Ekspektasi, pengharapan. Sebuah harapan. Memang sepatutnya terjadi kan apabila kita menjalankan sesuatu? Begitu pula dengan sebuah relation. Menjalani suatu rutinitas dengan seseorang yang which is lawan jenis mu akan menimbulkan sebuah ekspektasi. Yes, makes you like dreamer. Ada sebuah harapan lebih dibalik sebuah relation.
Ekspektasi bukan sebuah kejahatan, tapi sebuah poison kalau menurutku. Racun yang bisa mengkatalis reaksi peruntuhan dinding-dinding hatimu. Salah seorang temanku bilang, jangan berekspektasi berlebihan. Hey, dimana-mana ekspektasi adalah sebuah harapan. Walaupun tidak berlebihan tetap saja itu sebuah harapan, dimana kamu mengharapkan sesuatu yang lebih dari kejadian itu.
Kenapa saya sangat outspoken tentang hal ini?
Karena saya sedang berekspektasi terhadap sesuatu relation. Tapi tenang, saya masih waras. Saya tahu ekspektasi itu adalah sebuah overdosis digoksin atau diazepam, which could kill me anytime. Saya pernah merasakan berada di posisi overdosis itu, it takes long time to heal your heart. Sakit? Pasti.
Maka dari itu, sebuah ekspektasi haruslah dibarengi dengan sebuah rem. Rem yang bernama realistis. Realistis ini akan menampar dirimu jika pikiran mu dan harapanmu telah mengawang kemana-mana dan mengembalikanmu ke bumi. Beruntung, beberapa tahun ini aku telah mempersenjatai diri dengan senjata realistis sehingga ketika ekspektasi itu berlebih, voila! Saya lecutkan senjata bernama realistis ini dan pada akhirnya... Saya ikhlas dengan semua yang terjadi dan no more to expect :D
Ekspektasi bukan sebuah kejahatan, tapi sebuah poison kalau menurutku. Racun yang bisa mengkatalis reaksi peruntuhan dinding-dinding hatimu. Salah seorang temanku bilang, jangan berekspektasi berlebihan. Hey, dimana-mana ekspektasi adalah sebuah harapan. Walaupun tidak berlebihan tetap saja itu sebuah harapan, dimana kamu mengharapkan sesuatu yang lebih dari kejadian itu.
Kenapa saya sangat outspoken tentang hal ini?
Karena saya sedang berekspektasi terhadap sesuatu relation. Tapi tenang, saya masih waras. Saya tahu ekspektasi itu adalah sebuah overdosis digoksin atau diazepam, which could kill me anytime. Saya pernah merasakan berada di posisi overdosis itu, it takes long time to heal your heart. Sakit? Pasti.
Maka dari itu, sebuah ekspektasi haruslah dibarengi dengan sebuah rem. Rem yang bernama realistis. Realistis ini akan menampar dirimu jika pikiran mu dan harapanmu telah mengawang kemana-mana dan mengembalikanmu ke bumi. Beruntung, beberapa tahun ini aku telah mempersenjatai diri dengan senjata realistis sehingga ketika ekspektasi itu berlebih, voila! Saya lecutkan senjata bernama realistis ini dan pada akhirnya... Saya ikhlas dengan semua yang terjadi dan no more to expect :D
Hahaha...
ReplyDeleteYou are so adorable.. :p