Saturday, 29 December 2012

one day without....
It never feels the same

24 hours without....
there is something wrong
feel lost. empty.

Does somebody out there feel the same?

Thursday, 8 November 2012

Memoir Bunga Kertas


Memoir Bunga Kertas


Hembusan angin yang lembut membelai anak-anak rambutku yang sedikit menyembul dari balik jilbabku. Segera saja jemari-jemariku sibuk merapikan anak-anak rambutku. Aku tersenyum menatapnya, Ibu baru belajar Nak, batinku. Dia pasti mengerti betapa sulitnya hal ini bagiku, tentu saja, dia selalu mengerti. ‘Ibu sayang kamu Nak’, kali ini aku sedikit berbisik padanya. ‘9 tahun yang lalu, Sayang, Ibu mengandungmu. Dulu kamu masih nakal, selalu menendang-nendang perut Ibu. Seringkali Ibu tak masuk kuliah gara-gara kesakitan atau gara-gara ibu mual-mual tak mau makan. Tapi kamu tahu, Sayang? Karena ibu mengandungmu, ayah dan ibu selalu mendapat keringanan dari dosen kami,’ Aku menghela nafas dalam-dalam, nafasku sedikit berat, serasa ada suatu bongkahan besi yang memaksa otot-otot rangkaku berdiam di tempatnya. Aku membelai lembut dirinya. ‘Sayang, ayah pasti marah pada ibu. Walaupun kamu berkata ini bukan salah ibu, tapi ini memang salah ibu. Maafkan ibu ya, nak... Maaf,’ Sebulir air mata, disusul oleh berbulir-bulir air mata yang perlahan menjelma menjadi aliran yang menghangat membasahi pipiku. Semilir angin mulai menerbangkan bunga-bunga kertas di sekitar kami, aku menengadah. Bunga-bunga kertas ini...
***
Hyde Park, Western Australia, Australia.
            Bunga-bunga kertas di Victoria Pr beterbangan, kuntum-kuntumnya hinggap di pundak dan kepalaku. Aku tak mengusiknya. Aku biarkan dia sesukanya memenuhi kursiku di Hyde Park. Senyumku dikulum. Kubolak-balik benda yang kupegang ditanganku. Benar, pikirku. Tak ada yang salah. Aku tersenyum, kemudian sedikit tergelak. Bule-bule yang lalu lalang didepanku tampak memperhatikanku, kadang dengan bodohnya kulempar senyumku pada mereka yang aku tahu tak akan peduli pada suasana hatiku. Mungkin mereka menatapku gila. Biarlah... Aku mengabadikan setiap sudut Victoria Park dengan mataku. Aliran sungai yang mengalir dibawahku mengalir tenang, berpendar-pendar memantulkan sinar sang mentari. Lampu-lampu tinggi yang bertahta diatas tiang yang berjejer sepanjang jalan setapak ini mengingatkanku pada jalanan di Eropa. Bunga-bunga kertas ditanami di belakang kursiku memamerkan kuntum-kuntumnya, dan diterbangkan oleh angin yang membawanya jatuh ke aliran air. Bukan aku saja yang yang menghabiskan sore itu di Victoria Park, sepasang manula tampak berjalan bersisian dengan romantis, muda-mudi Australia tampak menghabiskan waktu dengan buku-buku di rerumputan disisi sungai, dan seorang ayah yang menemani gadis kecilnya yang balita memberi makan burung-burung ditemani sang ibu yang sibuk memotretnya, keluarga muda.... Aku kembali mengulum senyum.
            ‘Kinanti,’ seru sebuah suara dari arah berlawanan. Itu dia, pria yang kucintai sedang setengah berlari kearah ku. ‘Ada apa? Bukannya kamu seharusnya mendiskusikan thesis mu dengan Prof. Brown?’ Dia sedikit terengah, lalu alisnya mengerut manakala mendapatiku sedang duduk-duduk santai.
            ‘Prof. Brown yang menyuruhku pulang.’ Sudah kuduga,dia menatapku tak percaya. ‘Dia khawatir akan kesehatanku. Kamu tahu kan akhir-akhir ini aku sering mual, muntah, dan sering pusing.’
            ‘Kamu tak apa-apa kan, Kinan?’ Segera tangannya menggapai keningku. Dilabuhkan telapak tangannya,mengukur suhu tubuhku. ‘Tapi, tampaknya kamu sehat,’ Aku tersenyum memandangnya. Pria yang kunikahi 2 tahun silam itu berbalik memandangku tak mengerti. ‘Bukalah,’ kusodorkan bungkusan yang tadi kugenggam erat-erat. Dia membukanya, tampak kemasan kumal yang telah terbasahi keringatku sedari tadi.
            Matanya membulat tak percaya. ‘Sayang, ini...?’
            ‘Bukalah,’ kutatap dia dengan lembut. Tangannya gemetar membuka penutup bungkusan itu. Sejurus kemudian, dia menghambur memelukku.
            ‘Alhamdulillah! Alhamdulillah! Terima kasih ya Allah, terima kasih,’ pekiknya dalam pelukanku. Dia mengecup keningku. Lalu dia sujud seketika di jalan setapak. ‘Terimakasih ya Allah,’ bisiknya lirih. Dia mengusap-usap perutku. ‘Sayang, kamu harus tahan ya nak, bersempit-sempit di dalam sana. Tolong besarlah di sana, sampai Allah mengizinkan kami untuk menjemputmu”.
***
            Royal Perth Hospital
            01.15 PM
Bulir-bulir keringat membasahi keningku. Perutku sepertinya sudah tak bisa menjadi rumah yang luas bagi kandunganku yang selama berbulan-bulan berada di dalamnya. Rasanya mulas, sakit, seperti di peras... Oh tidak, bukankah dokter berkata bahwa ia akan datang 1 bulan lagi? Aku tak bisa berpikir jauh lagi, aku mendengar Putra berseru pada supir taksi yang tadinya akan membawa kami ke University of Western Australia, ‘Please, drive the taxi to Royal Perth Hospital! Faster please! My wife is going to give birth!’
Aku bermaksud menyerahkan revisi paperku pada Prof. Brown, walaupun Putra dan Prof. Brown bersikeras aku harus fokus pada persalinanku. ‘Dont force your self, take your time, just relax. Focus on your baby birth,’ kata Prof. Brown kala aku menyerahkan revisi sebelumnya. ‘It’s almost done, Prof. I think I could proceed it before giving birth,’ Namun aku keukeuh, revisi ini harus selesai, agar aku fokus merawat bayiku tercinta. Aku tak mau pekerjaanku yang malah merebut cintaku untuk anakku kelak.
01.40 PM
Strechter itu terasa mulus menggelinding di lantai. Perlahan, bukan jabang bayiku saja yang mulai tak sabar keluar, tapi jantungku mulai berdegup. Seprai yang kurengut untuk menahan sakitku, mulai basah, telapak tanganku berkeringat. Aku gugup. ‘Berdzikirlah Kinan, engkau mempunyai Allah yang Mahakuasa, serahkan semua pada-Nya,’ bisik Putra sesaat sebelum aku masuk ke ruang operasi. Aku menutup mataku, berikanlah ia kemudahan, Ya Rabb, untuk menapak di dunia ini, meskipun harus kuikhlaskan nyawaku pergi seiring dengan kehadirannya. Kuelus perutku yang nampak seperti gunung, Sayang, perjuangkan hidupmu nak, disini ibu akan memperjuangkan juga hidupmu, dan berjanjilah... jikalau ibu dipanggil oleh-Nya, tumbuhlah dirimu menjadi wanita sholehah... Dia terdiam. Aku bisa merasakannya. Aku tahu dia mengerti.
16.00 PM
Tubuhku serasa tergilas oleh truk, dengan rasa sakit teramat di perutku seakan-akan ada yang merobek paksa. Napasku memburu, terlepas satu satu seiring dengan teriakan suster yang menyuruhku ‘Push... Push harder! You can do it!’
I am.... Pushing!! Dont you know it hurts?!!’ Aku membentak membabi buta orang-orang di sekitarku. Putra terus memegangku, menguatkanku, ‘Kontrol emosimu, Sayang. Dzikir. Ingat! Kamu berjuang untuk menjemput titipan Allah, jaga amanah Allah, Sayang, jangan berhenti berjuang. Keep on pushing!’
Aku memandang Putra, perlahan ototku merengang. ‘Maam, it almost come out, you have to keep on pushing!’ seru susternya, aku menatapnya, ada perasaan khawatir di matanya. ‘I wont give up. Hang a second,’ aku menarik nafas panjang... Ini titipan-Mu ya Rabb, izinkan aku menjemput amanah-Mu, izinkan aku...‘Bismillah!!!’ Teriakku disambut erangan terpanjangku, dan dorongan terkuat yang kumampu dari sisa-sisa tenaga yang pupus. Teriakan itu merupakan siraman kesejukan pada dahaga terdahsyat, kesembuhan pada setiap luka-luka di setiap inci rahimku. Dia telah lahir. Sayup-sayup kudengar lantunan adzan terindah yang pernah kudengar, bercampur dengan haru, sedu sedan seorang ayah.
