Wednesday, 17 October 2012

Bersyukur

Bersyukur. Rasa-rasanya, kata itu memang sering terdengar, terlalu sering bahkan. Taruhan deh, setiap kita mengeluh atau apapun pada seseorang, orang pasti bilang 'Bersyukur aja lo sama apa yang dipunyai'. Semudah itu orang mengucapkan, sesulit itu orang melakukan. Kenapa sulit? Well, karena bersyukur artinya harus berterima kasih atas apa yang didapatkan. Beda ga sih dengan term 'menerima' apa yang diberikan? kalau saya sih lebih cenderung ke berterimakasih alih alih menerima. Kesannya kalau menerima itu ya ga ada usaha untuk mendapatkan hal yang lebih gitu. Hehe. Eh tapi bukan itu yang saya pengen omongin disini. Yang saya omongin adalah tentang rasa syukur itu sendiri... Tentang saya... yang tamak, yang mengeluh tentang apapun yang dikerjakan...

Jadi ceritanya waktu itu saya sedang beli makan siang, tepat di samping wisma saya. Disana ada semacam barisan pujasera yang menjual makanan dan seperti biasanya siang itu anak-anak dari fakultas sekitarnya numplek mengisi perut yang kosong disitu. Termasuk saya. Karena perut sudah keroncongan dan waktu yang semakin mengerut memaksa saya untuk cepat memesan ayam goreng nasi uduk lapang favorit saya, lalu minta diantar ke wisma. Selagi menunggu teman saya membeli jus, saya mengalor ngidul ngobrol dengan teman saya lainnya. Namun seketika fokus saya terbuyarkan, melihat seseorang yang cukup tua untuk dibilang bapak-bapak, namun juga terlalu tua untuk dibilang mahasiswa. Mungkin dia mahasiswa, kata teman saya, melihat wajahnya yang 'terawat' untuk ukuran pria. Entahlah, saya tak yakin karena perawakan nya sudah mulai 'melar', apple shape yang biasa menimpa pria yang sudah menikah sudah mulai tampak dari diri orang tersebut. Belum lagi dandannnya, yang sedikit 'mature' namun tak rapi. Hanya memakai celana PDL hijau lumut, kaos putih, dan sendal. Cukup yakin simpulan saya kalau orang tersebut berusia 30 an, telah menikah, dan setidaknya memiliki 1-2 anak yang masih balita.

Bukan, bukan tampangnya yang seperti Orlando Bloom yang menarik saya. Karena dia sama sekali bertampang Indonesia. Hal yang menarik perhatian saya adalah dia membawa wadah berukuran 30x30 cm, berisi jajanan kue basah. Yang mengharukan adalah dia menawarkan dagangannya itu dari satu kumpulan mahasiswa ke kumpulan mahasiswa yang dia temui. Sayangnya tak ada yang membeli, tak tampak keluhan dari wajahnya. Dia tersenyum. Seakan tak lelah, walaupun tiap menawarkan, tiap itu juga dia mendapat kata tolakan. Barang dagangannya hanya kotak 30x30 cm itu saja.

Seketika saya ngenes, membayangkan dia mencari uang... mungkin untuk istri dan anaknya... Dia rela panas-panasan demi berjualan kue kue yang untungnya tak seberapa. Tapi dia tetap melakukannya, dengan sumringah pula. Dia melakukan itu karena mungkin dia merasa punya tanggung jawab, istri dan anak tercintanya yang harus dicukupkan kebutuhannya.

Beda dengan saya... Amanah yang setumpuk masih saya anggap beban, masih saya selipkan keluhan, kadang celaan. Padahal apa? Itu hanya amanah yang ga seberapa dibandingkan dengan amanah bapak tadi yaitu anak dan istrinya. Padahal apa? amanah yang harus saya penuhi ga membuat saya harus panas-panasan, berjalan kaki, menahan lapar, emosi, seperti bapak tadi. Cukup, cukup, saya memusatkan diri di depan komputer, mengetik, berpikir, berkonsentrasi atau membalas sms, bertemu orang, berdiskusi. Hanya sedikit usaha yang perlu saya lakukan, tak banyak. Masih saya bisa lakukan, masih bisa saya jangkau dengan jemari dan tak ada embel-embel tanggung jawab untuk menghidupi orang lain. Tapi kenapa saya masih ngeluh? Tapi kenapa saya masih malas?

Inikah tanda saya kurang bersyukur?
Maafkan saya....

No comments:

Post a Comment