‘ Bales dong
sms aku,’ suara di telpon itu terdengar mengamuk.
‘Maaf,
tadi aku lagi makan. Kagok ngetik sms nya. Maaf ya? Please..,’ sebisa mungkin
Tia menenangkan. Radi memang selalu begitu. Marah kalau sms gak dijawab barang
sedetik aja.
‘Oke
deh, lain kali kalau mau telat sms kasih tau. Jangan bikin orang nunggu, kesel
tau,’ Radi merajuk kesal. Tia paling suka kalau Radi sudah merajuk. Pasti Tia
menenangkan Radi dengan kata-kata yang ‘romantis’. Tia sendiri geli dengan kata
ini karena sebelumnya ia sulit untuk membuka hati dengan hal seperti itu. Well,
sebenarnya gak pernah si Tia bilang sayang atau ‘cinta kamu’ atau ‘sayang kamu’
sama Radi. Orang mereka belum pacaran!
‘Waduh,
gue bingung Van. Kita tuh smsan sama telpon-telponan udah hampir 3 bulan. 3
bulan, evaan!!!’ Tia meremas kertas ditangannya gemas.
‘ Dia suka sama lo kali,’ evan
menguyah siomaynya dengan santai.
Tia
memberengut, ‘ Ga mungkin Van, dia tuh Cuma nganggep gue temen. Ga lebih’. Tia
menghela napas lagi, ‘ Tapi dia perhatian banget ma gue .sms ga dibales aja
marah. Trus dia nanya gue udah makan ato belum. Dia marah pula kalau gue bilang
gue males makan. Trus baru kemaren malem, dia nelpon gue ampe jam dua pagi. Gue
sahabatan ma elo aja ga gitu-gitu banget kan? Ini udah ga wajar…,’
‘
Hebat berarti dia, pdkt nya pelan-pelan, ga kaya gue keburu-buru, jadi aja di
tolak sama si Via. Pokoknya lo sabar aja, lo tinggal tunggu di jedor aja sama
dia,’ Evan menaikturunkan kedua alisnya yang segede ulat bulu.
‘
Hehe… Itu jawaban yang gue harepin,’
‘Huh,
ngarep lo!’ Evan menelengkan kepala Tia.
***
‘Norak banget deh mereka
pacarannya,’ bisik Tia sebal. Orang-orang yang lagi pacaran di belakang mereka
lagi ngobrol ‘sayang-sayangan’ yang bikin telinga Tia panas. Tia paling ga suka
kalau ada orang yang obral mesra di depannya.
Radi hanya tertawa kecil
mendengarnya. ‘ Ya udah sih, namanya juga orang pacaran,’
‘Ih kalau aku pacaran ya, aku
gak akan deh manggil cowok aku sayang-sayang gitu di depan publik,’ tukas Tia.
Radi tersenyum menggoda, ‘ Mau pacaran sama siapa emangnya Ti?’
Deg! Hati Tia tiba-tiba berdegup
kencang. Ya sama kamu lah!!! Teriak Tia dalam hati. Tapi alih-alih kata-kata
itu yang keluar, kata-kata ga jelas malah terkesan kumur-kumur yang keluar
diikuti wajah Tia yang memanas.
‘ Kok jadi salting gitu sih?
Merah lagi mukanya,’ goda Radi. Tia mati-matian membantah Radi bahwa mukanya
baik-baik aja. Tiba-tiba Radi terdiam. Ia tak bicara beberapa saat sampai Tia
memberanikan diri bertanya, ‘ Kok diem sih Rad?’
Radi menghela napas dalam.
Begitu selalu yang dilakukannya apabila menemukan masalah yang berat. ‘ Kalau
kamu punya cowok, kamu bakal ngelupain semua yang terjadi sama kita selama ini.
Pasti ga akan ada waktu buat bales telpon, bales sms, ngobrol berdua lagi...,’
Tia shock mendengar itu. Hatinya
senang sekaligus geregetan. Senang karena dia dianggap penting, geregetan
karena dia ga pernah nyadar kalau cowok yang mau Tia pacarin itu Cuma Radi.
‘ Aku ga akan pernah ninggalin
kamu,’ Tia berkata pelan namun mantap. Radi menoleh dan kemudian tersenyum.
‘ Thanks Tia, you are the best
I’ve ever had,’ bisik Radi pelan namun jelas karena studio telah dipenuhi musik
film yang akan mereka tonton.
Radi ga pernah tau,kata-kata
yang diucapkannya tadi membuat Tia ga pernah fokus nonton film selama 2 jam
penuh.
***
Tia
memindahkan handphonenya dari telinga kiri ke telinga kanan. Tapi percuma,
kedua kupingnya udah terlanjur panas. Matanya juga udah berat, jam udah
menunjukkan pukul 1 pagi.
