Kelak... Aku tahu, aku akan membuka amplop itu. Mungkin bukan amplop, melainkan sebuah tautan yang menggetarkan jiwa dan menitikkan air mata. Aku tahu, saat itu pasti akan datang. Saat dimana duka itu pasti akan menyeruak hadir. Mungkin aku akan bahagia, atau mungkin aku akan semakin terperosok ke dalam kelaraan. Sudah, aku tahu itu salahku. Dari awal. Dan aku menyadari kesalahanku. Satu-satunya yang kubisa lakukan saat ini adalah: aku berdamai dengan diriku.
Rain leaves breath for every living creatures, my blog leaves breath for every living moment in my lifetime
Sunday, 6 October 2013
Saturday, 7 September 2013
Balloon
I do love balloon much? NO! Definitely no. Well, not really. If it happens to be a party and celebration, then I would love to have so much balloon. Balloon is hilarious. It reflects uncovered hope, limitless spirit, and popping color. Thats why, right now I am in the need of searching thousand of balloons. Well, not that much actually. 40 balloons would be enough actually. Wait, am I doing celebration? Not at all, I am doing a project that I cant tell ya. A project related to balloon. I would love to have those popping colorful balloon. So whats the problem? It is so hard to obtain? Not so, they are several great balloon workshop in my city. The problem would be classic. Price. Hahaha. I dont have enough money to buy those popping hilarious balloon. Okay, gotta find the way out if so :D
Thursday, 25 July 2013
Hai kamu
Kamu, ya kamu. Ada berjuta alasan mengapa aku ingin menghindari mu. Aku ingin kamu menjadi sebatas memori utopia yang bahkan tak nyata. Aku ingin kamu menjadi sebuah mimpi indah buatku. Hanya itu. Kamu dan memorimu tak boleh nyata. Anggap saja, kamu adalah teman khayalanku. Oke, kamu kuanggap sebagai imajinasi tempat aku bertengkar, berdamai, dan merindu. Memori aku- dan kamu adalah memori hasil karanganku saja. Dalam dunia imajinasiku. Kamu tak boleh ada di dunia ini. Jikalau suatu saat aku bertemu dengan karakter nyata seperti mu. Maka, seperti yang ada dalam film-film: ini hanyalah kebetulan semata. Aku akan menyapanya dan tentu saja utopia itu tak boleh ada
Tuesday, 9 July 2013
Saya males terdistraksi dengan pikiran yang nggak-nggak. Saya males
berekspektasi sama sesuatu yang ga tentu. Saya males berharap sama
sesuatu yang ga mungkin diharapin. Sulit, sangat sulit bertarung sama
sesuatu yang sulit ditaklukan. Perasaan sendiri. Iya, mulut ngomong A.
Tapi hati ngomong B. Kenapa ga sinkron? Kenapa ga ngomong B aja sih?
Hmm, ga sesimple itu untuk ngomong B karena pasti bakal ada ego, harga
diri, dan self pride yang harus ditaklukan dan menaklukkannya ga semudah
itu!
Rapuh, iya rapuh. Tergoyang sedikit, rapuh Kapan jadi kuat nya sih? Kapan bisa masa bodo nya sih? Selalu diinget, selalu sedih, selalu kenangan-kenangan itu jadi silet yang nguras air mata. kapan bisa tegarnya kalau kayak gitu?
Siapa yang mengajarkan kelemahan? Ga ada! Siapa yang mengajarkan keputusaasan? Ga ada.
Tapi kenapa, kenapa serapuh ini?
Apa karena masih berharap?
Wake up! Wide awake!
Males banget sih untuk bangun dari mimpi!
Keenakan banget sih berkubang sama nostalgia!
Dasar rapuh!
Rapuh, iya rapuh. Tergoyang sedikit, rapuh Kapan jadi kuat nya sih? Kapan bisa masa bodo nya sih? Selalu diinget, selalu sedih, selalu kenangan-kenangan itu jadi silet yang nguras air mata. kapan bisa tegarnya kalau kayak gitu?
Siapa yang mengajarkan kelemahan? Ga ada! Siapa yang mengajarkan keputusaasan? Ga ada.
Tapi kenapa, kenapa serapuh ini?
Apa karena masih berharap?
Wake up! Wide awake!
Males banget sih untuk bangun dari mimpi!
Keenakan banget sih berkubang sama nostalgia!
Dasar rapuh!
Saya males terdistraksi dengan pikiran yang nggak-nggak. Saya males
berekspektasi sama sesuatu yang ga tentu. Saya males berharap sama
sesuatu yang ga mungkin diharapin. Sulit, sangat sulit bertarung sama
sesuatu yang sulit ditaklukan. Perasaan sendiri. Iya, mulut ngomong A.
Tapi hati ngomong B. Kenapa ga sinkron? Kenapa ga ngomong B aja sih?
Hmm, ga sesimple itu untuk ngomong B karena pasti bakal ada ego, harga
diri, dan self pride yang harus ditaklukan dan menaklukkannya ga semudah
itu!
Rapuh, iya rapuh. Tergoyang sedikit, rapuh Kapan jadi kuat nya sih? Kapan bisa masa bodo nya sih? Selalu diinget, selalu sedih, selalu kenangan-kenangan itu jadi silet yang nguras air mata. kapan bisa tegarnya kalau kayak gitu?
Siapa yang mengajarkan kelemahan? Ga ada! Siapa yang mengajarkan keputusaasan? Ga ada.
Tapi kenapa, kenapa serapuh ini?
Apa karena masih berharap?
Wake up! Wide awake!
Males banget sih untuk bangun dari mimpi!
Keenakan banget sih berkubang sama nostalgia!
Dasar rapuh!
Rapuh, iya rapuh. Tergoyang sedikit, rapuh Kapan jadi kuat nya sih? Kapan bisa masa bodo nya sih? Selalu diinget, selalu sedih, selalu kenangan-kenangan itu jadi silet yang nguras air mata. kapan bisa tegarnya kalau kayak gitu?
Siapa yang mengajarkan kelemahan? Ga ada! Siapa yang mengajarkan keputusaasan? Ga ada.
Tapi kenapa, kenapa serapuh ini?
Apa karena masih berharap?
Wake up! Wide awake!
Males banget sih untuk bangun dari mimpi!
Keenakan banget sih berkubang sama nostalgia!
Dasar rapuh!
Jikalau saya boleh mendelete beberapa memori, maka pasti lebih mudah bagi saya untuk sembuh.
Jikalau saya bisa tidak berhasrat berharap terhadap beberapa hal, maka pasti akan lebih mudah bagi saya untuk bangkit.
Jikalau saya bisa tidak cemas akan sesuatu hal, maka pasti hidup saya akan lebih tenang.
Jikalau saya lebih ikhlas saja memandang hidup, maka pasti saya akan lebih tegar.
Jadi salah siapa?
Jikalau bukan selamanya berarti penyesalan
Jikalau bisa jadi sebuah metode yang bisa diwujudkan
Yang menjadi pertanyaan bagi saya sekarang adalah:
Bisakah saya mewujudkan jika itu?
Jikalau saya bisa tidak berhasrat berharap terhadap beberapa hal, maka pasti akan lebih mudah bagi saya untuk bangkit.
Jikalau saya bisa tidak cemas akan sesuatu hal, maka pasti hidup saya akan lebih tenang.
Jikalau saya lebih ikhlas saja memandang hidup, maka pasti saya akan lebih tegar.
Jadi salah siapa?
Jikalau bukan selamanya berarti penyesalan
Jikalau bisa jadi sebuah metode yang bisa diwujudkan
Yang menjadi pertanyaan bagi saya sekarang adalah:
Bisakah saya mewujudkan jika itu?
Summer Breeze
Summer breezes back to wave the ear. It can be felt, but it cant be touched.
It says hallo to grow something that s already burried.
But it wont last, the summer breeze is about to go.
Say the farewell, probably never come back to say hi.
Probably the summer breeze will blow to another place.
It says hallo to grow something that s already burried.
But it wont last, the summer breeze is about to go.
Say the farewell, probably never come back to say hi.
Probably the summer breeze will blow to another place.
