Wednesday, 24 April 2013

Tiga


Sesaat aku seakan membeku, pikiranku kosong seakan mengembara ke antah berantah dan tak bisa digapai. Namun kemudian pikiran itu masuk berjejalan memenuhi pikiranku, seperti berebutan masuk tak terkendali. Bagaimana bisa aku bisa berada di sini? Aku tahu aku pingsan, tapi aku pingsan secara normal, aku pingsan bahkan di ruang kecil kosong sialan itu. Mana mungkin ruangan kosong itu bisa jadi mesin waktu. Ruangan itu hanya ruangan kecil yang tak berarti, kosong melompong, taka da sesuatu yang ajaib disana. bahkan ada di tempat yang sering dilalui semua orang! Pasti semua orang bisa masuk ke ruangan itu, tapi tak pernah ada murid yang dikabarkan ‘hilang’ atau mengalami perjalanan ke masa lalu. semua orang bisa mengakses ruangan itu kan? Kenapa mesti aku yang ada di masa ini?

            Aku tertegun sesaat. Aku mulai ragu. Ruangan itu tidak pernah ada sebelumnya. Aku selalu menyusuri lorong itu, tapi sama sekali aku tidak menemukan ada tingkap pintu disitu.

            ‘Kau membuang waktuku,’ suara beratnya membuyarkan pikiranku. ‘Aku harus pulang’

            Aku menatapnya nanar. ‘Aku… aku bukan Kinanti Kusumadewi. Aku … Tirani Aluna Ananta. Dan aku datang dari 100 tahun yang akan datang. Aku terjebak di masa 100 tahun lalu, yaitu sekarang,’

            Dia menundukkan kepala, tampak berpikir keras. Lalu katanya, ‘Kau bahkan tak tahu siapa teman-temanmu, orang tuamu, maupun guru-gurumu? Dan kau bahkan sangat kaget karena segalanya tampak kuno dan aneh dibandingkan segala hal yang terjadi 100 tahun yang akan datang?’

            ‘Iya! Segalanya aneh banget!’ Aku mengagukkan kepala keras-keras. Tak begitu sulit ternyata meyakinkannya. ‘Kamu percaya aku? Oh terima kasih banyak, aku khawatir semua orang gak percaya aku!’

            Matanya berkilat marah, ‘Ya, aku kini tahu kau sedang berfantasi. Kurasa kau harus memeriksa kewarasanmu,’ Dia segera pergi, dan merundukkan kepalanya untuk menghindari ranting-ranting pohon yang rendah.

            Aku tak percaya, dia tak mempercayaiku. Aku seketika putus asa, aku punya firasat jika dia saja tidak percaya kata-kataku, maka orang lain pun tidak.

            Dia berhenti sesaat. Kemilau cahaya siang menimpa wajahnya, ‘Sebaiknya kau tidak ceritakan hal ini pada siapapun. Dalam situasi seperti ini, aku tak heran kalau kau akan dipenjara,’

            Nada suaranya merendah seakan prihatin dengan keadaanku, walaupun air mukanya sama sekali tidak prihatin. Kemudian dia kembali menuju pintu besar tempat kami keluar menuju taman ini.

            Aku tertegun, tenggorokanku tercekat. Berapa lama lagi aku hidup di sini? Apa yang harus kulakukan? Dimana aku harus tinggal?

            Sesaat aku terpikir untuk menjadikan ruangan lorong waktu itu sebagai tempat bernaung sementara. Aku akan meminta izin, mungkin aku akan melamar pekerjaan untuk membeli sesuap nasi, tapi semudah itu kah? Jika tak salah, ini jaman penjajahan kan? Dimana katanya terlampau susah untuk mencari sesuap nasi pun... Tidak, pasti tidak akan sesulit itu… Tiba-tiba dadaku terguncang hebat, aku merasakan pipiku menghangat dan rasa asin terkecap di lidah ku.

            ‘Oke, tidak apa-apa kalau kamu tidak percaya. Tapi, bisa kamu antar aku pulang? Aku bahkan tak tahu dimana rumahku, aku bahkan tak tau apakah aku punya rumah di sini atau tidak’ Entahlah suaraku terdengar atau tidak. Dia terlalu jauh, dan aku terlalu lelah untuk berteriak. Suaraku seperti seketika teredam oleh kekhawatiranku.

            Aku mulai berjongkok, aku menangis sejadi-jadinya. Tapi beban ini tak ada tanda-tanda mulai menghilang, ia malah semakin menghimpit meniadakan semua logika.

