Sampai hari itu, entah apa yang menggerakkanku. Aku mengambil handphone ku. Aku tekan nomer yang paling kuhapal, dan beliau mengangkat. Beliau tertawa, seperti biasa. Menyambutku hangat walau ia tak melihat parasku. Beliau mengucapkan selamat ulang tahun, dan mulai menggelontorkan doa-doa mulianya. Aku terdiam sesaat, bingung harus memulai darimana. Segala niatan yang aku rencanakan, seakan kelu ditelan liurku. Aku mengambil nafas, membiarkan beliau berbicara. Lalu aku memulai...
"Ma, dede minta maaf ya," kataku akhirnya. Beliau terheran-heran. Untuk apa aku meminta maaf? Kata-kata yang tersusun sedari tadi mulai berantakan, "kalau selama dua puluh tahun ini dede udah nyusahin mama, belum bisa bahagiain mama, selalu berdosa sama mama, masih jadi anak yang durhaka," tangisku mulai tak tertahan. "Doain dede biar jadi anak yang solehah ya Ma, sukses dan bahagia di dunia akhirat, biar bisa bahagiain mama dan bapak,"
Di ujung telepon, aku tahu. Tangis beliau pun pecah. Dan keluarlah perkataan-perkataan yang tak pernah ku duga sebelumnya, "Dede ga punya salah sama mama, udah mama maafin. Mama yang harusnya minta maaf, mama orang bodoh. Mama ga bisa mendidik kalian dengan baik karena keterbatasan pendidikan, maaf apabila cara mendidik mama yang salah. mama udah berusaha sebaik-baiknya mendidik kalian meskipun mama bodoh. Biarlah Allah yang tahu usaha Mama, niat mama baik ingin mendidik kalian walaupun mungkin salah. Hanya Allah yang tahu, hanya Allah yang menjaga kalian untuk mama."
Tangisku semakin menjadi-jadi. Apa aku mendengar bersitan luka dari perkataannya? Beliau merasa didikannya salah?
"Mama ga bodoh, mama ga salah. Mama udah hebat mendidik kita jadi kayak gini, jadi anak-anak yang ga melanggar aturan. Mama hebat, doain dede biar bisa kayak mama bahkan lebih dalam mendidik anak. Doain dede dapet suami yang soleh ya ma, yang bahagiain di dunia dan akhirat,"
Beliau bersikeras. " Maafin mama ya de, ga bisa kayak orang tua lainnya yang berpendidikan tinggi, yang selalu ngomel-ngomel, jujur mama ga tahu bagaimana mendidik anak yang baik. Mama hanya mengaplikasikan apa yang terbaik yang diajarkan orang tua mama, mungkin ketinggalan jaman. Makanya, dede, mama sekolahkan tinggi-tinggi, supaya dede bisa mendidik anak-anak dede nanti jauh lebih baik, ga kayak mama."
Satu hal lagi yang membuatku mengharu-biru malam itu: "Mama bersyukur banget punya anak sempurna kayak dede, kakak, de fadli. Mama berterima kasih sama Allah sudah menitipkan amanah yang luar biasa kepada mama. Kalian udah membanggakan mama dengan akhlak kalian, semoga di masa depan kalian semakin sukses"
Aku tertegun beberapa saat. Rasanya mataku sudah bengkak seperti disengat tawon. Aku malu pada diriku sendiri. Betapa mulia cita-cita ibuku menyekolahkanku: demi anak-anakku kelak, agar tidak mengulang kesalahan yang sama yang dilakukannya pada kami. Kesalahan yang mana? Kesalahan apa?
Jika bukan karena didikan beliau, tak mungkin aku seperti ini. Terjerumus aku dalam masa mudaku yang berleha-leha
Jika bukan karena omelan-omelan bawel mereka, tak mungkin aku terjaga seperti ini. Pasti aku tersangkut di sebuah kota kecil dan menghabiskan waktu percuma dengan lawan jenisku.
Jika bukan karena semangat mereka dan senyum tulus tanpa harapan kembali, tak mungkin aku terpompa untuk melakukan semangat yang lebih.
Mereka adalah perpanjangan tangan kasih-Nya pada ku, mereka adalah sumber keridhoan tak pernah putus setelah ridho-Nya.
Kedua orang tuaku memang bukan jebolan perguruan tinggi manapun. Namun aku bersyukur, keinginan mimpi mereka menyekolahkan anak-anaknya laksana langit tak tergapai, langit yang tak pernah mereka kecap sebelumnya, langit yang mereka impikan dibalik kesulitan masa mudanya. Semangat mereka untuk meningkatkan kualitas diri mereka laksana kilat yang melecut-lecut keras.
Tuhan, lidah ini selalu terbata dalam mengatakan rasa, meskipun pada manusia-manusia terkasih setelah Rasulullah:
Aku mencintai mereka Ya Rabb, jauh dari yang mereka sangkakan padaku. Lindungilah mereka di dunia dan akhirat, jadikanlah mereka kekal di surgamu, dan bukakanlah hati-hati yang belum soleh atau pun solehah dalam diri mereka. Amien.
Aku mencintai mereka Ya Rabb, jauh dari yang mereka sangkakan padaku. Lindungilah mereka di dunia dan akhirat, jadikanlah mereka kekal di surgamu, dan bukakanlah hati-hati yang belum soleh atau pun solehah dalam diri mereka. Amien.
Love you Mom, Daddy,
No comments:
Post a Comment