Wednesday, 5 June 2013
one two three
one
two
three...
its almost nearly deadline
gosh... Godspeed incredibly play here.
Gotta survive within distraction
Gotta be grateful for what we have and might become
two
three...
its almost nearly deadline
gosh... Godspeed incredibly play here.
Gotta survive within distraction
Gotta be grateful for what we have and might become
Sunday, 2 June 2013
Saya dan Cerita Zahra
Zahra diam. Analytical jenna dihadapannya meraung-raung sebentar kemudian diam kembali. Dia termenung di depan monitornya. Bukan biasanya. Hari ini, tak sepatah kata pun diucapkannya. Begitu pun pertanyaanku hanya dibalas dengan air mata, bukan kata-kata.
'Aku pikir, dia yang terakhir dan terbaik untukku,' akhirnya dia memulai membuka mulutnya. Bibirnya sedikit gemetar, air matanya menggambang di pelupuk mata.
Aku menepuk-nepuk pundaknya. Tak tahu harus berbuat apa-apa.
'Tapi nyatanya begini...,' Dia mulai terisak lagi. 'Kami tak cocok. Kami tak bisa bersama lagi.'
'Bukanknya itu alasan klise? Kamu tak curiga ada wanita lain?'
Dia tersenyum pahit, lalu menggeleng lemah. 'Sama sekali tidak. Dia bukan tipe seperti itu. Dia... sangat baik. Hanya kita saja yang berbeda. Kupikir dulu itu alasan klise, ternyata itu memang bisa terjadi, mengkronis, dan kemudian aku tahu ketidakcocokkan itu membuat gap diantara kita. Gap yang tidak bisa dipersatukan.'
Zahra menangis dalam diam. Air matanya mengalir di pipinya.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku belum pernah menghadapi sebuah perpisahan, dan aku tak mau. Aku tak bisa membayangkan aku berada di posisi Zahra. Kehilangan orang yang selama ini selalu berbagi rasa dengannya, tentu bukan perkara mudah. Tentu ada rasa yang hilang.
'Mungkin, memang itu yang terbaik buat kamu. Tuhan selalu punya rencana hebat,' Aku hanya bisa menemukan kata-kata itu buat penghiburan.
'Itu yang di katakannya waktu kami berpisah.' Dia tersenyum lagi. 'Semoga dia menemukan yang terbaik untuknya. Semoga aku diberikan keikhlasan.'
Aku memegang tangannya. 'Seiring berjalannya waktu, Insya Allah. Bisa.'
'Perpisahan pasti terjadi. Mungkin di masa depan perpisahan akan lebih buruk terjadi, siapa yang tahu? Dia benar. Kami tak bisa memaksakan diri untuk bersama, hanya aku yang akan tersiksa. Hmm, life must go on.' Dia kemudian tertawa. 'Haha. terdengar klise bukan? Tapi itu yang harus terjadi... Dia menjadi masa lalu ku.'
'Apa kalian berdua akan kembali?'
Dia menggeleng kuat. 'Sepertinya tidak.'
Aku menarik nafas. Perpisahan bukan yang kita inginkan kan? Tapi pasti terjadi. Mau atau tidak. Cepat atau lambat. Namun, jika itu terjadi. We have to keep on breathing, for keeping us alive.
'Aku pikir, dia yang terakhir dan terbaik untukku,' akhirnya dia memulai membuka mulutnya. Bibirnya sedikit gemetar, air matanya menggambang di pelupuk mata.
Aku menepuk-nepuk pundaknya. Tak tahu harus berbuat apa-apa.
'Tapi nyatanya begini...,' Dia mulai terisak lagi. 'Kami tak cocok. Kami tak bisa bersama lagi.'
'Bukanknya itu alasan klise? Kamu tak curiga ada wanita lain?'
Dia tersenyum pahit, lalu menggeleng lemah. 'Sama sekali tidak. Dia bukan tipe seperti itu. Dia... sangat baik. Hanya kita saja yang berbeda. Kupikir dulu itu alasan klise, ternyata itu memang bisa terjadi, mengkronis, dan kemudian aku tahu ketidakcocokkan itu membuat gap diantara kita. Gap yang tidak bisa dipersatukan.'
Zahra menangis dalam diam. Air matanya mengalir di pipinya.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku belum pernah menghadapi sebuah perpisahan, dan aku tak mau. Aku tak bisa membayangkan aku berada di posisi Zahra. Kehilangan orang yang selama ini selalu berbagi rasa dengannya, tentu bukan perkara mudah. Tentu ada rasa yang hilang.
'Mungkin, memang itu yang terbaik buat kamu. Tuhan selalu punya rencana hebat,' Aku hanya bisa menemukan kata-kata itu buat penghiburan.
'Itu yang di katakannya waktu kami berpisah.' Dia tersenyum lagi. 'Semoga dia menemukan yang terbaik untuknya. Semoga aku diberikan keikhlasan.'
Aku memegang tangannya. 'Seiring berjalannya waktu, Insya Allah. Bisa.'
'Perpisahan pasti terjadi. Mungkin di masa depan perpisahan akan lebih buruk terjadi, siapa yang tahu? Dia benar. Kami tak bisa memaksakan diri untuk bersama, hanya aku yang akan tersiksa. Hmm, life must go on.' Dia kemudian tertawa. 'Haha. terdengar klise bukan? Tapi itu yang harus terjadi... Dia menjadi masa lalu ku.'
'Apa kalian berdua akan kembali?'
Dia menggeleng kuat. 'Sepertinya tidak.'
Aku menarik nafas. Perpisahan bukan yang kita inginkan kan? Tapi pasti terjadi. Mau atau tidak. Cepat atau lambat. Namun, jika itu terjadi. We have to keep on breathing, for keeping us alive.
Monday, 20 May 2013
Hari Hari Senin
‘Jadi, kenapa?’ Pria yang tampaknya berusia 30 tahun itu
bertanya menyelidik.
Ia
mengatupkan jari-jemarinya yang mulai terasa basah, lalu membiarkan udara luar
mengisi paru-paru sebanyak-banyaknya. Paru-parunya tidak membutuhkan oksigen
sebanyak itu sebenarnya. Ia hanya merelaksasikan otot-ototnya yang mulai
menegang. Otot-ototnya mulai berontak. Matanya terpejam sesaat, membiarkan
jiwanya mengelana ke masa silam
Senin, 7 Juli 1997
Anak
kecil itu tampak bersemangat. Ia seperti musim semi yang lelah dengan musim
dingin. Wajahnya berenergi seperti bunga mekar tertimpa cahaya pagi. Tas
sekolah bergambar doraemon kesayangannya tampak melayang-layang ketika dia
berlari menghampiri meja makan.
Matanya
membulat manakala melihat yang tersaji di depannya. Namun, segera diraihnya sandwich isi keju kesukaannya. Mulutnya
sibuk mengunyah-nguyah hingga pipinya membesar, persis seperti bakpao.
‘Hey,
hey… Pelan-pelan makannya, Sayang. Nanti kamu tersedak,’ Pria pertengahan 30
tahun itu mengingatkan.
Mulutnya
berhenti mengunyah, ‘Tapi aku takut ketinggalan bis, Daddy,’ wajahnya meringis.
Mata bulatnya beralih pada jam mickey mouse kecil di tangannya. ‘I am running
out the time, daddy,’
‘It’s
still 6 am, darling. Kelasmu baru mulai jam 7.30 pagi. We do still have time,’
‘Tapi
daddy… we could have traffic jam, broken engine, picking the other students…’
Sebuah
kecupan tiba-tiba mendarat di pipinya. ‘Look at our little lady, darling. I
wonder how she might become when she gets older, time police, maybe?’ Wanita
berambut blonde mengerling kepada pria itu.
Anak
kecil tadi menggeleng kuat-kuat. ‘Aku ingin jadi pianis seperti mommy. By the
way, Daddy, ini hari senin, harus semangat. Aku akan ketemu teman-teman baru
secepatnya, dan daddy akan ketemu teman-teman daddy juga kan? Aku seneng
banget! Ayo, Daddy. Kita berangkat!’
‘Madam,
maukah kau menunggu 30 menit lagi?’ Si pria berlutut di hadapannya. Gadis itu
tertawa. Wanita pirang itu juga tertawa.
