Zahra diam. Analytical jenna dihadapannya meraung-raung sebentar kemudian diam kembali. Dia termenung di depan monitornya. Bukan biasanya. Hari ini, tak sepatah kata pun diucapkannya. Begitu pun pertanyaanku hanya dibalas dengan air mata, bukan kata-kata.
'Aku pikir, dia yang terakhir dan terbaik untukku,' akhirnya dia memulai membuka mulutnya. Bibirnya sedikit gemetar, air matanya menggambang di pelupuk mata.
Aku menepuk-nepuk pundaknya. Tak tahu harus berbuat apa-apa.
'Tapi nyatanya begini...,' Dia mulai terisak lagi. 'Kami tak cocok. Kami tak bisa bersama lagi.'
'Bukanknya itu alasan klise? Kamu tak curiga ada wanita lain?'
Dia tersenyum pahit, lalu menggeleng lemah. 'Sama sekali tidak. Dia bukan tipe seperti itu. Dia... sangat baik. Hanya kita saja yang berbeda. Kupikir dulu itu alasan klise, ternyata itu memang bisa terjadi, mengkronis, dan kemudian aku tahu ketidakcocokkan itu membuat gap diantara kita. Gap yang tidak bisa dipersatukan.'
Zahra menangis dalam diam. Air matanya mengalir di pipinya.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku belum pernah menghadapi sebuah perpisahan, dan aku tak mau. Aku tak bisa membayangkan aku berada di posisi Zahra. Kehilangan orang yang selama ini selalu berbagi rasa dengannya, tentu bukan perkara mudah. Tentu ada rasa yang hilang.
'Mungkin, memang itu yang terbaik buat kamu. Tuhan selalu punya rencana hebat,' Aku hanya bisa menemukan kata-kata itu buat penghiburan.
'Itu yang di katakannya waktu kami berpisah.' Dia tersenyum lagi. 'Semoga dia menemukan yang terbaik untuknya. Semoga aku diberikan keikhlasan.'
Aku memegang tangannya. 'Seiring berjalannya waktu, Insya Allah. Bisa.'
'Perpisahan pasti terjadi. Mungkin di masa depan perpisahan akan lebih buruk terjadi, siapa yang tahu? Dia benar. Kami tak bisa memaksakan diri untuk bersama, hanya aku yang akan tersiksa. Hmm, life must go on.' Dia kemudian tertawa. 'Haha. terdengar klise bukan? Tapi itu yang harus terjadi... Dia menjadi masa lalu ku.'
'Apa kalian berdua akan kembali?'
Dia menggeleng kuat. 'Sepertinya tidak.'
Aku menarik nafas. Perpisahan bukan yang kita inginkan kan? Tapi pasti terjadi. Mau atau tidak. Cepat atau lambat. Namun, jika itu terjadi. We have to keep on breathing, for keeping us alive.
'Aku pikir, dia yang terakhir dan terbaik untukku,' akhirnya dia memulai membuka mulutnya. Bibirnya sedikit gemetar, air matanya menggambang di pelupuk mata.
Aku menepuk-nepuk pundaknya. Tak tahu harus berbuat apa-apa.
'Tapi nyatanya begini...,' Dia mulai terisak lagi. 'Kami tak cocok. Kami tak bisa bersama lagi.'
'Bukanknya itu alasan klise? Kamu tak curiga ada wanita lain?'
Dia tersenyum pahit, lalu menggeleng lemah. 'Sama sekali tidak. Dia bukan tipe seperti itu. Dia... sangat baik. Hanya kita saja yang berbeda. Kupikir dulu itu alasan klise, ternyata itu memang bisa terjadi, mengkronis, dan kemudian aku tahu ketidakcocokkan itu membuat gap diantara kita. Gap yang tidak bisa dipersatukan.'
Zahra menangis dalam diam. Air matanya mengalir di pipinya.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku belum pernah menghadapi sebuah perpisahan, dan aku tak mau. Aku tak bisa membayangkan aku berada di posisi Zahra. Kehilangan orang yang selama ini selalu berbagi rasa dengannya, tentu bukan perkara mudah. Tentu ada rasa yang hilang.
'Mungkin, memang itu yang terbaik buat kamu. Tuhan selalu punya rencana hebat,' Aku hanya bisa menemukan kata-kata itu buat penghiburan.
'Itu yang di katakannya waktu kami berpisah.' Dia tersenyum lagi. 'Semoga dia menemukan yang terbaik untuknya. Semoga aku diberikan keikhlasan.'
Aku memegang tangannya. 'Seiring berjalannya waktu, Insya Allah. Bisa.'
'Perpisahan pasti terjadi. Mungkin di masa depan perpisahan akan lebih buruk terjadi, siapa yang tahu? Dia benar. Kami tak bisa memaksakan diri untuk bersama, hanya aku yang akan tersiksa. Hmm, life must go on.' Dia kemudian tertawa. 'Haha. terdengar klise bukan? Tapi itu yang harus terjadi... Dia menjadi masa lalu ku.'
'Apa kalian berdua akan kembali?'
Dia menggeleng kuat. 'Sepertinya tidak.'
Aku menarik nafas. Perpisahan bukan yang kita inginkan kan? Tapi pasti terjadi. Mau atau tidak. Cepat atau lambat. Namun, jika itu terjadi. We have to keep on breathing, for keeping us alive.
No comments:
Post a Comment