***
Hyde Park, Western Australia, Australia
Siti Azalea Zahra. Dia terus saja terkulai dipangkuanku. Tertidur. Tampaknya lelah setelah seharian bermain ditempat permainan anak. ‘Sayang, lihat daun Maple nya sudah menguning, tampak berkilau lho. Ayo bangun, ibu ingin kamu melihat sendiri kecantikan sore ini’ aku mengelus pipi Lea dengan lembut. Sulit akhir-akhir ini meluangkan waktu untuk Lea, aku harus membantu Putra menyelesaikan disertasinya. Tentu saja, aku hanya memvolunteerkan diri dalam mengetik laporan. Agaknya Putra sedikit kecapean bekerja di depan komputer, dia seringkali pusing, dan sulit berkonsentrasi, belum lagi dia cepat pusing apabila melihat cahaya. ‘Ayo Sayang, bebek-bebek itu tak akan terlihat lagi nanti winter,’ Lea tetap tak bergeming. Aku duduk di tempat yang sama lima tahun lalu, Hyde Park... kini garis di test pack menjadi nyata: seorang gadis cilik berada di pangkuanku sekarang. Aku tersenyum, bernostalgia, sebelum meninggalkan australia 2 bulan lagi.
***
Jakarta, Indonesia.
Wangi tanah belum tercium sempurna, rupanya hujan itu belum seluruhnya membasahi tanah. Aku menatapnya nanar, hujan seakan menghapus sejenak kepingan-kepingan yang terjadi dalam fase kehidupanku. Azalea terkulai di pangkuanku. Aku dinyatakan positif mengandung anak kedua genap 2 bulan sebelum Putra meninggal dunia. Siluet-siluet kehidupanku selama hampir 8 tahun bersama Putra berseliweran dipikiranku. Bagaimana mungkin aku luput menyadarinya? Putra yang tak pernah mengeluh jika sakit sedikit, tampak sangat pusing ketika melihat cahaya yang benderang, walaupun itu flash, dia mulai sulit berkonsentrasi, dia sering membaringkan dirinya karena nyeri hebat dikepalanya, mengapa aku tak sadar? Mengapa tak menyuruhnya ke dokter? Dia meningitis, Kinanti. Meningitis. Istri macam apa diriku yang tak menyadari itu?
            Putra segera mengabdikan diri sebagai staf peneliti nasional di bidang teknik segera sekembalinya kami dari Australia. Dia berhasil lulus Ph.D dengan predikat cum laude. Namun, nyeri kepala yang dikeluhkan Putra sejak 8 bulan lalu nampak semakin menyiksanya. Dia kerap berteriak kesakitan, kadang dia terlihat seperti ling lung, tak nafsu makan, dan kerap muntah. Betapa kagetnya, ketika hasil diagnosis dan lab menyatakan Putra mengidap radang selaput otak atau meningitis parah. Tiga minggu kemudian, Putra mengalami brain damage karena infeksi telah mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah di otakknya. Meskipun jantungnya berdetak, kata dokter, namun Putra dinyatakan meninggal secara medis karena otaknya sudah tak berfungsi lagi. Tubuh Putra pun akhirnya berjumpa lagi dengan tanah. Tubuhku lunglai seketika manakala terlihat oleku tubuh suamiku yang terbalut kafan putih disokong dan diturunkan, lalu tanah merah merangkulnya... seperti sahabat lama yang tak terpisahkan. Indonesia, negara yang seyogyanya menjadi tempat mimpi-mimpi indah kami rangkaikan, menjadi negara yang secepat itu pula memisahkan Putra dari keluarga kecil kami.
***
            Kubaringkan tubuh remuk ini di sofa sejenak. Jakarta dan macetnya membuat sisa staminaku menurun sampai titik kritis. Kemudian, aku ambil beberapa buku catatan dari dalam tas princess pink milik Lea seperti yang biasanya kulakukan tiap malam. Sejenak mataku terbelalak. Apa-apaan ini?
            ‘Lea, kamu dapat nilai 6 lagi? Kenapa sih? Kamu ga belajar?’ Kutatap lurus-lurus bola mata Lea. Dia memalingkan pandangan ke lantai. Aku tahu dia takut padaku. ‘Habis Lea ga ngerti, Bu,’ katanya pelan sambil memandangku takut-takut. Dia tahu itu bukan jawaban yang kusukai. Aku memutar bola mataku. ‘Lea, tau kan ibu paling ga suka orang yang malas berusaha, males belajar. Lea sebenernya belajar ga sih? Ibu lihat tiap pulang kerja, Lea selalu main dengan Maira. Ga pernah kelihatan belajar,’
Wajahnya terangkat padaku, ragu-ragu dia berkata. ‘Lea capek bu, lemes...’
‘Ibu bilang juga apa. Ibu kan udah beli vitamin buat kamu. Di minum dong le, biar belajarnya semangat, ga gampang capek. Lea, ibu kerja capek-capek ini untuk Lea sama Maira. Kalau kamu belajarnya begini, minum vitamin ga pernah, buat apa coba ibu kerja? Lea mau pinter kan kayak ayah, lea pengen kan bikin ayah bahagia? Ayah pasti sedih kalau anaknya males kayak gini dan ga berprestasi disekolah’ Kalau sudah begini, Lea hanya membatu dan ujung ujungnya Lea kuhukum belajar di kamarnya.
***
Akhir-akhir tingkah Lea seakan menguji kesabaranku. Lea memang bukan tipe pembangkang, sebaliknya dia sangat penurut. Namun ada saja tingkahnya yang nyeleneh dan membuatku jengkel atau kesal.
Baru tadi malam, aku mendapati kening Maira benjol dan kebiruan gara-gara terpeleset ketika Lea mengajaknya bermain di kolam ikan di depan rumah kami. ‘Ibu sudah bilang kan, jagain Maira. Jangan di ajak main macem-macem. Begini ni jadinya,’ kataku setengah kesal memandangnya. Lea hanya berdiri disudut, memandangku membalur kening Maira dengan beras kencur. ‘Lea juga jatoh kok bu, kaki lea sakit...,’ Ia memperlihatkan kaki kanannya ke hadapanku. Tampak memar kebiruan di tempurung kakinya. ‘Ini kan memar yang kemarin kamu tunjukkin, gara-gara nabrak meja kan? Ibu ga mau balur memar Lea, Ibu tahu kamu bohong. Bi Atun, tolong balurkan Lea dengan beraskencur ya?’ Kuserahkan botol param kocok itu pada bi Atun, lalu aku menggendong Maira ke kamarku untuk kutidurkan. Lea hanya mendesah saja, aku tahu dia kecewa karena aku tak mau membalurkan lukanya, biarlah. Biar dia belajar tak ada gunanya menjadi pembohong.
Di hari minggu, Lea sukses memecahkan salah satu lemari hias kacaku. Ia membawa laptopnya ke dalam kamar. Entahlah ada apa dengan cara jalan Lea waktu itu. Namun dia sepertinya menabrak tembok dan kemudian laptopnya terlempar ke salah satu jendela lemari kaca. Jendela dan isi lemari kaca di bagian bawah seketika hancur berantakan. Kejengkelanku memuncak, bukan karena lemari hias kacaku pecah, tapi karena aku khawatir kalau Lea atau Maira yang terkena pecahan kaca itu. ‘Le, bisa ga sih, kamu tuh jalan yang hati-hati sedikit?! Kalau kamu sama adikmu yang kena pecahannya gimana? Selalu deh kamu tuh bikin Ibu jengkel!’ bentakku pada Lea sambil membersihkan pecahan kaca bersama Bi Atun. Seperti biasa, Lea hanya menunduk dan tak berkata apa-apa.
Perkataan-perkataan Lea yang sok dewasa juga seringkali menyulut kekesalanku. Pernah ketika aku sedang letih-letihnya pulang dari bekerja pukul 9 malam, Lea keluar dari kamarnya. ‘Ibu, boleh ga Lea minta sesuatu?’ Tubuh mungilnya melesak dalam sofa krem di ruang tamu. Aku mengaguk sambil memijit-mijit kepalaku yang pening. Lea perlahan berlari meninggalkan sofa dan mengambilkanku air putih. Ia terdiam sesaat. ‘Lea pengen deh ibu pake jilbab kayak ibunya temen-temen Lea yang lain. Kata Bu Guru, kalau wanita udah gede ga pake jilbab itu belum jadi wanita baik. Mmm, terus kalau adzan ibu cepet solat, kata Ibu Guru, kalau ga cepet solat dan kalau wanita dewasa ga pake jilbab, Allah bisa marah, kalau Allah marah, nanti takut masuk neraka,’ paparnya panjang lebar. Seketika aku bangkit dari sofaku. ‘Ibu temen Lea kerja?’ Lea mengaguk. ‘Temen Lea masih ada ayahnya?’ Aku menegakkan dudukku, kutatap bola mata lea langsung. ‘Gini Lea, kalau ibu pakai jilbab, ibu ga boleh kerja. Kalau ibu ga kerja, ibu ga dapet uang untuk beli susu Maira, makan sama sekolah Lea. Ibu ga bisa kayak ibu temen-temen Lea lain, kalau ibu temen kamu ga kerja, temen kamu masih sekolah karena ada ayahnya yang kerja,’ aku menarik nafas sejenak. ‘Untuk solat, kerjaan ibu Le, kamu lihat kan ibu sering pulang malam. Kerjaan ibu itu jauh lebih banyak dari PR kamu, kamu ga usah khawatir.  Yang penting ibu sholat kok, Allah juga pasti ngerti kok.’ Lea menatapku bimbang, ia tampak berpikir sejenak, kemudian berpamitan untuk tidur.