‘You do
love Monday so much, don’t you? By the way, it’s Jakarta. Daddy will take you school,
not the bus’
Anak
itu terdiam, kecewa. Wajahnya berubah cerah dalam sekejap. ‘Gapapa. Yang
penting kita berangkat 30 menit lagi’
Wanita
dan pria itu tertawa terbahak-bahak dan mendaratkan kecup di kedua pipinya.
Gadis itu tertawa, mereka tertawa. Suasana pagi itu menghangat seiring dengan
menghangatnya mentari di senin pagi itu.
Minggu,
9 Januari 2005
Kinanti
menggeleng-geleng kepala tak puas. Not balok seharusnya ia pencet tersinkron
dengan tuts pianonya. Salah memencet tuts yang sinkron beberapa kali dan
kehilangan soul sebuah lagu tampaknya
sebuah aib besar baginya, terutama papanya.
‘What’s
wrong with you?’ Papa menghampirinya tak puas. ‘Kamu tak berkonsentrasi,’
Ia
menatap kap piano grande hitamnya. ‘Di sekolahku ada acara amal untuk tsunami
aceh, Pa. Sore ini. Mereka mengajakku untuk datang. Aku ingin sekali datang.
Aku… aku ingin berteman akrab dengan mereka, Pa.’
‘Akan
ada hari dimana kamu mempunyai waktu luang yang kamu bisa manfaatkan untuk
bersosialisasi dengan siapapun yang kamu mau. Tapi itu nanti, setelah kamu tahu
pasti masa depan yang akan kamu hadapi. Sekarang, kamu harus memfokuskan diri
membentuk masa depanmu. Ingat, bukan kamu saja yang ingin sekolah musik di
Praha. Ratusan bahkan ribuan orang dengan skill yang outstanding, Kinan. Nah
sekarang, sudah sejauh mana skill mu, Kinan?’ Nada Papa setengah mengejek.
Kinanti sangsi. Sudah dimana?
Tidak, dia masih jauh dari kata outstanding. Praha adalah rumah dari para
musisi kelas dunia. She only welcomes the outstanding. CV Kinan belumlah sedia
menobatkannya sebagai the outstanding. Ia harus berlatih keras untuk grande
orchestra minggu depan di JCC. Susah mati dia mendapatkan spot untuk satu lagu
di orchestra Magenta, tidak mungkin ia menyia-nyiakan begitu saja. Ya, agar ia bisa
kembali pulang ke rumahnya, Praha.
Tuts-tuts
piano itu kembali mengalunkan nadanya. Kali ini simfoninya jauh lebih syahdu,
seakan setiap nada merupakan curahan setiap emosinya. Tentang teman-temannya,
Kinanti yakin. There will be a time, she could be out loud laughing together
with them like a normal teenager. It just will wait.
Kelak
kinanti tahu, bahwa masa depan bukan sesuatu yang bisa diprediksi seperti
layaknya perkiraan cuaca.
Sabtu, 19 Februari 2000
Peluit
tampak nyaring terdengar keras. Gadis kecil itu tampak menyeka keringatnya,
kelelahan. Pipi putihnya memerah kepanasan. Ia segera bergabung dengan
gerombolan anak-anak berpakaian pramuka lainnya.
‘Yah,
sudah selesai ya?’ Wajahnya seketika kecewa. Ia menyerahkan tambang untuk
membuat tandu pada guru pembinanya.
‘Iya,
sayang. Kamu kok sedih? Kan besok hari minggu. Harusnya seneng dong, kan banyak
film kartun.’
Ia
menggelengkan kepalanya. ‘Aku pengen cepat-cepat senin bu.’
‘Lho,
kenapa?’ Guru Pembina itu tampak heran.
Pipi bakpaonya menggembungkan udara. Tampak berpikir sejenak. Ia tak suka hari Minggu. Ia terpisah dari teman-temannya, ia tercerabut dari kumpulan tawa-tawa hangat. Sedangkan Senin menghubungkannya dengan dunia yang membuat dia terasa normal.
Pipi bakpaonya menggembungkan udara. Tampak berpikir sejenak. Ia tak suka hari Minggu. Ia terpisah dari teman-temannya, ia tercerabut dari kumpulan tawa-tawa hangat. Sedangkan Senin menghubungkannya dengan dunia yang membuat dia terasa normal.
Thursday, 2 May 2013
How do you know?
This is undescribed
the time perhaps will stop by
pick something u dont want to let go
How do you know?
It's already becoming ba stiff snow
freeze any last vow
How do you know?
it wont be a matter
coz u just have to know
how to let go
the time perhaps will stop by
pick something u dont want to let go
How do you know?
It's already becoming ba stiff snow
freeze any last vow
How do you know?
it wont be a matter
coz u just have to know
how to let go
Sunday, 28 April 2013
Levi dan Cerita Wulan
Levi menutup laptopnya segera. Sulit berkonsentrasi dalam keadaan seperti ini. Air mata telah jatuh perlahan membasahi seprai linennya. Berlembar-lembar tisu telah habis untuk menyerap bulir-bulir sendu itu. Hatinya bertanya-tanya, bagaimana bisa Erwan selingkuh.
Erwan tampak baik dan diperlakukan baik. Kurang apa? Pengertian dan perhatian? Erwan selalu dibanjiri semua itu! Empati dan support? Hey, disaat skripsinya tersendat, tentu saja, ia menjadi prioritas utama. Untuk diperhatikan.
Levi sesaat menatap getir laptop hitamnya. Apa yang salah dengan pria itu?
Ia lalu terlempar pada ingatan beberapa hari lalu, ketika ia sedang sibuk merevisi skripsinya. Di hadapannya berlembar-lembar kertas berserakan. Penuh angka dan huruf yang tercoret dan ditulis dengan terburu-buru. Dihadapannya pula duduk gadis mungil yang menyeruput kopi demi mendapat asupan kafein untuk matanya yang mulai mengantuk.
Tiba-tiba pertanyaan terlintas di benak Levi.
'Tu, kenapa sih hubungan bertahun-tahun bisa putus dalam sekejap.'
Dia tampak berpikir sesaat. 'Banyak,'
'Kalau kamu?' Levi tahu Ratu telah menjalani hubungan 2 tahun kemudian putus begitu saja.
'Adalah.' Dia tampak enggan menjawab. Levi tahu, dia menanyakan sesuatu yang terlalu pribadi.' Mmm..., tapi biasanya putus karena dua alasan. Kalau ga selingkuh, ya bosen.'
'Hah? Kok bisa?'
'Bahkan, berawal dari bosen. Bisa jadi selingkuh loh, dia cari-cari masalah, biar hubungan lebih dinamis, terus malah cari pelarian. Finally, dia selingkuh.' katanya ringan.
Aku tertegun sesaat. Seketika gundah menerpa.
'Lev, gimana dong?' Wulan menatap dengan getir.
Levi menggigit bibir. 'I think its better for you to let him go.' Levi kemudian menatap matanya lekat-lekat 'Kamu pantas dapatkan seseorang yang jauh lebih baik, kamu cantik, pintar, solehah. Aku yakin kamu sedang disiapkan bertemu dengan laki-laki yang jauh lebih pantas memperlakukanmu. Jauh lebih baik dari yang Erwan berikan padamu,'
Wulan tersenyum seulas, kemudian membaringkan diri di kasur. Matanya perlahan terpejam. Getir Levi melihatnya. Ingin ia merangkulnya. Wulan kurang apa lagi, Erwan? Kenapa tega menyakitinya? Hanya karena bertitel rasa 'bosan' kah sehingga dia mengkhianati Wulan? Mengkhianati Wulan dengan teman sekelasnya sendiri. Teman yang telah memiliki seorang kekasih pula. Tapi diam-diam Levi bersyukur, Wulan terlalu baik buat Erwan.
Levi kembali membuka laptopnya. Mata tertancap pada barisan kata, tapi pikirannya mengelana. Bosankah? Itukah penyebabnya? Hati Levi nanar. Ia tak pernah mengalaminya, dan tak ingin mengalaminya.
