Sesaat aku seakan membeku, pikiranku kosong seakan
mengembara ke antah berantah dan tak bisa digapai. Namun kemudian pikiran itu
masuk berjejalan memenuhi pikiranku, seperti berebutan masuk tak terkendali.
Bagaimana bisa aku bisa berada di sini? Aku tahu aku pingsan, tapi aku pingsan
secara normal, aku pingsan bahkan di ruang kecil kosong sialan itu. Mana
mungkin ruangan kosong itu bisa jadi mesin waktu. Ruangan itu hanya ruangan
kecil yang tak berarti, kosong melompong, taka da sesuatu yang ajaib disana.
bahkan ada di tempat yang sering dilalui semua orang! Pasti semua orang bisa masuk
ke ruangan itu, tapi tak pernah ada murid yang dikabarkan ‘hilang’ atau
mengalami perjalanan ke masa lalu. semua orang bisa mengakses ruangan itu kan?
Kenapa mesti aku yang ada di masa ini?
Aku
tertegun sesaat. Aku mulai ragu. Ruangan itu tidak pernah ada sebelumnya. Aku selalu menyusuri lorong itu, tapi sama
sekali aku tidak menemukan ada tingkap pintu disitu.
‘Kau
membuang waktuku,’ suara beratnya membuyarkan pikiranku. ‘Aku harus pulang’
Aku
menatapnya nanar. ‘Aku… aku bukan Kinanti Kusumadewi. Aku … Tirani Aluna
Ananta. Dan aku datang dari 100 tahun yang akan datang. Aku terjebak di masa
100 tahun lalu, yaitu sekarang,’
Dia
menundukkan kepala, tampak berpikir keras. Lalu katanya, ‘Kau bahkan tak tahu
siapa teman-temanmu, orang tuamu, maupun guru-gurumu? Dan kau bahkan sangat
kaget karena segalanya tampak kuno dan aneh dibandingkan segala hal yang
terjadi 100 tahun yang akan datang?’
‘Iya!
Segalanya aneh banget!’ Aku mengagukkan kepala keras-keras. Tak begitu sulit
ternyata meyakinkannya. ‘Kamu percaya aku? Oh terima kasih banyak, aku khawatir
semua orang gak percaya aku!’
Matanya
berkilat marah, ‘Ya, aku kini tahu kau sedang berfantasi. Kurasa kau harus
memeriksa kewarasanmu,’ Dia segera pergi, dan merundukkan kepalanya untuk
menghindari ranting-ranting pohon yang rendah.
Aku
tak percaya, dia tak mempercayaiku. Aku seketika putus asa, aku punya firasat
jika dia saja tidak percaya kata-kataku, maka orang lain pun tidak.
Dia
berhenti sesaat. Kemilau cahaya siang menimpa wajahnya, ‘Sebaiknya kau tidak
ceritakan hal ini pada siapapun. Dalam situasi seperti ini, aku tak heran kalau
kau akan dipenjara,’
Nada
suaranya merendah seakan prihatin dengan keadaanku, walaupun air mukanya sama
sekali tidak prihatin. Kemudian dia kembali menuju pintu besar tempat kami
keluar menuju taman ini.
Aku
tertegun, tenggorokanku tercekat. Berapa lama lagi aku hidup di sini? Apa yang
harus kulakukan? Dimana aku harus tinggal?
Sesaat
aku terpikir untuk menjadikan ruangan lorong waktu itu sebagai tempat bernaung
sementara. Aku akan meminta izin, mungkin aku akan melamar pekerjaan untuk
membeli sesuap nasi, tapi semudah itu kah? Jika tak salah, ini jaman penjajahan
kan? Dimana katanya terlampau susah untuk mencari sesuap nasi pun... Tidak,
pasti tidak akan sesulit itu… Tiba-tiba dadaku terguncang hebat, aku merasakan
pipiku menghangat dan rasa asin terkecap di lidah ku.
‘Oke,
tidak apa-apa kalau kamu tidak percaya. Tapi, bisa kamu antar aku pulang? Aku
bahkan tak tahu dimana rumahku, aku bahkan tak tau apakah aku punya rumah di
sini atau tidak’ Entahlah suaraku terdengar atau tidak. Dia terlalu jauh, dan
aku terlalu lelah untuk berteriak. Suaraku seperti seketika teredam oleh kekhawatiranku.
Aku
mulai berjongkok, aku menangis sejadi-jadinya. Tapi beban ini tak ada
tanda-tanda mulai menghilang, ia malah semakin menghimpit meniadakan semua
logika.