Tak disangkal pertanyaan Lea tadi mengusik pikiranku. Aku tak mengerti, kenapa ia bisa mempertanyakan agamaku? Tahu apa dia? Dia tidak bangga padaku hanya karena aku tidak berkerudung? Pekerjaanku memaksaku untuk tidak berhijab. Dulu sempat Putra memintaku untuk berhijab sekembalinya dari Australia. Tepat 3 minggu setelah Putra meninggal dunia, aku mendapat panggilan kerja. Menjadi Public Relation di sebuah perusahaan Swiss di bidang perbankan. Salah satu syaratnya adalah: tidak berhijab. Inilah yang membuatku gamang pada awalnya, namun akhirnya aku tidak mempunyai pilihan lain. Gaji yang menggiurkan membuatku menerima pekerjaan ini, aku dapat memenuhi kebutuhan Lea yang  waktu itu berusia 5 tahun dan Maira yang masih dalam kandunganku. Maafkan aku Putra, amanahmu belum bisa kupenuhi...
***
            ‘Bu, Lea mau tampil tari Bali di acara kenaikan sekolah,’ Lea menghampiriku yang sedang bermain lego dengan Maira yang kini berusia 4 tahun. ‘Kamu benar mau tampil?’ Aku memegang keningnya. Lea sepertinya tampak makin pucat akhir-akhir ini. Tapi dia tidak panas. ‘Tuh kan, kamu pucat tuh. Vitaminnya pasti ga kamu minum deh. Kalau makan Lea susah kayak sekarang dan vitaminnya ga diminum, Lea tampil narinya di Kartini tahun depan,’
            Ia menggelengkan kepalanya keras-keras. ‘Lea mau makan kok Bu, nanti vitaminnya Lea minum. Lea janji. Lea ga bisa tampil tahun depan, bisanya jumat depan.’
            ‘Bisa, kamu tampil tahun depan kalau janji nya ga ditepatin.’ tukasku. Lea tampaknya sangat ingin tampil pada kenaikan kelas. Ia menepati janjinya, dia berusaha makan walaupun sepertinya dia mau muntah melihat makanannya. ‘Bu,’ panggil Lea, dia menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamarnya. Aku sedang mengetik laporan. ‘Tapi ibu datang kan  ke acara kenaikan sekolah Lea? Nonton Lea tampil kan?’
            ‘Ga bisa Le, Lea tahu kan Ibu senin sampai jumat selalu sibuk. Nanti ibu suruh Bi Atun rekam video Lea pas nari, ibu pasti nonton kok.’ Mataku tak berpaling dari laptop. Lea mendesah panjang, ia tahu aku mustahil aku mengesampingkan pekerjaanku yang menggunung, tak ada gunanya memaksaku untuk datang. Lalu menutup pintu kamarnya. ‘Kalau Lea masuk 3 besar baru Ibu mau datang. Apapun harinya!’
***
            Aku tergopoh-gopoh menyusuri lorong yang familiar. Lorong yang selama 3 minggu sering kulalui empat tahun yang lalu. Dadaku terasa sesak. Kilatan masa lalu terasa datang bertubi-tubi merajam, lebih menyesakkan dan menyakitkan dari yang dulu pernah kurasakan. Aku takut flashback yang pernah kualami menyapaku lebih mengerikan. Telepon yang disambungkan oleh resepsionis kantorku menjadi awal untaian kengerian yang teramat. Bu, Lea, pingsan, ia muntah darah. Begitu kabar yang kudengar dari Bu Ami, gurunya
            Lea terkulai di rumah sakit. Alat bantu pernapasan, infusan, terpasang komplit di badannya. Ia tengah tertidur, ditemani oleh Bu Ria dan Bi Atun. Ada sembilu yang menyayat tepat dihatiku, merobek luka lama yang kukira tak akan pernah kembali. Ia pucat, terlampau pucat. Aku menggigit bibirku, namun perlahan tetesan hangat itu jatuh juga. Bu Ami menangkap kehadiranku ‘Bu, teman Lea menemukannya jatuh pingsan disamping wastafel, dan... ya wastafel itu dipenuhi darah. Tampaknya Lea baru saja muntah darah. Tadi dokter telah mengambil sample darahnya,’ Sesaat kemudian dokter memanggilku. ‘Begini bu, hasil test menunjukkan bahwa jumlah leukosit Lea yaitu 50.000/mm3 melebihi jumlah normal yaitu 4-11.000/mm3.’ Keringatku mulai membasahi telapak tanganku. ‘Tinggi sekali, dok. Anak saya tidak leukimia kan dok?’ Dokter sepuh itu menarik napasnya dan tersenyum ganjil. ‘Kami belum bisa memastikan, Bu. Hanya saja diagnosis sementara mengarah pada Leukimia karena dari pemeriksaan fisik, Lea mengalami muntah, pucat, dan lebam-lebam di tubuhnya. Oleh karena itu serangkaian test diperlukan untuk memastikannya Bu, termasuk diantaranya bone marrow test,’
***
Aku menyingkap selimut putriku yang sedang tertidur, tampak memar memar kehijauan di tangannya. Air mataku meleleh. Berapa banyak memar yang telah kuhiraukan? Bu, tangan Lea sakit. Bu, kaki Lea memar. Lea jatuh Bu, kaki Lea memar lagi, Bu, memar... Apa jawabanku saat itu? Makanya kamu kalau jalan hati-hati dong. Tuh kan ibu bilang, kamu kalau ngerjain apa-apa jangan ngelamun, jatoh kan jadinya. Ibu capek Le, minta balur sana sama Bi Atun. Selalu. Selalu aku yang minta Lea mengerti kondisiku, bukan aku yang mengerti kondisinya.  ‘Ibu... Ibu ga kerja?’ bisiknya lirih, baru terbangun dari tidurnya. Aku menggeleng, ingin rasanya aku mengatakan sesuatu. Namun lelehan air mata ini yang berkata. ‘Ibu kenapa nangis?’ Tangan kecilnya menggapai pipiku, mencoba menghapus air mata yang menderas. ‘Maafkan ibu ya, nak. Maaf,’
‘Ibu jangan nangis, nanti Lea sedih. Lea udah nakal lagi ya bu? Sampai bikin ibu nangis?’ Matanya membulat cemas. Kutatap kedua bola mata hangat putriku. Masya Allah, betapa menenangkan! ‘Lea ga nakal, ibu yang nakal. Ayah pasti marah sama ibu, Nak. Ayah pasti marah. Ibu ga bisa jagain Lea,’
‘Ibu ga nakal, ibu ga salah kok. Ibu kan udah kerja buat Lea, jagain Lea, kasih Lea mainan. Oh iya, sama ngasih Lea rumah yang bagus, kamar yang bagus juga. Kasur pink, bantal Hello Kitty!’ Senyumnya melebar girang, sejurus kemudian ia meringis kesakitan. Terlalu banyak test yang harus ia jalani, Bone Marrow Biopsy, MRI, CT Scan, Complete Blood Count... Tak kuasa aku menahan tangis melihatnya berjuang dengan kesakitannya sendirian. Kertas-kertas hasil tes Lea masih kugenggam. Kubaca berulang-ulang, tetap saja, tak ada kesalahan. ‘Hasil serangkaian pemeriksaan yang kami lakukan menunjukkan adanya kelainan dalam leukosit putri ibu. Kami menemukan adanya sel leukosit yang belum matang lebih dari 20% di bone marrow Lea dan juga sel sel darah yang bersifat kanker. Putri ibu menderita Acute Lymphosit Leukimia. Tipe leukimia yang sering terjadi di anak-anak. Leukimia Lea telah menjalar cukup progresif, putri ibu mengidapnya mungkin sekitar 3 tahunan. Kanker ini diperkirakan telah menyebabkan pendarahan di lambung infeksi, dan mengarah pada otak. Sebenarnya apabila dideteksi lebih dini, mungkin banyak pengobatan yang bisa dilakukan dan yah... kesempatan untuk sembuh pun semakin besar. Namun Allah yang punya kuasa atas segalanya, Insya Allah kita akan coba melakukan chemoterapy maupun bone marrow transplant,’ Perkataan Dokter Budi itu seperti petir di siang bolong. Aku hampir saja terjatuh, tak sadarkan diri, apabila Atun tidak ikut bersamaku saat itu.