Matanya secara refleks tertumpu pada dompet merahnya yang terbuka. Dengan enggan, dia menatap sebuah foto. Enggan karena terselip sebuah kecemasan. Ini pertama kalinya, ia merasakan batinnya terhubung serius pada sebuah pengharapan. Kedua orang di foto itu tampak tersenyum bahagia, memandangnya. Fotonya bersama seorang pria yang setahun belakangan mengisi hari-harinya. Pria yang tinggal beratus-ratus kilometer darinya, yang selama ini merajut kebahagian lewat kata-kata di dunia maya. Levi menatapnya lekat-lekat, walau dia enggan.
Apakah dia Erwan lain yang menjadikan kebosanan sebuah kunci untuk mengakhiri sebuah komitmen? atau melarikan diri dan berlabuh di hati yang bukan tempatnya?
Akankah jarak yang menjembatani dua hati di berlainan tempat perlahan akan rapuh? Akankah dalam jarak menjadi faktor ketiga dalam punahnya rasa?
Levi menggigit bibirnya semakin keras. Ia menatap Wulan, lalu foto itu. Pikirannya berkecamuk. Ia menarik nafas dalam-dalam.
Ia hanya tahu dua hal.
Ia menyayanginya.
Ia mempercayainya
Erwan tampak baik dan diperlakukan baik. Kurang apa? Pengertian dan perhatian? Erwan selalu dibanjiri semua itu! Empati dan support? Hey, disaat skripsinya tersendat, tentu saja, ia menjadi prioritas utama. Untuk diperhatikan.
Levi sesaat menatap getir laptop hitamnya. Apa yang salah dengan pria itu?
Ia lalu terlempar pada ingatan beberapa hari lalu, ketika ia sedang sibuk merevisi skripsinya. Di hadapannya berlembar-lembar kertas berserakan. Penuh angka dan huruf yang tercoret dan ditulis dengan terburu-buru. Dihadapannya pula duduk gadis mungil yang menyeruput kopi demi mendapat asupan kafein untuk matanya yang mulai mengantuk.
Tiba-tiba pertanyaan terlintas di benak Levi.
'Tu, kenapa sih hubungan bertahun-tahun bisa putus dalam sekejap.'
Dia tampak berpikir sesaat. 'Banyak,'
'Kalau kamu?' Levi tahu Ratu telah menjalani hubungan 2 tahun kemudian putus begitu saja.
'Adalah.' Dia tampak enggan menjawab. Levi tahu, dia menanyakan sesuatu yang terlalu pribadi.' Mmm..., tapi biasanya putus karena dua alasan. Kalau ga selingkuh, ya bosen.'
'Hah? Kok bisa?'
'Bahkan, berawal dari bosen. Bisa jadi selingkuh loh, dia cari-cari masalah, biar hubungan lebih dinamis, terus malah cari pelarian. Finally, dia selingkuh.' katanya ringan.
Aku tertegun sesaat. Seketika gundah menerpa.
'Lev, gimana dong?' Wulan menatap dengan getir.
Levi menggigit bibir. 'I think its better for you to let him go.' Levi kemudian menatap matanya lekat-lekat 'Kamu pantas dapatkan seseorang yang jauh lebih baik, kamu cantik, pintar, solehah. Aku yakin kamu sedang disiapkan bertemu dengan laki-laki yang jauh lebih pantas memperlakukanmu. Jauh lebih baik dari yang Erwan berikan padamu,'
Wulan tersenyum seulas, kemudian membaringkan diri di kasur. Matanya perlahan terpejam. Getir Levi melihatnya. Ingin ia merangkulnya. Wulan kurang apa lagi, Erwan? Kenapa tega menyakitinya? Hanya karena bertitel rasa 'bosan' kah sehingga dia mengkhianati Wulan? Mengkhianati Wulan dengan teman sekelasnya sendiri. Teman yang telah memiliki seorang kekasih pula. Tapi diam-diam Levi bersyukur, Wulan terlalu baik buat Erwan.
Levi kembali membuka laptopnya. Mata tertancap pada barisan kata, tapi pikirannya mengelana. Bosankah? Itukah penyebabnya? Hati Levi nanar. Ia tak pernah mengalaminya, dan tak ingin mengalaminya.
Matanya secara refleks tertumpu pada dompet merahnya yang terbuka. Dengan enggan, dia menatap sebuah foto. Enggan karena terselip sebuah kecemasan. Ini pertama kalinya, ia merasakan batinnya terhubung serius pada sebuah pengharapan. Kedua orang di foto itu tampak tersenyum bahagia, memandangnya. Fotonya bersama seorang pria yang setahun belakangan mengisi hari-harinya. Pria yang tinggal beratus-ratus kilometer darinya, yang selama ini merajut kebahagian lewat kata-kata di dunia maya. Levi menatapnya lekat-lekat, walau dia enggan.
Apakah dia Erwan lain yang menjadikan kebosanan sebuah kunci untuk mengakhiri sebuah komitmen? atau melarikan diri dan berlabuh di hati yang bukan tempatnya?
Akankah jarak yang menjembatani dua hati di berlainan tempat perlahan akan rapuh? Akankah dalam jarak menjadi faktor ketiga dalam punahnya rasa?
Levi menggigit bibirnya semakin keras. Ia menatap Wulan, lalu foto itu. Pikirannya berkecamuk. Ia menarik nafas dalam-dalam.
Ia hanya tahu dua hal.
Ia menyayanginya.
Ia mempercayainya
Wednesday, 24 April 2013
Tiga
Sesaat aku seakan membeku, pikiranku kosong seakan
mengembara ke antah berantah dan tak bisa digapai. Namun kemudian pikiran itu
masuk berjejalan memenuhi pikiranku, seperti berebutan masuk tak terkendali.
Bagaimana bisa aku bisa berada di sini? Aku tahu aku pingsan, tapi aku pingsan
secara normal, aku pingsan bahkan di ruang kecil kosong sialan itu. Mana
mungkin ruangan kosong itu bisa jadi mesin waktu. Ruangan itu hanya ruangan
kecil yang tak berarti, kosong melompong, taka da sesuatu yang ajaib disana.
bahkan ada di tempat yang sering dilalui semua orang! Pasti semua orang bisa masuk
ke ruangan itu, tapi tak pernah ada murid yang dikabarkan ‘hilang’ atau
mengalami perjalanan ke masa lalu. semua orang bisa mengakses ruangan itu kan?
Kenapa mesti aku yang ada di masa ini?
Aku
tertegun sesaat. Aku mulai ragu. Ruangan itu tidak pernah ada sebelumnya. Aku selalu menyusuri lorong itu, tapi sama
sekali aku tidak menemukan ada tingkap pintu disitu.
‘Kau
membuang waktuku,’ suara beratnya membuyarkan pikiranku. ‘Aku harus pulang’
Aku
menatapnya nanar. ‘Aku… aku bukan Kinanti Kusumadewi. Aku … Tirani Aluna
Ananta. Dan aku datang dari 100 tahun yang akan datang. Aku terjebak di masa
100 tahun lalu, yaitu sekarang,’
Dia
menundukkan kepala, tampak berpikir keras. Lalu katanya, ‘Kau bahkan tak tahu
siapa teman-temanmu, orang tuamu, maupun guru-gurumu? Dan kau bahkan sangat
kaget karena segalanya tampak kuno dan aneh dibandingkan segala hal yang
terjadi 100 tahun yang akan datang?’
‘Iya!
Segalanya aneh banget!’ Aku mengagukkan kepala keras-keras. Tak begitu sulit
ternyata meyakinkannya. ‘Kamu percaya aku? Oh terima kasih banyak, aku khawatir
semua orang gak percaya aku!’
Matanya
berkilat marah, ‘Ya, aku kini tahu kau sedang berfantasi. Kurasa kau harus
memeriksa kewarasanmu,’ Dia segera pergi, dan merundukkan kepalanya untuk
menghindari ranting-ranting pohon yang rendah.
Aku
tak percaya, dia tak mempercayaiku. Aku seketika putus asa, aku punya firasat
jika dia saja tidak percaya kata-kataku, maka orang lain pun tidak.