‘Ikut
aku,’
Sejurus
kemudian, aku telah dibonceng menggunakan sepeda kumbangnya. Hampir semua murid
yang masih tinggal di sekolah memperhatikanku, bukan, memperhatikan kami. Aku
mengurungkan niatku untuk bertanya pada si pembonceng yang bahkan ku tak tahu
namanya. Bukan saat yang tepat, bahkan untuk menanyai namanya. Bukan hal yang
penting pula, karena seluruh panca inderaku tampak tertarik bercengkrama dengan
setiap jengkal yang ada dihadapannya. Perlahan-lahan bayangan si angkuh tua
yang kukenal tampak mulai mengecil. Mataku bisa menangkap keberadaannya
sepenuhnya. Tidak, dia bukan si tua. Dia tampak seperti wanita cantik yang
anggun berdiri tegak di jalanan Rembang Setaman, atau setidaknya itu masih nama
jalan yang ku tahu dua hari lalu. Tembok-temboknya kokoh tebal tak bercela,
genting-gentingnya tampak gemilau tertimpa sinar matahari yang sudah sedikit
nanar, memantulkan semburat-semburat genting kecoklatan alih-alih genting hijau
yang biasa kulihat. Kayu-kayu jendela dan teralis besinya pun tampak terpasang
sempurna, minus dari cat-cat yang mengelupas dan besi berkarat. Yang mencengangkan,
bangunan ini merupakan bangunan tunggal. Tak ada bangunan tambahan di belakang
bangunan ini, bangunan yang terletak 90 derajat dari bangunan utama tempat
murid-murid kelas 1 dan 2 berada. Ya, bangunan tua ini tak cukup untuk
menampung seluruh murid sehingga hanya difungsikan untuk menampung murid kelas
3 saja. Sekarang, bangunan belakang itu berupa taman-taman indah, sepertinya
tempat para pelajarnya menghabiskan waktu senggangnya.
Pandanganku
menyapu halaman depan sekolah. Hanya dipagari oleh pagar jadul yang kukenal,
namun minus halaman indah dan beraspal. Tidak ada aspal, hanya tanah yang rata
saja. Tidak ada taman buatan beserta air mancur yang menjadi land mark sekolah
kami. Tidak, hanya ada halaman kosong yang di sudut kirinya ditumbuhi oleh
pohon kurus setinggi 3 meter. Aku menatap sedih, apakah pohon itu cikal bakal
pohon yang kukenal berusia lebih dari 100 tahun? Itu kah pohon tempat aku
menggosip sepulang sekolah bersama Luna?
Sadel
sepeda terdengar berderak-derak membelai telingku bersama dengan desir dedaunan
yang menari tertiup angin lembut. Rembang setaman masih rindang seperti dulu,
mendinginkan setiap aliran panas dengan riuh dedaunannya, meniupkan oksigen
murni ke setiap paru-paru tanpa hambatan. Rembang setaman tampak seperti gadis
desa sederhana mempesona. Jalanannya mulus dan rata berwarna coklat, sepertinya
tetanahan ditekan sedemikian rupa sehingga tak dicelai dengan keropong-keropong
jalanan. Hanya terlihat beberapa sepeda kumbang atau ontel melintas, selebihnya
aku tak menemukan mobil.
‘Honk-honk,’
Aku
secepatnya memalingkan mukaku ke depan mencari sumber suara. Suara honk-honk
itu ternyata milik sebuah mobil antik berwarna coklat seperti warna kayu yang
dipadukan dengan besi hitam serta tingkap berwarna hitam. Lampu sennya berada
di atas seakan memelototiku.
‘Aku
tahu, kau baru pertama kali melihat mobil seperti itu. Tapi tolong, tutup
mulutmu,’
Mukaku
menghangat segera, aliran darahku mengalir cepat ke muka ku. Segera aku menutup
mulutku yang menganga. Tampaknya mukaku sedikit memerah. ‘Aku.. itu tidak… mobil
itu keliatan antik’
Sial!
Aku mendumel kesal dalam hati. Tentu saja aku selalu melihat mobil-mobil setiap
hari, mobil-mobil Toyota, Honda, atau mobil apapun yang tentunya jauh lebih
canggih daripada mobil tua sialan itu. Mobil tua seperti itu seharusnya dimuseumkan,
bunyinya saja honk-honk bukan tin tin! Mataku terus saja mengikuti mobil itu,
selain menarik, penumpangnya juga menarik! Penumpangnya juga orang asing!
Sekelompok orang asing berpakaian putih-putih dengan topi putih bundar di
atasnya. Mereka bertiga. Mereka pria, dan mereka tampan. Wohoo… Luna pasti
histeris melihat ini, kami berdua selalu mimpi untuk menikah dengan pria bule
suatu saat nanti. Tapi sudahlah, Luna kan sudah punya Dewa, cibirku dalam hati.