Perlahan namun pasti, kanker itu menunjukkan keganasannya didepanku sebagai balasan atas aku yang tak pernah sebelumnya menyaksikannya menggerogoti putriku. Lea mulai muntah darah. Awalnya aku tak kuasa menampung muntahan darahnya, namun lama-lama kukuatkan juga. Putri kecilku perlahan mulai mengurus, rambutnya menipis, kukunya sedikit menghitam, tak tumbuh. dan lama-lama hilang sama sekali akibat kemoterapi yang mematikan sel kanker maupun sel normal yang sedang tumbuh itu. Sering kudapati mata Lea sembab seusai chemo atau tatapannya yang nanar dan enggan begitu melihat banyaknya obat yang mesti dia minum. Kukuatkan Lea untuk meminum obat tersebut walaupun hati ini tak ayal terluka juga. Ibu mana yang kuat melihat putri kecilnya selalu muntah darah dan mimisan tak henti? Entahlah, kejadian ini membuat duniaku berputar seketika. Setelah Lea didiagnosis Leukimia, aku mulai cuti 1 bulan, lalu mengundurkan diri dari pekerjaanku. Aku fokus pada hidup kedua putriku, Lea dan Maira, tentu saja pengobatan Lea menjadi prioritas utamaku. Aku selalu ingin menghabiskan momen berharga bersama kedua putriku, tentu saja Maira sering kutitipkan pada orangtuaku karena usianya yang baru 5 tahun otomatis membuatnya tak bisa masuk ke rumah sakit. Seperti ketika dulu Putra dirawat, rumah sakit lagi-lagi menjadi tempat menginapku selama beberapa bulan.
            Lea terbangun. Waktu itu tengah malam. Dia meminta air minum. Aku melihat putriku yang memucat meneguk air tersebut dengan nikmat. Kemudian dia terdiam. ‘Bu, boleh ga aku minta dibacain ayat Al-Quran? Aku pengen denger ibu ngaji,’ Aku segera bergegas mengambil air wudhu. Air wudhu yang memercik begitu menyejukkan bukan hanya kulitku, namun juga hatiku. Sudah berapa lama aku tidak menyentuh kumpulan kalam Engkau ya Rabb? Lelehan air mata kini bercampur dengan tetesan air wudhu. ‘Bu,’katanya begitu lembut,  ‘nanti kalau Lea ketemu Ayah, Lea bakal bilang, kalau ibu adalah ibu yang terbaik di seluruuuh dunia. Lea juga bakal bilang Allah kalau ibu suka inget sama Allah. Jadi ibu ga usah khawatir Ayah bakal marah sama ibu. Ini bukan salah ibu kok,’ Aku kehabisan kata-kata. Mataku tergenang oleh air mata. Kucium kening putriku, lalu mulai kulantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan syahdu...., dengan rasa malu pada-Nya yang teramat, betapa mahluk ini telah melakukan banyak dosa, betapa mahluk-Nya ini telah mengabaikan amanah yang Dia titipkan.
            Esok harinya aku dengan riang menjinjing bungkusan sebuah boneka. Boneka barbie dengan kerudung, juga kerudung pink yang lucu untuk Lea. Katanya, dia ingin menutupi kepalanya yang botak dengan kerudung. Namun sebuah pandangan ganjil kutangkap, Lea tidak ada di tempat tidur. ‘Sus, Lea kan tidak ada jadwal Chemo, kenapa ia dibawa sih?’ tanya ku seketika pada suster. ‘Fungsi ginjal Lea menurun Bu, dokter membawanya ke ruang operasi. Ponsel ibu tidak aktif di hubungi, jadi saya...’Aku menghiraukan kata-kata suster, aku segera berlari menuju ruang operasi yang kutahu persis letaknya. Aku terus berlari, sampai kulihat dr. budi keluar dari ruangan operasi. Matanya menangkap kehadiranku. Ia menggelengkan kepala. Lariku melambat tatkala melihat sebersit mendung terbayang di matanya. Tubuhku seketika melunglai, ada yang tak beres.
***
            Pemandangan ini seperti familiar untukku. Mataku menangkap sosok yang kucintai lainnya dibopong di keranda, tubuh mungilnya terbalut dengan kafan, lalu dipertemukan dengan tanah diiringi lengkingan suara adzan penuh haru. Aku menatap kosong. Adzan penuh haru yang sama diperdengarkan ketika ia lahir oleh Putra, dan adzan penuh haru yang sama diperdengarkan padanya sebagai tanda perpisahannya pada dunia. Sungguh, terasa singkat Allah titipkan engkau padaku Nak. Masih terasa kebahagiaan demi kebahagian tatkala kau tumbuh dirahimku, dan karena kelalaianku pula kau pergi begitu cepat. Siti Azalea Zahra binti Muhammad Putra, nisan itu terpatri kokoh disamping orang terkasihku dan terkasihnya, Putra.
***
Seminggu setelah Lea tiada, aku pergi ke sekolah Lea untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal di loker. Aku masih ingat ketika mengantarnya kemari, seperti baru kemarin sore dia menggenggam tanganku, malu-malu berkenalan dengan temannya. Ah, tak banyak pengalaman yang kupunyai bersamanya disini. Aku terlalu sibuk bekerja. ‘Bu, saya menemukan ini,’ Bu Fatimah menyodorkan sebuah kado padaku begitu aku hendak pulang, ‘Ini kado sewaktu hari ibu dari Lea, tak sempat diberikan pada ibu mungkin. Jadi dia tinggal di loker,’ Kado itu berwarna pink di bungkus dengan tak rapi, seperti warna kesukaan Lea. Aku merobek pembungkusnya perlahan, merasakan jemari Lea yang membungkus kado ini penuh cinta. Hati ku bergetar tatkala melihatnya. Sebuah jilbab. Tertulis didalamnya: Untuk ibu, semoga semakin disayang Allah J. Tanganku bergetar meraih jilbab berwarna coklat yang indah itu. Air mataku tak hentinya mengalir. Kulilitkan jilbab itu dikepalaku. Ada sebuah kedamaian dan haru bercampur.
Ibu Ami tersenyum padaku. ‘Lea selalu ingin ibu memakai jilbab. Dulu ketika saya menjelaskan bahwa orang yang tidak tepat waktu solatnya dan wanita dewasa yang tidak memakai jilbab akan membuat Allah marah. Sesudah itu, Lea menangis tersedu-sedu. Katanya waktu itu: Lea ga mau ibu masuk neraka, ibu Lea baik meskipun belum pakai jilbab dan solatnya belum tepat waktu. Oleh karena itu, saya usulkan untuk memberi ibu jilbab pada hari ibu,’
Nafasku sedikit tersengal. Jadi itu alasannya kenapa Lea bersikukuh menginginkan aku berjilbab, karena ia tidak ingin aku masuk neraka? Dan apa jawabanku waktu itu, aku menganggap permintaannya itu sok tau. Astagfirullah..
‘ Saya... saya selalu takut akan dunia, Bu. Selepas suami saya meninggal, saya seperti kehilangan arah. Yang saya pikirkan hanyalah bagaimana caranya saya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya demi memberikan rumah yang layak, menyekolahkan anak-anak saya ke sekolah islam terbaik untuk menjadikannya seorang muslimah yang baik tanpa saya sendiri berusaha untuk menjadi contoh yang baik bagi anak saya. Saya juga luput menyadari, bahwa uang tidak bisa memberikan segalanya, tidak bisa membeli keimanan, bahkan hingga saya luput memberikan perhatian pada anak saya sendiri, luput menyadari bahwa anak saya memiliki kelainan genetis pada sel darah putihnya.’Aku teringat pada peristiwa silam. Ketika Lea mengeluhkan bahwa ia lemas, tidak mau makan, dan sulit berkonsentrasi belajar, memar, apa yang kulakukan? Aku berlalu, bahkan mengabaikannya.
            ‘Insya Allah Bu, segala yang terjadi ada hikmahnya. Saya yakin kejadian Lea ini semakin mendekatkan ibu pada-Nya. Saya yakin pula, Lea sendiri tidak akan mau ibu menyalahkan diri sendiri terus. Lea anak yang baik. Pasti ia ingin ibu bangkit dan menjalani hidup ibu karena Allah,’ Ibu Ami tersenyum padaku. Ya, Lea merupakan perpanjangan tangan-Nya untuk merangkulku kembali dalam kasih-Nya lewat serangkaian kisah yang tak jarang mengorbankan perasaannya sendiri. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai Public Relation di Perbankan Syariah yang mewajibkanku memakai jilbab. Aku tersenyum. Betapa Lea merupakan bidadari nyata yang dikirimkan untuk mengirim signal hidayah padaku tanpa lelah, signal yang kudapat seiring kepergiannya.
            Tempat itu, tempat yang sama seperti seminggu yang lalu. Tanah merah yang sama dengan tanah yang membalut orang-orang terkasihku, barisan rumah abadi tanpa strata sosial untuk para hamba-Nya. Aku berlutut disampingnya, kuelus penuh kerinduan nisannya, Siti Azalea binti Muhammad Putra. ‘Maira, kangen kak Lea,’ Maira yang berjongkok di sampingku menatap gundukan di depannya. Aku menganguk, mengelus kepalanya. ‘Ibu juga Nak,’
            Dan bunga bunga kertas itu berterbangan, menyulam hamparan kuntum-kuntum di atas tempat Lea bersemayam. Bunga-bunga kertas yang membawa memori bertahun silam....