Dia
berhenti sesaat. Kemilau cahaya siang menimpa wajahnya, ‘Sebaiknya kau tidak
ceritakan hal ini pada siapapun. Dalam situasi seperti ini, aku tak heran kalau
kau akan dipenjara,’
Nada
suaranya merendah seakan prihatin dengan keadaanku, walaupun air mukanya sama
sekali tidak prihatin. Kemudian dia kembali menuju pintu besar tempat kami
keluar menuju taman ini.
Aku
tertegun, tenggorokanku tercekat. Berapa lama lagi aku hidup di sini? Apa yang
harus kulakukan? Dimana aku harus tinggal?
Sesaat
aku terpikir untuk menjadikan ruangan lorong waktu itu sebagai tempat bernaung
sementara. Aku akan meminta izin, mungkin aku akan melamar pekerjaan untuk
membeli sesuap nasi, tapi semudah itu kah? Jika tak salah, ini jaman penjajahan
kan? Dimana katanya terlampau susah untuk mencari sesuap nasi pun... Tidak,
pasti tidak akan sesulit itu… Tiba-tiba dadaku terguncang hebat, aku merasakan
pipiku menghangat dan rasa asin terkecap di lidah ku.
‘Oke,
tidak apa-apa kalau kamu tidak percaya. Tapi, bisa kamu antar aku pulang? Aku
bahkan tak tahu dimana rumahku, aku bahkan tak tau apakah aku punya rumah di
sini atau tidak’ Entahlah suaraku terdengar atau tidak. Dia terlalu jauh, dan
aku terlalu lelah untuk berteriak. Suaraku seperti seketika teredam oleh kekhawatiranku.
Aku
mulai berjongkok, aku menangis sejadi-jadinya. Tapi beban ini tak ada
tanda-tanda mulai menghilang, ia malah semakin menghimpit meniadakan semua
logika.
‘Ikut
aku,’
Sejurus
kemudian, aku telah dibonceng menggunakan sepeda kumbangnya. Hampir semua murid
yang masih tinggal di sekolah memperhatikanku, bukan, memperhatikan kami. Aku
mengurungkan niatku untuk bertanya pada si pembonceng yang bahkan ku tak tahu
namanya. Bukan saat yang tepat, bahkan untuk menanyai namanya. Bukan hal yang
penting pula, karena seluruh panca inderaku tampak tertarik bercengkrama dengan
setiap jengkal yang ada dihadapannya. Perlahan-lahan bayangan si angkuh tua
yang kukenal tampak mulai mengecil. Mataku bisa menangkap keberadaannya
sepenuhnya. Tidak, dia bukan si tua. Dia tampak seperti wanita cantik yang
anggun berdiri tegak di jalanan Rembang Setaman, atau setidaknya itu masih nama
jalan yang ku tahu dua hari lalu. Tembok-temboknya kokoh tebal tak bercela,
genting-gentingnya tampak gemilau tertimpa sinar matahari yang sudah sedikit
nanar, memantulkan semburat-semburat genting kecoklatan alih-alih genting hijau
yang biasa kulihat. Kayu-kayu jendela dan teralis besinya pun tampak terpasang
sempurna, minus dari cat-cat yang mengelupas dan besi berkarat. Yang mencengangkan,
bangunan ini merupakan bangunan tunggal. Tak ada bangunan tambahan di belakang
bangunan ini, bangunan yang terletak 90 derajat dari bangunan utama tempat
murid-murid kelas 1 dan 2 berada. Ya, bangunan tua ini tak cukup untuk
menampung seluruh murid sehingga hanya difungsikan untuk menampung murid kelas
3 saja. Sekarang, bangunan belakang itu berupa taman-taman indah, sepertinya
tempat para pelajarnya menghabiskan waktu senggangnya.
Pandanganku
menyapu halaman depan sekolah. Hanya dipagari oleh pagar jadul yang kukenal,
namun minus halaman indah dan beraspal. Tidak ada aspal, hanya tanah yang rata
saja. Tidak ada taman buatan beserta air mancur yang menjadi land mark sekolah
kami. Tidak, hanya ada halaman kosong yang di sudut kirinya ditumbuhi oleh
pohon kurus setinggi 3 meter. Aku menatap sedih, apakah pohon itu cikal bakal
pohon yang kukenal berusia lebih dari 100 tahun? Itu kah pohon tempat aku
menggosip sepulang sekolah bersama Luna?
Sadel
sepeda terdengar berderak-derak membelai telingku bersama dengan desir dedaunan
yang menari tertiup angin lembut. Rembang setaman masih rindang seperti dulu,
mendinginkan setiap aliran panas dengan riuh dedaunannya, meniupkan oksigen
murni ke setiap paru-paru tanpa hambatan. Rembang setaman tampak seperti gadis
desa sederhana mempesona. Jalanannya mulus dan rata berwarna coklat, sepertinya
tetanahan ditekan sedemikian rupa sehingga tak dicelai dengan keropong-keropong
jalanan. Hanya terlihat beberapa sepeda kumbang atau ontel melintas, selebihnya
aku tak menemukan mobil.
‘Honk-honk,’
Aku
secepatnya memalingkan mukaku ke depan mencari sumber suara. Suara honk-honk
itu ternyata milik sebuah mobil antik berwarna coklat seperti warna kayu yang
dipadukan dengan besi hitam serta tingkap berwarna hitam. Lampu sennya berada
di atas seakan memelototiku.
‘Aku
tahu, kau baru pertama kali melihat mobil seperti itu. Tapi tolong, tutup
mulutmu,’
Mukaku
menghangat segera, aliran darahku mengalir cepat ke muka ku. Segera aku menutup
mulutku yang menganga. Tampaknya mukaku sedikit memerah. ‘Aku.. itu tidak… mobil
itu keliatan antik’
Sial!
Aku mendumel kesal dalam hati. Tentu saja aku selalu melihat mobil-mobil setiap
hari, mobil-mobil Toyota, Honda, atau mobil apapun yang tentunya jauh lebih
canggih daripada mobil tua sialan itu. Mobil tua seperti itu seharusnya dimuseumkan,
bunyinya saja honk-honk bukan tin tin! Mataku terus saja mengikuti mobil itu,
selain menarik, penumpangnya juga menarik! Penumpangnya juga orang asing!
Sekelompok orang asing berpakaian putih-putih dengan topi putih bundar di
atasnya. Mereka bertiga. Mereka pria, dan mereka tampan. Wohoo… Luna pasti
histeris melihat ini, kami berdua selalu mimpi untuk menikah dengan pria bule
suatu saat nanti. Tapi sudahlah, Luna kan sudah punya Dewa, cibirku dalam hati.
Seorang
pria asing yang berada di jok belakang tampak berbisik-bisik pada rekannya di
samping. Kemudian rekannya memandang ke arahku, lalu tersenyum seraya
mengangkat topinya sedikit.
Aku
tercekat, segera aku memalingkan mukaku ke arah jalannya sepedaku. Mukaku
menghangat lagi. Bodoh! Kamu ketangkap basah, Tira!
Tidak-tidak,
mungkin saja dia bukan tersenyum ke arahku. Aku melirik sekilas ke belakang. Ia
masih memandang ke arahku, teman-temannya terpingkal-pingkal menertawaiku.
Sepertinya mereka sedang bercanda tentangku. Uh, terima kasih, cowok-cowok masa
lalu, sepertinya kalian memang menyebalkan. Aku berubah pikiran, Dewa, cowok
masa modern itu juga menyebalkan.
‘Eh,
ngomong-ngomong, kamu liat gak pengemudi sama penumpang tadi? Mereka orang
Belanda ya?’ Aku memberanikan diri bertanya. Kami telah meninggalkan jalan
Rembang Setaman, kami belok kiri di perempatan jalan, melaju ke jalan yang ku
tahu sebagai Jalan Kemuning Sumatra. Dia tak menjawab. Sudah kuduga.
‘Oke,
aku anggap iya,’ gumamku gusar. Mataku kembali menyapu jalanan ini, ajaib.
Sungguh ajaib. Aku tak sangka aku bisa menyaksikan pemandangan seperti ini.