Seorang
pria asing yang berada di jok belakang tampak berbisik-bisik pada rekannya di
samping. Kemudian rekannya memandang ke arahku, lalu tersenyum seraya
mengangkat topinya sedikit.
Aku
tercekat, segera aku memalingkan mukaku ke arah jalannya sepedaku. Mukaku
menghangat lagi. Bodoh! Kamu ketangkap basah, Tira!
Tidak-tidak,
mungkin saja dia bukan tersenyum ke arahku. Aku melirik sekilas ke belakang. Ia
masih memandang ke arahku, teman-temannya terpingkal-pingkal menertawaiku.
Sepertinya mereka sedang bercanda tentangku. Uh, terima kasih, cowok-cowok masa
lalu, sepertinya kalian memang menyebalkan. Aku berubah pikiran, Dewa, cowok
masa modern itu juga menyebalkan.
‘Eh,
ngomong-ngomong, kamu liat gak pengemudi sama penumpang tadi? Mereka orang
Belanda ya?’ Aku memberanikan diri bertanya. Kami telah meninggalkan jalan
Rembang Setaman, kami belok kiri di perempatan jalan, melaju ke jalan yang ku
tahu sebagai Jalan Kemuning Sumatra. Dia tak menjawab. Sudah kuduga.
‘Oke,
aku anggap iya,’ gumamku gusar. Mataku kembali menyapu jalanan ini, ajaib.
Sungguh ajaib. Aku tak sangka aku bisa menyaksikan pemandangan seperti ini.
Jalanan bersih dari aspal dan mobil atau angkot yang klaksonnya terdengar
bersahut-sahutan, membuat pikiran penat. Ajaib ketika menyaksikan deretan rumah
gaya colonial yang benar-benar difungsikan sebagai rumah tinggal alih-alih
factory outlet atau restoran. Jendela yang tinggi-tinggi dibuka lebar seakan
menyambut udara bersih untuk penghuninya dan semerbak harum bebungaan yang
tumbuh mekar di kebun-kebunnya. Oke, kapan lagi aku melihat kota ini sehijau
dan se-warna-warni ini? Tak pernah selain sekarang. Ajaib, ketika sepertinya
alas kaki menjadi sebuah barang yang berharga. Bisa dihitung dengan jari,
orang-orang yang memakai sepatu. Selebihnya mereka hanya telanjang kaki.
Tampaknya sama sekali tak terganggu dengan kerikil-kerikil di pinggir jalan
yang tak rata. Mereka menggunakan semacam ikat kepala khas sunda, dengan semacam
blazer kain dengan kancing lepas-lepas dipadu dengan celana pendek berwarna
gelap. Gaya berpakaian mereka sungguh tipikal. Wajah mereka terlihat keras dan
kulihat mereka kurus kering. Juga ajaib, ketika jarak social antar manusia
tampak jelas. Dimana para pembesar-pembesarnya tampak tak terganggu dengan
pemandangan miris di sekitarnya. Mereka asyik bercakap-cakap, perut mereka
buncit-buncit dan tampak sangat sehat dan bahagia. Pakaian mereka necis dan
rapi. Para pribumi tampak beda dari para Belandanya. Mereka memakai pakaian
seperti pakaian adat sunda dengan bendo di kepala mereka, sementara para istrinya
memakai kebaya yang pantas.
Sesaat
aku tertegun, ada benang merah yang kutarik dari masa ini. Apa bedanya dengan
Indonesia di masa modern? Para pejabat ataupun orang-orang mampu juga sama-sama
tak terganggu dengan kemiskinan dari masyarakat sekitarnya. Pengemis, anak
jalanan, pemulung tampak menjadi biasa. Tanpa besar terbersit di benak untuk
menolong mereka. Well, yang menjadi pembeda hanyalah pakaian dan gaya bicara.
Selebihnya tidak ada! Sungguh, merupakan penjajahan modern di saat Indonesia
telah merdeka. Kegusaranku tampaknya tidak berlama-lama, pikiranku teralih pada
kecantikan didepan mataku. Sepertinya aku bukan berada di Bandung! Tampaknya
aku sedang berada terperangkap di luar negeri! Taman-taman Maluku yang biasa
kukenal, Nampak cantik tertata. Rerumputannya terpotong rapi dan terbentuk
indah. Kursi-kursi besi dengan ditemani lampu hias tinggi membuatku serasa
berada di luar negeri. Belum lagi air mancur terpancar ke atas dengan indah,
butiran-butiran airnya tampak membentuk pelangi di sore hari. Ya, tak salah
lagi, sepertinya itu air mancur kotor yang rusak yang biasanya kulihat di taman
ini kalau mengantar nenek jalan sore.
No comments:
Post a Comment