Thursday, 18 October 2012

The Labile Me: Hypertension

Everything was going smooth this morning. A smile was painted perfectly on my face. Then it started to be a fuss after magrib, after 8 pm precisely.
I was (am) worried of someone. I didnt (dont) get any news from him. Was it a starter for my hipertension? perhaps. Okay. But the things that began to light up the fire were bad internet connection and a very temporary unbreakable assignment till now.
I was supposed to have a meeting about urgent symposium at 8.30 pm but, the internet was UNAVAILABLE. and it happened several days. I contacted the person, and he said 'keep on trying, try to restart' I did. Nothing happened. Finally the connection was available at what time? 22.30 pm. How about the meeting? Oh of course, I missed it.
And the next thing is, I was drawing 3 graphics on semilog paper.. I could find the solution on the case 1, but got stuck for several hours in case 2. My eyes, head got dizzy to see so many blocks, tiny squares spreading out all over the paper.... Got stuck...
I guess... I got hypertension (amit amit).
Hope tomorrow, I could have fun, riding on bianglala and cora-cora in my university festival.. Hoho, hope friday routinities will over soon....


Oh no, I think I forget something... Being Thankful for every assignment I ve got. Can I imagine how much people are eager to enroll my university, my faculty? So much, and I am quite sure they are willing to do anything to get the seat. Okay, gotta be thankful... Wish me luck for that....See yaa

PS: I cooked another fab dish. I ll tell you soon ;)

Wednesday, 17 October 2012

Bersyukur

Bersyukur. Rasa-rasanya, kata itu memang sering terdengar, terlalu sering bahkan. Taruhan deh, setiap kita mengeluh atau apapun pada seseorang, orang pasti bilang 'Bersyukur aja lo sama apa yang dipunyai'. Semudah itu orang mengucapkan, sesulit itu orang melakukan. Kenapa sulit? Well, karena bersyukur artinya harus berterima kasih atas apa yang didapatkan. Beda ga sih dengan term 'menerima' apa yang diberikan? kalau saya sih lebih cenderung ke berterimakasih alih alih menerima. Kesannya kalau menerima itu ya ga ada usaha untuk mendapatkan hal yang lebih gitu. Hehe. Eh tapi bukan itu yang saya pengen omongin disini. Yang saya omongin adalah tentang rasa syukur itu sendiri... Tentang saya... yang tamak, yang mengeluh tentang apapun yang dikerjakan...

Jadi ceritanya waktu itu saya sedang beli makan siang, tepat di samping wisma saya. Disana ada semacam barisan pujasera yang menjual makanan dan seperti biasanya siang itu anak-anak dari fakultas sekitarnya numplek mengisi perut yang kosong disitu. Termasuk saya. Karena perut sudah keroncongan dan waktu yang semakin mengerut memaksa saya untuk cepat memesan ayam goreng nasi uduk lapang favorit saya, lalu minta diantar ke wisma. Selagi menunggu teman saya membeli jus, saya mengalor ngidul ngobrol dengan teman saya lainnya. Namun seketika fokus saya terbuyarkan, melihat seseorang yang cukup tua untuk dibilang bapak-bapak, namun juga terlalu tua untuk dibilang mahasiswa. Mungkin dia mahasiswa, kata teman saya, melihat wajahnya yang 'terawat' untuk ukuran pria. Entahlah, saya tak yakin karena perawakan nya sudah mulai 'melar', apple shape yang biasa menimpa pria yang sudah menikah sudah mulai tampak dari diri orang tersebut. Belum lagi dandannnya, yang sedikit 'mature' namun tak rapi. Hanya memakai celana PDL hijau lumut, kaos putih, dan sendal. Cukup yakin simpulan saya kalau orang tersebut berusia 30 an, telah menikah, dan setidaknya memiliki 1-2 anak yang masih balita.

Bukan, bukan tampangnya yang seperti Orlando Bloom yang menarik saya. Karena dia sama sekali bertampang Indonesia. Hal yang menarik perhatian saya adalah dia membawa wadah berukuran 30x30 cm, berisi jajanan kue basah. Yang mengharukan adalah dia menawarkan dagangannya itu dari satu kumpulan mahasiswa ke kumpulan mahasiswa yang dia temui. Sayangnya tak ada yang membeli, tak tampak keluhan dari wajahnya. Dia tersenyum. Seakan tak lelah, walaupun tiap menawarkan, tiap itu juga dia mendapat kata tolakan. Barang dagangannya hanya kotak 30x30 cm itu saja.

Seketika saya ngenes, membayangkan dia mencari uang... mungkin untuk istri dan anaknya... Dia rela panas-panasan demi berjualan kue kue yang untungnya tak seberapa. Tapi dia tetap melakukannya, dengan sumringah pula. Dia melakukan itu karena mungkin dia merasa punya tanggung jawab, istri dan anak tercintanya yang harus dicukupkan kebutuhannya.

Beda dengan saya... Amanah yang setumpuk masih saya anggap beban, masih saya selipkan keluhan, kadang celaan. Padahal apa? Itu hanya amanah yang ga seberapa dibandingkan dengan amanah bapak tadi yaitu anak dan istrinya. Padahal apa? amanah yang harus saya penuhi ga membuat saya harus panas-panasan, berjalan kaki, menahan lapar, emosi, seperti bapak tadi. Cukup, cukup, saya memusatkan diri di depan komputer, mengetik, berpikir, berkonsentrasi atau membalas sms, bertemu orang, berdiskusi. Hanya sedikit usaha yang perlu saya lakukan, tak banyak. Masih saya bisa lakukan, masih bisa saya jangkau dengan jemari dan tak ada embel-embel tanggung jawab untuk menghidupi orang lain. Tapi kenapa saya masih ngeluh? Tapi kenapa saya masih malas?

Inikah tanda saya kurang bersyukur?
Maafkan saya....

Wednesday, 3 October 2012

Dia

Dia, tanpa kata
Tampak pantulannya
Tak tersentuh...

Cukup? Tidak...
Hati ini rakus untuk selalu meminta lebih
meminta untuk melihat pancaran kehangatan bola matanya
menagih untuk membingkai lukisan senyumnya

Dia, rangkaian cerita indah
Cerita yang menghubungkan antara dunia yang berbeda
antara ribuan jarak terbentang
antara ketidakmungkinan

Dia, tanpa kata
Melayang bak bayangan di muka air
Tak tampak kehadirannya
Tergoyahkan, dan dia pun pergi
Namun dia bagai air
memberikan aliran kehidupan
aliran harapan untuk menjalin asa bahagia

Escape: Writing


Tuesday, 2 October 2012

Challenge: Task to Graduate

No pain no gain
Yep. I define 'the pain' here as effort. No effort no graduate. I guess this perfectly describe me. I am so nervous for the effort I am gonna fight for. Gambling feeling. I have to fight with something that I love and something that I hate.
Say I am labile. I hate that thing in vivid feature, but I love that thing in cartoon feature. Mouse. That I mean. I am afraid of it.
I want to talk to Him soon. Hope He give me solutions, relief, easiness, and anything when anyone or anything doesn't.

Sooner or Later...
Perhaps in the upcoming 3 months, I am gonna start it. Gonna fight for beloved persons that have been standing behind my back. Gonna do it to the max. Gonna prove it. Gonna... get.. that precious predicate. Perhaps better living?

Fight: I have to find new loves: Pharmacology, Mouse, Research.

Wednesday, 26 September 2012

I want to travel to the land of fairy

Entah kenapa saya sekarang jadi suka pantai. Mungkin semenjak saya berkunjung ke Red Sea kali ya. Biasanya saya skeptik sama yang namanya pantai karena sebelumnya saya ga menemukan feel 'pantai'. Well, tempat saya tinggal sangat jauh dari pantai. Bahkan boleh dibilang kami tidak punya pantai. Alih-alih pantai, kami memiliki banyak gunung yang seakan memagari wilayah kami. Makanya dulu saya lebih memilih gunung alih alih pantai sebagai tujuan wisata.
Sekarang? Haha.. I love sea.. Deburan ombaknya menenangkan dan bikin semua beban lepas. Apalagi kalau liat laut yang seakan ga berujung bikin pikiran kemana-mana: ya mikirin laut itu, kok luas banget dan ga ada ujungnya.