Jalanan bersih dari aspal dan mobil atau angkot yang klaksonnya terdengar
bersahut-sahutan, membuat pikiran penat. Ajaib ketika menyaksikan deretan rumah
gaya colonial yang benar-benar difungsikan sebagai rumah tinggal alih-alih
factory outlet atau restoran. Jendela yang tinggi-tinggi dibuka lebar seakan
menyambut udara bersih untuk penghuninya dan semerbak harum bebungaan yang
tumbuh mekar di kebun-kebunnya. Oke, kapan lagi aku melihat kota ini sehijau
dan se-warna-warni ini? Tak pernah selain sekarang. Ajaib, ketika sepertinya
alas kaki menjadi sebuah barang yang berharga. Bisa dihitung dengan jari,
orang-orang yang memakai sepatu. Selebihnya mereka hanya telanjang kaki.
Tampaknya sama sekali tak terganggu dengan kerikil-kerikil di pinggir jalan
yang tak rata. Mereka menggunakan semacam ikat kepala khas sunda, dengan semacam
blazer kain dengan kancing lepas-lepas dipadu dengan celana pendek berwarna
gelap. Gaya berpakaian mereka sungguh tipikal. Wajah mereka terlihat keras dan
kulihat mereka kurus kering. Juga ajaib, ketika jarak social antar manusia
tampak jelas. Dimana para pembesar-pembesarnya tampak tak terganggu dengan
pemandangan miris di sekitarnya. Mereka asyik bercakap-cakap, perut mereka
buncit-buncit dan tampak sangat sehat dan bahagia. Pakaian mereka necis dan
rapi. Para pribumi tampak beda dari para Belandanya. Mereka memakai pakaian
seperti pakaian adat sunda dengan bendo di kepala mereka, sementara para istrinya
memakai kebaya yang pantas.
Sesaat
aku tertegun, ada benang merah yang kutarik dari masa ini. Apa bedanya dengan
Indonesia di masa modern? Para pejabat ataupun orang-orang mampu juga sama-sama
tak terganggu dengan kemiskinan dari masyarakat sekitarnya. Pengemis, anak
jalanan, pemulung tampak menjadi biasa. Tanpa besar terbersit di benak untuk
menolong mereka. Well, yang menjadi pembeda hanyalah pakaian dan gaya bicara.
Selebihnya tidak ada! Sungguh, merupakan penjajahan modern di saat Indonesia
telah merdeka. Kegusaranku tampaknya tidak berlama-lama, pikiranku teralih pada
kecantikan didepan mataku. Sepertinya aku bukan berada di Bandung! Tampaknya
aku sedang berada terperangkap di luar negeri! Taman-taman Maluku yang biasa
kukenal, Nampak cantik tertata. Rerumputannya terpotong rapi dan terbentuk
indah. Kursi-kursi besi dengan ditemani lampu hias tinggi membuatku serasa
berada di luar negeri. Belum lagi air mancur terpancar ke atas dengan indah,
butiran-butiran airnya tampak membentuk pelangi di sore hari. Ya, tak salah
lagi, sepertinya itu air mancur kotor yang rusak yang biasanya kulihat di taman
ini kalau mengantar nenek jalan sore.
Dua
Seberkas
sinar masuk melalui celah-celah horizontal di pintu merefleksikan keadaan
ruangan, kecil, pengap dan menyeramkan. Perlahan aku terbangun dengan pening di
kepalaku, kelopak mataku sepertinya sulit terbuka, namun aku harus bangun. Sampai
kapan aku akan tertidur?
Rok yang kupakai menyulitkanku untuk
menaiki tangga kecil di depanku, selalu aku terinjak rokku sendiri. Sudah
kubilang kan, rok rimpel panjang ini menggangguku bergerak, aku lebih memilih
memakai rok lurus standar saja, tapi mama tak mau dengar. Sudahlah, yang jelas
telah berapa lama aku terbaring seperti ini? 1 jam, 2 jam, atau lebih? Tidak!
Pasti hari sudah gelap sekarang.
Tapi tunggu dulu, yang kulihat tadi
adalah seberkas sinar kan? Aku memotong-motong sinar tersebut dengan tanganku.
Tidak tembus, sinar tersebut tertahan di telapak tanganku. Memang sebuah sinar,
Ya Allah, apa aku berada di surga sekarang? Aku mendorong pintu kecil itu
perlahan, cahaya mulai membanjiri mataku sekarang. Aku menyipitkan mata, sinar
ini terlalu terang. Allah, jika kau telah mengambil nyawaku maka kumohon dengan
sangat, tempatkan aku di surga.
Sayup-sayup kudengar suara dari tiap
kelas di lantai. Aku membuka mataku perlahan, tapi aneh, cahaya yang tadi
membanjiri penglihatanku tampak menyurut. Kini, tampak koridor sekolahku yang
tampak dingin dan sedikit gelap. Hanya sinar-sinar matahari dari kaca di atas
koridor yang memberikan sinar lembutnya yang berwarna warni. Aku sangat hapal
sinar ini, sial, aku memaki dalam hati, sudah pagi! Tampaknya aku pingsan
disini seharian. Kepalaku masih berdenyut-denyut, aku bersandar pada tembok
yang dingin di koridor. Tampaknya pikiranku belum fokus, aku merasa ada yang
berbeda dengan koridor ini, tapi entahlah aku tak tahu.
Ada bunyi seperti dentangan jam dari
aula. Oh ya pukul berpa sekarang? Aku berjalan tertatih-tatihseperti orang yang
limbung. Jam tersebut berada di sebelah kanan aula. Sejak kapan sekolah
menempatkan jam itu? Aku tak tahu, yang jelas apa yang ditunjukkan jam tersebut
membuatku ketakutan setengah mati.
Pukul 8. Tidak! Kuis matematika!
Tidak, tidak. Aku tak akan masuk,
lebih baik aku tak sekolah, aku belum siap bertemu Luna dan Dewa, aku tak ingin
bicara dengan Luna atau Dewa. Pertama karena aku benci, kecewa, dan merasa
tertipu oleh Luna, dan kedua karena aku merasa malu pada Dewa. Dia tahu
perasaanku dan secara tak langsung dia menolakku.
Aku baru sadar. Aku tak bisa keluar
dari sini. Aku bisa saja berjalan keluar aula ini, tepat langsung menuju
gerbang utama, tapi aku tak akan bisa lolos dari cengkraman satpam penjaga di
sana. Aturannya sudah jelas. Kami tidak boleh masuk lewat gerbang depan kecuali
jam sekolah normal memang usai, gantinya, kami harus masuk lewat gerbang
samping. Gerbang samping pun tidak mudah dilewati, kau tau, berderet guru piket
telah duduk rapi di ruang piket untuk memantau adakah siswa yang terlambat atau
keluar untuk sekadar jajan selama pelajaran berlangsung. Kau tak kan lolos.
Aku hanya membayangkan, aku datang
ke ruang piket kemudian minta surat izin sakit, kemudian guru piket bertanya
sakit apa yang kuderita. Aku harus jawab apa? Demam? Badanku tidak panas.
Meriang? Ah, kan tidak perlu sampai pulang segala. Menstruasi? Tidak alasan
itu. Aku sudah tercatat 1 minggu yang lalu pulang dengan alasan sakit
menstruasi, Luna yang mengantarku ke ruang piket. Ah Luna... Entahlah sepertnya
persahabatan kami selama 2 tahun tidak ada artinya lagi karena
pengkhianatannya. Andai saja aku bisa bilang pada guru piket, tentunya apabila
mereka mempercayaiku, kalau saat ini hatiku yang sakit,parah malah, mungkin
perlu dirumahsakitkan.
Better late than never, Tira. Aku
menghela nafas, lalu mengambil langkah seribu menaiki anak-anak tangga dengan
rokku yang terasa berat. Kemudian menyebrangi aula dan berlari menuju kelasku.
Adrenalinku mulai terpacu, pun nafasku terengah-engah dan sepertinya tumpukan
asam laktat sudah menggelayuti betisku. Aku bahkan tak punya waktu untuk
bercermin melihat seperti apa tampangku selepas bangun tidur atau mataku yang
sembab. Juga belum memikirkan bagaimana apabila aku bertemu Luna nanti. Yang
aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya aku masuk kelas dan mengikuti
kuis matematika tanpa kena omelan.
Aku meraih gagang pintu kelasku.