            ‘Ikut aku,’

 

            Sejurus kemudian, aku telah dibonceng menggunakan sepeda kumbangnya. Hampir semua murid yang masih tinggal di sekolah memperhatikanku, bukan, memperhatikan kami. Aku mengurungkan niatku untuk bertanya pada si pembonceng yang bahkan ku tak tahu namanya. Bukan saat yang tepat, bahkan untuk menanyai namanya. Bukan hal yang penting pula, karena seluruh panca inderaku tampak tertarik bercengkrama dengan setiap jengkal yang ada dihadapannya. Perlahan-lahan bayangan si angkuh tua yang kukenal tampak mulai mengecil. Mataku bisa menangkap keberadaannya sepenuhnya. Tidak, dia bukan si tua. Dia tampak seperti wanita cantik yang anggun berdiri tegak di jalanan Rembang Setaman, atau setidaknya itu masih nama jalan yang ku tahu dua hari lalu. Tembok-temboknya kokoh tebal tak bercela, genting-gentingnya tampak gemilau tertimpa sinar matahari yang sudah sedikit nanar, memantulkan semburat-semburat genting kecoklatan alih-alih genting hijau yang biasa kulihat. Kayu-kayu jendela dan teralis besinya pun tampak terpasang sempurna, minus dari cat-cat yang mengelupas dan besi berkarat. Yang mencengangkan, bangunan ini merupakan bangunan tunggal. Tak ada bangunan tambahan di belakang bangunan ini, bangunan yang terletak 90 derajat dari bangunan utama tempat murid-murid kelas 1 dan 2 berada. Ya, bangunan tua ini tak cukup untuk menampung seluruh murid sehingga hanya difungsikan untuk menampung murid kelas 3 saja. Sekarang, bangunan belakang itu berupa taman-taman indah, sepertinya tempat para pelajarnya menghabiskan waktu senggangnya.

            Pandanganku menyapu halaman depan sekolah. Hanya dipagari oleh pagar jadul yang kukenal, namun minus halaman indah dan beraspal. Tidak ada aspal, hanya tanah yang rata saja. Tidak ada taman buatan beserta air mancur yang menjadi land mark sekolah kami. Tidak, hanya ada halaman kosong yang di sudut kirinya ditumbuhi oleh pohon kurus setinggi 3 meter. Aku menatap sedih, apakah pohon itu cikal bakal pohon yang kukenal berusia lebih dari 100 tahun? Itu kah pohon tempat aku menggosip sepulang sekolah bersama Luna?

            Sadel sepeda terdengar berderak-derak membelai telingku bersama dengan desir dedaunan yang menari tertiup angin lembut. Rembang setaman masih rindang seperti dulu, mendinginkan setiap aliran panas dengan riuh dedaunannya, meniupkan oksigen murni ke setiap paru-paru tanpa hambatan. Rembang setaman tampak seperti gadis desa sederhana mempesona. Jalanannya mulus dan rata berwarna coklat, sepertinya tetanahan ditekan sedemikian rupa sehingga tak dicelai dengan keropong-keropong jalanan. Hanya terlihat beberapa sepeda kumbang atau ontel melintas, selebihnya aku tak menemukan mobil.

            ‘Honk-honk,’

            Aku secepatnya memalingkan mukaku ke depan mencari sumber suara. Suara honk-honk itu ternyata milik sebuah mobil antik berwarna coklat seperti warna kayu yang dipadukan dengan besi hitam serta tingkap berwarna hitam. Lampu sennya berada di atas seakan memelototiku.

            ‘Aku tahu, kau baru pertama kali melihat mobil seperti itu. Tapi tolong, tutup mulutmu,’

            Mukaku menghangat segera, aliran darahku mengalir cepat ke muka ku. Segera aku menutup mulutku yang menganga. Tampaknya mukaku sedikit memerah. ‘Aku.. itu tidak… mobil itu keliatan antik’

            Sial! Aku mendumel kesal dalam hati. Tentu saja aku selalu melihat mobil-mobil setiap hari, mobil-mobil Toyota, Honda, atau mobil apapun yang tentunya jauh lebih canggih daripada mobil tua sialan itu. Mobil tua seperti itu seharusnya dimuseumkan, bunyinya saja honk-honk bukan tin tin! Mataku terus saja mengikuti mobil itu, selain menarik, penumpangnya juga menarik! Penumpangnya juga orang asing! Sekelompok orang asing berpakaian putih-putih dengan topi putih bundar di atasnya. Mereka bertiga. Mereka pria, dan mereka tampan. Wohoo… Luna pasti histeris melihat ini, kami berdua selalu mimpi untuk menikah dengan pria bule suatu saat nanti. Tapi sudahlah, Luna kan sudah punya Dewa, cibirku dalam hati.