Well, destination yang paling saya ingin kunjungi adalah Raja Ampat di Irian
Okay, sampai speechless describenya.
Liat gambarnya, berasa lagi ngeliat land of fairy dimana yang dipunyai sama si Raja Ampat tersebut sangat-sangat indah. Huhu.. Pengen deh kesana kalau punya uang.







Tuesday, 18 September 2012

When Somebody Loves Something that You Love

Have you ever played doll with your friends? And you really loved it so much, so possessive and didnt let anyone possess, love, touch, or even bother it? And what are you gonna do?
There are two things that you can do.
If you are a nice girl, you will let anyone love it too or even you play it together. Because you love to share something that make you happy, because you want your friend feel the happiness that you own too.
If you are a bad girl, than you will not even anyone to look it up, not even a touch, not even a glance. Yeah, you love it as hell, you just want to have the happiness on your own. Does it make you a bad person?

I dont know.

Is that bad if you love your doll so much and dont wanna anyone possess it because YOU LOVE IT SO MUCH?
or you have to SHARE with your friend?

Unfortunately, doll is much more easier to handle, doll isnt living thing, doll is a doll. Its okay if you share it.

But in my case.
I wont share.

Monday, 17 September 2012

The Labile Me

Hmm, I easily lost my patience lately. Why? I dont know, my self defense would be because I am in fasting pay off. Of course, a lame and pathetic defense. Fasting never makes me like this before. SO WHY? WHAT? Perhaps its because I want to achieve a lot of things but I dont want to spend my energy more, dont want to spend much effort on that. Bingo! Finally I spit it. The analogy like this: you want to buy a lot of things in mall, but you dont have any money. The result would be:
a. You ll be so devastated and stressed out
b. You ll try to let it go and sincerely say that it isnt your priority to buy it
c. Gosh, I would buy those things someday and I will earn money as much as possible

Okay, my action would be C and B. Because I am not a giving up-type person and always patient in arranging and doing steps to the top. But why today, my action tends to choice A.Which means, I want all those things but NOTHING I DO!!!

I should reprimand my self, this is how I roll:
Myself
a. still nice: C'mon darling, you can do it. You said you wanted to be extraordinary, rite? So much noble intention you have. It s such a waste if you just sit around, wondering when miracle come down. Hey, you should make your own miracle than

b. have stubborn: What are you crazy? You do nothing, you gain nothing. Seriously you will end up ordinary, get forgotten, finally regret your self, blame others and make yourself as hater. Do you enjoy living in those feeling. C'mon! Look up, everyone is running while you are is sitting! dont be such a trout mouth!!!

Hahaha, I am so relieved now.
Time to make changes
Time to tidy up all mess
Time to wake up
Nothing is impossible
I can do it :D

Sunday, 16 September 2012

QueenD dan Sup Jagung

Hualo hualooo everyone.. This cute chef is back. Kali ini saya benar-benar memasak sup jagung tanpa adanya intervensi dari sayuran lain. hehe.


Daaan hasilnya adalaaaaah....

Huaaaa enak bangeeett... Kayaknya udah ini saya bakal apply di master chef deh (yakin bakal langsung di depak di putaran pertama). Boleh sombong kan yaaa? Boleh dooong. Hihi. Masakan saya yang kedua ini jauh lebih better di banding masakan yang pertama ini. Rasanya lebih beradab gitu lho.

Asalnya nih ya, saya udah patah hati aja lihat hasil masakan yang kemarin. Tapi dengan tekad membara, akhirnya saya putuskan: GUE HARUS MASAK LAGI TUH SUP JAGUNG AMPE LIDAH GUE BERSAHABAT DENGAN ITU SUP.

Berbekal bahan sisa, jadilah saya ngetem di dapur. Kurang lebih 1 jam saya berkutat di dapur (kemaren saya menghabiskan 2 jam lho. Baru dua kali masak aja kecepatan memasak meningkat 50%, gimana lagi kalau 100 kali masak sup jagung, bisa sekali kedip aja udah jadi kali ya tuh sup jagung). Saya bikin resep yang sama dengan kemarin. Pertama saya bikin baso ayamnya karena ada sisa daging ayam giling dan saya penasaran bikin baso ayam dengan citarasa ayam alih alih cita rasa tepung terigu.

Sekalian aja nih ya saya share cara bikinnya:
Pertama, ulek bumbu halus 2 siung bawang putih dan 2 siung bawang merah plus garam+merica+gula biar rasanya gurih (saya meminimalkan penggunaan penyedap soalnya). Terus saya cincang bawang bombay dengan membabi buta baik jumlahnya maupun cacahannya. Untuk takaran bahan-bahan sendiri, takarannya berdasarkan hati nurani. Jadi sebelum masak, ada baiknya solat taubat terlebih dahulu biar hati nuraninya bersih (*loh). Soalnya saya ga pernah matok berapa banyak yang saya masukin karena itu depends sama kesukaan seseorang. Contohnya saya, saya selalu memasukkan bawang dengan takaran yang membabi buta dari seharusnya karena ya saya pecinta bawang (selain cowok tentunya), apalagi bawang putih padahal mungkin buat orang lain ga perlu sebanyak itu.

Kedua, campur bumbu halus+cincangan bawang bombay dengan daging ayam giling campur. Tambahkan satu setengah sendok makan tepung terigu (please jangan kebanyakan yaa karena takutnya berujung seperti bakso ayam yang kemarin saya buat), kuning telur, lalu campur rata. Jangan heran kalau adonannya benyek benyek seksi gitu. Wajar kok, jangan panik langsung tambahin terigu yaa seperti si saya, heuheu, dan jangan keburu nyalahin resep seperti si saya lagi, heuheu.
Jerang air panas ampe agak-agak mendidih gitu lalu kecilin api nya ampe agak mau mati gitu apinya biar menjaga agar air tetep panas tapi ga mendidih.
Terus pake dua sendok, bentuk bulat-bulat si adonan benyek tadi (well, karena benyek, bentuknya jadi bulat abstrak gitu) cemplungin deh. Kalau ga salah dari adonan ini terbentuk 6 bakso. Terus tunggu ampe si bakso melayang layang di air. Kalau gini, itu tandanya si bakso udah matang.


Sup Jagung nya sih, cara bikinnya sama aja kayak kemarin dan hasilnya juga enak kok sama kayak kemarin :D. tapi tetep, maizena yang saya butuhin lebih dari sesendok.

Well, heuheu, saya sangaat bangga sekali. Berasa kayak abis bucat bisul...

Sakit sakit lega gitu...
Sakitnya adalah karena saya ga bisa makan makanan sayaa karena saya dapet makanan dari seminar yang saya ikuti dan saya mendapatkan hibah makanan dari panitia karena sangat berlebih mereka nyediainnya. Huhuhuhu....
Tapi basicly perut saya sedikit tercampur karet, jadi kayaknya saya bakal laper lagi deeh. hehe.

Ciaooo, amigos, permios, deeehhh...

Saturday, 15 September 2012

First dish: SUP WOGUNG

Tebak tebak apa yang saya masak? Jreng jreng... SUP JAGUNG. Iya, tadi setelah sempet babbling di sini, saya langsung bergegas menuju sebuah supermarket untuk beli bahan bahan sup jagung. Dengan semangat 45 dan berpikiran 'alah, masak ginian mah cetek', saya terjun ke dapur saat itu juga. Selama dua jam saya mengiris-ngiris bahan secara ga beraturan, mengolah-ngolah si baso ayam, dan bikin sup jagungnya. Well, judulnya aja sih sup jagung tapi kenyataannya isi supnya adalah wortel dan jagung dengan perbandingan wortel lebih banyak jagung. Jadi mungkin biar si jagung dan wortel ini ga sirik-sirikkan saya kasih nama Sup Wogung haha... Nah ya, awalnya saya berencana ga memakai yang namanya bumbu menyedap R***O, eh tapi setelah masakan saya hambarnya luar biasa saya pun akhirnya menyerah pada sapi di bungkus R***O dan voila! Rasanya jadi berubah gurih, memang R***O bumbu pelezat serba guna (naon sih)! Ternyata oh ternyata memasak itu ga sesederhana yang saya sangka, jauh lebih rumit: memotong dengan presisi tinggi (potongan wortel saya ga jelas, ada yang kotak, segitiga, persegi panjang), ampe nangis bombay dalam artian sebenarnya. Okey, sebenernya ga ada masalah yang berarti dalam proses pembuatan sup wogung ini (kecuali beberapa telor yang pecah karena saya dengan anggunnya menaruh telur di atas meja, lebih tepatnya menjatuhkan kantong belanja saya ke meja).
Masalah terjadi pada proses pembuatan bola ayamnya. Jadi rencananya itu, si Wogung ini akan dihidangkan dengan ditemani oleh bakso ayam. Nah, dari resep yang saya dapatin di internet, si adonan daging ayam cincang yang saya beli itu dicampur dengan tepung terigu. Awalnya sih fine, perbandingan terigu sama dagingnya masih rasional, tapi setelah saya lihat laptop lagi, saya tersadar: kuning telur belum dimasukkin! Jadilah saya masukin itu kuning telur, dan mala petaka pun terjadi. Karena adonannya lengket saya tambahin terus itu tepung terigu ampe adonan ga lengket lalu direbus. Mau tau rasanya seperti apa saudara-saudara? Rasa ayamnya ternyata kelibas ama tepung terigu. haha. Berasa ini adonan bala-bala yang direbus. hoho. Rasanya hambar, dan tengahnya kurang begitu matang -__-. Dalam situasi kritis ini saya teringat pepatah seorang teman saya:

"Kalau masakan kamu ngaco, tambahin sambel dan semua akan menjadi beres"

Voilaa! aneh bin ajaib! ternyata rasanya getting better, karena yang terasa adalah rasa pedas! Judul bakso ayam ini sukses berubah menjadi Bakso Tepung Pedas. Well, at least lebih keren dari kue tanah. hoho

Oh ya, keanehan lain terjadi ketika saya menuangkan maizena untuk mengentalkan sup. Sesuai aturan, satu sendok makan maizena udah cukup mengentalkan si sup (apalagi saya bikin cuma setengah panci kecil). Tapi  ternyata, yang terjadi supnya tetap cair. Tanpa dosa saya terus menambah dosis si maizena, baru setelah saya masukkan tiga sendok si sup itu mengental. Okay, saya pun bernapas lega. Eh tiba-tiba ketika saya menyendok si sup ini, keluarlah gumpalan maizena-maizena seperti lem kertas. Ow ow,ternyata maizena yang saya campurin tadi tidak tercampur.

Overall, walaupun buanyaaak bangeet bangeet cerita menyedihkannya, Si Wogung ini masih beberapa tingkat lebih jauh dari si kue tanah: bisa dimakan dan sangat beruntung bahwa si wogung tampak layak dimakan (ga seperti muntahan anjing).
Rasanya? Enak kok. Heuheu terlalu sedih soalnya kalau dibilang ga enak.
Eh tapi bener kok, rasa sup nya beradab. Kalau bakso sih emang agak sedikit ga beradab, tapi layak dikonsumsi kok.

Intinya: cukup sukses dengan si Wogung ini (kata temenku juga enak cuma kurangnya yaitu ga ada dagingnya *well, namanya juga misi pembelajaran, daging mahal, kalau gagal sakit atiiii).

Let me share the ingredients: (takarannya menggunakan hati nurani aja ya :p)
1. Wortel, dipotong sesuka hati.
2. Jagung, harus dipipil dan harus manis. Kurang manis? Liat saya ajaa :D
3. Bawang bombay, dicincang dengan bentuk sesuka hati asal kelihatan kecil
4. Daun bawang (tadi saya ga pake ini karena di supermaket belinya harus banyak -_-)
5. Bumbu halus: bawang putih,bawang merah, merica
6. Penyedap rasa R****, garam, gula
7. Air secukupnya (kalau buat ini, jangan pake aer solokannya soalnya ga akan menambah citaras :p)
8. maizena

Cara membuat;
Ulek bumbu halus, tumis bumbu halus dengan bawang bombay, masukkin air secukupnya, didihkan. Terus, masukkan wortel dan jagungnya (kalau pake daging, dagingnya dulu yang dimasukkin sebelum sayuran) dan rebus sampai empuk. Setelah itu tambahkan putih telur lalu diaduk cepat sampai terbentuk serat-serat putih di sup. Tambahkan maizena yang telah dilarutkan dengan air, aduk aduk cepat sampai mengental.

Tips: untuk nambahin maizena sebaiknya sejumlah sup diambil terlebih dahulu lalu si maizena dimasukkan ke bagian sup ini. Campur. Setelah tercampur sup yang telah diberi maizena ini dimasukkan kembali ke panci berisi supnya. Hal ini untuk menghindari penggumpalan maizena. Teknik ini namanya teknik memancing *teorinya sii begituu

Huahuahuahuahuahuahuahuahua
Cant wait to cook another dish. I let you know the experience.

See you dalam sajian Chef QueenD selanjutnya :D

A Good Wife to Be: Cooking Undefined?

Ceilee... judulnya ga nahan bangeet. Haha. Berasa mau nikah besok aja nih si saya. Sebenernya hasrat memasak-masak ini telah tumbuh sejak saya masih kecil, dibuktikan dengan saya seneng banget maen anjang-anjangan dimana saya bikin kue tanah. Haha. Yup. Kue tanah, bahannya simple kok:
1. Tanah yang disaring ama saringan teh dengan ukuran mesh 40 *aseek sampai halus. Tips: untuk mendapatkan saringan teh, bisa nyolong dari dapur mama, tapi ujung-ujungnya sih pasti dapet murka dari mama *pengalaman masa kecil.
2. air secukupnya, air mentah lebih direkomendasikan, kalau bisa sih air solokan untuk menambah cita rasa
Cara bikinnya gampang kok, tanah yang telah disaring dengan kehalusan tertentu, ditambahkan air secukupnya sampai tanah tercampur rata. Setelah itu bentuk tuangkan dan bentuk kue di atas tembok yang terkena sinar matahari langsung (ceritanya berfungsi sebagai oven), tunggu sampai mengering, dan angkat. Kue yang matang bertekstur renyah dan tidak lembab. Untuk variasi bisa ditambahkan irisan dedaunan.

Voilaa!!! Jadilah kue tanah!


Begitulah history passion masak memasak saya dimulai, sampai sekarang keterampilan masak saya bertambah mulai dari masak air, masak mie, dan yang paling keren adalah masak nasi di magic jar. Actually nasi goreng dan masak telor adalah prestasi saya yang paling membanggakan sih.


Well, karena prestasi keren saya memasak itu, saya tertantang untuk memasak masakan yang lebih njelimet mengingat saya sudah 20, dalam kurun 5 tahun saya akan menikah (AMIIIN YA ALLAAHH), dan tentunya saya akan menikah dengan seorang pria dari spesies manusia bukan helminthes. Jadi ga mungkinlah ntar kalau saya nikah suami saya dikasih kue tanah, emang suami saya cacing?! Kok saya jadi nyolot? Saya juga ga tau. Intinya, sekarang saya singsingkan lengan baju saya untuk MEMASAK!!!

Memasak apa? itulah dia, saya udah mulai browsing browsing resep gitu, eh tapi ternyata cara bikinnya lebih njelimet daripada kue tanah bikinan saya ya? Indeed, makanan manusia memang lebih variatif. Saya udah dapet nih resep masakannya antara lain: sup jagung dan telur balado. Masalahnya adalah bingung mau masak yang mana dulu. Sebetulnya, saya pengen masak sup  jagung soalnya itu makanan favorit saya bangeeeeeeeet. So craving for it. Tapi masalahnya lagi, bikin sup jagung ini lebih njelimet saudara-saudara, dan saya takut ujung-ujungnya sup jagung bikinan saya lebih mirip muntahan anjing daripada makanan manusia. Huahuaa... Bagaimana ini?!!! Apakah saya mau memakannya? jangan-jangan anjing aja ga mau makan makanan saya? Apakah makanan saya bikin Justin Bieber dan Selena Gomez putus? Atau justru bikin Christiano Ronaldo suka ama saya? Atau malah Bradley James yang akan jadi suami saya? Huaa saya bingung sendiri. Pokoknya nantikan jawabannya beberapa saat lagi karena saya akan membeli bahan-bahan yang dibutuhkan dan mulai memasak. Jadi apa yang akan saya masak? atau kah saya akan kembali memasak bestie food saya, kue tanah???

- to be continued -

Thursday, 19 July 2012

Cheating

Cheating could be called as adultery. Pertama kali saya mendengar kata Adultery adalah di serial tv Glee. Dulu saya pikir, adultery berarti 'adult' atau how to be an adult. Whoops tapi ternyata adultery adalah sesuatu yang disebut cheating. 


Ini adalah pengertian adultery berdasarkan wikipedia
"adultery also called philanderyanglicized from Latin adulterium) is voluntary sexual intercourse between a married person and someone other than the lawful spouse. Religious and legal interpretations of what constitutes adultery vary widely"


Whats wrong with adultery? Because it is against the law. Well, based on wikipedia, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan adultery adalah hubungan terlarang antara married person dengan seseorang yang bukan spousenya. It means it breaks rules and law, both religion, social, dan private law di konstitusi suatu negara.

Why it has to be a guilty thing? Simpel. Karena adultery melanggar janji, sebuah komitmen ketika seseorang menikah untuk stick on the relation baik itu pas suka maupun duka hanya dengan pasangan yang dinikahinya. Otomatis, komitmen itu menutup kesempatan seseorang untuk mempunyai hubungan dengan orang lain.


Itu untuk seseorang yang sudah menikah. Bagaimana dengan yang belum? Means, status seseorang itu baru berpacaran?


