‘Aku tak yakin kamu akan percaya apa yang aku ceritakan, tapi sungguh, aku mengenal bangunan ini. Sungguh mengaguminya, bahkan aku memutuskan untuk sekolah di sini karena bangunannya.’

            Wajahnya tak tertebak, tanpa ekspresi.

            ‘Tapi sekarang, semua sangat berbeda. Bangunan ini terasa asing buatku. Seolah aku tak pernah mengenalnya. Sudah berapa lama aku pingsan,’ aku bergumam sendiri. ‘Kapan mereka merobohkan bangunan ini? Kenapa mereka menggantinya dengan taman?’

            ‘Tak pernah pernah ada bangunan apapun sebelumnya, taman ini dibangun dua tahun lalu,’

            Perasaanku tak enak, aku kah yang pingsan terlalu lama ataukah aku…

            ‘Ada pohon tua sangat besar didepan gedung ini kan?’ tanyaku sambil menghampirinya cepat-cepat.

            Dia menjawab gusar, ‘Pohon itu setinggi 3 meter, tapi dia tidak tua. Dia ditanam sewaktu sekolah ini dibangun,’

            ‘Tidak, tidak. Pohon itu sudah tua dan akarnya besar-besar, daunnya rindang sekali dan batangnya tebal.’

            Dia mengernyitkan dahinya.

            ‘Pohon itu seperti trademark buat sekolah ini, dia ditanam bersamaan dengan dibangunnya sekolah ini,’

            ‘Memang, tapi pohon itu tidak sebesar itu,’ jawab dia ketus.

            ‘Berarti kamu salah lihat, pohon itu memang tua, tidak mungkin masih muda karena kan dia ditanam 1901, sekitar 112 tahun lalu’

            Dahinya semakin berkerut, matanya meyipit tajam dan menatapku. ‘Memang tahun 1901,’

Aku mendesah lega, berarti aku tidak terjebak disini.

‘Tapi itu bukan 112 tahun yang lalu, tapi 10 tahun yang lalu,’ katanya ketus.

No comments:

Post a Comment