Catnya tampak sedikit berbeda. Gagang pintunya terasa lebih berat. Aku
mendorong pintuya lalu aku masuk dengan muka tertunduk dalam-dalam.
“Bapak. maafkan saya. Saya tidak
bermaksud untuk terlambat Pak, sebelum berangkat saya sakit Pak, tapi demi kuis
ini saya benar-benar usahakan untuk datang meskipun ibu saya melarang. Sekali
lagi mohon maaf, mohon izinkan saya untuk mengikuti kuis ini, Pak,’ Aku
memejamkan mata dan mengutuk diri sendiri atas kebohongan yang aku buat. Orang
sakit macam apa yang terengah-engah masuk ke kelas dan terlihat seperti habis
berlari? Orang sakit macam apa yang tidak memiliki surat sakit dan terlambat
dari bagian piket?
Aku masih memejamkan mata, menanti
dalam hening sesaat yang menegangkan. sedetik
kemudian tawa pecah di ruang kelas ini. Pada awalnya aku berpikir pasti mereka
menertawakanku karena Pak Agus-Guru matematikaku- bersiap menyentil terlingaku
atau apapun yang membuatku terlihat konyol di depan teman-temanku. Tapi tidak
ada yang menyentuh telingaku atau memberikanku hukuman. Sewaktu aku membuka
mataku aku terperanjat kaget alih-alih merasa malu ditertawakan.
Mereka bukan teman-temanku.
Aku mengerjapkan mata, lalu
membeliak.
Oh! Tidak, sepertinya aku masuk
kelas yang salah!
‘Maaf, sepertinya,.. aku salah...’
kata-kataku terpotong. Aku menolehkan mukaku ke belakang. Sesosok pria
berperawakan tinggi besar berdiri di daun pintu. Kumisnya melengkung sempurna
membingkai bibirnya yang jika tersenyum mewakili sosok pria kejam yang
seringkali kutemukan di film thiller. Sorot matanya kejam dan ... entahlah
licik? Tapi sepertinya itu tidak penting, yang lebih menggangguku adalah mengapa
ada pria asing dan murid asing di sekolahku? terlebih lagi di kelasku? Apa
sekolahku mengadakan seminar internasional? Kenapa harus di sekolah, kenapa
tidak di hotel?
‘ Why
are you still standing here? The school is about to start,’ katanya
memandangku tajam. Tawa-tawa yang tadi terdengar mendadak berhenti. Sepertinya
seisi kelas memperhatikan kami. Dia mendekatiku, mengangkat wajahnya sedikit
dengan angkuh. ‘Ah... you must be that new
student. Go get your seat,’
Aku berdiri mematung. Dia tampaknya
menyuruhku sesuatu, tapi aku tak mengerti. Sepertinya dia berbicara bahasa
Jerman atau Perancis? Tidak... tidak... dia tidak menggunakan suara tenggorokan
ataupun suara hidung seperti yang orang Jerman atau Perancis gunakan ketika
mereka bicara.
‘Why are you standing still, dont
you hear what I ve just said? I guess, your ears are in good function. Unless,
you dont belong here,’ Dia melewatiku begitu saja.
‘Sorry, sir. I honestly dont have
any ide what you ve just said. I just speak Indonesian and English a bit,’
akhirnya aku memberanikan diri berkata.
Dia berbalik menatapku, ‘Take your
seat’
‘Thank you, Sir,’ kataku ragu-ragu
bercampur kesal dan bingung. Bagaimana dengan kuis matematikaku? Siapa sih dia
hingga berani-beraninya memarahiku seperti itu?
Aka mendudukkan diri di kursi kosong
di belakang dengan dongkol. Belum lagi bule-bule dan pribumi ini masih menatapku aneh.
Tapi tunggu dulu, ada yang aneh. Mereka sepertinya sedang ikut pesta kostum,
karnaval, atau peringatan 17 Agustus? Wanitanya memakai dress selutut dengan
bagian bawah melebar dan kerah rimpel berwarna putih pucat. Rambut mereka kebanyakan dikepang menggunakan pita dengan
warna senada. Prianya mengenakan semacam pakaian tradisional jawa, hanya saja
mereka tidak memakai bendo atau penutup kepala khas. Alih-alih,
mereka menyisir rambut belah pinggir mereka dengan rapi, kelewat rapi malah.
Hah!
Kelas ini memang kelas yang salah! Lihat saja bajunya berbeda dengan bajuku,
bajuku. Oh tidak. Aku terperangah sesaat. Terusan berwarna putih selutut dengan
sedikit renda kecil dari bagian leher menuju dada, jelas bukan bajuku.
Aku
tak punya waktu berdebat dengan diriku sendiri, sepertinya belasan pasang mata
sedang menuju… ke arahku. Aku mendongak mencari tahu apa yang terjadi.
‘Nenden
Kinanti Kusumadewi,’ pria gendut tadi menyebut sebuah nama sambil menatap lurus
padaku. Aku balik menatapnya, ingin tahu.
‘Kau
sebaiknya belajar sopan santun, young lady,’
Tak
ada respon. Aku membeliakkan mataku. Dia mengulangi perkataannya dalam bahasa
Inggris. Aku tak mengerti, kali ini aku bertanya-tanya apa salahku?
‘Kau
perlu mengatakan ‘I am here’ ketika aku memanggil namamu, Kinanti,’ Kumis nya
berkedut-kedut kesal.
Mereka
jelas sangat salah. Mereka mengira
aku Nene, eh apa tadi, Dendeng Kenari Kusumadewi?
‘Maaf,
tapi apakah ini kelas matematika? Saya harus mengikuti kuis matematika.
Sepertinya saya salah masuk kelas,’
‘Apa,
kuis? Sepertinya kau salah mengira, young lady. Tempat ini adalah tempat
belajar, bukan tempat untuk mendapatkan hadiah. Dan kau tak salah kelas, young
lady, kau terdaftar mengikuti kelasku,’ katanya datar, wajahnya mengeras.
Aku
ingin membantah, kemudian aku menangkap pandangan pria yang duduk di satu
bangku. Dia sedikit menggelengkan kepalanya. Aku segera mengurungkan niat, dan
tentu saja, meminta penjelasan dari nya nanti.
Pelajaran
ini sama sekali tak kumengerti, semuanya serba bahasa asing. Oh, aku sungguh
berharap guru piket akan membunyikan bel segera, menghentikan kelas yang gila
ini.
‘Jika
aku jadi kau, young lady, aku akan memperhatikan pelajaranku. Karena, aku akan
diberikan pertanyaan mengenai pelajaran yang diberikan,’
Pena
yang tengah kupegang tergelincir dari tanganku seketika sehingga bunga-bunga
yang sedang kubuat di kertas diwarnai dengan coretan tinta panjang. Apakah pria
gendut ini berbicara padaku?
‘Yes,
sir?’ Aku tahu, dia berbicara padaku. Dia berbicara bahasa Inggris. Aku
mengurungkan niat untuk bertanya ‘Apakah kau berbicara padaku, Sir,’.
Peranakan
belanda cantik di bangku depan, memanjangkan lehernya untuk melihatku.
Sepertinya dia tertarik menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sepertinya
bukan hanya dia saja yang seperti itu.
‘Menurutmu,
apakah yang VOC butuhkan untuk bertahan di Indonesia?’
Dia menaikkan alisnya, menunggu jawabanku.
‘Tak
perlu repot-repot, saya rasa. VOC pada akhirnya toh harus bangkrut dan
meninggalkan Indonesia,’ jawabku enteng.
Oke,
sepertinya kata-kataku bukan jawaban yang diharapkan. Mata pria gendut di
depanku membulat memerah. Urat-urat di mukanya terlihat jelas seperti cacing
biru. Sedangkan, yang lainnya syok mendengar jawabanku, seperti habis melihat
hantu. Apa yang salah dengan jawabanku? Jawabanku benar kan, VOC memang
meninggalkan Indonesia kecuali kalau mereka orang belanda. Tapi tidak, orang
belanda jaman sekarang mereka mengakui kok kalau mereka memang salah menjajah
Indonesia. Kecuali, orang belanda zaman dulu, well, mereka tampak tidak seperti
seusia nenekku. Tunggu dulu, tapi hal ini memang tak mungkin sih, aku tak
mungkin berada di jaman mereka kan?