How if I say I will agree about the 'cheating' on relationship? sounds so controversial? Here let me explain, ketika kamu sedang berpacaran dengan seseorang. Kamu menutup kemungkinan untuk berpacaran dengan orang lain. Kamu memilih untuk stay true dan on track dengan orang tersebut. Kamu juga menutup kemungkinan untuk berhubungan dengan orang yang siapa tau lebih baik dengan pacar mu saat ini. Nah, apakah kamu bisa menjamin pacar kamu terbaik untuk kamu? The answer is no one knows. Ga ada yang tau. Ketika kamu berpacaran, lalu kamu mengenal seseorang dan kamu merasa 'click' dengannya, dan finally kamu merasa lebih terhubung dengan orang tersebut dari pada pacar kamu, dan finally kamu cheating. I will not blame you for that. 
Saya Gila? Nggak kok. Kenapa? Karena kita ga pernah tau siapa jodoh kita. Mana tau pacarmu memang bukan yang terbaik, mana tau selingkuhan mu itu adalah jodoh terbaik mu. Siapa tau memang jalanmu mendapatkan jodoh adalah lewat selingkuh. Who knows?
Memang sih, itu bukan best way untuk mendapatkan jodoh, bukan wise way. Dengan cheating, kamu nyakitin hati salah satu pihak. Dengan cheating, kamu bikin endingnya sebuah hubungan jadi trauma mengerikan bagi pacar kamu yang diselingkuhi. Best way? Lebih baik kamu jujur dan 'tega' untuk bilang sama pacar kamu bahwa kamu udah ga suka lagi sama dia. Lalu kamu putus dan create a new one dengan selingkuhanmu. Sounds so mean? it does.
Kenapa saya berani ngomong seperti itu? Waktu saya menghabiskan sebulan di suatu desa, saya bertukar cerita dengan teman yang kebetulan sudah menikah. Saya terkaget-kaget karena dia bertemu dengan jodohnya dengan cara ga biasa, cara yang terkesan kejam bagi sebagian orang. Dia sudah hampir setahun atau dua tahun berpacaran dengan pacarnya (ya iyalah) dan tiba-tiba di sebuah cafe dia bertemu dengan seseorang. Singkat cerita, dia berhubungan dengan pria itu (flirting awalnya) dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan pacarnya dan memulai hubungan baru dengan 'pria itu' sampai akhirnya menikah. See? cheating could be your destiny :P rite?


Here I am not saying that I legalize cheating on a relations. Still it is not wise, heart breaking, brain wrecking, traumatic way to begin new relation. I dont want to be cheated for sure. Who wants to be cheated on? I am sure no ones.


Kenapa saya membuat tulisan ini, hanya karena saya ingin menghibur para orang-orang yang diselingkuhi. Saya ingin mengatakan bahwa diselingkuhi bukan akhir segalanya, malah patut disyukuri terkadang. Lho? Iya, karena dengan diselingkuhi ada beberapa hikmah bagi kamu yaitu:
1. Kamu bisa tau siapa sebenernya pacar kamu. Jerk, bastard, atau apapun yang ga pantes untuk mendampingi kamu. Untung kamu diselingkuhin sekarang, kalau diselingkuhi setelah menikah? hey, its a big no
2. Kamu bisa menjadi pembuka jalan jodoh seseorang. Iya, kalau kamu ikhlas dan mendoakan mantan kamu bahagia dengan selingkuhannya sekarang dan sampai mereka menikah, ya berarti kamu berkontribusi dalam terciptanya sebuah keluarga sakinah mawaddah warahmah. Memang menyedihkan, tapi hal ini lebih membahagiakan pada akhirnya
3. Kamu bisa menyadari, kalau memang pacarmu bukan jodoh terbaikmu


Dan buat yang bersiap-siap selingkuh, atau sedang selingkuh. Better think about this? Memangnya kamu yakin selingkuhan mu lebih baik dari pacarmu? Jangan-jangan 'grass in neighbourhood is greener than your own grass' lagi. Dont rush to cheat. Banyak konsekuensinya. Tapi kalau kamu ngerasa selingkuhanmu yang terbaik dan u dont feel anymore click with your GF/BF, tell them and be honest, break it!
you better think about this thousand times :)



   

Saturday, 14 July 2012

Dishonesty

I sit here in the middle of crowded
watch the leaves blown by the wind
My soul feel empty as if it had leaved the body
I had a mistaken words, I guess
Why couldnt I be honest about part of my joyful life? about stuffs that I love most?
Couldnt I say that part is just good?
Why could be my tongue so stiff to say that I like the way it looks?
The part is one of the best thing I have currently

Why couldnt I give compliment?
it s because I want to show that I dont like that part just because the way it looks
it s just because the way that part make my life more wonderful
But I guess I am wrong. I learn new thing though.
The compliment and honesty are just needed sometimes
Eventhough you think that by saying it is not your fashion
Even if you think no need to say truth
because the thing you believe is: it s more important to believe in the truth rather than saying it

But folks,
let me tell you:
Giving compliment is important
to show that you care about the effort someone earn
to show respect
to appreciate
and to show how you feel

The last one is the most thing I really want to say
about how I am proud always, grateful still to have that part that enlighten my days recently.

Thursday, 17 May 2012

Restless

Why should I be restless?
I am determined to be fine then everything is gonna be fine
no doubt

If the time is to let go
Then be sincere
everything is nt my possession
just take it
and please give me strength to be fine

It s okay, I still could breath
anger just for temporary
temper is no need to have

Sincere,
sincere,
and let it go

Thursday, 10 May 2012

Confession

I got this status update from my lecture's facebook. It was so touching to read the true confession of love from a mother to her sons. How sweet my lecture shares her love, time, and life during her crazy schedule and duty to share her attention for her students too. May Allah bless her and her sons. May Allah bless my parents too :)

Confession. Yeah, I barely could say or express my feeling for my beloved persons directly. So, that's why I considered this status is so amazing. Confession via media :). Sounds coward? No, each person in this world has his own way to express the feeling. direct or indirect, it s just the matter of style.


"terima kasih ya alif...adit....terima kasih bersedia membagi waktu kebersamaan kita dengan pekerjaan yang harus mamah kerjakan. terima kasih selalu memberikan lambaian tangan...senyuman indah setiap pagi...terima kasih atas 175 ribu % rasa sayang yang seringkali diungkapkan..kalian berdua sesungguhnya sumber kekuatan..i have no words to say how lucky i am to have both of you as my sons..how lucky i am to learn life with you both..the sadness i felt when you grown up and at the same time feel happy...i always love you both...be with you whatever happen, in good and bad...sometimes teach you hard, full of discipline...whatever i ever do thats just because i love you both...completely...feel me like a wind, always with you even when you can't see.."

Wednesday, 9 May 2012

8 Stories, 8 days, 8th April: 6,7,8 April

Railway Station

I kept thinking. "What should I do then? He come to be real". I spent the night before in the city in my friend's loft. She knew about the story. and she said " He'll come here to confess his feeling I guess,"
I shook my head. " No, he will not'
I was quite sure. I would not forget the things he said to me: "I dont want to be in relationship, especially long distance relationship,'
I was about to be ready, if he somehow didnt want to prolong the story. "Yeah, sooner or later it will come, he will be gone, and perhaps tomorrow is the time"

So there I was, standing with my friend, after he called me, waited for him and his friends. "Restless heart, but hey, he is my friend, nothing to be worried about". Still I couldnt be calm, I was a bit nervous.

Like a slow motion in movie, I could easily recognize him. The guy who appeared to accompany me for almost 4 months...

He said hi, as if nothing happened. Me too, talked to him as if nothing happened.

Travel

he had never been here before. I took him travel around the city along with my friends.

he ignored me. he didn't even see me, he treated me as if I were new to him. He avoided me. So sad. I was deeply sad. Why couldnt he treat me like he treat my other friends? He didnt even try to talk to me about us. I just knew, it was time to let him go.

Couldn't really sleep. Still thinking about what happened during whole day. Yeah, the question was already answered and the answer was no. It was okay. But dunno why I was sad.
He texted me after I was about to sleep, we didnt text each other on that day. 

" Dont forget to take Isya prayer"

I smiled. At least, he still wanted to be my friend. I replied, with no expectation, without any excitement. Realistic as it should be.

7 April

he still treated me as stranger. I treated him as normal. I was tidying up my feeling. I was trying to be sincere,   with no expectation.

The event, the reason he came, was about to be over. I knew it was never gonna happen. He called me out, still remembered his ridiculous face. 

H: "Hey, I was about to go home."
M: "So? Like I care"
H: "Just sit for a while, so what is the answer? I come here rite, you gotta fulfill your promise: you will give the answer only if I come here"
M: " No way"

I was shocked. he remembered. I was embarrassed, he asked the question in front of anyone.

then when everyone was busy with their own bussiness.
We talked. He confessed :)

we were about to go home. he was about to go home. suddenly sad. 
and along the way, he kept asking me about my feeling. I didnt answer. Then,

"Pacaran, yuk?"

Simple. Yeah as simple as that but complicated enough to make butterflies in my stomach flew.

8 April

It's a yes.