            Seorang pria asing yang berada di jok belakang tampak berbisik-bisik pada rekannya di samping. Kemudian rekannya memandang ke arahku, lalu tersenyum seraya mengangkat topinya sedikit.

            Aku tercekat, segera aku memalingkan mukaku ke arah jalannya sepedaku. Mukaku menghangat lagi. Bodoh! Kamu ketangkap basah, Tira!

            Tidak-tidak, mungkin saja dia bukan tersenyum ke arahku. Aku melirik sekilas ke belakang. Ia masih memandang ke arahku, teman-temannya terpingkal-pingkal menertawaiku. Sepertinya mereka sedang bercanda tentangku. Uh, terima kasih, cowok-cowok masa lalu, sepertinya kalian memang menyebalkan. Aku berubah pikiran, Dewa, cowok masa modern itu juga menyebalkan.

            ‘Eh, ngomong-ngomong, kamu liat gak pengemudi sama penumpang tadi? Mereka orang Belanda ya?’ Aku memberanikan diri bertanya. Kami telah meninggalkan jalan Rembang Setaman, kami belok kiri di perempatan jalan, melaju ke jalan yang ku tahu sebagai Jalan Kemuning Sumatra. Dia tak menjawab. Sudah kuduga.

            ‘Oke, aku anggap iya,’ gumamku gusar. Mataku kembali menyapu jalanan ini, ajaib. Sungguh ajaib. Aku tak sangka aku bisa menyaksikan pemandangan seperti ini. Jalanan bersih dari aspal dan mobil atau angkot yang klaksonnya terdengar bersahut-sahutan, membuat pikiran penat. Ajaib ketika menyaksikan deretan rumah gaya colonial yang benar-benar difungsikan sebagai rumah tinggal alih-alih factory outlet atau restoran. Jendela yang tinggi-tinggi dibuka lebar seakan menyambut udara bersih untuk penghuninya dan semerbak harum bebungaan yang tumbuh mekar di kebun-kebunnya. Oke, kapan lagi aku melihat kota ini sehijau dan se-warna-warni ini? Tak pernah selain sekarang. Ajaib, ketika sepertinya alas kaki menjadi sebuah barang yang berharga. Bisa dihitung dengan jari, orang-orang yang memakai sepatu. Selebihnya mereka hanya telanjang kaki. Tampaknya sama sekali tak terganggu dengan kerikil-kerikil di pinggir jalan yang tak rata. Mereka menggunakan semacam ikat kepala khas sunda, dengan semacam blazer kain dengan kancing lepas-lepas dipadu dengan celana pendek berwarna gelap. Gaya berpakaian mereka sungguh tipikal. Wajah mereka terlihat keras dan kulihat mereka kurus kering. Juga ajaib, ketika jarak social antar manusia tampak jelas. Dimana para pembesar-pembesarnya tampak tak terganggu dengan pemandangan miris di sekitarnya. Mereka asyik bercakap-cakap, perut mereka buncit-buncit dan tampak sangat sehat dan bahagia. Pakaian mereka necis dan rapi. Para pribumi tampak beda dari para Belandanya. Mereka memakai pakaian seperti pakaian adat sunda dengan bendo di kepala mereka, sementara para istrinya memakai kebaya yang pantas.

            Sesaat aku tertegun, ada benang merah yang kutarik dari masa ini. Apa bedanya dengan Indonesia di masa modern? Para pejabat ataupun orang-orang mampu juga sama-sama tak terganggu dengan kemiskinan dari masyarakat sekitarnya. Pengemis, anak jalanan, pemulung tampak menjadi biasa. Tanpa besar terbersit di benak untuk menolong mereka. Well, yang menjadi pembeda hanyalah pakaian dan gaya bicara. Selebihnya tidak ada! Sungguh, merupakan penjajahan modern di saat Indonesia telah merdeka. Kegusaranku tampaknya tidak berlama-lama, pikiranku teralih pada kecantikan didepan mataku. Sepertinya aku bukan berada di Bandung! Tampaknya aku sedang berada terperangkap di luar negeri! Taman-taman Maluku yang biasa kukenal, Nampak cantik tertata. Rerumputannya terpotong rapi dan terbentuk indah. Kursi-kursi besi dengan ditemani lampu hias tinggi membuatku serasa berada di luar negeri. Belum lagi air mancur terpancar ke atas dengan indah, butiran-butiran airnya tampak membentuk pelangi di sore hari. Ya, tak salah lagi, sepertinya itu air mancur kotor yang rusak yang biasanya kulihat di taman ini kalau mengantar nenek jalan sore.

No comments:

Post a Comment