Aku
menutup mulutku dengan kaget, tubuhku terenyak ke belakang bangku. Apa aku
benar-benar ada di zaman mereka? Itulah mengapa aku dan mereka tampak aneh?’
Pria
gendut itu segera menghampiriku. Kumisnya bergerak-gerak. ‘Kau membuat lelucon.
Jangan-jangan kau berpikir kalau akhirnya Belanda bias dikalahkan oleh
inlander-inlander itu. Betul begitu? Kau benar-benar membuatku ingin terbahak,
young lady,’
Tapi
dia tak bermaksud untuk terbahak, dia menunggu responku.
Dia
masih menatapku. Dia masih menginginkan responku.
Aku
hendak membuka mulut, ketika pria yang ‘membungkamku’ tadi mengangkat
tangannya.
‘Pak,
saya rasa tak ada gunanya mendengarkan celotehan orang bodoh. Mungkin murid
baru ini perlu adaptasi dengan pelajaran kota. Pelajaran di kampong tampaknya
tak memberinya cukup pendidikan dan sikap sopan,’ suara beratnya menggema di
kelas yang beratap tinggi ini. Tampaknya dia orang yang cerdas, terbukti
perkataannya berhasil membuat pria gendut ini berpikir dua kali.
‘Kau benar.
Semoga Tuhan memberiku kesabaran hari ini, benar-benar aku belum pernah melihat
murid seperti ini,’ Dia berbalik sambil mendengus dan melanjutkan pelajaran.
Aku
mengucapkan kata-kata terimakasih diam-diam. Aku bersumpah, aku melihatnya
mendengus padaku, lalu membalikkan badannya, kembali memperhatikan pria gendut
tadi.
Lonceng
berdentang nyaring terpukul. Kapan pun, dimana pun, lonceng memang pertanda kebahagian
bagi para siswa yang ingin segera kabur dari kelas dan kelihatannya bukan aku
saja. Hampir semuanya memasukkan bukunya ke dalam tas dengan semangat, kecuali
beberapa orang termasuk si wanita peranakan itu.
Tergesa-gesa
aku menghampiri beberapa bangku didepan. Tujuanku sudah jelas. ‘Permisi, bisa
bicara sebentar?’
Yang
kuajak bicara melemparkan pandangan ke wanita peranakan tadi. Jelas, dia sangat
keberatan. Juga beberapa orang lain tampaknya memandangku sangat aneh.
Keningnya
sedikit mengerut. ‘Bicara apa? Aku tak ada waktu,’
Aku
mengerling sedikit pada gadis tadi, senyum kemenangan pada wajahnya tampak
jelas, meski dia sedang tertunduk merapikan buku dalam tas nya, pura-pura.
Aku
memutar mataku kesal. Hey, aku tak mencoba mendekatinya! ‘Aku ingin diskusi
dengan kamu, ini tentang hidup dan mati aku,’ sengaja kutambahkan kata-kata
terakhir itu agar terkesan dramatis. Sepertinya berhasil, dia memandangku
dengan gusar. ‘Nampaknya, hidupmu baik-baik saja, terlampau baik sepertinya,’
‘Nah,
berarti kamu kenal aku kan? Baguslah!’ kataku setengah berteriak kegirangan.
Hening sesaat. Si gadis itu terang-terangan memelototkan matanya padaku.
‘Sepertinya
kau salah tangkap,’ Dia bergegas menuju pintu keluar, diikuti si gadis tadi.
Aku
tahu aku salah bicara. ‘Maksudku bukan gitu,’ ralatku. ‘Aku sungguh ingin
berdiskusi denganmu karena ini sangat penting bagiku, please… aku tahu lagi
harus minta tolong pada siapa. Aku janji, aku tak akan pernah ganggu kamu lagi.
Please…,’
Suaraku
terdengar sangat mengiba. Jika ini keadaan normal, pasti aku akan bersumpah
serapah atas sikap suaraku ini. Dia menghentikan langkahnya, berbalik
menatapku.
‘Hanya
kali ini,’ tegasnya pendek. ‘Kau pulang saja dahulu,’ dia menatap lunak gadis
disampingnya. Si gadis tampak keberatan, tapi ia tak punya pilihan lain.
Menatapku gusar, lalu langsung pergi.
***
‘Apa
yang ingin kau diskusikan?’ tiba-tiba dia berhenti di bawah pohon rimbun yang
agak tersembunyi di belakang sekolah. Tempatnya sepi.
‘Mm…’
aku ragu-ragu dan takut. ‘Kamu tahu siapa nama yang dipanggil pria tadi
menyuruh aku bersopan santun?’
Dia
mendengus. ‘Omong kosong apa ini, apa yang kau bicarakan? Tentu saja kau tau
nama tadi!’ Dia segera menarik ujung tasnya, berencana untuk pergi.
‘Tolong
jangan pergi, kamu sudah janji mau menolongku. Aku benar-benar tidak tahu,’
Dia
menatapku geram, ‘Aku tak ada waktu untuk mendengar bualanmu, Kinanti,’
‘Kamu
juga memanggilku Kinanti!’ Aku setengah berteriak. ‘Jadi maksudmu aku Kinanti?
Kamu bilang aku membual? Kamu yang membual. Jelas-jelas aku Tirani, Tirani
Aluna Ananta! Bukan Kirani!’
Senyum
tersungging di rahang perseginya, kemudian bibirnya terkatup rapat.
‘Tolong
percaya aku,’ pintaku. ‘Dan jangan berpikir aku gila,’ manakala dia perlahan
mengacuhkan ku. ‘Dengarkan, aku… aku bahkan tidak tahu siapa Kinanti Kusumadewi
itu, dan ini sekolahku, tapi bukan sekolah
yang kukenal,’
Dia
mengernyitkan kening, rahangnya masih terkatup rapat.
Aku
mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman sekolah. Aku berjalan perlahan
menembus semilir angin yang menggoyang-goyangkan serumpun bougenville. Aku
menolehkan kepalaku, dia masih berdiri di belakang, menatapku tajam seakan
menunggu hal aneh apa yang akan kulakukan.
‘Aku
tak yakin kamu akan percaya apa yang aku ceritakan, tapi sungguh, aku mengenal
bangunan ini. Sungguh mengaguminya, bahkan aku memutuskan untuk sekolah di sini
karena bangunannya.’
Wajahnya
tak tertebak, tanpa ekspresi.
‘Tapi
sekarang, semua sangat berbeda. Bangunan ini terasa asing buatku. Seolah aku
tak pernah mengenalnya. Sudah berapa lama aku pingsan,’ aku bergumam sendiri. ‘Kapan
mereka merobohkan bangunan ini? Kenapa mereka menggantinya dengan taman?’
‘Tak
pernah pernah ada bangunan apapun sebelumnya, taman ini dibangun dua tahun
lalu,’
Perasaanku
tak enak, aku kah yang pingsan terlalu lama ataukah aku…
‘Ada
pohon tua sangat besar didepan gedung ini kan?’ tanyaku sambil menghampirinya
cepat-cepat.
Dia
menjawab gusar, ‘Pohon itu setinggi 3 meter, tapi dia tidak tua. Dia ditanam
sewaktu sekolah ini dibangun,’
‘Tidak,
tidak. Pohon itu sudah tua dan akarnya besar-besar, daunnya rindang sekali dan
batangnya tebal.’
Dia
mengernyitkan dahinya.
‘Pohon
itu seperti trademark buat sekolah ini, dia ditanam bersamaan dengan dibangunnya
sekolah ini,’
‘Memang,
tapi pohon itu tidak sebesar itu,’ jawab dia ketus.
‘Berarti
kamu salah lihat, pohon itu memang tua, tidak mungkin masih muda karena kan dia
ditanam 1901, sekitar 112 tahun lalu’
Dahinya
semakin berkerut, matanya meyipit tajam dan menatapku. ‘Memang tahun 1901,’
Aku mendesah lega, berarti aku tidak
terjebak disini.
‘Tapi itu bukan 112 tahun yang lalu,
tapi 10 tahun yang lalu,’ katanya ketus.
Subscribe to:
Posts (Atom)