‘
Tia, orang tua ku bener-bener ga peduli sama aku. Gitu juga dengan temen-temen
aku. Saat ini, cuma kamu yang peduli banget sama aku. Thanks ya,’ suara di
telpon terdengar lirih. Hati Tia bersorak gembira, kontan matanya yang ampir
off langsung berada di posisi on lagi.
‘
Emang penting ya sms dan telpon dari aku? Ga bosen gitu kamu, aku nanya-nanya
hal silly kaya udah makan atau belom, lagi ngapain…? Kalo aku si ga bosen kamu
nanya-nanya aku gitu..’ Tia menggantung kata-katanya.
‘Pentinglah,
dan aku ga pernah bosen kamu nanya hal-hal gitu. Itu ga silly, justru hal itu
yang bikin hidup aku semangat lagi. Sekali lagi makasih ya…,’
Seketika
itu juga Tia meloncat kegirangan dan memekik tanpa suara dan bruk!!!
‘
Aaw…,’ Tia mendapati dirinya terguling ke bawah kasur.
‘Kenapa?’
‘Gak
apa-apa kok’ kata Tia meringis kesakitan.
Hari
ini Radi mengajak Tia untuk dinner di salah satu restoran terkenal di Bandung.
Tia hampir kejang-kejang Radi mengajaknya kemarin.
‘Gak
sia-sia Van badan gue kemarin pagi sakit semua,’ kata Tia kegirangan.
‘Ya
elah, lo sih pake terjun indah dari kasur segala. Gue bilang juga sabar, pasti
si radi nyatain juga kan,’ kata Evan. ‘ Mau nyalon dong lo?’
Ya
iya lah, hal itu sih udah pasti bagi Tia buat hari spesialnya. Sebentar lagi ia
bakal melepas status jomblo-3-taunnya. Dalam hitungan jam lagi tia, be ready,
pikir Tia sambil tersenyum-senyum sendiri.
Tia
sengaja buru-buru balik dari kampus setelah kuliah Kimia Organik. Dia pergi
nyalon ke salon mahal rekomendasi dari temen-temen kuliahnya. Seumur hidupnya,
dia ga pernah sekalipun full-nyalon, paling banter creambath. Tapi hari ini,
selain hair spa, dia juga minta Mas Widi untuk me-make up tipis wajahnya dan
menata rambutnya ala kriting gantung. Selanjutnya Tia memakai dress selutut
warna pink muda bahan siffon dan sepasang high heels cantik warna putih hadiah
ultah kemarin dari mama yang dia udah janji untuk ga memakai sepatu berhak
jarum itu. Finishing touchnya, tia memakai clutch bag warna pink pinjaman dari
kakaknya.
Tia
melangkahkan kakinya ke dalam restoran dengan susah payah karena memakai
highheels dan perasaan nervous. C’mon tia, its ur big day, Radi will be falling
after seeing ur awesome look, Tia menyemangati dirinya sendiri. Suasana
restoran begitu romantic dan setelah melihat Radi
duduk di salah satu bangku di ujung restoran, hati Tia tambah jumpalitan.
‘Hai,
Ti. Sumpah, kamu… cantik banget,’ Radi bangkit dari kursinya, speechless. Radi
yang Cuma memakai polo-shirt biru dan jeans belel, serta sneakers warna biru
mendecak kagum. Radi menarik kursi di depannya dan
mempersilakan Tia duduk. Tia dengan begitu anggunnya duduk. Kakinya dilipat
agar body language-nya menarik perhatian Radi.
Tia
tersenyum, segalanya sesuai dengan rencana.
‘
Oh ini Kak Tia ya? Hai kenalin aku Adelle. Kamu cantik banget,’ tiba-tiba cewe manis
mungil yang memakai kaus overloose, skinny jeans belel, sepatu keds putih
menyapa Tia. So highschool babe…
‘Adelle,
Tia ini yang selama ini udah peduli sama aku. Dia baik banget udah ngingetin
aku dalam segala hal,’ puji Radi seraya melempar senyum pada Tia.
‘
Makasih banget ya Kak Tia, udah ngejagain my Radi selama Adelle ikut college di
UK,’ kata Adelle.
‘
My radi?’ Tia keheranan.
Radi
tersenyum lagi. ‘ Iya Ti, aku sama adelle udah jadian selama 4 tahun dan dia ikut
college 2 tahun di UK dan dia udah daftar di kampus kita. Bakal jadi junior di
jurusan kamu, nitip ya dan thanks udah jadi sahabat yang baik buat aku.’
“4 taun pacaran? Junior gue?
Sahabat yang baik?” Kepala Tia pening seketika.
No comments:
Post a Comment