Thursday, 18 October 2012

The Labile Me: Hypertension

Everything was going smooth this morning. A smile was painted perfectly on my face. Then it started to be a fuss after magrib, after 8 pm precisely.
I was (am) worried of someone. I didnt (dont) get any news from him. Was it a starter for my hipertension? perhaps. Okay. But the things that began to light up the fire were bad internet connection and a very temporary unbreakable assignment till now.
I was supposed to have a meeting about urgent symposium at 8.30 pm but, the internet was UNAVAILABLE. and it happened several days. I contacted the person, and he said 'keep on trying, try to restart' I did. Nothing happened. Finally the connection was available at what time? 22.30 pm. How about the meeting? Oh of course, I missed it.
And the next thing is, I was drawing 3 graphics on semilog paper.. I could find the solution on the case 1, but got stuck for several hours in case 2. My eyes, head got dizzy to see so many blocks, tiny squares spreading out all over the paper.... Got stuck...
I guess... I got hypertension (amit amit).
Hope tomorrow, I could have fun, riding on bianglala and cora-cora in my university festival.. Hoho, hope friday routinities will over soon....


Oh no, I think I forget something... Being Thankful for every assignment I ve got. Can I imagine how much people are eager to enroll my university, my faculty? So much, and I am quite sure they are willing to do anything to get the seat. Okay, gotta be thankful... Wish me luck for that....See yaa

PS: I cooked another fab dish. I ll tell you soon ;)

Wednesday, 17 October 2012

Bersyukur

Bersyukur. Rasa-rasanya, kata itu memang sering terdengar, terlalu sering bahkan. Taruhan deh, setiap kita mengeluh atau apapun pada seseorang, orang pasti bilang 'Bersyukur aja lo sama apa yang dipunyai'. Semudah itu orang mengucapkan, sesulit itu orang melakukan. Kenapa sulit? Well, karena bersyukur artinya harus berterima kasih atas apa yang didapatkan. Beda ga sih dengan term 'menerima' apa yang diberikan? kalau saya sih lebih cenderung ke berterimakasih alih alih menerima. Kesannya kalau menerima itu ya ga ada usaha untuk mendapatkan hal yang lebih gitu. Hehe. Eh tapi bukan itu yang saya pengen omongin disini. Yang saya omongin adalah tentang rasa syukur itu sendiri... Tentang saya... yang tamak, yang mengeluh tentang apapun yang dikerjakan...

Jadi ceritanya waktu itu saya sedang beli makan siang, tepat di samping wisma saya. Disana ada semacam barisan pujasera yang menjual makanan dan seperti biasanya siang itu anak-anak dari fakultas sekitarnya numplek mengisi perut yang kosong disitu. Termasuk saya. Karena perut sudah keroncongan dan waktu yang semakin mengerut memaksa saya untuk cepat memesan ayam goreng nasi uduk lapang favorit saya, lalu minta diantar ke wisma. Selagi menunggu teman saya membeli jus, saya mengalor ngidul ngobrol dengan teman saya lainnya. Namun seketika fokus saya terbuyarkan, melihat seseorang yang cukup tua untuk dibilang bapak-bapak, namun juga terlalu tua untuk dibilang mahasiswa. Mungkin dia mahasiswa, kata teman saya, melihat wajahnya yang 'terawat' untuk ukuran pria. Entahlah, saya tak yakin karena perawakan nya sudah mulai 'melar', apple shape yang biasa menimpa pria yang sudah menikah sudah mulai tampak dari diri orang tersebut. Belum lagi dandannnya, yang sedikit 'mature' namun tak rapi. Hanya memakai celana PDL hijau lumut, kaos putih, dan sendal. Cukup yakin simpulan saya kalau orang tersebut berusia 30 an, telah menikah, dan setidaknya memiliki 1-2 anak yang masih balita.

Bukan, bukan tampangnya yang seperti Orlando Bloom yang menarik saya. Karena dia sama sekali bertampang Indonesia. Hal yang menarik perhatian saya adalah dia membawa wadah berukuran 30x30 cm, berisi jajanan kue basah. Yang mengharukan adalah dia menawarkan dagangannya itu dari satu kumpulan mahasiswa ke kumpulan mahasiswa yang dia temui. Sayangnya tak ada yang membeli, tak tampak keluhan dari wajahnya. Dia tersenyum. Seakan tak lelah, walaupun tiap menawarkan, tiap itu juga dia mendapat kata tolakan. Barang dagangannya hanya kotak 30x30 cm itu saja.

Seketika saya ngenes, membayangkan dia mencari uang... mungkin untuk istri dan anaknya... Dia rela panas-panasan demi berjualan kue kue yang untungnya tak seberapa. Tapi dia tetap melakukannya, dengan sumringah pula. Dia melakukan itu karena mungkin dia merasa punya tanggung jawab, istri dan anak tercintanya yang harus dicukupkan kebutuhannya.

Beda dengan saya... Amanah yang setumpuk masih saya anggap beban, masih saya selipkan keluhan, kadang celaan. Padahal apa? Itu hanya amanah yang ga seberapa dibandingkan dengan amanah bapak tadi yaitu anak dan istrinya. Padahal apa? amanah yang harus saya penuhi ga membuat saya harus panas-panasan, berjalan kaki, menahan lapar, emosi, seperti bapak tadi. Cukup, cukup, saya memusatkan diri di depan komputer, mengetik, berpikir, berkonsentrasi atau membalas sms, bertemu orang, berdiskusi. Hanya sedikit usaha yang perlu saya lakukan, tak banyak. Masih saya bisa lakukan, masih bisa saya jangkau dengan jemari dan tak ada embel-embel tanggung jawab untuk menghidupi orang lain. Tapi kenapa saya masih ngeluh? Tapi kenapa saya masih malas?

Inikah tanda saya kurang bersyukur?
Maafkan saya....

Wednesday, 3 October 2012

Dia

Dia, tanpa kata
Tampak pantulannya
Tak tersentuh...

Cukup? Tidak...
Hati ini rakus untuk selalu meminta lebih
meminta untuk melihat pancaran kehangatan bola matanya
menagih untuk membingkai lukisan senyumnya

Dia, rangkaian cerita indah
Cerita yang menghubungkan antara dunia yang berbeda
antara ribuan jarak terbentang
antara ketidakmungkinan

Dia, tanpa kata
Melayang bak bayangan di muka air
Tak tampak kehadirannya
Tergoyahkan, dan dia pun pergi
Namun dia bagai air
memberikan aliran kehidupan
aliran harapan untuk menjalin asa bahagia

Escape: Writing


Tuesday, 2 October 2012

Challenge: Task to Graduate

No pain no gain
Yep. I define 'the pain' here as effort. No effort no graduate. I guess this perfectly describe me. I am so nervous for the effort I am gonna fight for. Gambling feeling. I have to fight with something that I love and something that I hate.
Say I am labile. I hate that thing in vivid feature, but I love that thing in cartoon feature. Mouse. That I mean. I am afraid of it.
I want to talk to Him soon. Hope He give me solutions, relief, easiness, and anything when anyone or anything doesn't.

Sooner or Later...
Perhaps in the upcoming 3 months, I am gonna start it. Gonna fight for beloved persons that have been standing behind my back. Gonna do it to the max. Gonna prove it. Gonna... get.. that precious predicate. Perhaps better living?

Fight: I have to find new loves: Pharmacology, Mouse, Research.